
Aku tidak bisa tidur. Berjam-jam memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mengatakan semua tentangku kepada Reza, yang kemungkinan besar akan membuatnya berpikir seribu kali untuk memperistriku. Tapi aku menyadari sepenuhnya, pernikahan bukanlah sesuatu yang harus diawali dengan ketidakjujuran terhadap satu sama lain. Tapi aku tahu benar bahwa lidahku pasti akan keluh, kaku, dan tak akan pernah mampu untuk mengatakan semuanya, sebab aku takut kehilangan sosok Reza dari hidupku. Jadi kuputuskan untuk menceritakan semuanya melalui surat.
Dear Mas Reza
Kita telah banyak menghabiskan waktu bersama, menciptakan beberapa kenangan yang benar-benar istimewa. Bersama denganmu adalah salah satu hal paling menakjubkan yang terjadi dalam hidupku. Kamu orang yang baik, perhatian, peduli, dan manis bagiku. Hubungan yang kita miliki adalah hubungan yang tidak pernah kumiliki dengan orang lain, dan aku merasa sangat bersyukur atas betapa kamu bisa membuatku merasa berharga.
Kamu adalah salah satu orang yang paling peduli dan penuh perhatian yang pernah kutemui dalam hidupku. Aku benar-benar bersyukur memilikimu sebagai pasanganku, dan percayalah, aku sangat berterima kasih kepada Tuhan untuk itu. Kamu selalu membantu dan mendukungku untuk menjadi versi yang lebih baik atas diriku, meski aku belum mampu sepenuhnya bersikap seperti yang kamu harapkan.
Mas, aku adalah pribadi yang terbentuk dari ketidakadilan dunia terhadapku. Aku cenderung menyakiti seseorang yang kuanggap parasit dalam hidupku. Seperti yang kamu lihat sewaktu pertama kali aku bertemu Salsya, aku sengaja meremas tangannya, dan itu adalah salah satu tindakan yang tidak bisa kukendalikan dari dalam diriku. Atau ketika aku bertemu dengan ayahku waktu itu, betapa kasar dan keterlaluannya sikap dan kata-kata yang kuucapkan hari itu.
Bahkan lebih dari itu, aku tidak ingin ikut kamu ke Bandung, bukan karena aku bosan dengan tempat yang pernah kusinggahi, atau karena aku ingin pulang, kangen pada suasana rumah atau kangen pada Bunda, karena aku telah terbiasa jauh darinya, ini kukatakan bukan karena aku tidak sayang padanya.
Ada satu alasan mengapa aku tidak ingin pergi ke Bandung, karena aku tidak ingin bertemu dengan keluarga ayahku, anak-anak dari Yanti. Waktu itu aku pernah melihat salah satunya, anak lelakinya, di sebuah restoran. Jujur saja aku membencinya karena dia salah satu orang yang merebut ayahku dariku. Waktu itu dia memesan kopi, lalu aku berpura-pura tidak sengaja menabrak pelayan dan kopi itu tumpah mengenai dia. Tapi untungnya dia cukup beruntung karena kopi itu tidak membuat kulitnya sampai melepuh.
Dan tentang aku yang tidak ingin ke tempat-tempat suci, aku punya cerita tentang pembalasanku terhadap salah satu anaknya Yanti, anak perempuannya. Waktu pertama kali aku ke Bali, aku bertemu dengannya, memang waktu itu kejadiannya di luar pura. Aku pura-pura tersandung dan pura-pura tidak sengaja mendorongnya, sampai kepalanya mentok ke dinding dan terluka. Tapi aku kurang beruntung sebab salah seorang penjaga di sana tahu kalau aku sengaja. Aku tahu orang itu pasti mengenaliku kalau kami bertemu lagi.
Itu aku baru bertemu anak-anaknya, kalau aku bertemu dengan Yanti atau Rhea, mungkin aku akan melakukan hal lebih dari itu. Masalahnya, aku tidak tahu pasti dengan wajah mereka, meski aku pernah mencari tahu seperti apa mereka via sosial media.
