Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Terlalu!


__ADS_3

Dalam perjalanan itu, kami tidak berbicara sepatah kata pun. Pandanganku kabur karena air mata, isakan tangis mengganjal di tenggorokan. Dan, meski Reza berusaha tegar, aku menyaksikan sendiri air matanya menetes. Mata yang selalu memikatku itu kini tergenang air, meski selalu ia hapus dengan tangannya. Ia berusaha tegar di hadapanku.


Hanya beberapa menit, kami tiba di sebuah klinik bersalin yang buka dua puluh empat jam.


"Sebaiknya kamu pergi, Mas," kataku setelah Reza mematikan mesin mobil. "Tidak adil untukmu kalau kamu memaksakan diri bersamaku. Kamu berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada aku."


Reza menoleh, lalu memutar badan menghadapku. "Nara, Sayang," katanya. Satu tangannya menggenggam tanganku, dan satu lagi menyentuh kepalaku. "Dengarkan aku. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu. Pegang kata-kataku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Tapi, Mas, aku ini kotor. Tidak ada yang bisa kubanggakan dari diriku. Aku sudah tidak perawan."


Reza menggeleng. "Please... stop."


"Kamu yang stop. Jangan bohongi dirimu sendiri demi aku. Jangan memberiku harapan. Ini dunia nyata, bukan cerita fiksi. Tidak ada laki-laki yang mau menerima gadis korban pemerkosaa*. Aku saja jijik pada diriku sendiri. Apalagi kam--"


Celotehanku terhenti. Reza membungkam bibirku dengan ciumannya. Seakan dia ingin menunjukkan bahwasanya dia tidak jijik sedikit pun padaku. Seolah -- baginya -- aku ini sama sekali tidak kotor.


"Jangan bahas ini lagi, oke?" suaranya mulai parau. "Sini," katanya. Dia menarikku ke dalam pelukannya. "Tenangkan dirimu. Seperti janjiku, aku akan menerima kamu apa adanya. Semuanya akan baik-baik saja. Kita bisa melewati semua ini bersama. Oke? Sekarang kita masuk ke klinik, kita ketemu dokter."


Aku pun mengangguk. Sesaat kemudian, sewaktu aku hendak keluar dari mobil Reza memanggilku. Aku pun menoleh.


"Mas Reza sayang kamu."


Oh, hatiku tersentuh. Meski hanya empat kata, tapi berhasil melebur kegundahan di dalam hatiku. "Terima kasih," kataku. Senyum tipis terukir di bibirku, kami pun keluar.


"Sayang, kamu tunggu di sini. Aku ketemu dokter dulu. Jangan ke mana-mana. Oke?" pintanya saat kami berada di ruang tunggu.


Aku pun mengangguk. Jelas aku tidak akan ke mana-mana. Aku masih bisa berpikir sedikit jernih. Aku ingin mensterilkan diriku supaya aku tidak sampai hamil dari sperm* lelaki biadab.


Beberapa menit kemudian, Reza pun keluar dari ruangan dokter lalu ia menyuruhku masuk menemui dokter.

__ADS_1


Dengan sedikit basa-basi ala tenaga medis kepada pasien, dokter itu memberikan sugesti positif. Setelah itu, barulah ia membahas inti dari permasalahan kami. Pertama, dokter memberikan resep pil yang harus diminum dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam setelah peristiwa pemerkosaa*. Dia menjelaskan tidak boleh lewat dari jangka waktu tersebut karena jika demikian sel telur mungkin telah matang dan sudah dibuahi katanya. Selanjutnya dokter menganjurkanku untuk langsung memasang alat kontrasepsi IUD (intra-uterine device) yang berbahan dasar tembaga (copper IUD) untuk membunuh sel-sel sperm* di dalam rahim. Katanya, pemasangan IUD tidak boleh lebih dari lima hari setelah waktu pemerkosaa*. Aku pun langsung menyetujuinya.


Dokter memintaku membersihkan organ *ntimku terlebih dulu, dan memintaku berganti pakaian sekiranya aku membawa pakaian ganti. Kebetulan koper Mayra untuk pakaian foto prewedding kami tidak ia keluarkan dari mobil, sehingga aku bisa berganti pakaian.


Saat dokter "mengecekku" -- dokter itu mengernyitkan dahi. Diulanginya sekali lagi, tetap dengan ekspresi yang sama. Lalu ia meminta suster untuk mengambil pakaianku yang bernoda itu untuk dibawa ke laboratorium. Sang dokter pun permisi menyusul perawat itu. Tinggallah aku sendirian di ruangan itu, menunggu dokter dengan harap-harap cemas. Resah dan gelisah membumbung tinggi di puncak kepalaku.


Dokter kembali beberapa menit kemudian, diikuti Reza di belakangnya. Senyum semringah sang dokter membuatku jengkel. Bisa-bisanya dia tersenyum begitu semringah di depan manusia yang sedang berada di titik terendah sepertiku? Itu yang terpikir olehku di saat itu. Tetapi aku tak berdaya, sebagai pasien aku menaruh rasa hormat kepadanya. Aku yang sudah duduk di kursi di depan mejanya hanya bisa menunduk lemah, merema* tangan di bawah meja.


Dia berdeham sebelum membuka suara. "Boleh saya tahu kalian sedang apa saat kejadian tadi? Maksud saya, apa kalian sedang kumpul keluarga atau sedang merayakan reuni, misalnya?"


Aku bingung, kenapa dokter bertanya seperti itu? Aku yakin Reza pun sama bingungnya denganku. "Ya, Dok. Benar," Reza menjawab.


