
Macetnya jalanan memaksaku memperlambat laju motor. Ironisnya, aku melihat ayahku bersama seorang perempuan muda, kuperkirakan usianya tiga puluhan, mereka sedang bermesraan di dalam mobil yang berhenti di sebelahku. Saat itu aku memakai masker dan helm dengan kaca cukup gelap, itu sebabnya ayahku tidak menyadari keberadaanku, sementara aku bisa melihat bebas ke dalam mobil mereka yang kaca mobilnya tidak begitu gelap. Ada televisi di sana -- ditaruh persis di tengah-tengah dasbornya.
Ya ampun... mereka menonton film dewasa. Benar-benar edan, di dalam mobil, di tengah kemacetan, di siang bolong saat matahari sedang terik-teriknya, mereka malah bercumbu mesra sambil nonton film "begituan."
Ayahku membelokkan mobil dan masuk ke area parkiran sebuah hotel. Entah kenapa, menurutku membuntuti ayahku merupakan pilihan yang menarik. Aku pun ikut berbelok dan mengikutinya ke hotel. Mereka keluar dari mobil secara bergantian, si perempuan keluar lebih dulu dan menunggu di lobi. Sementara ayahku keluar kemudian. Dari meja resepsionis, ayahku mengambil kunci dan menuju kamar pesanannya. Lalu, beberapa menit setelah ayahku masuk ke kamar hotel, perempuan itu pun menyusul.
Setelah lima menit mereka berduaan di dalam sana, kuberanikan diri mengetuk pintu itu. Aku yakin, meskipun mereka sudah saling melucuti pakaian ataupun sudah celap-celup, pasti mereka belum selesai dengan ritual mereka dalam memadu kasih ala pasangan muda yang sedang dimabuk asmara.
Rupa-rupanya dewi fortuna sedang berpihak padaku. Mungkin karena mendengar suara perempuan yang mengetuk pintu, maka si perempuanlah yang membukakan pintu untukku. Saat itu tubuh cantiknya sudah berbalut kimono.
"Selamat siang. Maaf, dengan siapa saya bicara?"
Dia tersenyum. "Tia. Tia Ivanka," katanya memperkenalkan diri dan menjulurkan jabat tangan.
Namanya Tia Ivanka? Ya ampun, namanya bak nama artis, wajahnya cantik, tubuhnya juga seksi. Benar-benar setara kecantikan Tia Ivanka versi muda. Kelakuannya pun ternyata Tia, Tiada kusangka dan Tiada kukira begitu adanya. Speechless....
"Ada apa, Mbak?"
Pertanyaan itu menyadarkanku dari keterpakuan. "Oh, itu, sebelumnya saya minta maaf, ya, Bu. Perkenalkan, nama saya Trixie. Saya baru check out dari kamar ini tadi pagi. Begitu saya sampai di rumah, saya baru menyadari saya kehilangan sebelah anting saya." Aku menunjukkan sebelah anting yang masih terpasang di telingaku, sementara yang sebelahnya lagi kuselipkan di sela sepatuku. "Saya pikir mungkin jatuh di sini. Boleh saya masuk untuk mencarinya?"
"Oh... eh... boleh. Tapi... sebentar, ya," katanya gelagapan.
Dia masuk lalu menutup pintu, dan membiarkan aku berdiri di luar. Kutebak dia pasti menyuruh si pejantan tangguh itu bersembunyi.
"Silakan, Mbak," ujarnya, begitu ia kembali membuka pintu sekitar dua menit kemudian.
Aku masuk dan langsung berpura-pura mencari antingku di sekitar tempat tidur, aku pun tak ragu berjongkok untuk mengendap-endap kolong tempat tidur yang empuk itu, karena akting itu harus totalitas, total sampai netas. Ups! Maksudku... total sampai tuntas. Harus. "Emm... di mana, ya?" gumamku -- bicara sendiri. "Omong-omong, boleh saya cek di kamar mandi?"
"Oh, sebentar," katanya lagi. "Di dalam ada suami saya."
What? Suami? Aku terbelalak. Apa barusan aku tidak salah dengar? Wanita muda nan cantik di depanku ini menyebutnya suami. Jangan-jangan ini istri ketiganya? Oh, bisa jadi yang ke empat? Atau yang ke lima? Atau mungkin ke seratus? Dasar tukang kawin! Eh, tapi kenapa mereka ke hotel? Kenapa terkesan seperti kucing-kucingan? Atau pikiranku saja yang terlalu berlebihan?
Tia mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil orang itu dengan sebutan Mas. Sumpah! Aku merasa jijik mendengarnya. Lelaki itu pun keluar hanya dengan handuk menutupi bagian pinggang ke bawah, sementara dari pinggang ke atas bertelanjang dada. Dia sama sekali tidak terkejut melihatku, seperti yang kuperkirakan, dia sudah mengenali suaraku.
