Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Iseng


__ADS_3

Beberapa menit sejak mobil melaju, sedikit demi sedikit rasa resah dan gelisah merayapiku dan membuatku meremang. Sempat beberapa kali aku mengulum bibir untuk menutupi perasaan resah dan gelisah yang kurasakan. Tetapi Reza cukup peka untuk menyadari reaksiku.


"Kamu takut?" tanyanya.


Aku tidak menjawab, bahkan juga tidak menggeleng. Dengan bijak, dia meraih tanganku yang sedari tadi rasanya dingin, entah karena rasa takut, atau karena dari dinginnya air curug, atau karena suasana sejuknya alam di daerah itu. Entahlah.


"Kamu harus belajar melawan  rasa takut, ya? Ada aku di sini," ujarnya seraya telaten merema* jemariku dengan lembut. "Kamu bisa cek di internet. Banyak postingan para blogger tentang wisata Situs Gunung Padang, dan semuanya happy. Tidak ada di antara mereka yang membahas hal-hal mistis. Kalau yang membahas hal-hal mistis -- itu memang orang-orang yang suka dengan hal-hal yang mistis, yang datang ke sana di tengah malam. Menurutku wajar kalau tengah malam suasana mistis itu terasa. Jangankan di puncak tertinggi, di mana pun akan terasa mistis kalau di tengah malam kita berada di luar dan pemikiran kita memang memikirkan dan mencari kemistisan itu sendiri."


Kali ini celotehan Reza cukup panjang. Kurang lebih demikian kalimat yang mampu kutangkap saat dia berusaha meredam rasa takutku saat itu.


"Coba deh kamu browsing sendiri di google," kata-katanya serasa menghipnotisku. Dan entah kenapa aku menurut saja, mengangkat ponsel dan menundukkan kepala menatap layar ponsel.


Belum sampai lima menit, bahkan aku belum sempat menemukan artikel yang menarik perhatianku. Tiba-tiba perasaanku mulai tidak enak, keringat mulai keluar dari pori-poriku dan tak lama membuat kulitku terasa lembab, padahal angin tak hentinya bertiup karena jendela mobil terbuka lebar. Pun saat kucoba menyesap teh melati, tiba-tiba rasa teh melati itu terasa pahit, fenomena ini terjadi sangat cepat menyerang segala persendianku hingga aku tidak mampu berucap sepatah kata pun. Resah dan gelisah menjadi satu bercampur darahku yang terus mengalir dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Hal itu membuat Reza segera menyetop laju mobilnya. Dia panik seperti orang kebakaran janggut, padahal dia tidak memiliki sehelai janggut pun di dagunya.


Secepat kilat kubuka pintu lalu aku turun dari mobil. Dan...


Iyuuuh... cairan berlendir kecokelatan pun berhamburan di tepi jalan. Segala macam jenis makanan yang tadi kumakan berlomba-lomba melewati kerongkongan dan meluncur lancar dari mulutku.


"Wajahmu pucat. Kamu sakit? Atau ini efek dari rasa takut?" tanyanya dengan ekspresi cemas yang membahana.


Aku menggeleng. "Aku cuma mabuk, Mas," kataku sambil mati-matian menahan pusing dan desakan asam lambung di kerongkongan.


"Kok bisa?" Sekali ini dahinya mengernyit membentuk tiga lipatan bergelombang.


Astaga... pria ini. "Aku lagi mabuk, lo, Mas. Kok kamu malah banyak tanya?"


"Sori... kamu--"


Wuekkk... muntahanku memutus kata-katanya.


"Kamu punya minyak angin?"


"Di dalam tas. Sekalian tolong ambilkan tisu."


"Em, tunggu."


Sekian menit. Kurasa aku sudah membaik dan sesi muntah-muntahannya pun sudah selesai. Kuseka mulutku dengan tisu lalu kuminum air putih beberapa tegukan.


"Sudah?" tanyanya memastikan adegan jorok itu sudah berakhir.


Aku pun menganggukkan kepala seraya menutup kembali botol air mineral di tanganku.


"Masuk gih, biar kuusapkan minyak angin ke punggungmu."


What??? Serious???


"Ayo, kok bengong?"


"Aku saja, Mas."


"Sayang...."


"Aku bisa sendiri," tolakku dengan naif. Padahal... ah, kau tahulah.


Dia mendelik. "Jangan ngeyel. Masuk. Duduk."


Aduh, Biyung. Kenapa, sih, aku selalu dihadapkan dengan situasi seperti ini? Antara mau dan tidak mau.

