
"Ya ampun, Sayang. Ini kan kejutan," Reza berkata sambil mencubit pipiku.
"Aduh... sakit!" lengkingku dengan kesal. "Bilang dulu kita mau ke mana?"
"Ini kan kejutan. Kamu mengerti arti kata itu? Kejutan. Kalau kuberitahu, namanya bukan kejutan lagi," kilahnya.
Euw...!
"Terserah!"
"Kamu kenapa cemberut terus?"
"Aku kesal. Aku tahu kamu langsung berangkat ke Solo setelah mengantar Ibu pulang ke Bogor, ya kan? Kamu tidak mengajakku."
Reza malah tersenyum. "Oh...," serunya. "Jadi itu masalahnya? Sori... aku tidak enak pada Bunda kalau mengajakmu pergi dalam keadaan seperti kemarin. Tapi kan aku mengirimkan voice note, tiga kali sehari, pagi, siang, malam. Aku juga coba meneleponmu, tapi kamu yang tidak merespons. Iya, kan?" Lalu dia menggenggam tanganku. "Sudah, ya," bujuknya. "Jangan ngambek lagi. Sekarang kubayar, akan kuluangkan waktu untukmu. Oke?"
Kuputar bola mata dengan malas. "Ke mana?"
Lagi, Reza hanya tersenyum, dia tetap keukeuh tidak mau memberitahuku ke mana dia akan mengajakku pergi. Tapi setelah beberapa kali belokan, akhirnya aku baru menyadari ke mana arah ia melajukan mobil.
"Kita menuju bandara? Kamu akan membawaku ke mana?"
"Nanti kamu juga tahu," katanya. "Sepuluh hari penuh kuluangkan waktu untukmu."
"Sepuluh hari? Menginap? Aku tidak membawa pakaian, Mas."
Lagi-lagi dia tersenyum, lalu mengelus kepalaku. "Tenang dan jangan bawel. Duduk yang manis. Oke, Sayang?"
Yeah, Reza memutuskan bahwa kami membutuhkan liburan. Kami meninggalkan Jakarta dan berencana menikmati sepuluh hari yang panjang, berdua, bersama. Aku belum sepenuhnya pulih dari kejadian beberapa hari sebelumnya, bertemu ayahku secara mendadak, dan Reza menganggap mungkin aku perlu diajak bepergian sedikit. Aku senang sekali membayangkan liburan sepuluh hari yang akan kami nikmati bersama. Aku hanya ingin tahu, ke mana kami akan pergi.
Hari itu Reza sedang sangat gembira. Jendela-jendela mobil dibuka, rambutnya yang agak gondrong itu berkibar-kibar di seputar wajahnya, music player dinyalakan, matahari bersinar cerah, perutnya kenyang dengan junk food, dan ada aku di sisinya. Kurang apa lagi?
Sekelebat aku membayangkan tentang indahnya liburan kami. Walau sebenarnya seperti biasa, di mana pun Reza berada, dia akan menginap di mes restoran. Ruang pribadinya jauh lebih nyaman ketimbang dia harus bermalam di hotel. Dan juga tentang pantai, aku meyakini kami akan berada di pantai sepanjang sore, menikmati senja dan angin sepoi-sepoi di tepi pantai.
Setibanya kami di parkiran bandara, dia memberiku tiket, dari situ aku baru tahu tujuan kami ialah ke Bali. Aku melompat ke Reza dengan sangat kegirangan, dan refleks-nya Reza sangat bagus, dia bisa mengangkat dan menahan tubuhku dengan kedua tangannya. Lengannya yang kuat dan kokoh persis di pinggang dan di bawah bokongku. Aku harus menundukkan kepalaku untuk menatap wajahnya. Dan sebaliknya, dia mendongakkan kepalanya saat menatapku. Aku pun berterima kasih, aku sangat suka pantai.
"Omong-omong, apa aku hanya mendapatkan ucapan terima kasih?"
