Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Tulus


__ADS_3

"Mas, kamu masih ada hutang penjelasan atas pertanyaanku tadi malam. Jawabannya apa?" tanyaku, menagih janji.


Reza tersenyum tipis. "Kenapa aku mendekatimu? Pertanyaan yang lebih tepat itu kenapa aku tertarik padamu?"


"Well, kenapa?"


Ia menghela napas panjang, lalu kembali tersenyum. Digenggamnya tanganku dengan erat sebelum dia bersuara. "Kenapa aku tertarik padamu? Karena memang dari awal aku tertarik, dan memang, itu secara fisik, ya, soalnya aku sering melihatmu di ig. Tapi... kalau menyangkut tentang perasaan, jawabannya... karena sewaktu pertama kali aku melihatmu menyanyi, aku merasa kamu merasakan kesepian yang sama seperti yang kurasakan. Kita sama-sama memiliki ruang kosong di dalam hati kita, entah kenapa dari awal aku punya keyakinan kita bisa saling mengisinya satu sama lain. Kamu ingat waktu kita pertama kali bertemu di Surabaya? Di pantai, kamu sendirian, aku melihat kesedihan di matamu. Sejak itu tidak tahu kenapa, aku ingin menjadi seseorang yang bisa memberikan kebahagiaan untukmu. Aku ingin melihatmu bahagia. Tapi aku tidak tahu kenapa. Satu-satunya alasan yang kutahu -- karena aku mulai mencintaimu. Tapi kalau kamu bertanya kenapa aku mencintaimu, aku juga tidak bisa menjawab. Bukan karena kamu cantik, bukan karena kamu manis, atau alasan lain. Aku mencintaimu. Hanya itu yang kutahu. Aku sangat mencintaimu. Kalau kamu, kenapa kamu tertarik padaku?"


Aku tidak menjawab, sebab tiba-tiba aku melamun.


"Hei! Sayang? Kok melamun? Aku nanya."


Aku sedikit terlonjak. "Eh? Emm... kenapa?" Aku terlanjur hilang fokus karena masih terngiang-ngiang dengan jawaban Reza yang baru saja menguasai pikiranku.

__ADS_1


"Oke, tidak perlu dijawab," katanya. "Aku tahu jawabannya, kamu tertarik padaku karena aku setampan Reza Rahadian."


Dia pun tersenyum dengan sangat tulus, seolah tidak apa-apa, tidak masalah apa pun alasanku tertarik padanya, apa pun pendapatku tentangnya, juga bagaimana perasaanku terhadapnya. Seolah cintanya saja sudah cukup untuk kami berdua. Tapi bisakah seperti itu?


"Mas, waktu kamu ke Solo, aku sempat berpikir, mungkin sebaiknya kita berpikir ulang tentang rencana pernikahan kita. Aku malu karena sikapku kemarin yang keterlaluan."


Reza baru akan buka suara, tapi dengan sigap aku melarangnya.


"Kamu dengarkan aku dulu," kataku. "Kamu lihat sendiri, kan, bagaimana kasarnya aku, kasarnya ucapanku? Bisa saja suatu saat aku bertingkah lebih dari itu. Aku tidak mau kamu akhirnya menyesal karena memilihku sebagai istri. Mungkin kamu harus berpikir ulang. Berpikir masak-masak tentang semuanya. Atau mungkin... kita lupakan dulu tentang pernikahan ini?"


"Maksudku begini, Mas... kamu kenali dulu aku selama satu bulan ke depan, setelah satu bulan, kamu ambil keputusan, apa kamu akan tetap menikahiku, atau kamu pilih mundur. Begitu."


Mendesa*. Tentu saja dia keberatan dengan usulanku. Tapi itulah Reza, dia tidak mau bersikeras beradu argumen denganku. "Baiklah, kalau kamu maunya seperti itu, satu bulan lagi kamu boleh tanyakan lagi keputusanku. Aku pastikan aku masih dengan keputusan yang sama. Tapi aku tidak akan melupakan tentang pernikahan kita. Aku akan tetap merencanakan semuanya awal Maret, dan tetap menyiapkan pernikahan kita sesuai rencana, tanggal empat April. Dan tidak ada yang boleh berubah, kita tetap bersama dan tetap semesra biasanya. Oke?"

