
Raline sudah kembali ke meja makan saat aku dan Reza kembali ke halaman belakang. Aku mengedarkan pandang dari meja makan ke arah panggung. "Oh, dangdutan," gumamku.
Di atas sana, Rafasya berbisik pada Zaim yang siap-siap memainkan trinada (chord), Zaim berdiri persis di depan organ electronic atau yang familiar dengan nama electone. Jenis alat musik seperti piano atau keyboard, yang biasa ada di acara-acara organ tunggal.
"Hei, kamu tadi nyanyi lagu apa?" tanyaku pada Raline.
Dia merengut dengan gaya khasnya yang manja. "Perawan Idaman," jawabnya. "Tapi kesal. Gara-gara Mbak Nara pergi, Mas Reza juga ikut pergi."
"Lah? Kenapa? Apa hubungannya?"
"Nyawer dulu harusnya, baru boleh pergi."
"Oh...," aku menyahut dengan intonasi panjang.
"Ya sudah, nyanyi lagi. Nanti kusawer," kata Reza.
Raline mendadak girang. "Serius, ya?" Ia langsung ngacir naik ke atas panggung begitu Rafasya selesai dengan lagunya. Kali ini dia menyanyikan lagu Syexsyi, persis Regina Xenia. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku atas kepercayaan diri yang dimiliki adik sepupuku itu.
"Aku harap kamu mulai terbiasa berada di tengah-tengah para vokalis gagal," kataku pada Reza.
Dia menolehku dan tersenyum. "Tidak masalah. Kalian punya hobi yang unik. Hampir tidak pernah sepi."
Kuberikan cengiran lebar kepadanya. "Harap maklum, ya. Kami anak kampung, mainnya organ tunggal. Bukan ke tempat karaoke yang nyanyi saja harus bayar. Tapi boleh juga Alfi, villa-nya dilengkapi alat musik seperti ini. Nge-band oke, mau dangdutan juga oke."
__ADS_1
"Kamu juga suka dangdutan?"
Aku menggeleng. "Kalau sekadar nyanyi bisa. Kalau harus benar-benar dangdutan dengan cengkok-cengkoknya, aku tidak bisa. Dan tidak ada sumber keturunannya. Kalau mereka semua, itu menurun hobi dari nenek, kakek, dan ayah mereka."
"Kamu sendiri? Mungkin ada bakat juga dari ayahmu. Hmm?"
Pertanyaan Reza membuatku tertegun. "Entahlah. Mungkin iya. Mungkin tidak. Bisa jadi. Kata Bunda, laki-laki itu memang hobi mendengar dan bernyanyi lagu dangdut lawas. Zaman-zamannya Hamdan Att, Caca Handika, Imam S Arifin, dan lainnya yang sezaman dengan mereka," ungkapku datar, tanpa bara semangat sama sekali. Aku tidak suka membicarakan sosok ayahku.
"Kalau bakat menulis? Itu dari Bunda?"
Aku yang tadinya sedang menyendok makanan dan baru saja akan menyuapkannya ke mulutku -- mendadak berhenti. Aku tidak suka dengan pertanyaan itu, sebab tidak ada orang yang tahu tentang seni yang mengalir di dalam diri ibuku. Ibuku seorang penulis, tapi ia selalu menggunakan nama samaran. Meski ibuku sama sekali tidak bisa menyanyi ataupun menari, tetapi ibuku sering bermain peran dalam pentas teater pada masa-masa remajanya dulu. Satu hal yang tidak diketahui oleh keluarga kami, bahkan nenekku pun tidak mengetahuinya. Ibuku juga menyukai seni lukis meski tidak bisa melukis. Dan meskipun bukan seorang model dan bukan seorang photographer, ibuku senang melihat hasil-hasil karya seorang photographer. Sebab itu, ibuku sangat mendukung keahlian Zizi, dan mengiyakan saat Zizi meminta izin untuk menjadikan aku sebagai model dadakan untuk pemotretannya.
"Hei, melamun terus," tegur Reza. Dia sudah berdiri di belakangku, bukan lagi duduk di depanku. Rupa-rupanya, dia baru saja pergi ke atas panggung untuk memberi Raline saweran.
"Aku mau melihatmu menyanyi lagu dangdut di atas sana," ucapnya. Bisa diartikan itu sebuah permintaan.
Aku terbelalak. Hampir saja teh melati dingin yang kuminum itu menyembur dari mulutku. Aku menggeleng. "Tidak mau."
"Nanti aku beri kamu hadiah."
"Saweran?"
"Bukan. Sesuatu yang kamu inginkan."
__ADS_1
"Sesuatu yang kuinginkan? Apa?"
"Sori, maksudku... sesuatu yang pasti diinginkan oleh setiap wanita."
Aku diam dan berpikir sejenak. "Memangnya apa?"
"Rahasia dong. Sebuah kejutan."
"Aku tidak mau kalau tidak diberi tahu."
"Ya sudah. Kamu sendiri yang akan menyesal." Dia melengos. Pura-pura merajuk.
Hmm, menyebalkan!
"Oke. Tapi tidak harus yang benar-benar dangdutan dengan cengkoknya yang luar biasa itu, ya? Dan jangan request judul lagunya. Aku hanya hafal sedikit lagu dangdut."
Dia tidak jadi merajuk. Malah langsung semringah, persis Raline tadi. Lalu dia mengisyaratkan simbol oke dengan jari jempol dan telunjuknya yang menyatu membentuk lingkaran bulat.
Kulangkahkan kaki naik ke atas panggung, dan, lagu Mimpi Manis miliknya Dewi Persik pun kulantunkan dengan riang. Reza hanya melihatku dari jauh, tidak mendekat, dan tidak menyawer. Hanya bertepuk tangan dan suitan yang paling keras dibanding tepuk tangan dari penonton lainnya setelah laguku berakhir.
"Jadi, apa hadiahku? Mana?" aku langsung bertanya begitu turun dari pangung.
Reza mengacak-acak rambutku. "Masih rahasia, dong. Tunggu tiba waktunya."
__ADS_1
Wewww... bibirku langsung monyong. Dasar menyebalkan.