
Aku meninggalkan ruangan itu lalu pergi ke kamar dengan terseok-seok. Kakiku terasa lunglai. Rasa takut mulai bermunculan di otakku.
Selamat Inara, kamu akan menyandang status perawan tua selamanya. Tidak akan ada laki-laki yang mau menikahimu. Sama sekali tidak ada.
Di kamar, aku duduk menangis di atas lantai beralaskan karpet hitam dengan bulu-bulunya yang lembut, menekuk kedua kaki dan bersandar di sisi tempat tidur, membelakangi pintu kamar yang sudah kukunci dari dalam. Aku menggigil menahan marah. Lelaki sialan! Setan. Berengsek. Keparat. Umpatanku berlomba keluar. Aku kesal. Kudongakkan wajah sambil menggigit bibir dan menarik napas panjang, menahan agar air mata tak tumpah. Meski nyatanya sia-sia. Bulir bening itu menerobos keluar. Akhirnya wajahku basah oleh air mata. Aku tidak tahu berapa lama aku dalam keadaan seperti itu. Aku bergeming ketika ibuku masuk ke kamar dengan kunci cadangan. Melihatku seperti itu, ia langsung memelukku, membuat tangisku semakin pecah -- membelah ruangan. Kubiarkan perih yang membelenggu hati luruh bersama derai air mata.
"Bunda marah pada Nara?" tanyaku padanya dengan suara yang serak. Kerongkonganku sakit. Mataku panas, perih, seperih hatiku yang rasanya hancur menjadi serpihan. Aku sudah kehilangan, harapanku pupus.
Ia menggeleng. "Bunda tidak marah. Bunda justru minta maaf karena Bunda mengizinkan ayahmu untuk datang ke sini. Bunda yang salah. Terlebih Bunda sengaja tidak mengatakannya lebih dulu padamu. Bunda minta maaf, ya?"
"Bukan salah Bunda. Nara tidak marah pada Bunda. Nara bahkan mengerti semuanya. Nara tahu kenapa dan apa alasan Bunda melakukan ini. Tapi Nara juga tidak bisa menahan diri, Nara tidak pernah bisa siap melihat laki-laki itu. Nara sangat membencinya."
Ibuku mengatakan kalau dia mengerti dengan sikapku dan dia sama sekali tidak menyalahkan aku. Bagaimanapun juga, aku adalah anak yang ia besarkan dengan tangannya sendiri. Bagaimana mungkin dia akan marah padaku karena akulah korban yang sebenarnya, korban dari keegoisan ayahku, korban dari kejalangan wanita-wanita selingkuhan ayahku.
"Bund, Mas Reza dan ibunya bilang apa? Apa mereka membatalkan lamaran?"
__ADS_1
Ibuku hanya mengatakan kalau dia tidak tahu karena katanya ibunya Reza belum mengatakan apa pun. Aku semakin menangis sejadi-jadinya di pelukan ibuku. Tapi aku tidak ingin menyalahkan Reza, apalagi menyalahkan ibunya. Akulah yang bersalah karena terlalu emosional, dan menyalahkan ayahku karena seharusnya dia tidak perlu datang. Sebagaimana dulu dia sudah meninggalkan aku, seharusnya dia tidak usah kembali, bahkan sampai salah satu dari kami mati pun tidak apa.
"Nara tidak apa-apa. Nara baik-baik saja. Tapi Nara boleh pergi, ya? Nara mau mengembara lagi, itu yang cocok untuk Nara. Nara tidak mau punya harapan apa-apa lagi. Nara akan melupakan Mas Reza. Melupakan kalau Nara pernah menjadi calon istrinya. Nara... Nara akan melupakan... melupakan... kalau Nara mencintai Mas Reza. Nara akan melupakan semua tentangnya. Nara tidak apa-apa. Nara tahu Nara bisa melewati semuanya. Nara akan selalu kuat seperti yang selalu Bunda inginkan. Tapi Nara harus pergi."
Ibuku menggeleng lagi. Air matanya sama derasnya denganku. "Jangan, Bunda tidak mengizinkan," katanya menahanku. Dia memintaku untuk menenangkan diri, dan memintaku untuk bicara dulu dengan Reza.
