
Semenjak aku terbiasa sendiri dalam perjalananku, aku terbiasa memulai hari tanpa sarapan. Hanya bersih-bersih, mandi, berpakaian, dan menyibukkan diri dengan tulisan-tulisanku. Tapi pagi itu jari-jariku terhenti saat aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Waktu itu baru jam sembilan pagi. Aku pun menaruh laptopku.
"Hai," sapa Reza saat aku membukakan pintu.
"Bukannya hari ini kamu pulang, ya?"
"Harusnya."
"Kok masih di sini?"
"Aku berubah pikiran, aku masih mau di sini, supaya bisa tetap bersamamu," tuturnya.
Hoaaa... jangan salah tingkah, Nara!
"Ini, untuk makan siang." Dia menyodorkan plastik berisi makanan.
Aku pun menyambutnya dengan sukacita. "Terima kasih."
"Tidak diizinkan masuk?"
"Mmm... sori, lain kali saja, ya? Aku sibuk."
"It's ok. Kalau begitu aku pulang. Permisi," katanya.
Uuuh... kasihan. Dia pergi dengan raut wajah kecewa.
"Cieee... ada yang ngambek. Cuma bercanda, kok."
Mendengar kata-kataku dia langsung berbalik dan...
__ADS_1
"Geliiiii...," teriakku.
Yap, Reza menyerangku dengan gelitikan. Sontak aku melangkah mundur, sampai-sampai membuat aku dan dia terjatuh bertindihan. Beruntung ada kasurku yang cukup tebal di lantai itu, setidaknya melindungiku dari rasa sakit akibat terjatuh. Aku kira dia akan berhenti menggelitiki aku, rupa-rupanya tidak, dia terus menggelitiki pinggangku, dan makin menjadi karena ia menyadari bahwa aku harus menahan suaraku agar tidak mengganggu kamar sebelah.
Reza berhenti setelah beberapa menit kemudian. Bukannya beranjak bangun, dia malah menatap lekat padaku yang masih terguling di bawahnya. Napasku tidak beraturan karena kejahilannya, dan semakin tidak beraturan karena posisi kami yang begitu rapat. Wajah kami hanya berjarak sekilan, aku bisa merasakan embusan napasnya di wajahku. Dan tanpa kusadari, hanya dalam beberapa detik, sudah tidak ada jarak sama sekali di antara kami.
Ya ampun... ini...
Rasa galau berkecamuk dalam pikiranku saat bibirnya menyentuh bibirku. Darahku berdesir, detak jantungku berdegup kencang, ada perasaan berdebar aneh yang menyeruap di sekujur tubuhku. Sentuhan bibir itu menimbulkan sensasi getaran yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Jika saja dia pacarku, mungkin aku akan membalas dan menikmati ciumannya. Tapi kesadaran mendengung di otakku, akal sehatku menentang, aku menolehkan wajahku setelah sekian puluh detik bibir kami bersentuhan.
"Maaf," ucapnya. Suaranya pelan hampir tidak terdengar. Lalu ia duduk, tetap di sana, tanpa bergeser, dan tanpa beranjak selangkah pun.
Aku duduk di sampingnya, merapikan baju dan rambutku yang agak berantakan. Kami duduk hening dalam waktu yang agak lama. Dalam keheningan itu pula aku menahan bibirku dengan gigi-gigiku, untuk menahan senyumku, sekaligus menutupi rasa nervous yang kurasakan. Sesekali aku menutup mulut dengan tangan dan jari-jariku. Aku malu, pipiku bersemu merah. Untung saja pintu kamarku langsung tertutup dan tidak ada teman kost yang melihat apa yang baru saja terjadi. Kalau tidak, oh... mau kutaruh di mana mukaku?
Ah... debaran di hatiku tak kunjung reda. Nervous akut.
Tentu saja, aku tidak marah. Aku menganggukkan kepala, gerakan mulutku mengucapkan kata iya, tapi suaraku tidak terdengar. Aku bahkan tidak mendengar suaraku sendiri. Huh!
Dan, sejenak kemudian Reza berputar posisi menghadapku. "Serius, jangan marah, please?" pintanya. Dia menggenggam satu tanganku. "Aku tidak bermaksud macam-macam padamu. Maaf?"
Aku tersenyum tulus: untuk menenangkan dan meyakinkannya kalau aku sama sekali tidak marah padanya. Kemudian ia tersenyum. Tersirat ekspresi rasa lega bahwa dia tidak kehilangan aku. Entahlah, mungkin aku saja yang terlalu percaya diri.
