Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Terjebak Memori Masa Lalu


__ADS_3

Berburu pantai. Itulah satu-satunya rencana kami menghabiskan waktu sepanjang sore. TujuanĀ  kami hari ini untuk menyambangi Pantai Suluban. Kami berjalan kaki cukup jauh dari area parkir kendaraan dengan menuruni anak tangga yang diapit oleh tebing batu karang putih. Begitu sampai di ujung anak tangga yang paling bawah, kami melewati gua karang yang berlantai pasir nan lembut, barulah sampai ke bibir pantai. Dan, waw waw waw, pantainya indah sekali. Seperti biasa, momen perjalanan ini kami abadikan dengan video singkat. Video yang meliput pasir putih, birunya air laut, cerahnya langit, indahnya pemandangan sekitar pantai, dan, cinta kami sebagai objek utamanya. Maksudku -- pelukan dan ciuman kasih sayang antara kami berdua.


Tapi karena rasa parnoku, aku tidak mau berlama-lama di sana. Meskipun pemandangannya dilengkapi dengan kecantikan dan ketampanan bule-bule nan seksi dalam balutan hot pants dan bikini yang berwarna-warni, tetap saja aku takut kalau tiba-tiba air pasang, wisatawan bisa saja terjebak di sana. Maka itu aku segera mengajak Reza untuk pergi.


"Lo, kita kan baru sampai, belum juga dua puluh menit."


Aku bergidik. "Aku takut lama-lama di sini. Kalau tiba-tiba air pasang atau tiba-tiba ombak menerjang sampai naik jauh ke pantai, bagaimana? Apa kita akan sempat lari ke atas? Aku tidak mau mati muda," tuturku.


"Ya kalaupun itu terjadi, toh kita akan mati bersama."


"No! Aku tidak mau mati muda. Apalagi jadi arwah penasaran."


"Mana ada arwah penasaran, Sayang. Ada-ada saja kamu."


"Mungkin. Tapi aku pasti jadi arwah penasaran. Penasaran melewati malam pertama bersamamu."


Haha! Auto tancap gas. Aku langsung berlari sebelum dia menangkap dan menggelitiki aku.


Dari Pantai Suluban, kami memutuskan untuk memburu sunset di kawasan Seminyak, supaya dekat juga untuk kembali ke villa.


Well, sore-sore bersantai di pantai, berteman dengan angin yang berembus mesra yang kan membelaimu, Cinta. Yap, seperti itu, seperti penggalan lirik lagu Sebelum Cahaya miliknya Letto, angin itu benar-benar membelaiku dengan mesra. Tapi tentu saja lebih mesra belaiannya Reza. Eh?


Entah, apa itu yang dinamakan kebetulan atau itu yang dinamakan takdir, intinya sesuatu yang tidak disengaja. Di dekat kami ada anak kecil, laki-laki, menurutku umurnya sekitar dua tahun. Dia lucu, gendut, dan termasuk berkulit putih. Dia sedang berlarian menendang bola dengan ditemani ayahnya. Suara tawanya, wajahnya yang lucu, dan tingkahnya, semuanya menggemaskan, membuat Reza sangat antusias memerhatikannya bermain.


"Melihat pemandangan seperti ini rasanya pingin cepat punya anak. Bisa main ke pantai sore-sore. Main bola, main pasir, atau berenang. Pasti seru, seperti mereka," celotehnya.


Aku hanya tersenyum kecil. Memang itu merupakan pemandangan yang menghangatkan ketika melihat anak kecil berbahagia bersama orangtuanya, terutama bersama ayahnya. Tapi, sekaligus juga mengiris sembilu relung hatiku, ngilu ketika bayang-bayang masa kecilku dan Ihsan yang tidak sebahagia itu bermunculan dalam ingatanku. Sebuah perbandingan yang aku sendiri tidak ingin membanding-bandingkannya, tapi itu terjadi di luar kendaliku. Ingatan-ingatan itu muncul begitu saja, mengoyak-ngoyak hatiku yang selama ini sudah cacat. Seperti ingatan tentang Ihsan, Ihsan kecil juga suka sekali bermain bola seperti itu, tapi tanpa seorang ayah.


Aku berusaha menutupi perih getir hatiku dengan menyandarkan kepalaku ke bahu Reza. Menelusupkan jari-jemariku ke ruas jari-jarinya. Tapi dia cukup peka untuk menyadari reaksiku.


"Cerita, apa yang kamu rasakan saat ini? Kamu mau, kan, berbagi cerita denganku?"

__ADS_1


Aku menarik napas panjang sebelum menjawabnya. "Kamu mungkin sempat merasakan kebahagiaan seperti itu, Mas. Sedangkan aku, aku tidak. Apalagi Ihsan, tidak sama sekali. Aku iri melihat pemandangan seperti itu. Bahkan Tirta lebih beruntung daripada aku. Dia punya ayah seperti Alfi yang sangat menyayanginya. Sedangkan aku, aku punya ayah kandung, tapi sama sekali tidak menyayangiku."


"Kamu tahu?"