__ADS_1


"Masuk, Sayang." Sekali lagi dia menyuruhku sekaligus memapahku. Dan yeah, kali ini aku menurut. "Menghadap ke sana," perintahnya, dia menyuruhku menghadap ke samping dan memunggunginya.


Ya ampun... tubuhku bergetar hebat saat tangan Reza menelusup ke balik pakaianku, irama jantungku pun kian berlari ke sana ke sini saat usapan demi usapan telapak tangannya yang terbalur minyak angin menghangatkan tubuhku. Parahnya hal itu membuatku mendesa* -- maksudku tarikan dan embusan napasku terlalu berlebihan akibat menikmati sensasi sentuhan lembut dari jemarinya.


"Kenapa?" tanyanya dalam bisikan. "Enak? Aku cocok, kan, jadi tukang pijit? Hmm?"


Oh Tuhan...! Benar-benar memalukan. Reza menyadari reaksiku. Mendengar pertanyaannya, hawa panas langsung berkumpul di wajahku. Sumpah... aku super duper malu karena ketahuan, dan -- tertangkap basah menikmati sentuhannya dengan hasrat. Hiks!


"Ini, oleskan ke dada dan perutmu," katanya seraya menyodorkan minyak angin kepadaku. Kemudian ia menutup pintu dan berputar, lalu masuk ke mobil.


Aku cengengesan. "Sekalian kamu saja, Mas," candaku saat dia sudah duduk di belakang kemudi.


"Jangan mancing-mancing. Kamu mau kubawa ke perkebunan teh dan menikmati kenikmatan sesaat di sana? Hmm? Mau?"


Aku terbahak. "Ayo-ayo saja. Mumpung sepi, yuk?"


Tak! Dia menjitak kepalaku. "Dasar mesum!"


"Serius kamu tidak mau? Hmm?"


Dia menoleh dan menatapku lama.


Eh? Kok ekspresinya jadi serius begitu?


"Kamu mau?"


Oh... ya ampun... tangannya menyelinap dan menempel di perutku. Aku mulai ngeri.


"Ayo," katanya. Jemarinya mulai bergerak perlahan mengelus kulitku. "Tapi ingat, jangan pernah menyesal dan jangan pernah menyalahkan aku. Oke?"


Di saat itu, elusannya berhenti -- dan beralih ke cengkeraman kuat di perutku, kusadari ibu jarinya terbenam ke dalam pusarku.


"Terlambat."


"Ampun, Mas. Aku cuma bercanda."


"Kenapa, Sayang? Kamu takut?"


"Emm," gumamku sembari mengangguk.


"Kan tadi kamu yang meminta. Ayo, akan kupenuhi."


Aku menggeleng. Ngeri. "Mas... jangan, ya? Aku...."


"Apa? Hmm?"


"Lepas, Mas... tolong...."


"Yakin?"


"Ya, aku... aku cuma bercanda."


Hmm....


Dia terkekeh dengan senang dan melepaskan tangannya dari perutku. "Makanya, kamu itu jangan mancing-mancing. Aku ini lelaki normal, tahu!"


Aku mengangguk kuat-kuat. "Iya. Maaf. Aku tidak akan bercanda seperti itu lagi. Janji." Kutundukkan kepala dan kutuangkan beberapa tetes minyak angin ketelapak tangan, memoleskannya ke perut lalu ke dadaku. Lega....

__ADS_1


"Kamu tidak enak badan, ya?"


Aku menggeleng. "Aku cuma mabuk. Sudah garis keturunannya. Aku kalau berkendara harus rileks. Tidak bisa merunduk, apalagi sambil main ponsel. Sialnya tadi gara-gara takut aku jadi lupa."


"Oh... pantas kamu selalu bersandar."


"Hu'um. Ini juga kalau sandarannya terlalu tegak aku juga bisa mabuk."


"Oke. Aku paham. Sekarang kamu rileks, nikmati perjalanan, hirup udara segar, dan... dengarkan lagu spesial untukmu."


Suara Bryan Adams pun mengalun merdu dalam lagu Everything I Do - I Do It For You, juga diiringi suara Reza yang tak kalah merdu. Kami pun melaju dalam kedamaian.


"Trims...," ucapku setelah lagu berakhir." Aku tahu lagu itu. Bryan Adams, Everything I Do. Lagu ini hampir setiap hari di putar di Lab. Bahasa Inggris semasa aku kuliah dulu. Sama seperti lagu First Love-nya Nikka Costa. Tapi aku tidak hafal. But thank you so much, I really love your voice."


Dia mendengus. "Ngejek!" katanya.