Aku mengerti apa maksudnya. "Emm... oke. Pejamkan matamu."
Dia pun memejamkan matanya, kupandangi wajah tampannya tanpa malu, kusentuh bibirnya dengan jemariku. Perlahan aku mendekat, membiarkan hangat napasku menyapu wajahnya. Aku tahu dia menginginkan sebuah ciuman, maka dari itu...
"Tidak jadi. Malu," kataku. Aku pun tertawa.
Dengan sedikit mencebik, Reza menurunkan aku. "Awas saja nanti," katanya.
Ouh... apa yang akan dia lakukan kepadaku? Eh?
Kami tiba di Bali tepat saat matahari sudah tidak memancarkan sinarnya yang terik. Penyambutan yang lumayan, tidak membuatku kaget dengan cuaca baru. Walau sebenarnya -- panasnya Jakarta dan Bali itu hampir sama.
"Sayang... maaf, ya. Aku tidak mengajakmu menginap di hotel," ucap Reza begitu kami sampai dan masuk ke ruang mes.
__ADS_1
Aku tersenyum. "Tidak masalah kita menginap di sini. Justru aku sangat suka. Sebenarnya aku tahu kalau kamu pasti mengajakku tinggal di mes, dan aku juga tahu kalau kamu juga ada pekerjaan yang akan kamu kerjakan di sini. Apa aku benar?"
Reza mengangguk, lalu ia menaruh kopernya di samping sofa, sementara aku melesat masuk ke kamar mandi. Saat aku keluar, dia sedang duduk bersandar di sofa, ada bantal sofa di pangkuannya, dan dengan televisi yang sudah menyala. Aku mendekat, lalu beringsut duduk rapat di sampingnya dan menyandarkan kepalaku di bahu kirinya.
"Mas, aku lapar, haus. Pesan makanan, ya?"
"Kamu mau makan apa?"
"Terserah kamu."
Reza pun mengeluarkan ponsel dari sakunya dan langsung memesankan makanan pada karyawan resto. Setelah itu dia menaruh ponsel itu ke atas meja. "Aku usahakan pekerjaanku selesai dalam sehari. Itu pun nanti di awal bulan, dan selebihnya waktuku hanya untukmu," ucapnya, lagi-lagi sambil mengelus-elus puncak kepalaku.
"Iya, Mas. Aku tahu, aku mengerti, aku paham, dan aku tidak akan protes dengan semua kesibukanmu."
Ia memperdengarkan dehaman halus, lalu bertanya, "Bagaimana setelah kita menikah nanti? Kamu akan tetap pengertian seperti ini? Tetap tidak akan protes?"
"Tentu," jawabku. "Asalkan kamu selalu mengajakku ke mana pun kamu pergi." Kuberikan ia cengiran yang paling lebar setelah mengucapkan kalimat itu.
Dia terkikik, lalu menyandarkan sisi kepalanya di atas kepalaku. "Kamu yakin? Dalam satu bulan minimal tiga kali aku keluar kota. Kamu tidak takut capek?"
"Tidak. Kamu kan tahu aku sudah terbiasa."
Reza menolehku. "Itu berbeda," katanya. "Kamu stay satu bulan di satu kota. Sedangkan aku, aku berpindah-pindah, kalaupun tinggal lama, tidak akan lebih dari sepuluh hari. Setelah itu, aku harus pergi lagi ke kota lain. Kamu sanggup?"
"Ya," kataku yakin. "Asalkan bersamamu, dan kita mengembara bersama."
Reza tertawa mendengar ucapanku. Katanya dia ingat kalau dia pernah mengatakan hal yang sama padaku. Pada kenyataannya nanti, bukan dia yang ikut dan menemani ke mana aku pergi, tapi justru sebaliknya, akulah yang akan ikut dan menemaninya ke mana pun ia pergi.