Aku tidak menyadari kalau Reza sudah berdiri lama di pintu kamarku, mendengar semua ucapanku. Dia menghampiriku saat ibuku meninggalkan kami berdua. Sementara aku masih dalam keadaan yang sama, duduk di lantai sambil menangis. Aku berusaha menyembunyikan wajahku darinya. Aku tidak ingin dia melihatku lagi-lagi dalam keadaan menangis, dan untung saja aku tidak pernah berhias tebal, sehingga wajahku tidak akan belepotan mekap saat air mata membasahi wajahku.
Reza yang sudah berada di hadapanku, duduk dengan menekuk kedua lututnya, lalu meraihku ke dalam pelukannya. Dia memelukku sangat erat. Aku merasakan sedikit sakit pada tubuhku. Dia tidak mengatakan apa-apa dalam waktu cukup lama. Dia hanya memelukku, menyandarkan kepalaku di lekuk lehernya, antara bahu dan kepalanya. Sementara jari-jarinya mengelus punggungku. Dia menenangkan aku dengan caranya, walau tanpa kata-kata, kehadirannya sama seperti Bunda, menenangkan.
Saat aku sudah tenang, aku sudah tidak menangis lagi, dia mulai bicara, "Kita akan tetap menikah. Apa yang tadi kamu lakukan, dan apa yang tadi kamu katakan, sama sekali tidak merubah apa pun. Aku masih di sini, akan selalu di sini, selalu bersamamu, menemanimu dan menyayangimu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Tempatmu di sini, di sisiku."
"Minum dulu, Sayang," katanya seraya membukakan tutup greentea dingin dari lemari es.
Usai meneguk hampir setengah botol greentea yang ia sorongkan -- kurasakan rasa dingin menjalar, memadamkan sisa-sisa bara api dari dalam jiwaku. Kelegaan merasuk perlahan. "Terima kasih, Mas," tuturku sambil meletakkan kembali botol greentea itu di lantai.
__ADS_1
Reza tersenyum tipis. "Sama-sama," katanya. "Sekarang kamu dengarkan aku, kalaupun kamu mau pergi, mau mengembara, mau berkelana, berpetualang, piknik, haiking, kemping, berkemah juga boleh. Apa pun itu, aku akan selalu menemanimu ke mana pun kamu ingin pergi," sambungnya, dia mengucapkannya dengan pelan, kata per kata, sehingga membuatku jadi tertawa.
"Memangnya harus disebutkan satu persatu jenis bepergiannya? Dasar kamu."
Dia menggeleng. "Tidak juga, tapi kamu suka, kan? Itu, buktinya kamu tertawa."
Aku mengangguk, lalu menatap matanya. "Ibu... bagaimana? Pasti kecewa?"
"Jangan dipikirkan. Ibu pasti bisa mengerti keadaanmu. Yang penting itu kamu, usahakan jangan lagi seperti tadi, bagaimanapun juga dia ayahmu. Aku rasa dia menyimpan sebuah penyesalan di dalam hatinya. Dan... mungkin hubungan kalian masih bisa diperbaiki, asal kamu mau memberikannya kesempatan."
Aku menggeleng lemah. "Dua puluh dua tahun, itu waktu yang sangat lama. Dan sekarang kamu mengatakan tentang kesempatan?" kataku dengan ekspresi dan nada datar.
"Paling tidak kamu harus mencoba. Kalaupun tidak sekarang, mungkin nanti."
Reza pun berdiri, lalu menaruh tangannya di pundakku. Dia menarikku bangkit dan meraihku lagi ke dalam pelukannya. Cukup lama. Saat dia melepaskan pelukannya, dia langsung menangkup wajahku dengan kedua tangannya. "Inara, ketika hidup memberimu seribu alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa kamu punya sejuta alasan untuk tersenyum, dan jadikan aku salah satunya. Oke?"
__ADS_1
Terakhir, dia mencium keningku dengan begitu lembut, lalu mengatakan bahwa dia mencintaiku apa adanya. Bak terapis, sentuhannya, ciumannya, genggaman tangannya, pelukannya, ucapannya, bahkan bersandar di bahunya, semuanya memberikan sejuta kenyamanan dan ketenangan bagiku. Dia seperti ganja yang membuatku kecanduan pada setiap hal tentangnya.
Dia... sungguh menenangkan.