
Saat aku keluar dari kamar keesokan paginya, Reza sudah stand by di atas motor dengan rambutnya yang tergerai. Begitu juga aku, rambutku yang selalu terikat, kali ini harus kugerai. Dan itu mengundang kecurigaan Mayra. Aku pun langsung naik ke motor dan memeluk Reza dari belakang. Dia tersenyum, langsung mengelus tanganku yang melingkar di pinggangnya. Hatinya sama berbunganya sepertiku.
"Senang deh melihat kalian mesra lagi. Daripada kemarin, sepat, asam. Sama sekali tidak enak dipandang," cerocos Mayra.
Aku dan Reza tersenyum. "Kami sudah berbaikan, May," kataku. Kutopangkan kepalaku di bahu Reza.
"Bagus. Jangan marahan lagi," katanya. "Tapi... ada yang aneh," kata Mayra dengan ekspresi curiga tingkat tinggi. "Tumben kalian menggerai rambut? Kompak lagi?"
Waduuuh...
Aku cemas karena Mayra menyadarinya. Kutoleh kanan-kiri, aman, tak ada Ihsan di sekitar kami. "May, ssst...."
"Memangnya kenapa?" tanyanya. Dia mendekat dan hendak menyibakkan rambutku.
"Jangan, May." Kulingkarkan tanganku melindungi leher.
"Kalian?" Sorot mata Mayra melanjutkan pertanyaan itu kendati suaranya terhenti.
"Tidak...," Reza membantah. Sorot matanya ingin meyakinkan sahabatnya itu, tapi tidak berhasil.
__ADS_1
Mayra menggeleng. "Aku tidak percaya."
"Hanya luapan emosi yang salah, May," kataku berusaha mengklarifikasi. "Tapi tidak sampai kebablasan, kok. Jangan ceritakan pada yang lain, ya?"
Reza mengangguk. "Salahku," akunya. "Aku yang lose control."
Melihatku yang lengah -- Mayra punya kesempatan menyibakkan rambutku dan melihat beberapa bekas merah di leherku. Dia tercengang. "May! Jangan begini," kataku. Cepat-cepat kurapikan rambutku sebelum ada yang melihat lagi.
"Kalian melakukannya?"
"Tidak!" kami menjawab dengan kompak.
"Swear," kataku. "Hanya sebatas ini."
"Bahas apa, sih? Khilaf apa?" tanya Alfi yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
"Bukan apa-apa, Yang," sahut Mayra, dia tergelak. "Ini, lo, katanya mereka bertengkar kemarin itu karena khilaf, dan sekarang sudah berbaikan. Cepat sekali, kan?"
Alfi hanya mengatakan oh, sementara Reza hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sementara aku, aku cemas, sebab aku takut jika ada sepupu-sepupuku yang mendengar, apalagi kalau sampai terdengar oleh Ihsan. Mampus aku.
__ADS_1
Well, untung saja tidak. Jadi, aman....
Pagi-pagi kami sudah menyeberang ke Pulau Nusa Lambongan, sekalian ke Pulau Nusa Ceningan. Kami menyeberang dari Toya Pakeh menuju Jungut Batu, lalu menyewa motor untuk mulai berkeliling ala backpacker. Nusa Lambongan hanyalah sebuah pulau kecil. Namun, meskipun demikian, pulau ini sungguh memikat untuk dieksplor bagi pecinta alam, khususnya oleh anak negeri ini.
Dari Jungut Batu, kami langsung menuju Yellow Bridge, sebuah jembatan penghubung antara Pulau Nusa Lembongan dengan Nusa Ceningan. Jika dilihat dari jauh, jembatan ini hampir mirip dengan Golden Gate Bridge di San Fransisco, di mana Golden Gate Bridge memiliki warna merah yang mencolok dengan latar belakang yang hampir sama -- berupa lautan luas.
Kami sempat berhenti di jembatan hanya untuk berfoto. Ada yang berfoto di ujung jembatan dengan latar belakang jembatannya yang panjang, dengan dua patung yang seolah menjadi penjaga jembatan. Sedangkan aku dan Reza lebih suka berfoto di tengah-tengah jembatan, berfoto dengan latar belakang lautan biru dan kapal-kapal yang sedang berlayar. Omong-omong, karena kami sudah kembali mesra, jadi kami berpose mesra ala Shraddha Kapoor dan Aditya Kapur lagi dalam salah satu potretnya di film Ok Jaanu. Foto dengan pakaian serba hitam, berpelukan, tangan Aditya di pinggang Shradhha, dan tangan Shraddha di leher Aditya, dengan tersenyum bahagia, memejamkan mata, dan hidung saling bersentuhan. Aarin sang art director pun tak ingin ketinggalan berpose seperti itu dengan Ihsan. Aarin tidak canggung sama sekali terhadapku, mungkin karena dia biasa melihatku dan Reza bermesraan. Mungkin.