"Lo, aku serius. Suara kamu itu pasti terngiang-ngiang di telingaku kalau kita sedang berjauhan." Aku pun cekikikan.


Saat itu, Reza mengelus-elus kepalaku sambil tersenyum bahagia, dan keseruan canda tawa itu membuatku lupa dengan rasa takutku. Tanpa sadar, kami pun sampai ke tempat tujuan.


"Belajar melawan rasa takut. Ingat, ada aku di sisimu dan tidak akan melepaskan tanganmu," ujarnya -- berusaha menenangkan aku.


Sesaat aku merasa ragu, bahkan tidak berani membuka pintu mobil. Sampai kusadari pintu mobil sudah terbuka dan uluran tangan Reza menyambutku. Satu, dua, tiga, kuberanikan keluar dari mobil dan mengikuti langkah kakinya.


"Lihat, tidak ada yang perlu ditakuti. Di sini ramai," kata Reza.


Tetapi, karena melihatku yang masih saja tidak bergeming, Reza pun mengeluarkan ponselnya, memutar lagu, dan memasangkan earphone ke telingaku. Singkat cerita, setelah membeli tiket, perjalanan kami dilanjutkan dengan menaiki anak tangga hingga ke teras pertama, kedua, ketiga, keempat, hingga sampai ke puncak. Yeah, tidak ada yang menakutkan. Justru sebaliknya, terpaan angin dari puncak Situs Gunung Padang sungguh menyejukkan. Kulepaskan earphone dari telingaku dan kukembalikan ponsel itu kepada Reza.


"Sudah nyaman?"


Aku mengangguk dan tersenyum. Kulepaskan tanganku dari genggamannya. "Foto aku, ya," kataku, yang disambutnya dengan senyuman.


Hanya sekian menit, kami menutup sesi foto dan rekaman video itu, lalu duduk santai.


"Tadinya aku mau ke Curug Malela, The Little Niagara-nya Bandung. Tapi, karena aku tidak mengerti rute dan kata google jarak tempuhnya terlalu jauh dari Kebun Bunga Cihideung, makanya tidak jadi. Nah, sewaktu aku cek destinasi Cianjur, ternyata Cianjur juga punya Little Niagara. Ya... meskipun yang di Bandung sepertinya lebih oke, tapi aku bersyukur aku memilih Cianjur. Jadi, aku bisa sampai ke puncak situs ini. Ini berkatmu juga, kamu bisa membuatku melawan rasa takut. Terima kasih, Mas."


Bibirnya mencebik. "Kamu mau aku salto jungkir balik, ya? Kamu memujiku terus dengan ucapan terima kasih."


Aku mengangkat bahu. "Silakan, salto saja kalau kamu mau," sahutku dengan senyum yang renyah. "Omong-omong, ternyata benar seperti yang kamu bilang. Ini bukan gunung sungguhan semacam Gunung Merapi. Aku juga baru tahu kalau lokasi situs ini di Cianjur. Bahkan aku baru tahu darimu tadi kalau lokasinya di dekat Curug Cikondang. Kamu sendiri tahu dari mana?"


"Dari penunjuk arah sewaktu kita ke Curug tadi. Aku suka tempat-tempat bersejarah. Tapi yang aku heran, kamu takut dengan sesuatu yang berbau horor, kok kamu bisa tahu ini lokasi film horor? Kamu nonton?"


Aku mengangguk malu. "Aku nonton karena Reza Rahadian yang main. Tapi part-part yang ada horornya semua aku skip, kok."


"Waw! Sebegitu sukanya kamu pada Reza Rahadian, sampai-sampai kamu yang penakut pun nekat nonton film horor. Sedangkan tadi--"


Ya ampun... cemburu? "Jangan dibahas lagi, dong, Mas. Aku kan sudah di sini menemanimu, ada untukmu. Iya, kan?" Bibirku manyun.


"Kalau Reza Rahadian--"


"Mas... jangan bahas lagi...."


"Oke. Jadi setelah ini kita langsung melanjutkan perjalanan pulang?"


"Iya. Kalau aku tidak ada tujuan lain lagi. Kalau kamu? Bilang saja kalau kamu masih mau mampir ke mana. Aku tidak akan menolak lagi."


Reza sedikit menelengkan kepalanya seraya menatapku. "Berlaku untuk selamanya?"

__ADS_1


"Emm... mudah-mudahan. Barangkali, bisa diusahakan, demi kamu."


Kami sama-sama tersenyum. Aku tahu, dan aku yakin, perlahan tapi pasti -- Reza dan aku pasti bisa saling memahami.


__ADS_2