Jujur kuakui, aku memang menyimpan dendam pada mereka semua, tapi aku tidak benar-benar berniat membalas dendam dengan mendatangi mereka. Tapi, saat tidak sengaja bertemu, aku bisa melakukan sesuatu di luar kendaliku, mungkin aku bisa membunuh mereka dengan alasan tidak sengaja. Siapa yang tahu? Ada semacam dorongan yang membuatku ingin melakukan itu.
Juga tentang sikap kasarku yang dua kali menamparmu dan pernah mendorongmu, aku minta maaf atas sikap kasarku itu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak akan berperilaku jahat dan kasar jika aku berada dalam pola pikir yang sehat dan benar. Aku bukan orang yang secara alami jahat, dan kamu tahu itu. Tetapi aku juga sadar bahwa aku bisa menjadi keras dan kasar ketika aku sedang berhadapan dengan hal-hal pahit yang berkaitan dengan masa laluku.
Dan tentang hari itu, aku tahu Aris telah menjelaskan kepadamu bahwa kamu membuatku takut sampai aku jatuh pingsan, tapi Aris tidak menjelaskannya secara detail karena dia sudah berjanji padaku. Aku ingin jujur, hari itu aku ketakutan sebab aku mengira kamu seorang psikopat, yang marah sesaat, kemudian seolah tidak terjadi apa-apa saat aku menemuimu di halaman belakang.
Aku tahu, ketakutanku dan kecemasanku selalu berhasil menguasaiku, membuatku menjadi paranoid. Saat aku sedang dihadapkan pada situasi yang sulit, aku menjadi bingung dan mudah panik. Itulah yang menyebabkan aku menjadi negatif. Tapi sejauh ini Aris tidak pernah mengatakan kepadaku kalau aku gila, apa memang karena aku baik-baik saja atau karena dia ingin menutupi kenyataan itu dariku, karena aku bukan pasiennya. Terlebih menurutku, aku waras-waras saja. Aku tidak sakit jiwa. Aku hanya punya dendam dan cenderung ingin membalaskannya ketika aku bertemu dengan orang-orang yang pernah dan akan menyakitiku.
Sejauh ini, ini yang kututupi darimu. Yang membuatku takut bagaimana seandainya kalau kamu tahu.
Mas, Ketika aku pertama kali bertemu denganmu, aku tahu kamu adalah orang yang benar-benar luar biasa, dan bahkan lebih dari itu, kamu adalah pria yang hebat. Aku tahu kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik, juga pengertian. Aku telah mengecewakanmu dengan segala tindakanku, yang mungkin membuatmu bertanya-tanya apakah aku orang yang tepat untukmu atau bukan?
Hubungan yang sehat adalah tentang kejujuran, dan aku merasa tidak baik karena tidak sepenuhnya jujur padamu tentang segala hal yang telah terjadi di dalam hidupku, karena aku tidak ingin mengambil risiko kehilanganmu karena kejujuranku.
Kamu benar-benar manusia yang luar biasa sabar dan pengertian. Aku berjanji bahwa aku akan menjadi lebih baik mulai saat ini. Aku akan selalu jujur dan berterus terang tentang segala hal, tidak ada lagi kebohongan dan tidak akan ada lagi rahasia. Aku ingin berusaha menjadi pasangan yang lebih terbuka di masa depan. Aku akan berbagi dan bercerita kepadamu tentang apa pun yang ada di dalam pikiranku.
Aku sadar, jauh di lubuk hatimu, kamu seratus persen berkomitmen pada hubungan kita. Jika ada satu hal yang bisa kujanjikan, maka itu adalah tidak meragukanmu, apa pun yang terjadi, dan aku akan berusaha untuk lebih percaya kepadamu.
Tapi, kamu berhak memutuskan hubungan denganku setelah kamu mengetahui semua ini, aku akan berusaha menerima keputusan yang menjadi pilihanmu.
Kirimi aku voice note, ya, kalau kamu sudah membaca surat ini, dan katakan apa
Ya Tuhan...
Aku belum selesai menulis suratku, tiba-tiba semua ruangan gelap. Aku tidak bisa melihat apa pun dan sialnya aku tidak membawa ponselku.