Setelah itu dia menanyaiku, apakah aku ingin ia tetap di sana atau pindah ke kamar lain?
Dia menatapku. "Oke. Tapi bagaimana dengan hadiahku yang tadi?" Secepat kilat ia merebahkan aku ke bantal di pangkuannya. Pertanyaannya lebih tepat dikatakan sebagai menagih janji.
Uuuh... dia mulai agresif. "Oke, oke," kataku. "Satu kali, hanya sebatas cium, tidak boleh lebih, dan jangan khilaf. Ya?"
Reza menyentuhkan ujung ibu jari dan telunjuknya, membentuk lingkaran bulat, sebuah tanda oke.
Baru sekian detik aku memejamkan mata dan sedikit berdebar, ada yang mengetuk pintu dari luar. Aku pun membuka mata lalu tertawa, tidak ada sedikit pun keinginanku untuk memaki seseorang yang berdiri di depan pintu itu. Justru aku langsung berdiri lalu membukakan pintu. Dan sesuai tebakanku, itu karyawan resto yang bertugas mengantarkan makanan kami, dua porsi sate lilit dan jus semangka, aku senang karena kami memiliki selera yang sama dalam jenis makanan, kecuali mayones.
Karunia, nama yang tertulis pada name-tag karyawan yang mengantarkan makanan itu, dia mempersilakan kami menyantap hidangan yang telah terhidang. Kemudian, dia mengucapkan kata permisi sewaktu hendak keluar. Aku yang berdiri di depan pintu memberikan senyuman saat dia melirik ke arahku. Pintu itu pun langsung kututup begitu Karunia sudah beberapa langkah meninggalkan ruangan kami.
"Eh? Mas?"
Aku kaget begitu membalik badan -- Reza berdiri tepat di hadapanku dan aku sempat menubruknya.
"Sekarang?" tanyanya, dia melangkah lebih dekat, membuatku refleks mundur sampai akhirnya berdiri kaku bersandar dinding. dia menahan tubuhku dengan kedua lengannya yang dijulurkan. Rasa berdebar-debar pun kembali menguasaiku, aku merasakan jantungku berdegup lebih cepat, detakannya seolah menggema memenuhi ruangan.
Kudongakkan kepala menatapnya, tapi... seketika itu juga kualihkan pandanganku, aku tidak sanggup melihatnya yang memandangiku dengan tatapan mata yang seakan menembus tepat ke hatiku. Caranya menatapku membuat rasa nervous-ku bergejolak. Reza memiringkan kepalanya, dia pun mencium bibirku.
Eh? Aku menatap Reza. "Kenapa?" tanyaku saat bibirnya berpindah ke pipi. Jelas wajahku menyiratkan ekspresi kecewa. Aku bahkan belum sempat menikmati ciumannya di bibirku.
Aku tidak tahu kenapa aku bertanya "kenapa." Aku harusnya tidak perlu menanyakan itu. Aku seolah menunjukkan padanya bahwa aku sebenarnya ingin dia menciumku. Aku ingin dia menikmati bibirku, dan aku juga sangat kepingin menikmati bibirnya.
__ADS_1
Sejenak kemudian dia mendekap aku ke dalam pelukannya. "Sori," katanya. "Aku takut aku tidak bisa mengendalikan diri kalau aku menikmati bibirmu. Aku takut kelepasan. Kamu terlalu berharga untuk kusentuh sebelum waktunya. Maaf. Maaf karena aku sudah berniat menciummu."
"Aku malu," ucapku pelan. "Aku seperti perempuan gampangan, aku membiarkanmu menciumku, bahkan aku -- aku menginginkannya."
Dia menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak seperti itu. Aku juga tidak punya pikiran seperti itu. Sedikit pun tidak pernah berpikir seperti itu. Kamu tahu, aku juga menginginkannya, bahkan lebih dari keinginanmu. Tapi aku tidak ingin sampai kebablasan dan mengotori hubungan kita dengan hal semacam itu. Kamu berharga, karena itu aku akan menunggu sampai kamu resmi -- seutuhnya -- menjadi milikku. Kamu yang sabar, ya?"