"Kalau begitu selamat, saya yakin kalian kena prank. Mbaknya baik-baik saja," dokter menjelaskan.


Aku kaget. Pun Reza, keningnya langsung mengerut. Kami tidak bergeming. Entah apa yang ada di kepala Reza, bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang ada di dalam pikiranku. Terharu, sedih, senang, marah, semuanya nano-nano. Ada rasa tidak percaya, tapi juga ada rasa senang, rasa syukur seandainya aku benar-benar dalam keadaan baik. "Maksudnya, Dok?" tanya Reza yang akhirnya menemukan lagi suaranya. Dia seakan masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Fiuhhh... lega. Meski air mata tetap saja mengalir. Tapi bukan lagi air mata kesedihan, justru sebaliknya, aku bahagia. Aku lega. Aku masih memiliki sesuatu yang bisa kupersembahkan untuk seseorang yang nanti menyandang status sebagai suamiku, MAHKOTAKU, sesuatu milikku yang amat berharga.


Sebentar, tunggu dulu. "Dokter yakin saya masih perawan?"


"Iya, seratus persen yakin. Dan soal bercak merah di pakaian Mbak, itu hanya pewarna makanan, yang entah dicampur apa bisa jadi kental berlendir menyerupai darah. Mungkin karena Mbaknya panik, jadi tidak berpikir kenapa tidak merasakan sakit di organ kewanitaannya Mbak."


Aku gugup saking senangnya. Menahan tawa bahagia, senyum semringah, meluapkan rasa syukur yang tiada tara.


"Oke. Kalau begitu terima kasih, Dok. Maaf sudah mengganggu waktu Dokter dengan hal semacam ini," kata Reza. "Kami permisi."


Sang dokter tersenyum. "Tidak apa-apa. Silakan," sahutnya ramah.


Uuuh... aku melompat kegirangan ke pelukan Reza sewaktu kami keluar dari ruang pemeriksaan. Dia pun membalas pelukanku. "Aku cinta kamu, Mas," kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku.

__ADS_1


"Boleh aku dengar sekali lagi?"


Ah, pertanyaan itu membuatku tersadar sepenuhnya. Reza melepaskan pelukanku. Dengan ekspresi serius dia menatap mataku, kedua tangannya memegangi bahuku.


Serrr... aku tidak bisa tahan dalam situasi seperti ini. Dia membuatku langsung salah tingkah. "Sayang, lihat mataku, please... katakanlah sekali lagi. Hmm?"


"Aku mencintaimu," ucapku setengah berbisik dengan malu-malu, aku berlari keluar dari klinik meninggalkan Reza yang masih tersenyum lebar di belakang sana, bahkan dia masih saja tersenyum sampai kami berada di dalam mobil.


"Emm... Mas, kita jangan langsung pulang, ya?"


Setuju. Reza langsung melajukan mobil dan kami pun melesat mendahului mobil-mobil lainnya menuju pantai.


Setibanya di sana, kami hanya duduk berdua, tidak berbicara selama beberapa menit. Meski sempat tersenyum karena pernyataan cintaku, Reza nampak masih shock akibat kejahilan para sepupuku, kemudian ia berbaring di atas pasir tanpa alas. "Sini, berbaring di sisiku," pintanya.


Aku menurut, itu kesempatan bagiku untuk mulai bicara. "Mas, apa kamu marah pada sepupu-sepupuku?" aku bertanya.


Reza tersenyum kecut. "Bohong kalau aku bilang aku tidak marah," katanya. "Memangnya kamu tidak marah?"


Hmm... sejujurnya aku jengkel. Tapi aku tidak bisa menunjukkan rasa jengkel itu kepada keluargaku. Jadi, kujelaskan kepada Reza bahwa aku juga marah, tetapi aku tidak berniat melampiaskan amarahku. Biarlah kupendam dan kuredam sendiri, kataku. Tak ayal, Reza merasa heran kepadaku, yang pernah dia lihat calon istrinya ini begitu mudah emosi, tapi dalam hal ini aku malah berusaha tenang.


"Sebab, bagi Bunda keluarga adalah segalanya. Aku tidak mau merusak hubungan kami hanya karena tidak terima mereka menjahiliku. Kata Bunda, Bunda dulu pernah melakukan kesalahan, bahkan beberapa kali, tetapi puji syukur, keluarganya tetap menerima Bunda. Sebab itu, Bunda ingin anak-anaknya selalu bersikap toleran pada anggota keluarga. Karena apa? Karena di sana tempat kita untuk kembali, tempat kita untuk pulang."


Reza mengangguk-angguk, ada sedikit senyum terukir dari bibirnya. "Aku juga tidak akan melampiaskan amarahku. Demi kamu," katanya. "Meskipun sebenarnya mereka sangat keterlaluan, sampai membiarkan kita ke klinik bertemu dokter. Kan malu."


"Aku minta maaf atas nama mereka. Dan terima kasih atas pengertianmu," kataku. Reza hanya tersenyum. "Terima kasih juga atas kesetiaanmu. Kamu membuktikan ketulusanmu mencintaiku. Tidak peduli bagaimana pun dan apa pun keadaanku, kamu tetap setia di sisiku. Aku sayang kamu, Mas."


Reza tersenyum lagi. "Aku tahu," jawabnya singkat.


Aku lega. Rasanya berton-ton semen yang menimpaku itu sudah tidak berbekas sama sekali. Kami tetap di sana sampai masuk waktu subuh. Setelah itu, kami pun langsung pulang dan disambut tawa cengengesan seisi villa. Jahat!

__ADS_1


__ADS_2