Dari meja dapur, kucoba meraba-raba ke arah kamar dengan memanggil-manggil Reza. Rasanya seram sekali berada di villa yang begitu besar tapi gelap gulita tanpa setitik pun cahaya. Untung saja Reza orang yang mudah dibangunkan hanya dengan memanggil namanya. "Sayang, kamu di mana?" teriaknya, membuatku sedikit merasa aman karena dia sudah terbangun.
"Di dapur, Mas. Aku tidak bisa melihat apa-apa," aku balas berteriak.
Tidak lama, dia pun menghampiriku dengan cahaya senter dari ponselnya. "Sepertinya token listriknya habis, aku lupa isi ulang. Kamu tunggu di sini, aku ke depan dulu."
Segera saja aku menolak, aku tidak mau ditinggalkan sendirian dalam gelap. Aku pun mengintil ke depan, dan beberapa menit kemudian listrik kembali menyala. Benar, tokennya habis.
Untung saja ini di era modern, dalam sekejap, token listriknya pun terisi hanya dengan transaksi online.
__ADS_1
"Kamu sedang apa tadi di dapur?"
Aku tertegun. "Oh, itu, emm... maksudku tidak sedang apa-apa. Aku haus. Aku mau minum tadi." Aku gugup, nampak sekali kalau aku berbohong lagi. "Tapi aku belum sempat minum. Aku, aku ke dapur dulu, ya Mas. Kamu duluan saja ke kamar."
Reza belum sempat menyahut tapi aku langsung ngacir -- buru-buru ke dapur, karena aku ingat aku meninggalkan suratku di atas meja.
"Apa itu?" tanya Reza saat aku mengambil dan melipat kertas surat itu, ternyata dia mengikutiku dan sudah berada di belakangku. Lantas saja itu membuatku kaget dan mematung.
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. "Bukan apa-apa kok, Mas. Hanya catatan untuk tulisanku." Lagi-lagi aku berbohong.
"Boleh aku lihat?"
"Jangan," jawabku spontan. "Maksudku tidak perlu, ini bukan apa-apa. Lagian kan kamu tidak suka membaca novel."
"Kamu bohong, ya?" tanyanya dengan ekspresi curiga yang sangat kental tersirat di wajahnya. "Iya, kan? Aku tahu kalau kamu sedang berbohong."
Aku hanya menggeleng, tanpa mengucap kata tidak. Tapi tetap saja itu sebagai jawaban bohong. Dan Reza tahu.
"Kalau kamu jujur, kamu tidak akan takut aku melihatnya. Sini. Aku mau lihat. Kalau memang itu sekadar tulisan untuk novel, nanti langsung kukembalikan."
Aduuuh... dia keukeuh.
"Mas, apa pun ini, ini kan privasiku, aku punya hak untuk tidak mengizinkanmu melihatnya."
"Sayang, mau kamu serahkan baik-baik, atau aku akan memaksa dan merebutnya darimu?"
"Oke, Mas, oke. Ini surat unukmu. Aku akan memberikannya ke kamu besok, setibanya kita di Jakarta. Oke?"
Dia menggelengkan kepala. "Kalau bisa sekarang, kenapa harus besok?"
"Right know, please? Berikan kepadaku."
"Tidak!"
Aku berbalik, kusembunyikan kertas surat itu ke dalam bajuku, maksudku -- aku menyelipkannya ke bra-ku. Kupikir dengan begitu surat itu akan aman.
"Mau kamu keluarkan sendiri atau aku sendiri yang mengambilnya?"
Aku menggeleng. "Kamu tidak akan seberani itu. Kamu tidak mungkin kurang ajar terhadapku."
"Tentu saja, tidak dengan niat kurang ajar." Dia menyahut sembari melangkah maju menghampiriku.
Aku ingin mundur, tapi terhalang meja. Dan, dalam sedetik kemudian Reza sudah berdiri persis rapat di depanku. Aku ingin mendorongnya tapi tidak sempat, dia langsung mencekal tanganku dan menahan kedua tanganku ke belakang. "Aku beri kamu kesempatan, mau kamu yang mengeluarkannya sendiri, atau aku sendiri yang langsung mengambilnya dari sana?"