Aku memerhatikan ayahku yang muncul dengan wajah tertunduk malu. Nampak tonjolan besar di balik handuk, persis di tengah-tengah antara kedua pahanya. Dan di dada sebelah kanan, ada bekas merah, jelas itu bekas isapan yang baru saja dicap di sana. Aku jadi penasaran, bagaimana kondisi di balik kimono yang dipakai oleh Tia? Seberapa banyak cupan* yang dilukiskan ayahku di atas kanvas berbukit itu? Yeah, kuakui, ayahku memang tampan, dia memiliki tubuh yang proporsional, kulitnya putih, telapak tangannya yang lebar pasti lihai sekali merema* daging kenyal yang menghiasi dada si perempuan itu, dan kakinya yang panjang itu pasti membuatnya mampu memuaskan perempuan-perempuan miliknya dengan segala gaya bercinta, terlebih gaya ala sepasang doggy-doggy. Wajar saja kalau para janda kesepian rela menyerahkan diri dan menempel kepadanya meski tahu kalau dia bukanlah wanita satu-satunya bagi ayahku. Toh, yang menjadi pondasi dasar dalam hubungan mereka adalah hawa nafs* -- hawa nafs* yang sama-sama tinggi. Hyperse*.
"Saya Trixie," kataku seraya mengulurkan jabat tangan pada lelaki itu. Jabat tangan yang lebih lama dari yang senormal dan sewajarnya, supaya dia tahu betapa aku marah kepadanya. Lelaki itu menyambut jabat tanganku tanpa menyebutkan namanya. "Saya permisi, mau cari anting saya di dalam."
Aku pun masuk ke kamar mandi tanpa diikuti kedua orang itu. Dengan pura-pura mengikatkan tali sepatu, kukeluarkan sebelah antingku dan pura-pura menemukan antingku di lantai persis di bawah dudukan toilet.
Kutunjukkan anting itu kepada Tia dan kukatakan, "Benda ini sangat berharga bagi saya, sebab ini pemberian dari ibu saya. Terima kasih sekali karena sudah mengizinkan saya mencarinya di sini, dan maaf karena saya sudah mengganggu waktu kalian."
__ADS_1
"Oh, tidak apa-apa. Sama sekali bukan masalah," tutur Tia dengan ramah, kali ini aku berpikir itu nampak seperti sifat aslinya.
Yeah, mungkin saja. Mungkin dia lebih baik daripada Yanti dan Rhea, tapi yang jelas: aku tidak memiliki kebencian terhadapnya seperti kebencianku terhadap Yanti dan Rhea.
"Kalau begitu saya permisi. Sekali lagi terima kasih." Aku pun berlalu.
Pada akhirnya aku berjalan dengan langkah kaki gontai. Tadinya kupikir aku akan senang setelah memergoki ayahku yang sedang berbuat mesum di kamar hotel. Kupikir aku akan merasa puas setelah mematahkan sikap sok sucinya yang ia tunjukkan padaku tadi pagi, atau merasa puas bisa membuatnya tertunduk malu tanpa berani mengucap satu kata pun dari mulutnya yang selalu merasa perkataannyalah yang selalu benar dan yang paling benar. Tetapi, rupa-rupanya hal itu justru membuatku sedih, marah dan merasa jijik pada diriku sendiri. Sebab, sebab aku terlahir dari lelaki tukang selingkuh dan tukang kawin yang terbalut necis dengan setelan jas dan dasinya yang panjang, yang jika dilihat dari luarnya -- ia nampak seperti pria terhormat dan bermartabat. Aku juga tidak tahu, kenapa aku malah mengakhiri sandiwaraku begitu saja. Kenapa aku tidak bisa mempermalukannya di depan umum? Kenapa aku masih berusaha menjaga harga dirinya?
Sudah pasti aku dalam suasana hati yang sangat gusar gara-gara kemacetan, kelakuan ayahku, dan atmosfer kota Jakarta yang diselubungi hawa panas matahari tengah hari, aku jadi mengarahkan motorku ke area Eco Park Ancol. Bukan untuk bermain perahu dayung ataupun perahu bebek. Aku hanya ingin bersantai di tepi dermaga, di tempat di mana tidak ada orang yang akan menatapku dengan tatapan aneh. Mungkin saja -- danau, rawa-rawa, dan pepohonan itu bisa membuat suasana hatiku kembali tenang dan nyaman.
Tetapi...
Baru beberapa menit aku duduk sendirian di dermaga, seperti seorang jomblo ngenes yang baru putus cinta, tahu-tahu Reza ada di sampingku.
"Kok kamu ada di sini?"
"Mencarimu."
"Memangnya iya?"
"Hmm... kamu ini, ya. Aku ke sini untuk mencarimu, bukan jalan-jalan apalagi berkencan dengan perempuan lain. Paham?"
Uuuh... ada yang sensitif.
"Ayahmu tadi yang meneleponku."
"Lalu?"
"Apa?" Reza balik bertanya. "Aku khawatir, makanya aku mencarimu."
"Kamu pasang pelacak di ponselku?" tanyaku tanpa berbasa-basi lagi.
Reza mengangguk.
Dasar menyebalkan! Dia mengakui kalau dia memang memasang pelacak di ponselku. "Tidak masalah, kan?"
