
Pagi menjelang siang. Bunyi bel memaksaku beranjak dari kursi malas. Dari jendela kaca, kulihat ada seorang lelaki dengan buket mawar merah di tangannya berdiri di depan pintu.
"Dengan Nona Inara?"
"Ya, saya sendiri."
"Ada kiriman bunga untuk Nona."
"Oh." Ternyata kurir, pikirku. Aku pun membukakan pintu, tapi teralinya kubiarkan tetap terkunci. Sebab bunga itu bisa diselipkan di antara besi-besinya yang kokoh.
Si kurir itu pun langsung berpamitan setelah mawar-mawar merah itu beralih ke tanganku. Yap, ada empat belas tangkai bunga dari Reza. Ada selembar kertas surat yang terselip di setiap mawar itu. Tulisan tangan Reza. Berarti dia sengaja mampir ke toko bunga, dan menuliskan empat belas surat untukku dengan nomor urut di setiap lembarnya. Benar, Reza selalu punya cara untuk menerbangkan hatiku dan mengukir senyum di wajahku.
Aku baru saja hendak menutup pintu dan kembali ke halaman belakang untuk membaca surat-surat dari Reza ketika kusadari ada seseorang yang menyapaku.
"Hi."
Aris?
Ya Tuhan....
Aris. Lelaki 28 tahun asal Kuala Lumpur, Malaysia. Seorang psikolog dan hipnoterapis. Mapan, tampan, dan rupawan. Tidak hanya itu, dia juga sosok lelaki yang berkarisma, yang bisa membuat hampir setiap gadis menoleh saat berpapasan dengannya. Tipe lelaki idaman kaum hawa.
Beberapa tahun lalu bibiku memperkenalkan aku pada Aris. Bibiku mengenal ayahnya Aris yang notabenenya sama-sama seorang tenaga medis. Entah karena menurutnya aku memerlukan seorang profesional untuk kejiwaanku atau karena alasan apa, aku tidak pernah mengambil pusing tentang hal itu. Aku menerima Aris sebagai teman, meski seringkali dia berusaha menyelami kehidupan pribadiku, memperlakukanku seperti seorang pasien -- hanya untuk memastikan bahwa aku dalam keadaan baik-baik saja. Sebab itu dia mengenaliku dengan segala hal yang ada pada diriku, bahkan dia mengenaliku dan memahamiku sebagaimana Ihsan terhadapku. Tapi, perlu digaris bawahi, aku tidak pernah terdaftar sebagai pasien dari seorang psikolog mana pun, termasuk Aris.
Yeah, aku baik-baik saja. Aku hanya sulit percaya terhadap seseorang, dan itu menurutku hal yang wajar sebagai dampak dari rasa traumaku. Selain itu, aku hanya menyimpan rasa benci dan dendam. Aku tidak akan pernah menyakiti siapa pun kecuali jika mereka mengusikku lebih dulu. Sekali lagi, menurutku itu adalah hal yang wajar, sebab aku bukanlah pemeran protagonis dalam sebuah sinetron, yang rasanya sungguh bodoh, saat kau disakiti tapi kau hanya diam saja. Terlalu bodoh dan terlalu baik itu beda-beda tipis, tipis sekali. Dan aku tidak tergolong ke dalam golongan orang-orang seperti itu. Aku adalah aku.
Seperti halnya 4R bersaudara, aku juga dekat dengan Aris. Tapi aku hanya menganggapnya sebagai teman, selebihnya seperti saudara, seperti seorang kakak laki-laki. Tidak ada secuil pun perasaan khusus di hatiku terhadap dirinya. Tapi tidak dengan Aris, dia menyimpan perasaan lebih terhadapku. Meski tidak pernah memaksa, meski tidak pernah terbalas, tapi dia tetap saja berkali-kali menyatakan perasaannya kepadaku. Hingga, yeah, itu membuatku merasa jengah. Sebab itu aku jadi selalu menghindarinya. Dan itu pilihanku.