"Aku saja," kataku.
Yap. Dia melepaskanku. Dengan begitu, aku punya kesempatan untuk kabur, kudorong Reza yang tengah lengah, dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, aku pun langsung melesat menuju kamar. Kupikir aku bisa lebih dulu sampai di sana dan mengunci pintu semalaman. Tetapi, dengan gesit Reza mengejarku. Dia menyengkatku persis sewaktu aku berhasil masuk ke dalam. Dan, dia berhasil menahanku lagi, kali ini dia berdiri di belakangku.
"Tidak semudah itu kamu bisa lepas dariku," bisiknya. Aku berusaha berontak sekuat tenaga, tapi Reza lebih kuat daripada aku. "Jangan berontak atau aku akan salah sasaran."
Ya ampun... aku salah fokus. Suaranya terdengar begitu sensual di telinga.
Sadar, dong, Nara... lihat situasi. "Lepaskan aku, Mas. Biar aku yang keluarkan suratnya, ya? Tolong?"
__ADS_1
"Kamu terlalu banyak bohong malam ini."
"Bukan--"
"Aku tidak bisa mempercayaimu lagi."
"Mas...."
"Ssst...," desisnya. Tangannya sudah menyusup ke dalam pakaianku.
Ya ampun, aku sampai menelan ludah yang sebenarnya tidak ada air ludah sama sekali di dalam mulutku. Sentuhan tangannya, sentuhan yang sensual di perutku, sentuhan yang menimbulkan sensasi getaran mengejutkan. Seperti getaran sengatan listrik, tapi yang ini tidak menyengat dan tidak sakit, justru asyik dan mendebarkan. Bagaimana mungkin aku bisa marah dengan sentuhannya? Eh?
"Kamu menyukainya?" Reza berbisik di telingaku. Dia memain-mainkan jarinya di seputar pusarku. Seperti membentuk lingkaran-lingkaran, atau...
Entahlah. Tapi itu membuatku berdebar-debar. Sungguh, aku menyukai dan menikmatinya.
Aku tidak menjawab. Aku salah tingkah. Aku berusaha menahan senyum malu dengan pipiku yang merona. Dan aku... aaah....
Ya Tuhan...
Bibirnya menempel di leherku. Aku melayang. "Mas... kita akan pulang. Tolong, jangan meninggalkan jejak di leherku."
Tapi dia tidak mau mendengar. Dia menghisapku. Menghisapku lembut, nikmat, dan... dan akhirnya begitu kuat.
Ya Tuhan, aku gemetar.
Aku tidak kuasa melarangnya. Terpaksa aku membiarkannya. Sori, maksudku -- aku dengan senang hati menerima perlakuannya. Tidak apa-apa kan hanya sebatas leher? batinku bertanya pada diriku sendiri.
Tidak apa-apa, Nara. Nikmati saja. Asyik, kan?
Ah, Setan! Jangan ikut-ikutan membujukku.
Jangan naif! Kau deg-degan karena kausuka. Jangan bodoh!
Yap. Itu benar. Aku suka. Aku deg-degan saat jari-jemarinya melangkah naik -- dari perut, lalu... ke atas -- dengan jejak-jejak lurus perlahan melewati belahan dada.
Oh Tuhan....
"Mas...," aku mendesa* kendati sambil menggeleng. "Jangan sentuh...."
Benar-benar naif. Aku menolak tapi sebenarnya aku juga ingin, dan... aku... aku terus saja menikmatinya. Terlebih... oh... dia mengusap-usapkan jemarinya di dadaku. Terasa panas... membakar....
Aku terbakar oleh hasrat yang menggelora.
Nikmat... sungguh.
Dan...
Arrrgh!
Dengan cepat tangan Reza menyelinap lalu menarik keluar kertas surat itu dari balik pakaianku.
"Silakan lanjutkan sendiri adegan tadi di dalam fantasimu," katanya. Dia pun tersenyum penuh ledekan, melepaskan tanganku dan berlalu meninggalkan aku dalam keadaan tanggung. Yah, TANGGUNG. Benar-benar tanggung.
__ADS_1
Iiih... kesal!
Aku baru saja terbuai.