Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Menyambut Pagi


__ADS_3

Macet!


Semua orang tahu arti dari macet. Dalam keadaan jalanan lancar pun kami butuh waktu dua jam untuk sampai ke Jakarta Utara, apalagi kalau macet. Tapi kami tidak ambil pusing tentang kemacetan ini, karena ini adalah minggu sore, di mana volume kendaraan lebih banyak dari hari biasanya. Antrean panjang di jalanan -- didominasi oleh orang-orang yang pulang dari liburan. Alhasil padat, merayap, mengular berkilo-kilometer panjangya -- sama sekali tak bisa terelak. Tapi namanya juga jalan-jalan, jadi dinikmati saja sambil mendengarkan sayup-sayup lagu favorit di playlist dan bermesraan sebagai selingan pengusir rasa penat saat kendaraan berhenti.


Aku menyukai perjalanan panjang ini dan semua sensasi yang timbul di antara kami. Misalnya tatapan sarat cinta Reza yang selalu terpancar dari sorot matanya. Kelakar-kelakar kicik yang mampu menimbulkan percik, usapan remeh namun berjuta rasa, serta kebersamaan dan kehangatan yang kurasakan saat kami bersama. Pun seperti tadi, saat ada adegan ngambek-ngambekan, bisa terselesaikan tanpa berlama-lama. Aktivitas favorit di dalam mobil pun masih sama, mendengarkan lagu, bercengkrama, cemal-cemil, dan sesekali berpegangan tangan, sampai akhirnya rasa kantuklah yang jadi juaranya.


"Kamu ngantuk, Mas? Tidak apa-apa kok kalau kita menginap dulu malam ini."


"Aku sudah berjanji pada Bunda kalau aku akan mengantarmu pulang hari ini."


"Aku tahu. Tapi kan bisa bahaya Mas kalau kamu nyetir sambil menahan kantuk."


"Iya, Sayang. Nanti kalau ketemu minimarket, aku berhenti sebentar buat ngopi."

__ADS_1


Aku mendelik. "Jangan ngeyel...," kataku menirunya lagi, yang membuat dia menahan senyuman.


"Kita harus pulang malam ini. Kemarin aku sudah minta izin kita molor pulang dari Bali. Setelah itu aku minta izin lagi mengajakmu ke Bandung. Masa iya aku minta izin molor lagi?"


Hmm... benar-benar ngeyel. "Ya sudah, ambil jalan tengah. Kita cari tempat berhenti. Kamu tidur sebentar, setelah itu baru ngopi, baru melanjutkan perjalanan lagi. Apa pun bisa terjadi kalau kamu masih ngeyel."


"Kenapa? Kamu takut jadi arwah penasaran?" tanyanya cekikikan, dia mengingat candaanku sewaktu kami di Bali kemarin.


Dia mau bercanda. Oke.


Hah! Dia berteriak saat aku mencubit bahunya.


Akhirnya kami sepakat untuk istirahat sebentar. Reza melambatkan laju kendaraan dan parkir di halaman sebuah minimarket. Ada beberapa mobil juga yang sedang istirahat di sana. Reza pun masuk ke minimarket untuk meminta izin parkir dan istirahat. Sewaktu kembali, ia membawa plastik berisi kaus kaki, supaya aku tidak kedinginan dan bisa tidur dengan nyaman katanya. Kami pun istirahat, memejamkan mata sambil menyesap lirih bayu di malam sendu.

__ADS_1


Tetapi...


Aku terbangun oleh cahaya matahari yang menyelubungiku seperti selimut listrik tak kasat mata. Cahayanya yang terang benderang sampai-sampai nyaris membutakan. Kukerjap-kerjapkan mataku, dan pikiranku melayang-layang pada saat-saat dua puluh empat jam yang lalu.


"Ah, sialan. Lagi-lagi aku tidur seperti orang mati," gumamku, saat kusadari diriku benar-benar berada di dalam kamarku, bukan berada di dalam mobil bersama Reza.


Eh? Apa ini? Selembar kertas menarik perhatianku saat aku hendak meraih ponselku dari atas meja. Aku tahu, itu surat dari Reza.


Selamat pagi, Naraku sayang....


Gadis cantik yang paling kucinta dan kusayangi di dunia ini. Terima kasih untuk 21 hari yang indah yang telah kita lewati dengan penuh cinta. Mungkin tidak ada kata lain selain "Dealova" yang mampu mengungkapkan, betapa bahagianya aku saat bersamamu, saat bercanda dan tertawa bersamamu, juga betapa aku merasa nyaman berada di sisimu. Percayalah, engkau adalah segalaku. Betapa aku mencintaimu dengan segenap hatiku, sepenuh jiwa dan ragaku. Engkau adalah satu-satunya orang yang kuinginkan menjadi teman hingga masa tuaku. Satu-satunya Dealova yang menjadi tujuan hidupku. Dariku, seseorang yang selalu tergila-gila padamu dan senantiasa merindukanmu.


Dengan penuh cinta - Reza

__ADS_1


Oaaaaah... aku jadi senyum-senyum sendiri. Reza memang selalu bisa membuat senyumku mengembang dengan sempurna.


__ADS_2