Tetapi, saat ini, aku tidak pernah menyangka kalau akhirnya dia datang menemuiku di Bali, dan lebih tidak menyangka lagi bahwa si bungsu Raheel memberikan alamat villa ini kepadanya. Tentu saja itu karena Raheel tahu bahwa untuk hal semacam ini aku tidak akan marah kepadanya, maksudku -- aku tidak akan melampiaskan kemarahanku kepada dirinya. Sebab, aku terikat janji persaudaraan dengan semua sepupu-sepupuku, terlebih kepada ibuku. Alasan lainnya pasti juga karena rasa tidak enaknya Raheel terhadap Aris dan pasti karena Raheel tidak memberikan alamat ini secara cuma-cuma. Dia si bungsu yang pandai sekali memanfaatkan kesempatan.
__ADS_1
Tapi kali ini Aris datang dengan sikap yang berbeda. Katanya dia hanya ingin bertemu denganku, mengucapkan selamat atas rencana pernikahanku, dan turut berbahagia atas kebahagiaanku. Sikapnya itu membuatku merasa bersalah. Tapi aku sendiri tidak paham kenapa aku merasa bersalah. Dan aku tahu bahwa itu tidak seharusnya.
Sambil bersantai dengan hammock baruku, aku mengingat masa-masa saat aku bercerita pada ibuku tentang Aris yang menyatakan perasaannya terhadapku. Waktu itu jauh sebelum aku mengenal Reza. Tapi, bercerita pada ibuku tentang Aris malah justru membuatku lebih bingung, sebab ibuku punya penyesalan sendiri tentang kisah yang sama.
Dulu semasa SMA, ibuku pernah berteman dekat dengan seorang seniornya, namanya Deni. Mereka bukan hanya sebatas kakak dan adik kelas, tapi juga dalam satu ekskul teater. Di antara pertemanan mereka, ada seorang junior, adik kelas mereka yang merupakan anggota baru dalam ekskul teater itu. Dia bernama Meta. Meta menyukai Deni, dan meminta ibuku untuk mendekatkannya dengan Deni. Dengan polosnya ibuku pun mengiyakan, dan ia menyampaikan pada Deni bahwa Meta menyukainya. Tapi, ternyata Deni malah mengatakan kepada ibuku bahwa dia menyukai ibuku. Ibuku pun bingung dan merasa serba salah. Setelah berpikir matang-matang, ibuku meminta Deni dan meyakinkan Deni bahwa sebaiknya Deni mencoba menjalin hubungan dengan Meta. Deni yang kecewa pada ibuku, mencoba mengobati hatinya dengan menjalin hubungan dengan Meta. Tapi ternyata hubungan mereka tidak bisa bertahan lama karena perasaan cinta itu hanya berada pada satu pihak saja. Meta dan Deni akhirnya putus, begitu pun pertemanan ibuku dan Deni juga ikut putus.
Beberapa bulan setelah itu, Deni menjalin hubungan dengan Novita, yang juga senior ibuku, juga senior dalam ekskul teater itu. Hubungan yang terjalin di antara mereka biasa saja, paling hanya belajar bersama dan bertemu plus mengobrol sebelum pulang sekolah. Tapi pada akhirnya mereka berjodoh. Bertahun-tahun pacaran, bahkan sempat terpisah kota karena alasan pekerjaan, justru membuat cinta mereka semakin besar dan pada akhirnya sampai ke pelaminan.
Dan cerita keduanya adalah saat ibuku kuliah dulu. Dia berteman dengan seorang pemuda bernama Hendra, mereka berkenalan pada hari pertama OSPEK sebagai mahasiswa dan mahasiswi baru, sampai ke tingkat selanjutnya mereka tetap berteman baik. Mereka sering mengambil mata kuliah dan kelas yang sama. Bahkan duduk di bangku yang sama. Suatu hari, Hendra menggenggam tangan ibuku dan menyatakan perasaannya pada ibuku. Saat itu, bukannya ibuku tidak punya perasaan terhadap pemuda itu, tapi karena hubungan pertemanan mereka yang gokil, yang selalu bercanda, dan pembawaan Hendra yang selalu menjadi sosok penghibur bagi ibuku, membuat ibuku merasa sulit membedakan apakah Hendra hanya bercanda atau memang serius saat menyatakan perasaannya terhadap ibuku. Ibuku pun memilih untuk tidak menanggapinya dengan serius. Juga karena ibuku takut jika mereka menjalin hubungan, takut kalau suatu saat ada masalah -- ibuku takut kehilangan sosok Hendra sebagai sahabatnya. Padahal Hendra adalah sosok lelaki yang baik, humoris, dan pintar. Tapi ibuku terlalu pengecut untuk mengakui perasaannya.
