
Dari Kawah Putih, kami meneruskan perjalanan ke perkebunan teh Rancabali untuk sekadar menghirup udara segar khas pegunungan dan merasakan ketenangan yang menyenangkan, juga merekam momen kami berdua di tengah-tengah pemandangan hijau di sekeliling kami.
"Ternyata enakan jalan ramai-ramai, ya Mas. Biar ada yang motoin kita," kataku.
Dia mengangguk. "Yap, enakan foto seperti kemarin daripada selfi-selfi sendiri." Dia sependapat denganku. "Omong-omong, apa kamu sudah pernah ke sini sebelumnya?"
"Kalau ke sini belum pernah. Tapi kalau ke perkebunan teh sudah pernah, di Pagaralam. Dan yang terpenting itu bukan perkebunan tehnya, melainkan dengan siapa aku di sini dan dengan siapa aku saat ini."
Reza tersenyum, lalu maju beberapa langkah sampai rapat di depanku. Jujur saja, kukira dia akan menciumku seperti kebiasaannya kalau tiba-tiba merapatkan dirinya kepadaku, ternyata kali ini dia hanya ingin merangkulku dengan menyalungkan satu tangannya ke tengkuk leherku. Saat itu kami tidak bicara dalam waktu beberapa menit, hanya menikmati waktu bersama sambil memandangi hamparan hijau nan luas sejauh mata memandang, juga merasakan nikmatnya tertiup angin yang membelai dengan sentuhannya yang mesra. Sebelum akhirnya kami mengakhiri hari di Situ Patenggang, danau di wilayah Ciwidey yang menawarkan pemandangan asri dan atmosfer yang alami.
Jumat pagi keesokan harinya, Reza dan aku hanya menyusuri seputaran kota Bandung, dari Gedung Sate hingga ke Gedung Merdeka, lalu ke Alun-Alun kota Bandung, dan siangnya kami singgah ke Masjid Agung. Karena hari ini hari jumat, Reza ingin salat jumat di sana. Ini adalah tempat-tempat yang seringkali kulihat dalam drama Preman Pensiun yang sudah kutonton semua tayangannya, baik yang series, ftv atau versi layar lebarnya. Yang kuharap selalu ada kelanjutannya, sebab aku suka sebuah tontonan yang sarat akan pembelajaran dan arti sebuah hubungan kekeluargaan.
Setelah makan siang, Reza memenuhi keinginanku untuk pergi ke Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu, dan agak sorenya kami menyambangi Orchid Forest Cikole. Sebuah destinasi objek wisata yang disebut-sebut sebagai taman anggrek terbesar di Indonesia. Dalam lahan yang sangat luas ini, terdapat lebih dari seratus lima puluh tujuh jenis bunga anggrek yang dibudidayakan. Tidak hanya itu, spot foto di tempat ini juga menjadi incaranku, spot foto jembatan gantung kayu dan juga wooden bridge yang menjadi spot foto favorit pengunjung. Berfoto dengan tema Love seperti yang dilakukan Tiger Shroff dalam film Student of The Year 2, juga pose ala wallpaper 9 dari film Fitoor. Yap, tentunya dengan meminta tolong pada orang yang tak dikenal.
Malam harinya, kami menikmati makan malam di food-court, di tepi jalan.
"Sayang?"
"Emm?"
"Boleh tidak setelah ini kamu jangan ke mana-mana lagi tanpa aku?"
Pertanyaan itu membuatku mengernyitkan kening dan berhenti sejenak mengunyah soto Bandung yang dipesankan Reza untukku.
"Jangan mengembara sendirian lagi," pintanya. "Terus, kalau mau ke mana-mana, kamu harus pergi denganku. Diam di rumah kalau kamu sedang tidak bersamaku, atau paling tidak minta temani Ihsan kalau kamu ada keperluan di luar."
Aku berdeham. "Kamu... mau aku tidak melakukan perjalanan lagi atau kamu tidak mau aku bertemu dengan orang-orang yang memancingku melakukan hal bodoh seperti yang kamu bilang kemarin?"