__ADS_1


"Oke." Aku mengangguk. "Tapi kamu jangan bilang ke Ibu soal ini. Aku sudah terlanjur janji kalau aku akan tetap menikah dengan anaknya -- apa pun yang terjadi."


Reza hanya merespons dengan senyuman. Kemudian dia meminjam ponselku. Dia mencatatkan hal-hal yang dianggapnya penting di s planner ponselku. Di tanggal 23 Maret, dia menuliskan kata Ask Me. Di tanggal 1 April, dia menuliskan kata Ultah Ibu. Lalu di tanggal 4 April dia menuliskan kata Wedding Day dan menulis nama baru untukku, Ny. Inara Dinata.


"Omong-omong tentang pernikahan, kamu yakin mau pernikahan yang sederhana? Cuma mau mengundang keluarga besarmu?"


Aku menjawab aku yakin, karena aku tidak punya teman akrab. Hanya teman-teman sekolah sampai teman kuliah, tapi hanya sebatas itu, tidak berlanjut setelah aku tamat kuliah. Dan karena dia membahas tentang pernikahan, aku jadi teringat pesan ibuku untuk berdiskusi dengannya tentang wedding organizer untuk pernikahan kami.


"Mas, aku tidak tahu kamu sudah punya rencana atau belum mengenai WO yang akan mengurus pernikahan kita. Tapi mudah-mudahan kamu belum punya rencana dan mudah-mudahan kamu setuju kalau aku mintanya kita menggunakan jasa WO keluargaku," kataku dengan pelan dan ragu-ragu.


Reza menatapku dengan sorot mata heran, tapi kemudian dia tersenyum. "Apa pun untukmu," katanya. "Tidak masalah. Aku tidak keberatan, nanti aku bicara pada sepupu-sepupumu. Tapi... kalau aku boleh tahu, memangnya kenapa? Aku melihat ada kekhawatiran dari caramu mengatakannya barusan."


Aku pun menjelaskan kepadanya tentang alasan-alasanku, tentang masa lalu keluargaku yang pernah mengalami keretakan hanya karena perbedaan pendapat dan cara pandang terhadap suatu masalah.

__ADS_1


"Oke, aku akan menjelaskan panjang lebar. Kamu dengarkan aku baik-baik. Hmm... hubungan Bunda dengan dua saudarinya memang baik, begitu pun hubungan kami antar sepupu, juga baik. Tapi tidak dengan antar ipar, antara ayahnya Lima Z dengan ayahnya Empat R. Mereka bahkan tidak pernah bertemu, meskipun di saat lebaran, ataupun saat ada acara keluarga. Hanya karena perbedaan cara pandang, bagaimana cara saling menghargai, bagaimana cara bertenggang rasa antara satu sama lain. Aku tidak mau menceritakan tentang detailnya. Ini kisah yang tidak ingin kuceritakan, kisah yang tidak bisa kami nilai siapa yang benar, siapa yang salah. Dari sisi benar, semuanya benar, dari sisi salah, semuanya juga salah. Pada intinya, keluarga besarku tidak ingin kisah itu sampai terulang. Tidak ingin ada perpecahan lagi. Hanya orang yang tidak pernah merasakan kehilangan anggota keluarga yang tidak berpikir matang-matang atas keputusannya. Sementara kami yang pernah merasakan kehilangan, akan berusaha mati-matian menjaga keutuhan keluarga kami agar tidak merasakan kehilangan lagi. Dan bagaimana sikapmu sebagai calon anggota keluarga yang baru -- adalah penentu -- apakah semuanya akan baik-baik saja atau malah sebaliknya. Satu hal yang perlu kamu ingat baik-baik, aku tidak ingin kamu menempatkan aku di antara dua pilihan, antara kebahagiaanku bersama calon suamiku, atau keutuhan keluargaku. Aku tidak mau berada di posisi tanteku sekian tahun yang lalu, juga tidak mau menempatkan Bunda pada posisi nenekku seperti waktu itu. Kamu juga sebaiknya jangan tanya lagi apa yang terjadi, tidak akan kuceritakan. Kamu sudah mengiyakan untuk memakai WO dari keluargaku, itu sudah melegakan dan menghilangkan kekhawatiranku. Karena kita harus memegang teguh prinsip: keluarga adalah yang utama. Kamu bingung? Jangan dipikirkan, mending kita mampir ke resto. Terus kita ambil barang-barang kita. Sekalian bawa makanan ke villa. Boleh?"


__ADS_2