Aku mengangguk. "Mayra sendiri yang cerita padaku. Tentang Tirta, tentang panti asuhan, juga tentang dirinya sendiri. Sama halnya seperti Mayra, dia juga beruntung memiliki Alfi yang mencintainya tanpa memandang kekurangannya. Ya... katakanlah aku tidak seberuntung anak-anak yang disayang ayahnya. Tapi, apa aku bisa seberuntung Mayra yang dicintai seorang lelaki seperti Alfi?"


Kali ini Reza terdiam, dia hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Apa kamu akan tetap mencintaiku seandainya aku punya kekurangan seperti Mayra?" kutanyakan itu dengan menatap tajam kedua matanya.


Dia mengangguk. "Pasti," jawabnya pelan. Suaranya bahkan hampir tidak terdengar.


"Tapi, kamu kan berharap punya anak banyak."


"Bisa adopsi."


"Kamu yakin?" tanyaku. Lagi-lagi dia hanya mengangguk. "Kalau aku melakukan kesalahan fatal, misalnya membunuh orang. Apa kamu akan terus mencintaiku? Atau justru kamu akan berhenti mencintaiku saat kamu tahu hal itu?"


Dia tercengang mendengar pertanyaanku. "Kamu?" tanyanya dengan raut seribu tanda tanya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Jawab saja, Mas."


"Sudah, ya, Sayang, ya. Tidak ada gunanya membahas hal semacam ini. Oke?"


"Kamu tidak bisa menjawabku? Atau sebenarnya kamu ingin menjawab tidak? Tidak apa-apa. Jujur saja."


Dia terdiam sesaat seraya mengalihkan pandangan, lalu menatapku lagi dan balik bertanya, "Apa yang mendasarimu bertanya seperti itu? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"


"Oh... tidak. Tidak ada. Sungguh. Aku... hanya iseng. Serius," jawabku dengan gugup. "Emm... omong-omong, kalau mau sering ke pantai sore-sore, berarti harus punya rumah di dekat pantai."

__ADS_1


Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, dan aku tahu Reza menyadari itu, hanya saja dia pun ikut menyeimbangi sikapku.


"Kita akan bangun rumah di dekat pantai nanti."


"Emm? Memangnya Ibu mau diajak pindah?"


"Ibu akan ikut ke mana pun aku tinggal, maksudku nanti kalau aku sudah menikah. Kamu juga mau, kan, tinggal di mana pun tempat yang kutuju?"


Aku mengangguk. "Tentu. Jangankan nanti, sekarang pun aku mau ikut ke mana pun kamu pergi. Ke mana pun tujuanmu."


Dia tersenyum, manis sekali. Seperti manisnya gulali. "Kalau begitu, sepulang dari sini kamu ikut aku ke Bandung."


"Bandung?" Aku tertegun. "Emm... aku sudah pernah ke Bandung. Aku... aku tidak mau ikut."


"Lo? Tadi katanya mau ikut ke mana pun aku pergi." Keningnya mengerut hebat.


"Yah, Bandung memang tempat yang menyenangkan, sejuk, indah, nyaman lagi. Aku suka Kawah Putih dan Gunung Tangkuban Perahunya. Tapi aku sudah pernah ke sana. Aku tidak mau ikut. Tidak apa-apa, kan?"


Reza menatapku dengan penuh curiga yang tersirat nyata di matanya. "Kamu sudah pernah ke Bali, tapi--"


Putar otak. "Aku kangen suasana rumah," celahku cepat. "Aku kangen pada Bunda." Maaf aku berbohong, Mas. "Emm... omong-omong tentang panti asuhan. Kamu tidak pernah menceritakannya padaku." Lagi -- aku berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Emm... Ke-na-pa, karena... karena aku tidak ingin terdengar seperti membanggakan apa yang dilakukan oleh keluargaku kalau aku tiba-tiba menceritakannya. Terdengar seperti menyombongkan amal? Iya, tidak?"


Aku mengedikkan bahu. "Mungkin, tapi sekarang tidak, kan sekarang aku yang bertanya."


"Hmm... panti asuhan itu Ibu yang mendirikan, di balik banyak alasan, salah satu alasannya karena itu cara Ibu mengenang masa lalunya. Dia yang berasal dari panti asuhan. Dia tahu rasanya jadi anak yatim piatu yang besar di panti. Sebab itu Ibu mengasihi anak-anak yatim piatu."


Aku tertegun. Lagi-lagi aku terjebak dalam obrolan yang membuatku tidak nyaman. "Yeah. Ibu hebat karena dia bisa mengenang masa lalunya dengan cara positif. Kalau aku? Aku malah berusaha melupakan yang sejatinya tidak akan pernah bisa kulupakan."


Ah... cengeng. Kenapa sesorean ini harus berlangsung seperti ini?

__ADS_1


"Jangan memaksakan," kata Reza seraya menghapus air mataku. "Kalau tidak bisa lupa, ya sudah, jalani saja. Yang terpenting itu menata kebahagiaan. Jika kita bahagia, kita tidak punya waktu untuk mengingat-ingat masa lalu. Apa aku benar? Hmm?"


Yeah. Dia benar. Tapi kebahagiaanku tidak akan pernah sempurna selama hatiku menyimpan banyak beban.


__ADS_2