"Keduanya. Tolong, janji padaku?" pintanya lagi dengan sorot mata penuh harap.
Aku terdiam sesaat, otakku memikirkan apa sebaiknya aku berjanji? Apakah aku siap untuk konsisten jika aku berjanji -- mengingat tempo hari aku selalu ingkar atas janji-janjiku kepadanya?
"Emm... aku takut kalau mesti berjanji, Mas. Aku takut aku tidak bisa menepatinya. Tapi akan aku usahakan, aku akan diam di rumah saat aku tidak bersamamu," kataku, mencoba untuk menanggapi permintaan Reza dengan sebijak mungkin.
Dia tersenyum lebar. "Itu sudah cukup. Aku akan tenang kalau kamu diam di rumah saat aku tidak bisa menjagamu. Terima kasih karena kamu bersedia menuruti permintaanku."
Aku mengangguk dan tersenyum. "Because I love you."
Aku tahu dia tidak bermaksud mengekangku, dia hanya ingin semua hal yang terbaik untukku. Itu adalah bentuk perhatiannya padaku. Karena dia mencintaiku.
"Besok hari terakhir liburan kita. Kamu mau pergi ke mana?"
Kucoba berpikir cepat. Tapi nihil. "Nanti akan kupikirkan," kataku sembari mendorong mangkok sotoku yang sudah kosong.
Di belakang Reza, seorang ibu-ibu hamil tengah celingak-celinguk mencari meja kosong. Memang sudah waktunya jam makan malam sehingga tamu-tamu food-court kian banyak berdatangan. Kami sudah selesai makan, kami pun tahu diri untuk segera beranjak agar pengunjung lain bisa mendapat tempat duduk untuk makan.
Beberapa saat kemudian, pikiranku tertuju pada si ibu hamil yang tadi kulihat di food-court. Kupikir, kalau nanti aku hamil, pasti aku tidak akan selincah seperti saat ini, bisa mengembara ke mana pun yang aku mau. Terlebih, sekarang Reza sudah memintaku untuk tidak pergi-pergi sendirian lagi. Permintaan itu pun menjadi pertimbangan di otakku saat ini, tapi andaipun aku ingin bepergian, tentu saja tidak akan nyaman lagi bila tanpa Reza di sisiku.
"Kamu lagi memikirkan apa?" tanyanya memutus cabang-cabang pikiranku.
Aku tersenyum kecil, tidak, bukan, lebih tepatnya hanya menyunggingkan bibir yang nampak sedang tersenyum. "Lagi memikirkan kalau nanti aku hamil, terus punya bayi. Itu artinya aku akan lebih banyak diam di rumah, ya kan?"
Lagi-lagi dia tersenyum. "Sudah mikir punya bayi saja kamu. Pikir dulu malam pertamanya. Siap, tidak?"
"Mas...," pekikku. Kali ini aku menahan senyum karena malu. Terlebih malu karena teringat adegan di villa kemarin malam. "Aku serius, Mas. Aku mau tahu, apa kamu berencana mau langsung punya anak atau mau menunda dulu?"
Dia tersenyum lagi. "Langsung," jawabnya santai. "Kalau perlu, kita ikut program hamil."
Langsung hamil? Ikut program hamil?
Itu artinya aku pun harus menjaga fisikku, itu artinya aku tidak boleh terlalu capek, itu artinya aku harus mengorbankan pengembaraanku?
Kalau begitu, artinya aku hanya punya waktu saat ini, kan?
Memang aku tidak pernah terlalu capek sebab aku tidak mau jika daya tahan tubuhku sampai ngedrop, tetapi kalau untuk mempersiapkan kehamilan, itu berarti aku harus lebih ekstra menjaga fisik. Uh... pikiranku sudah ke mana-mana. Siapkah aku dengan pase kehidupan baru setelah kami menikah?