Dari jembatan kuning ini, kami mampir sebentar ke Secret Beach. Agak kurang kerjaan sebenarnya, mampir ke pantai hanya untuk berfoto. Terlebih untuk memenuhi kegilaan setiap orang yang ingin mencari keuntungan dari pose-pose mesra kami. Tapi... berhubung Reza senang-senang saja melakukan itu, aku lebih senang lagi. Yeah, intinya kami berdua senang melakukan foto prewedding itu, demi kami berdua, juga demi semua orang.
Di sana, Aarin meminta kami berpose ala Shraddha Kapoor dan Aditya Roy Kapur lagi. Nampaknya dia benar-benar nge-fans pada selebriti Bollywood itu. Oke deh, kami pun menuruti pose-nya. Reza merebahkan dirinya di atas pasir, dan aku di atasnya, maksudku tidak benar-benar di atasnya, wajah kami berjarak sekitar sekilan lebih, dengan rambutku yang terurai dan teruntai menyentuh pasir.
Setelah itu, kami mampir ke Le Pirates Beach Club. Berdasarkan hasil searching di internet, tempatnya keren, sebuah penginapan yang menawarkan pemandangan pantai indah, dengan perairan bening bercorak biru tosca, ditambah hamparan pasir putih memesona. Daya tarik lainnya adalah tempatnya yang sangat Instagenic, hampir seluruh sudutnya didominasi corak biru dan putih, juga adanya deretan kabin kecil cantik sebagai tempat untuk menginap. Kerennya lagi, Beach Club ini juga menyediakan semacam infinity pool yang menghadap langsung ke arah lautan. Aku suka sekali tempat ini, kucatat dalam hati suatu saat aku ingin bermalam di sini bersama Reza.
Dengan tanpa malu, meskipun tidak menginap di sana, kami menyempatkan berfoto satu kali dengan latar belakang air bening bercorak biru tosca itu. Dengan foto seperti di poster film Saaho, pose ala Prabhas dan Shraddha Kapoor. Tapi catat, bagian pahaku tak sevulgar foto di poster itu.
Kami melanjutkan perjalanan ke Blue Lagoon, sebuah tebing yang didominasi bebatuan yang terletak di pinggir laut, di mana kita bisa memandangi lautan lepas. Tiupan angin yang kencang dan deburan suara ombak melengkapi indahnya tempat ini, sebuah tempat dengan spot bagus untuk koleksi foto prewedding, tempat yang memungkinkan untuk kami menirukan pose ala Andrew White dan Nana Mirdad. Zia dari hari sebelumnya ingin sekali menerapkan pose itu, sekarang kesampaian juga di Blue Lagoon. Dalam foto itu Andrew dan Nana duduk berdua, Nana bersandar di belakang bahu Andrew dan menyalungkan tangannya di leher Andrew. Sweet sekali. Sebuah pose yang membuatku menaruh harapan bahwa hubunganku dengan Reza akan semanis dan sehangat mereka meski bertahun-tahun bersama.
"Semua perempuan menginginkan sosok suami seperti Andrew," kataku. "Romantis. Meski bertahun-tahun menikah, setiap hari bersama, sudah punya anak, dan yang namanya rumah tangga pasti ada masalah, tapi dia tetap bisa membuat istrinya selalu bahagia. Setidaknya membuat publik melihat bahwa Nana Mirdad adalah seorang istri yang bahagia, hubungan mereka setiap hari seperti orang pacaran. Setiap perempuan pasti bahagia diperlakukan seperti itu."
__ADS_1
Reza tersenyum dan menatapku dengan tatapan khasnya. "Kamu akan lebih beruntung daripada Nana Mirdad, meski kamu hanya menikah dengan seorang Reza Dinata."
Sumpah! Aku mesem-mesem mendengarnya. Sama sekali tidak tercengang seperti adegan dalam film. Ada rasa yang bercampur jadi satu, bahagia iya, senang iya, juga merasa ucapan Reza itu lucu, entah lucu dari segi mananya. Tapi mendengar kalimatnya itu membuatku tertawa bahagia.