Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Menyakitkan


__ADS_3

"Kamu tidak takut kan kuajak ke sini?" Reza bertanya padaku saat kami tiba di kawasan TPU Bukit Lama. "Aku mau ziarah ke makam ayahku."


Deg!


Hatiku tertonjok.


Bagaimana hati itu masih bisa mencintai ayahnya dengan begitu tulus? Dia membuatku merasa kecil hingga ingin rasanya aku enyah sebentar dari sisinya.


Sembari berjalan menuju pusara ayahnya, Reza menyapa para penjaga makam yang sedang sibuk menyapu area makam, mencabuti rerumputan, dan ada juga yang sedang menggali kuburan untuk jenazah yang akan dimakamkan pada hari itu.


"Kamu sering ke sini, Mas?" tanyaku.


Dia mengangguk. "Rutinnya hanya dua kali setahun, saat ada pekerjaan dan saat menjelang Ramadan. Tapi ada yang jaga, kok. Ada yang rutin membersihkan makam ayahku."


Aku manggut-manggut sambil memastikan langkah kakiku tetap terarah dan tidak tersandung apa pun. Kemudian ikut duduk saat kami sudah sampai di pusara ayahnya, lalu berdoa beberapa saat di sana.


"Sayang?"


"Emm?"


"Kalau nanti ayahmu meninggal lebih dulu, kamu mau rajin berziarah ke makamnya? Minimal... maksudku, misalnya sekali dalam setahun?" tanya Reza yang membuatku membisu. "Aku tahu kamu mau bilang tidak."


Kalau sudah tahu jawabannya, kenapa mesti bertanya?


Aku mengedarkan pandangan ke sekitar pemakaman untuk menghindari tatapan mata Reza. Tetapi dia malah mengajakku untuk duduk rileks bersamanya -- di mana pusara ayahnya dikelilingi pembatas yang terbuat dari semen, kami duduk di pembatas yang terbuat dari semen itu. Aku tahu itu artinya dia hendak mengobrol serius denganku.


"Kamu mau menikah denganku?"


Hmm....


"Apa yang mau kamu katakan sebenarnya? Langsung saja pada intinya," kataku, straight to the point.

__ADS_1


Seulas senyum pun terbit di bibir Reza. Dia meraih tanganku, menggenggam dan *eremasnya dengan lembut, lalu ia berdeham. "Jadilah penyabar dan jawab pertanyaanku."


"Jangan muter-muter!"


"Sayang...."


"Iya, Mas... aku mau menikah denganmu...," jawabku dengan memanjangkan suku kata terakhir, dan berujung memonyongkan bibir.


Lagi, Reza tersenyum. "Seandainya jodoh kita panjang, sampai kita menua bersama dan terpisah oleh kematian, aku ingin kita tetap berjodoh sampai akhirat, sampai ke surga. Apa kamu juga mau?"


"Iya, lalu?"


"Artinya kita harus masuk surga."


"Itu tugasmu untuk membimbingku. Kalau aku masuk neraka, kamu juga akan masuk neraka. Karena kamu suamiku, kamu yang akan menanggung dosaku."


"Pintar, seratus untuk calon istriku," katanya dengan jari telunjuk mendarat di hidungku. "Aku tahu, aku tidak salah memilih calon istri."


O ya? Masa?


"Keduanya. Apa pun untukmu."


"Uuuh... manisnya."


"Aku serius, tapi nanti setelah kita menikah. Sekarang, bisa kamu serius sebentar?"


Baiklah. Aku mengangguk.


Tanganku yang tadinya hanya ia genggam, sekarang sudah mengait dengan jemarinya. Kemudian ia berkata, "Dengar, menikah bukan sekadar menghalalkan, bukan sekadar kata sah dan kita bisa hidup bersama. Menikah, berarti aku menjadi suamimu dan kamu menjadi istriku, aku berperan sebagai imam, pemimpin dan kepala rumah tangga untukmu sebagai makmumku. Sampai di sini kamu paham?"


Aku menggangguk. "He'em, lalu?"