Reza menjentikkan jemarinya. "Jangan terlalu dipikirkan," tegurnya. "Jalani dan nikmati kodratmu sebagai wanita. Nanti ada masanya untuk bisa jalan-jalan lagi, liburan lagi. Ya... meski tidak sebebas sekarang. Tidak bisa seharian semalaman seperti sekarang. Dan tidak bisa se-melanglang buana seperti sekarang," ujarnya seraya tetap fokus menyetir mobil dan sesekali melirik ke arahku.
__ADS_1
"Mas, bisa, tidak, kita menghabiskan waktu dengan berpetualang bebas sebelum hari pernikahan kita?"
Praktis, Reza menatapku dengan serius. "Terus, bagaimana dengan persiapan pernikahan kita?"
"Kan semuanya bisa diurus sepupu-sepupuku."
Reza nampak sedang berpikir sebelum menjawab permintaanku. "Sayang, kita sudah pergi selama tiga minggu full. Aku tidak enak pada Bunda kalau aku mengajakmu bepergian lagi. Lagipula, aku ada pekerjaan yang harus aku urus."
Aku merunduk lemah mendengar jawabannya. Kusandarkan tubuhku sembari melihat ke luar jendela.
"Begini saja. Nanti setelah kita menikah, kita luangkan waktu, ya. Terserah kamu mau berapa hari, tapi jangan lebih dari satu bulan. Dan... kita akan tetap meluangkan waktu setelah itu, kamu bisa ikut bersamaku ke mana pun. Tapi... dengan syarat kita mesti belusukan dan tidak membuatmu terlalu capek, karena aku mau kita fokus punya anak. Deal?"
Aku mengangguk. Kurasa itu tawaran yang cukup menarik.
Sabtu pagi, sebenarnya hari ini hari terakhir kami di Bandung. Rencana awalnya kami akan pulang pada minggu pagi. Tapi, secara mendadak aku mengajak Reza untuk melakukan perjalanan dari Bandung ke Cianjur dengan estimasi waktu dua hari dan berencana bermalam di sekitaran Puncak. Ide itu muncul begitu saja, hanya karena aku menginginkan sebuah perjalanan panjang sembari singgah di bererapa tempat dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang kami lalui, sebelum aku harus berdiam diri di rumah sesuai keinginan Reza. Tentu saja, mumpung kebebasan itu masih ada.
Gayung pun bersambut, dan nenek pun langsung mandi. Eh?
Maksudku... Reza mengiyakan permintaanku. Sungguh, betapa senangnya hatiku, rasanya aku ingin melompat-lompat mengguncang kota Bandung saking senang dan girangnya aku pagi ini.
"I love you, Mas Sayang," kuucapkan kalimat itu sebagai ungkapan terima kasih kepadanya.
Dia tersenyum, lalu mengelus kepalaku. "I love you more, Nara Sayang...," sahutnya lengkap dengan kecupan manis manja mendarat di pipi. "Mas sayang kamu."
"Nara juga sayang kamu."
Begitulah kira-kira, perasaan yang menggebu-gebu ini membuat kami seperti ABG yang mengalami masa puber di usia pertengahan dua puluhan.
"Ingat, ya, Sayang, aku tidak tahu jalur, dan google map tidak selalu menunjukkan arah yang benar. Kamu siap kalau-kalau kita nyasar?" tanyanya sambil menyusun barang ke dalam mobil yang sekarang muatannya hampir penuh dengan barang-barang kami, termasuk oleh-oleh yang semalam kami beli.
Aku mengangguk. "Asal ada kamu dan beramamu, di mana pun akan selalu menyenangkan."
Dia tertawa. "Gombal!" katanya.
"Aku serius, bukan gombal. Lagipula mumpung kebebasan itu masih ada, kan? Belum tentu, lo, setelah kita menikah nanti kamu mau kuajak pergi-pergian begini. Bisa jadi -- nanti kamu maunya berduaan terus di dalam kamar."