Itulah, dua kisah persahabatan ibuku dengan sosok lelaki yang baik, yang menyukainya, tapi ibuku tidak menanggapinya. Bukan penyesalan yang bagaimana, atau yang menggerogot jauh ke dalam jiwa, tapi hanya penyesalan -- kenapa dulu ia mengabaikan lelaki baik seperti Deni dan Hendra dan malah menikah dengan lelaki seperti ayahku -- si kucing garong yang berpenampilan necis dengan setelan jas dan dasi panjangnya?
Aku juga bertanya kepada ibuku, seandainya waktu bisa terulang kembali -- dia ingin bersama siapa seandainya ia punya kesempatan memilih seperti dulu?
Bang Hendra -- katanya. Alasannya? Karena Hendra sosok yang bisa membuatnya selalu tertawa setiap pemuda itu bersamanya. Lelaki yang bisa menjadi teman baik selama bertahun-tahun. Humoris, sederhana, selalu ada, dan memanggilnya Dik dengan hangat.
Tapi masa lalu tidak mungkin terulang, ia hanya meninggalkan kenangan, dan, penyesalan.
Ah, galau!
Kulirik buket mawar di atas meja di sebelahku. Ya ampun, aku lupa, aku belum membaca surat-surat dari Reza. Kuambil satu tangkai dan kuciumi mawar itu, aroma harumnya menelusup hingga ke dalam sukma, menguapkan semua rasa sesak yang melanda. Lalu kukeluarkan semua lembar surat dari Reza. Kutata dan kuurutkan di atas meja.
Untukmu yang terjebak di masa lalu.
Untukmu yang sedang melangkah ragu.
Di sini, ada aku yang akan membantumu beranjak dari kata yang lalu, ke kata yang baru.
Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku.
__ADS_1
Jika aku bukan yang terbaik untukmu, maka izinkan aku untuk berusaha menjadi seperti yang kau mau.
Meskipun kau dan aku belum lama bersama, tapi kupastikan kita akan bersama selamanya.
Aku hadir untuk memberimu cinta, membawa bahagia, dan memberikan rasa rindu yang tak akan pernah ada habisnya.
Mungkin aku tak sanggup menyeberangi lautan, menghantam karang atau menerjang badai. Tapi aku sanggup membuatmu bahagia seumur hidupku, selama aku bisa.
Aku ingin menjadi orang yang bisa membuatmu tertawa dan tersenyum setiap waktu.
Engkau adalah detak jantungku, helaan napasku, cahayaku, dan belahan jiwaku.
Hidupku tidak akan berarti tanpamu.
Karena bagiku, kau adalah pasangan paling sempurna yang akan selalu melengkapiku.
Selamat pagi sang pemilik hati, bergembiralah engkau hari ini.
Hanya satu yang perlu engkau tahu, aku akan selalu iringi bahagiamu.
Aku mencintaimu Inara.
Aku mencintaimu hari ini, esok dan selamanya.
Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu.
__ADS_1
Dengan sepenuh cinta, Reza Dinata.
Aku tertegun. Aku duduk di sana untuk waktu yang lama, membaca ulang surat itu dan merenungkan apa yang Reza sampaikan lewat tulisan. Meskipun aku selalu ragu padanya, tapi dia selalu berusaha meyakinkan aku. Meskipun aku seringkali meragu, tapi kini aku tahu, aku yakin: hatiku menginginkan Reza. Hanya Reza.