"Sebenarnya tidak, tapi kan seharusnya kamu bisa bilang dulu, permisi dulu padaku. Bukan main pasang begitu saja. Itu kan namanya tidak sopan."
Tapi Reza sama sekali tidak merasa bersalah. "Apa pun yang kulakukan itu demi kebaikanmu," katanya. "Kamu paham, kan?"
Yeah, aku tahu. Sudahlah, pikirku. Lagipula aku sedang tidak ingin berdebat, terlebih dengan Reza. "Maaf kalau aku sudah membuatmu khawatir. Tapi sebenarnya kamu tidak perlu menyusulku ke sini, aku bisa jaga diri, kok. Aku cuma mau ngadem, bukannya mau menceburkan diri ke danau."
__ADS_1
"Kamu ingkar janji."
"Eh?"
"Kamu sudah berjanji tidak akan pergi-pergi sendiri. Kenapa ingkar?"
Oh Tuhan... itulah mengapa aku tidak pernah ingin berjanji. "Maaf," kataku.
"Ada masalah apa dengan ayahmu?" tiba-tiba Reza bertanya langsung pada intinya tanpa menanggapi permintaan maafku yang tak berguna itu.
Yeah, awalnya aku bingung mau menjawab apa, tapi akhirnya cerita itu bergulir begitu lancar dari mulutku, termasuk semua cerita di masa lalu yang menerpa keluargaku, segala kemungkinan yang menjadi penyebab ayahku meninggalkan kami.
"Aku tidak mau berkomentar yang menyudutkan siapa pun atau membela siapa pun. Sebagai orang luar, aku cuma bisa mengatakan -- kalau memang benar perempuan itu adalah salah satu istrinya, itu bagus. Artinya mereka tidak melakukan hubungan di luar pernikahan, terlepas apa pun status pernikahan mereka, pernikahan legal, pernikahan siri, atau dia berselingkuh dari istri-istrinya yang lain. Yang pasti, kamu tidak perlu malu, kamu tidak ada hubungannya dengan apa pun yang mereka lakukan. Dan... kamu tidak perlu marah. Biarkan saja. Toh, agama memperbolehkan laki-laki berpoligami, boleh punya istri lebih dari satu. Lagipula, kan Bunda bukan salah satu istrinya. Bukan lagi istrinya. Jadi, untuk apa kamu marah-marah? Hmm?"
Aku menatap tajam pada Reza sejak dia mengucapkan kata poligami. Sikapnya yang seakan netral itu memancing rasa khawatir yang beberapa hari belakangan ini tidak pernah muncul di benakku, tapi sekarang malah tiba-tiba muncul dan kembali mengapung ke permukaan. "Kamu membenarkan poligami?"
"Bukan...," katanya, jelas Reza menangkap ke mana arah pertanyaanku. "Aku bukan membenarkan poligami, tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya. Benar atau salah, itu tergantung dari sudut pandang kita menilainya dan apa alasan di balik itu. Itu pun tergantung dari kaca mata masing-masing orang," tuturnya.
Kurasa sebenarnya Reza merasa sulit untuk menjelaskan maksudnya. Tapi, meski demikian, ia masih bisa bersikap santai.
Aku melengos. Aku tidak suka jawabannya yang membuat dadaku terasa sesak. Berarti ada kemungkinan bahwa dia juga akan berpoligami. Air mataku hampir saja menetes jika saja dia tidak segera menyuntikkan hormon cinta yang mampu menetralisir rasa sakitku.
Dengan tangannya, Reza meraup wajahku dan menghapus air mata yang terlanjur menggenang di kelopak mata. "Jangan menangis," katanya. "Aku tidak akan seperti itu. You are the one and only. Hanya kamu satu-satunya wanita yang akan aku nikahi. Believe me, I am promise."
Aku mengangguk.
"Tapi...."
"Tapi apa?"
"Kalau kamu mati muda, aku boleh dong menikah lagi?"
Ya salam... kali ini dia tertawa cengengesan. "Kamu menyebalkan! Kamu mau aku mati muda? Heh?" Kucubit perutnya sampai dia menjerit kesakitan.
"Itu kan kalau. Kalau aku mati muda, kamu juga boleh menikah lagi."
Hmm... aku merengut. "Apa sih, Mas?"
"Aku serius, kalau aku mati lebih dulu, kamu boleh kok menikah lagi. Asal kalau kita punya anak, kamu tidak boleh mengabaikan mereka setelah kamu punya keluarga baru."
Ya ampun, apa dia mau mati muda?
__ADS_1
"Sudah, jangan bahas hal seperti ini lagi. Oke?"
Dia memelukku, lalu mengelus punggungku. Dan tak lupa, kecupan mesra pun mendarat di puncak kepalaku. "Tidak apa-apa, Sayang," katanya. "Tidak ada salahnya kita berpikir rasional. Yang terpenting, seumur hidupmu dan selama kamu setia di sisiku, hanya kamu satu-satunya wanita yang akan aku nikahi, satu-satunya yang akan kujadikan istri, dan satu-satunya wanita yang akan menyandang status sebagai Nyonya Reza Dinata. Nobody else. Hanya kamu."