Haha! Sontak saja Reza berhenti sejenak menyusun barang-barang itu. Dia menoleh ke arahku dengan senyum dan tawa kecilnya yang ceria. Dua hal kecil yang membuat suasana Bandung pagi ini terasa hangat. Dia nampak seperti anak laki-laki usia tujuh belas tahun kalau sedang rada malu, sangat imut dan menggemaskan.
Eits, kami tidak langsung melakukan perjalanan keluar dari wilayah Bandung. Kami menyempatkan ke Taman Bunga Cihideung, Parongpong. Tidak hanya untuk melihat-lihat, berfoto cantik, ataupun merekam video manis yang manisnya bisa membuat kita sampai diabetes, tapi juga untuk membeli beberapa jenis bunga sebagai oleh-oleh untuk ibuku dan ibunya Reza. Aku suka sekali taman bunga, benar-benar suka. Di sini, kami tidak berfoto mesra, tapi lebih ke potret wajah dan bunga, yang kata Reza sama-sama indah, sama-sama cantik, cetar, dan membahana. Tapi... tentu saja tidak lebih indah jika tanpa aku. Nah, itu baru namanya gombal....
"Kalau berdasarkan informasi si mbah--"
"Mbah siapa? Mbahnya kamu?"
"Mbah google...," kataku setengah memekik.
"Oh... aku kira mbahnya kamu."
"Ih kamu mah begitu," rajukku.
Reza cengengesan. "Bercanda, Sayang...," katanya sambil mencubit kedua pipiku dengan gemas, seperti gemasnya mencubit panta* bayi. Kau tahu, kan, panta* bayi? Apa kau pernah mencubitnya? Yeah, rasanya seperti itu. Sudah, lupakan. "Terus apa kata mbah kamu?"
Kuhela napas karena jengkel. "Kata mbahku, yang sebentar lagi bakal jadi mbah-nya kamu, di dekat sini ada sungai terkenal, namanya Sungai Cikahuripan." Aku mendikte persuku kata nama sungai yang kumaksud. "Sebutan kerennya Green Canyon Bandung Barat."
"Kamu mau mampir ke sana?" tanya Reza yang lebih tepatnya menebak tapi tidak tepat.
Aku menggeleng. "Tidak. Cuma menarik saja artikelnya. Katanya kalau kita melemparkan koin lima ratusan sambil make a wish, harapan kita bakal terkabul. Apa kamu percaya?"
Reza menggeleng. Dia sedang melihat koleksi foto yang baru saja dia jepret, lalu dia menolehku. "Semuanya kan tergantung Tuhan. Kalau Dia berkenan mengijabah harapan hambanya, ya bakal terkabul. Begitu pun sebaliknya, kalau Tuhan tidak berkenan, mau sampai sejuta koin pun, tetap tidak bakal terkabul."
"Jadi kamu tidak mau melakukan hal-hal semacam ini?"
Dia menggeleng lagi. "Tidak," katanya dengan jawaban yang sama. "Kalau kamu?"
Aku mengangkat kedua bahu. "Mungkin. Jika aku sudah sangat putus asa."
Reza kembali menoleh, menatapku dengan sorot mata yang tidak bisa kumengerti, membuat alisku refleks terangkat. "Apa? Siapa yang tahu dengan perjalanan kita ke depan? Takdir baik tidak akan selalu berpihak pada kita, Mas. Aku hanya tahu, aku harus terus bertahan untuk hidup, meski seburuk apa pun takdir dan seputus asa apa pun diriku di saat itu."
__ADS_1
"Meskipun ada aku di sisimu?" tanya Reza yang kini sudah berdiri di depanku dan melingkarkan lengannya di pinggangku dengan erat, membuat dadaku terhenyak ke dada bidangnya.
Hmm....
"Bukan. Tapi di saat kamu membuatku patah hati."
Dia menggeleng. "Tidak akan. Tidak akan pernah," katanya dengan yakin dan pasti.