Mendengar kata, "Kamu yang sabar" -- yang diucapkan oleh Reza, aku langsung mencubitnya. "Kamu yang sabar," protesku. "Bukan cuma aku."
Reza tertawa ngakak. "Oke, oke. Kalau begitu kita berdua yang harus sabar."
Aku pun ikut tertawa. Setelah itu kami duduk dan mulai makan, sedikit drama yang membuat sate panas itu jadi sedikit dingin, tapi tetap nikmat.
"Tunggu, aku belum menelepon Bunda," kataku.
Reza mengatakan oke. Dia melanjutkan makannya, sementara aku mengambil ponselku dari dalam tas dan langsung melakukan panggilan telepon. Kukatakan pada ibuku bahwa kami sudah sampai di Bali.
"Bagaimana? Sudah tidak ngambek lagi pada Reza?"
Aku mencebik. "Nara tidak ngambek," kilahku.
Ibuku pun menghela napas lega. "Oke. Berarti semua sudah baik-baik saja. Itu artinya... Bunda bisa mengabarkan pada keluarga besar kita tentang pernikahan kalian, ya?"
"Hu'um. Silakan, Bunda Sayang...," seperti itulah aku memanggilnya saat aku merasa senang.
"Reza mana? Bunda mau bicara," katanya. "Tolong, ya, berikan HP-mu pada Reza."
"Mas Reza... ada...," kataku, tidak bisa berbohong walau ada niat. "Memangnya Bunda mau bicara apa?"
Ya ampun... entah kenapa aku merasa panik.
Eh?
"Sini," kata Reza meminta ponselku.
Aku sempat menekan menu loudspeaker untuk mendengar apa yang ibuku bicarakan.
"Ya, Bund. Ini Reza. Ada apa, Bund?" tanya si calon menantu pada calon ibu mertuanya, mereka begitu akrab, padahal mereka baru bertemu tiga kali.
Ibuku berdeham. "Bunda cuma mau berpesan, Nak Reza tolong jaga Nara baik-baik. Jaga dari kejahatan orang lain, juga jaga dari diri kalian sendiri. Kamu paham, kan, maksud Bunda?"
"Paham, Bund. Bunda tenang saja. Reza janji akan menjaga Nara baik-baik. Dan... Reza bisa dipercaya," jawabnya untuk meyakinkan ibuku.
Dan itu berhasil.
"Iya. Bunda percaya padamu. Kalian baik-baik di sana. Jangan sampai bertengkar. Bunda titip Inara, ya?"
Reza pun mengiyakan perkataan ibuku, kemudian menutup telepon.
Aku paham sekali maksud perkataan ibuku pada Reza, dan aku paham arti kata "jaga" yang dimaksud oleh ibuku, itu tertuju pada hasrat dalam diri kami yang harus kami tahan, agar kami bisa saling menjaga sampai saat itu tiba.
"Mas, kamu... tidak tersinggung, kan, atas ucapan Bunda?" tanyaku pelan dan ragu.
__ADS_1
Dia menggeleng dengan santai. "Tidak sama sekali. Kenapa tersinggung? Bunda itu memintaku untuk menjagamu. Wajarlah, Sayang. Kamu kan anak gadisnya. Kamu sedang berada jauh dari Bunda, dan kamu bersama seorang lelaki yang belum menjadi suamimu. Jadi wajar kalau Bunda bersikap seperti itu. Keep calm. Santai," tuturnya sambil menikmati makanannya.
Aku melihat sikapnya yang biasa saja, sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan ibuku, dan itu membuatku merasa lega -- sekaligus iri -- andai aku bisa seperti dia dalam menghadapi setiap hal. Lagi-lagi andai saja.