
Yap, aku sempat merasa senang. Tetapi keesokan harinya, waktu itu sekitar jam tujuh pagi, aku dan Mbok Tin terkejut melihat Reza yang sudah tampil rapi dengan setelan kemeja kerjanya. Rambutnya terikat rapi. Dia sudah kembali keren, tampan, berkarisma dan bersahaja seperti biasanya. Dia melenggang masuk ke dapur, langsung duduk di meja makan lalu sarapan, seolah semuanya sudah baik-baik saja.
"Ada apa? Ada yang salah denganku?" tanyanya seraya meraba pipi dan rahangnya.
"Kamu mau ke mana?" Aku yang cemas langsung menghampirinya. Kamu belum sehat betul, Mas. Kamu masih butuh istirahat," kataku sambil mengecek suhu tubuhnya dengan telapak tanganku.
"Aku tidak apa-apa," katanya. Dia meraih tanganku, menggenggamnya, lalu menyapukan ibu jarinya di punggung tanganku. "Jangan khawatir, aku sudah baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Biarkan aku pergi, kumohon? Aku butuh kesibukan."
Kuembuskan napas tanda menyerah, aku mengalah. "Oke. Kalau begitu aku ikut."
Aku baru hendak pergi ke kamar untuk mengambil tasku. Tetapi Reza mencegatku dan memegangi lenganku. "Tidak usah cemas, aku baik-baik saja, oke?"
Well, kuartikan itu sebuah penolakan, dia tidak ingin aku ikut dengannya. Kupikir dia membutuhkan ruang untuk sendiri, tanpa aku. Akhirnya kubiarkan dia pergi. Aku tidak bisa mencegahnya, apalagi melarangnya. Tidak apa-apa, batinku. Setiap orang membutuhkan ruang untuk sendiri. Sabarlah Inara.
Kupaksakan bibir ini tersenyum, meski cemasku masih enggan menepi. "Baiklah. Kalau ada apa-apa cepat kabari aku. Makan siang nanti jangan telat dan jangan lupa minum obat. Oke?"
__ADS_1
Reza mengulum senyum, lalu ia mengangguk. "Siap, Bos," katanya.
Tetapi, siang itu, Reza tidak menjawab teleponku. Sebagai gantinya, dia hanya mengirimkan voice note. Dia memintaku untuk tidak khawatir, dia baik-baik saja katanya. Namun tetap saja, aku merasa kalut menunggunya seharian. Aku cemas bukan main dan tidak tahu mesti berbuat apa. Seharian aku jadi merasa tidak tenang.
Reza baru pulang tengah malam. Aku hampir tidak bisa bertemu dengannya jika saja aku tidak mampu melawan rasa kantukku. Dan keesokan harinya, dia pergi lagi, pulang malam lagi, juga besoknya lagi, dan besoknya lagi. Dia tetap seperti itu.
Setelah tiga hari membiarkannya seperti itu, kuputuskan untuk memastikan apakah benar dia sudah baik-baik saja. Dan aku ingin melihat bagaimana dia menenggelamkan diri dalam kesibukan demi mengusir kesedihan di hatinya. Tanpa memberitahu Reza lebih dulu, aku berangkat ke resto pada jam makan siang. Tetapi, fakta yang kudapati sama sekali tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan. Reza tidak ada di sana.
"Pak Reza sudah pulang sekitar tiga jam yang lalu," kata Erik. "Tapi tidak bilang mau pergi ke mana."
"Maaf, Mbak," katanya. "Tapi selama tiga hari ini pak Reza hanya datang sebentar."
Damn! Aku merasa dibohongi, walaupun sebenarnya Reza memang sempat datang ke resto setiap pagi. Kenapa dia tidak memberitahuku ke mana saja dia tiga hari ini? Sebagian diriku nyaris marah besar kepadanya. Aku ingin memaki-makinya. Tetapi bagian diriku yang lain menyuruhku untuk menahan diri, untuk sabar dan memaklumi sikapnya tanpa harus ribut-ribut. Setidaknya dia tetap pulang, dia tidak kenapa-kenapa. Dan dia baru kehilangan ibunya: tetaplah memberi dia sedikit pengertian.