"Aku berusaha untuk selalu percaya. Tapi... lepaskan aku. Malu dilihat orang."
Reza pun tertawa dengan semringah dan sempat-sempatnya mendaratkan bibirnya di pipiku.
Setelah satu jam berkeliling taman bunga, meskipun tidak semua area, kami segera melanjutkan perjalanan ke Taman Batu Citatah atau dengan nama kerennya Stone Garden Citatah, jarak tempuhnya lumayan jauh tapi masih termasuk wilayah Bandung Barat. Lokasinya bisa dikatakan berada di dataran tinggi karena terletak di atas sebuah bukit. Di sekitar bukit Taman Batu ini ada sebuah gua alam yang disebut dengan Gua Pawon yang sama purba-nya seperti taman batu ini. Dan yang paling menarik di tempat ini adalah susunan batu yang benar-benar artistik, menjulang rapi seperti berformasi. Hasil foto di atas bebatuan tinggi itu begitu instagenic, sangat sangat memuaskan untuk seseorang dengan jiwa petualang.
"Mas, foto dengan pose ini, please?" pintaku seraya menyodorkan ponselku yang menampilkan pose hot ala Priyanka Chopra dan Shahid Kapoor dalam film Pyaar Ka Punchnama.
Reza menggeleng. "Malu, Sayang," tolaknya.
"Please...," rengekku.
Yeah, kau tahu, kan, Reza tidak akan mampu menolak rengekanku. Akhirnya dia pun menuruti keinginan gilaku berkat bujukan jurusku yang ampuh. Dia meminta tolong orang untuk menjepret foto kami. Kemudian ia bersandar ke salah satu batu besar bak posenya Shahid Kapoor. Meski tidak se-hot Priyanka Chopra, split skirt selutut yang kukenakan cukup mendukung untuk pose satu ini.
"Tangan kamu jangan nakal... cukup nempel di pahaku, jangan digerakkan. Malu dilihat orang."
Hmm... dia cengengesan. "Kalau tidak ada yang melihat, bagaimana?"
"Jangan bercanda, Mas...."
Tiga, dua, satu, cekrek! Selesai!
Jam 11.30, kami melanjutkan perjalanan menuju Cianjur. Little Venice Kota Bunga adalah destinasi tujuan pertama kami di kabupaten penghasil beras pulen nan wangi ini. Hari itu, matahari yang perkasa menunjukan eksistensinya melalui sinarnya yang terik saat hamparan padi nan hijau mulai menyambut ketika kami memasuki daerah Cianjur. Butuh waktu hampir dua jam perjalanan untuk sampai ke lokasi tujuan kami. Tapi, sebelum kami melanjutkan petualangan, lelakiku yang tampan itu meminta waktu istirahat untuk mengisi iman, isi tenaga, dan isi perut.
Jam 14.00, kami sudah tiba di gerbang Kota Bunga di mana tempat yang bernama Little Venice itu berada di dalamnya. Setiba di gerbang itu, karena itu sebenarnya merupakan gerbang perumahan elite, Reza bertanya kepada satpam, “Little Venice?” dan sang satpam pun membenarkan. Langsung saja kami masuk dengan semangat tinggi, terlebih semua amunisi yang perlu di isi sudah di isi full tank.
Perumahan di sini memiliki bentuk yang sangat eksotis dan berwarna-warni. Ya Tuhan, bangunan cantik-cantik seperti itu kira-kira berapa harga satu unitnya? Well, ini villa, bukan rumah, yang pasti memang mengutamakan konsep kemewahan dan keasriannya. Aku berdecak kagum melihat kiri-kanan dengan ekspresi norak.
"Bagusan juga sketsamu, Sayang," tutur Reza serasa mengejekku.
Cuma sketsa apa bagusnya?
"Tahu tidak? Banyak cewe yang melirikmu," kataku saat kami menuju loket dan membeli tiket sesampainya kami di lokasi. Setelah itu, sang Barrier mengucapkan selamat datang dengan ramah dan memakaikan gelang tiket untuk di-scan barcode-nya sebagai tanda masuk.
