Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Bertahan


__ADS_3

Mayra memberikan gitar tua milik Alfi kepadaku. Katanya dia tahu aku butuh waktu untuk mencerna semua hal -- hati dan pikiranku butuh waktu untuk memahami tentang semuanya. Dia tahu aku pasti akan sulit tidur malam ini. Betapa dia mengerti seharian ini aku mengalami dan mengetahui hal-hal yang berat, mulai dari dendam Alvaro, tentang rahasia kematian Aruna yang menyebabkan trauma untuk Reza, lalu tentang cinta Alfi, Mayra, dan Dinda -- tentang banyak rahasia kehidupan mereka. Bahkan lengkap dengan melihat kejalanga* Salsya, plus ketidakberdayaan Reza untuk mendepaknya. Sekarang tergantung diriku sendiri, bagaimana aku harus menyikapi semuanya?


Kupilih untuk menyendiri di halaman belakang, duduk di kursi taman dengan menekuk kedua kaki. Tapi aku tidak langsung bermain gitar. Aku merenungkan kata-kata Mayra dan ketulusan hatinya. Sejujurnya aku takjub karena dia menganggap tidak ada yang bersalah dalam kisah cintanya yang pelik itu. Dia tidak menyalahkan mertuanya, tidak menyalahkan suaminya, juga tidak menyalahkan madunya. Bahkan, dia tidak menyalahkan Tuhan.


"Aku harus bersyukur karena Tuhan masih memberikan aku kesempatan hidup," katanya. "Meski awalnya aku marah karena kurasa Dia begitu tega memberikan takdir buruk ini kepadaku, tapi lama kelamaan... aku bisa menerima apa yang sudah digariskan-Nya untukku."


Mayra pun menyampaikan pendapatnya -- memberikan saran kepadaku -- atas masalah-masalahku. Menurutnya kalau dia berada di posisiku, dia akan mempertahankan Reza dan memaafkan Reza atas kesalahan-kesalahan yang sama sekali tidak pernah dilakukan Reza dengan sengaja. Malah menurutnya aku harus membantu Reza menghadapi Salsya, supaya Salsya tidak bertindak gila yang membahayakan dirinya sendiri juga kandungannya -- sekaligus -- menjadi tameng supaya Salsya tidak bisa bertindak agresif pada Reza. Mayra mengatakan kepadaku bahwa dia bukan bermaksud membela Salsya, sedikit pun tidak, melainkan demi anak di dalam kandungannya.


"Sebagai perempuan yang mendambakan kehadiran seorang janin yang tumbuh di dalam dirinya, aku berharap bayi itu akan terlahir ke dunia," begitu katanya.


Aku menyimpulkan yang Mayra maksud dengan kata "di dalam dirinya" itu bermakna rahim -- sesuatu yang tidak ia miliki pasca cidera kecelakaan yang ia alami.


"Jika kelak kalian benar-benar berjodoh, dan kamu tidak memiliki kekurangan sepertiku, maksudku, kamu bisa memberikan keturunan untuk Reza, kamu berhak kok menentang poligami di dalam rumah tanggamu. Kamu berhak melarang suamimu menikah lagi. Ini dalam artian bukan mengharamkan poligami, ya. Hanya menentang praktiknya di dalam rumah tanggamu. Kamu paham, kan, apa maksudku?"

__ADS_1


Aku mengangguk saat Mayra menuturkan nasihat itu kepadaku.


"Aku tahu kamu pernah membahas tentang poligami dengan Reza, dan cara pandang Reza terhadap poligami itu netral, tidak sesuai harapanmu. Lantas kamu kecewa. Sekarang kamu paham, kan, kenapa Reza menuturkan pandangannya seperti itu?"


Pada akhirnya aku pun mengerti. Aku paham. Yeah, mungkin aku juga harus lebih mengerti tentang Reza dan traumanya, kendati traumaku sendiri jelas akan semakin mengambang jika aku bertahan dalam situasi cinta yang sama peliknya, antara aku, Reza dan Salsya. Kuputuskan untuk berhenti berpikir dan mulai bernyanyi. Lagu yang ngena dalam situasiku saat itu. Rama - Bertahan, lagu yang membuat tangisku semakin pecah.


Sungguh, semua yang terjadi seharian ini membuat mentalku drop.


"Perform yang bagus. Tapi lagu itu terlalu sedih untuk orang secantik kamu," suara Reza membuatku tersentak.


"Thanks. Tapi cuma lagu itu yang aku hafal," kataku. Kuberikan ia jawaban yang sama, persis seperti jawabanku waktu itu. Tapi kali ini aku tidak bermaksud berbohong. Hanya bernostalgia -- mengulang kenangan. Aku menoleh dan mendapati Reza berdiri di belakang sana. "Kenapa kamu ada di sini?" tanyaku.


Reza tersenyum dan langsung mengahampiriku. "Kamu tidak akan bisa tidur malam ini kalau aku tidak ke sini. Dan aku tidak mau kalau kamu sampai jatuh sakit." Dia menghapus air mataku lalu merapikan rambutku yang sedikit berantakan karena tertiup angin, kendati percuma, sebab malam itu angin sedang bertiup sedikit kencang.

__ADS_1


"Sayang, tolong... berhentilah menangis, aku tidak bisa melihatmu menangis seperti ini."


Kuberikan ia senyuman masam. "Yeah, aku tahu. Tapi akhir-akhir ini -- kamu sendiei yang selalu membuatku menangis."


Reza mengangguk mengakui kesalahan. "Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf. Please... aku mohon, kamu mau, kan, memaafkan aku?" dia memohon dan menatapku dengan sorot mata penuh penyesalan.


"Ya. Lagipula cinta adalah tindakan maaf tanpa batas. Aku memaafkanmu. Walaupun aku tahu, setelah ini pasti kamu akan mengulanginya lagi. Kamu akan menyakitiku lagi."


Reza mendesa*. Raut wajahnya berat. Dia tampak seperti kain lap yang sudah direndam di air dan diperas habis sampai tidak tersisa setetes air pun di dalamnya. "Tapi kamu tahu, kan, kalau aku tidak pernah bermaksud sengaja menyakitimu? Itu hanya ketidakberdayaanku."


Aku mengangguk dan menatap matanya. "Aku tahu. Aku akan berusaha untuk lebih pengertian."


Dia tersenyum dan langsung memelukku -- dengan sepenuh perasaan. "I love you. I love you so much. Aku berusaha untuk tidak lagi menyakitimu. Tapi kalau aku tidak bisa--"

__ADS_1


"Mas... kuncinya cuma satu, jujur. Bicaralah padaku sebelum kamu terpaksa melakukan kesalahan. Atau jika sudah terlanjur kamu lakukan, segera beritahu aku, sebelum aku tahu sendiri atau aku tahu dari orang lain. Kamu paham, kan?"


__ADS_2