Aku mencari Reza ke pemakaman, tapi Reza juga tidak ada di sana. Penjaga makam juga tidak melihat dia datang tiga hari kemarin. Kucoba mencarinya ke Puncak, kupikir dia akan bermain gantole, paralayang, atau apalah yang bisa membawanya terbang dan melayang. Tetapi, orang-orang yang sempat melihatnya mengatakan dia memang ada di sana beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Aku mendesa* lelah. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa, jika pun aku meneleponnya, pasti dia tidak akan menjawab teleponku dan akan mengirimiku voice note lagi seperti hari sebelumnya. Dalam keputusasaan, aku menimbang-nimbang untuk mencari Reza ke tempat-tempat lain, mungkin saja dia sedang bermain arung jeram atau permainan lainnya yang bisa memicu adrenalin. Tetapi tidak mungkin aku ke sana ke mari tanpa kepastian, dengan anggapan bakal berpapasan dengannya. Akhirnya kuputuskan untuk pulang dan menunggunya di rumah.
Seperti tiga hari sebelumnya, Reza pulang tengah malam. Waktu dia pulang, dia melenggang masuk seolah-olah tidak ada apa-apa selama beberapa hari ini, seolah-olah dia benar-benar menghabiskan waktu seharian di resto. Begitu pula saat dia melihatku, dia juga mencium keningku, seperti malam-malam sebelumnya, lalu masuk ke kamar, terus mandi. Kemudian dia keluar dari kamarnya untuk makan malam.
"Bagaimana hari ini?" Sengaja kutanyakan pertanyaan yang sama seperti pertama kali dia pulang malam tiga hari lalu. Jawaban Reza pun sama, katanya menyenangkan danĀ membuatnya merasa jauh lebih baik.
Tiga malam berturut-turut, aku sengaja tidak terlalu ikut campur apalagi kepo dengan kesibukannya dan apa saja yang dilakukannya seharian, sebab aku takut membuatnya tidak nyaman kalau aku terlalu banyak tanya. Kupikir setidaknya ia tidak terus-terusan larut dalam kesedihan. Aku tidak pernah bertanya banyak apalagi mengintrogasinya. Karena itu, aku tidak mengira kalau ternyata dia menghabiskan waktu di luar yang entah ke mana rimbanya. Kalau memang dia tidak menutupi hal itu dariku, harusnya dia sudah menceritakan semuanya tanpa aku harus bertanya lebih dulu.
"Syukur kalau begitu," kataku. Kucoba bersikap sebiasa mungkin. Kutekan dan kutahan mati-matian gejolak amarah di dada, lalu aku berdeham. "Oh ya, Mas, omong-omong, apa kamu tidak mau cerita, apa saja kesibukanmu seharian ini? Hmm?"
Reza nampak tertegun mendengar pertanyaanku. Dia terdiam sesaat, bahkan dia sempat berhenti mengunyah makanan yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya. Kemudian dia menggeleng lalu menelan makanannya. "Tidak ada yang perlu diceritakan. Kegiatanku di resto ya begitu-begitu saja. Kamu sendiri kan sudah tahu bagaimananya."
Nyesss... nyeri sekali rasanya. Kurasa dia mulai tidak terbuka padaku. Bahkan dia terkesan menutup-nutupi sesuatu, atau mungkin pikiranku saja yang terlalu berlebihan? Entahlah, sikapnya membuatku bingung, aku dilema. Di satu sisi aku ingin mengerti, aku tidak ingin ribut dengannya, tetapi di sisi lain aku juga tidak bisa membohongi diri sendiri, betapa aku sangat kecewa.
Namun kuakui, di antara gelombang amarah dan rasa kecewaku, masih ada harapan yang bersinar terang di atas kepalaku: sepercik cahaya yang tidak akan lenyap walau Reza bersikap seperti itu kepadaku. Dan tentang kekecewaan itu, kuyakini itu hanyalah sementara, lambat laun pasti akan berubah menjadi sebuah kebahagiaan tiada tara yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku berusaha -- berusaha percaya, masih ada banyak hal baik di depan sana, dia akan segera kembali seperti sediakala. Dan berharap -- itu bukanlah sekadar angan-angan.
__ADS_1