__ADS_1


"Tugasku sebagai seorang suami bukan sekadar menafkahi keluarga. Tetapi, juga wajib mendidik istriku agar menjadi pribadi yang salehah, juga belajar memperbaiki diriku sendiri. Maksudku, nanti setelah kita menikah. Tapi kita bisa memulainya dari sekarang. Iya, kan, Sayang?"


Aku menangkap maksud lain dari ucapan yang ia tuturkan itu dan langsung kucetuskan, "Kamu mau aku memaafkan ayahku? Kamu mau aku berdamai dengan mereka?" tebakku.


"Aku mau kamu menjadi istri salehah, agar kita sama-sama ke surga. Tidak perlu perubahan drastis, harus begini harus begitu, tidak boleh ini tidak boleh itu, kita bisa memperbaiki diri seiring jalan setelah kita menikah. Tapi setidaknya kita mulai dari membersihkan hati dulu."


Hmm... kuhela napas dalam-dalam. "Apa menurutmu aku ini anak durhaka, Mas?"


Reza menggeleng. "Ayahmu sudah meminta maaf, harusnya kamu mau memaafkannya. Menyimpan kebencian dan dendam itu dosa. Termasuk memutus silaturrahmi, itu juga dosa."


Tidak. Aku balas menggeleng, tertunduk, menelan ludah getir. "Aku tidak bisa memaafkan orang itu. Aku tidak mau berdamai."


"Kamu belum bisa dan belum mau memaafkan, bukannya tidak bisa." Aku baru akan membuka mulut, tapi Reza lebih dulu menyalip apa yang ingin kukatakan. "Kamu bisa memaafkannya secara perlahan. Kamu hanya perlu membiasakan diri dengan kehadirannya. Coba untuk menerimanya saat dia ingin bertemu denganmu. Hmm?""


Aku tahu -- aku tahu apa yang dikatakan Reza itu benar. Sama sekali tidak salah. Kenyataannya, memang aku yang menolak kehadiran ayahku dan menganggap semuanya sudah terlambat dan sudah tidak bisa diperbaiki.


"Aku tidak mau." Suaraku melemah, lalu kutatap ia dengan nanar. "Sama, kan, sepertimu? Kamu juga tidak bisa memaafkan Danali? Jadi kenapa aku harus...?"


Reza menggeleng. "Situasinya berbeda, Sayang. Dia bahkan tidak pernah meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Dia tidak sedikit pun punya niat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jelas konteksnya berbeda."


"Tolong, Mas. Jangan paksa aku."


Reza menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan. "Aku rasa sebaiknya pernikahan kita dibatalkan," ujarnya dengan wajah tertunduk.


Aku tersentak mendengar ucapannya itu. "Ap-- apa? Apa maksudmu?"


"Maaf, aku tidak bermaksud...," suaranya tercekat, genggamannya pun menguat. "Aku takut -- aku tidak mampu membimbingmu. Kamu butuh seseorang yang bisa kamu hargai, orang yang bisa kamu dengar dan kamu turuti perkataannya."


Oh, no. Aku menggelengkan kepala dengan air mata yang mulai memerah. "Aku cuma mau kamu, Mas."


"Nara... ini untuk kebaikanmu," katanya. Lalu ia melepaskan tautan jemarinya dariku. "Aku minta maaf kalau aku terkesan pengecut. Aku minta maaf kalau kemarin-kemarin aku terlalu percaya diri, aku merasa aku yang terbaik untukmu. Tapi sekarang aku sadar, aku tidak mampu. Aku takut, Ra. Aku takut aku tidak mampu menjalankan amanah untuk membimbingmu. Aku takut tidak mampu mengemban tanggung jawab sebagai imam untukmu." Reza membungkuk dan merema* rambutnya.

__ADS_1


Hatiku seperti dicubit. Sakitnya melebihi rasa sakit ditinggal ayahku selama bertahun-tahun. Aku tak kuasa menahan genangan air mata hingga ia mengalir membentuk anak sungai yang membasahi pipi.


Ini tidak adil, Mas. Kamu menyakiti hatiku.


__ADS_2