Reza tersenyum percaya diri. "Itu hal biasa," ujarnya. "Kamu tidak usah cemburu."
Dasar, siapa juga yang cemburu? Benar adanya, orang tampan itu memiliki kepercayaan diri yang menjulang tinggi, setinggi langit ketujuh.
Kembali ke Little Venica Kota Bunga. Dari pintu masuknya pengunjung dapat melewati jembatan keren khas Venice, dan suasananya benar-benar khas Italia, ditambah dengan pemutaran lagu berbahasa Italia yang menambah kesan pada tempat yang disebut dengan Little Venice itu. Fitur lainnya adalah banyaknya gambar-gambar besar yang dikhususkan untuk tempat berfoto yang bertemakan landmark-landmark dunia seperti menara Eiffel dan Colosseum. Sengaja kami tidak mengambil foto. Hanya merekam kenangan dengan video-video singkat yang nantinya akan kami gabungkan menjadi satu video berdurasi panjang.
Masih tersisa waktu dua setengah jam bagi kami untuk menyambangi Taman Bunga Nusantara, itu pun dipotong jarak tempuh menuju lokasi dari Little Venice, tapi setidaknya cukup bagi kami untuk mengarungi luasnya hamparan bunga sampai jam taman ini di tutup.
Well, setelah dari loket, sesi jepret-jepret dan rekaman video pun dimulai. Ada satu momen di mana Reza terkekeh melihat pengunjung taman yang notabenenya para mama-mama muda, mereka berselfie ria dengan semangatnya yang membumbung tinggi, sementara kaum papa muda bertugas menjaga anaknya masing-masing.
"Semoga nanti kamu sebagai seorang istri dan seorang ibu -- sadar betul kalau momen liburan itu adalah waktu untuk keluarga. Bukan untuk sibuk dan foto selfie sendiri."
Dia benar. Tidak ada salahnya pamer-pamer foto di sosial media. Tapi bukan berarti itu membuat kita fokus menjepret foto dan kehilangan momen kebersamaan dengan keluarga.
"Siap, Papa," sahutku, membuat dia tersenyum lagi. Uh... imutnya...
Fokus! Kutegur diriku sendiri karena gagal fokus.
Taman Bunga Nusantara ini di bagi dalam beberapa kategori, salah satunya Taman Labirin. Sebenarnya Reza sempat bertanya apa aku ingin ke sana. Tapi aku mengatakan tidak. "Kenapa? Takut tersesat?"
"Bukan. Aku bukannya takut tersesat. Hanya saja, aku tidak mau membuang-buang waktuku hanya untuk tersesat, ini sudah hampir jam lima."
Toh masih banyak pilihan lain, seperti Taman Prancis, Taman Jepang, Taman Amerika, Taman Bali, Taman Mediterania, Taman Mawar, Taman Palem, Air Mancur Musical dan masih banyak lagi. Dan untuk spot favoritku adalah taman Prancis, karena warna-warni bunga-bunga di sana paling cerah sehingga bagus untuk dijadikan spot foto. Di tengah-tengah tamannya juga terdapat air mancur.
Dan kau tahu, yang paling menyenangkan adalah ketika ketemu penjual bakso, cusss mampir. Ketemu penjual gorengan, yuk ah beli. Terus ketemu penjual burger, Nara mau burger, Mas. Haha. Apalagi kalau ketemu warung yang menawarkan minuman dingin, kerongkongan mendadak melambai-lambai minta dialiri air segar, dingin dan cmiwiwww. Masih untung aku tidak minta dipijat, sebab pegalnya luar biasa. Dan meskipun begitu, selesai dari taman bunga, kami tetap harus berburu kuliner, sate maranggi menjadi incaran utama kami sore ini.
__ADS_1
"Tapi Mas mengincarmu, Sayang."
Aduuuh... dia menggodaku!