Kuambil plastik berisi makanan yang dibawakan Reza yang tadi sempat terjatuh. Ada dua botol greentea di dalamnya. Minuman yang sama dengan yang ia beli kemarin. Sejak itu aku tahu kalau itu minuman favoritnya. Kukeluarkan makanan dan minuman itu dan menaruhnya di atas meja kecil di samping tempat tidurku, meja yang sering digunakan pelajar untuk mengerjakan PR. Aku membelinya di pasar tidak jauh dari tempat kost. Kemudian, aku menanyakan kepadanya apa dia mau makan saat itu juga. Katanya nanti saja, tunggu jam makan siang. Sesaat kemudian, dia melihat ke sekeliling ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kamu betah?"
"Betah. Aku pengembara, bukan anak mami yang harus hidup dengan fasilitas mewah," tukasku.
__ADS_1
Dia mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu perhatiannya tertuju pada map plastik yang waktu itu kubawa ke Dinata Resto, Bogor. "Kalau tidak salah, map itu isinya sketsa rumah."
Ternyata dia masih ingat. Aku pun mengiyakan. Lalu dia meminta izin untuk melihatnya. Diamat-amatinya empat lembar kertas sketsa itu, dia tersenyum. Tetapi aku tidak bisa menangkap makna senyumannya waktu itu.
"Kalau tidak keberatan, bisa jelaskan secara detail dan terperinci?"
Aku pun memenuhi permintaannya itu, menjelaskan panjang lebar sampai mulutku terasa kering.
"Sebenarnya itu tidak layak dinamakan sketsa rumah. Itu lebih tepatnya sekadar coretan," kataku. "Inspirasinya dari konsep rumah-rumah dari berbagai film, dari berbagai deskripsi dalam novel, juga... mmm... apa, ya? Sulit dijelaskan dengan kata-kata."
Reza mengangkat alisnya, aku mengartikan dia menanyakan maksudku, dan menungguku melanjutkan penjelasanku.
"Jadi begini, aku punya satu novel kesayangan, judulnya God-shaped Hole, Kekasih Idaman, karya Tiffanie DeBartolo. Dalam novel itu penulis menceritakan tokoh utamanya punya keinginan untuk bercinta di bawah bintang-bintang. Yeah, itu mungkin-mungkin saja kalau di luar negeri mau di mana pun mereka berada. Sementara kalau untuk kita di Indonesia, rasanya tidak mungkin, bisa digerebek kalau bercinta di tempat terbuka, minimal takut dan malulah kalau ada yang melihat. Jadi... ya... aku punya pikiran -- kalau mau bercinta di bawah bintang-bintang, berarti kita harus punya loteng rumah yang tinggi, yang tidak memungkinkan orang lain melihat apa yang kita lakukan di atas sana. Makanya, di sketsa itu ada rooftop di lantai empat, sumber inspirasinya dari situ."
Aku menjelaskan dengan panjang lebar, tapi Reza malah terkekeh mendengar penjelasanku. Sebab itu kupukuli dia dengan bantal di tanganku.
Sesaat kemudian dia melirikku dan tersenyum nakal. "Aku jadi penasaran, bagaimana rasanya bercinta di bawah bintang-bintang?"
"Cepatlah menikah, biar bisa merasakan dan tidak penasaran lagi. Ya... asal jangan balikan dengan mantan pacar." Aku menyunggingkan senyum.
Dia merebahkan diri ke kasur beberapa detik kemudian. "Ini juga lagi diperjuangkan. Mudah-mudahan jodoh."
"Aamiin," sahutku. "Belajar dari pengalaman, ya... kamu itu harus cepat-cepat mengambil hati keluarganya, jangan sampai kamu kecolongan lagi. Kan sia-sia, menghabiskan waktu pacaran lama-lama dengan anaknya, tapi... eh, malah berakhir sad ending. Euwww...."
Dia hanya tersenyum lalu mengatakan oke. Matanya menatap ke atas, seperti mata pedang yang mampu menembus langit-langit ruangan kecil itu. "Nanti sore kita jalan-jalan lagi, ya?"
"Boleh. Tapi hari ini giliranmu yang bercerita, terserah tentang apa, tentang cinta pertamamu yang berakhir kandas juga boleh. Hari ini aku yang berperan sebagai pendengar yang baik, oke? No debat."
Dia mengacungkan jempol dan tidak merespons lagi setelahnya. Untuk beberapa menit, dia masih seperti mengawang-awang. Tidak lama kemudian, matanya sudah terpejam saat aku melihat lagi ke arahnya. Sementara itu, aku kembali menenggelamkan diri dalam tulisan-tulisanku.
__ADS_1