
Meninggalkan kemesraan pasangan Ustadz Farhat dan Qori...
Kita beralih pada pasangan utama di sini. Saat ini A'a tengah asik bermain dengan ponselnya, bermain game di salah satu aplikasi.
Entahlah ponsel A'a mendadak penuh dengan gamenya membuat Nuha geleng-geleng kepala.
"A'a? Nuha mau ngomong."
"Ngomong saja neng, A'a dengerin kok."
"A'a tidak asik ah... Main game terus. Tahu kan? Hal yang berlebihan itu tidak baik."
"A'a main game kan tetap ingat waktu dan kewajiban neng... Ini hanya mengisi waktu luang." Tatapannya masih terarah pada layar ponselnya. Karena dia memang tetap melakukan ibadah, bekerja mengirim pesanan madu dan kurmanya yang semakin di banjiri pesanan, serta mengajar di rumah Tafiz.
"Waktu luang apa? Memang lebih penting ponsel gitu dari pada Nuha?" Memajukan bibirnya, dengan jari menggosok-gosok kain seprai. Faqih pun melirik, dia lantas tersenyum tipis seraya merubah posisinya tidur dengan kepala di pangkuan Nuha.
"Tanda-tanda sih ini kayanya?" Faqih melipat kedua tangannya di depan dada.
"Tanda-tanda apa?"
"Kamu sedang ingin... Ngaku saja." Ledek Faqih.
"Apa sih? Nggak tuh." Kedua pipi Nuha langsung merah padam.
"Tidak apa, sah... Sah saja kan?" Faqih meraih wajah Nuha lalu menurunkannya setelahnya di kecuplah bibir Nuha sekali. Merasa tidak puas Faqih merubah posisinya, merebahkan tubuh sang istri lalu kembali menyatukan bibir mereka dalam sebuah kecupan lembut.
"A'a...?" Nuha mendorong pelan dada A' Faqih, mengentikan kegiatan intim mereka. "Akhir-akhir ini kok Nuha ngerasa ada yang aneh ya di perut."
Deg...! Faqih langsung beranjak duduk.
"Apa? Apa yang di rasa? Besok ke rumah sakit ya? Jangan-jangan luka mu kambuh lagi." Faqih menyentuh bagian perut Nuha yang terdapat bekas sayatan operasi tersebut.
Nuha menggeleng, menepis dugaan Faqih.
"Perut Nuha tidak sakit A'..."
"Lalu hal lain apa?" Tanya Faqih mengusap-usap perut Nuha. "Apa yang neng rasakan?"
"Kaya seperti berkedut gitu. Tapi nggak sering sih, dalam seminggu ini ada tiga kali kayanya Nuha merasakan itu." Nuha menyentuh punggung tangan Faqih, sementara pria itu hanya terdiam menatap wajah yang tengah berbicara sembari menatap ke langit-langit kamar. "Dan lagi, memang kalau orang habis operasi Caesar itu, tidak menstruasi ya?"
"Nggak tahu juga, memang kamu tidak mens?" Tanya Faqih.
"Terakhir mens itu saat sepuluh hari Syawal A' habis itu tidak mens lagi, memang A'a tidak merasa aku tidak pernah libur melayani mu, sampai kayanya ada tiga bulan lebih."
Mendengar itu Faqih tersenyum tipis, matanya sedikit berkaca-kaca, ia lantas mengecup kening Nuha lembut.
"Barokallahu laka fil mawhuubi laka wa syakarta al waahib, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu" (Semoga Allah memberkahimu dan anak yang diberikan kepadamu. Semoga engkau pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta engkau dikaruniai kebaikannya.) Gumam A' Faqih, dengan bibir masih menempel di kening, seraya mengusap perut Nuha. dia bahkan mengecup-kecup kedua pipi Nuha lalu memeluknya. Membuat gadis itu merasa bingung sendiri, kenapa A'a membacakan doa itu kepadanya?
"Besok kita ke bidan ya." Ucap A'a.
"Kok bidan? A'a nangis?" Nuha mengusap mata Faqih yang basah, namun bibirnya tersenyum lebar.
"Pokoknya biar tahu alasannya kenapa kamu tidak mens. A'a penasaran juga, kalau bisa pagi-pagi buta kita cari bidan ya."
'kebangetan, pagi-pagi buta nyari bidan, katanya?" batin Nuha. "Tapi, A'...?"
__ADS_1
"Ayo neng bobo... A'a pengen cepat ketemu pagi... Oh... Atau sekarang saja, yuk..."
'apa sih...? Jam sepuluh lebih mau cari bidan yang ada-ada saja.' Nuha menggeleng pelan. "Besok saja ya... Besok." Nyengir.
"Kamu tidak merasakan apa-apa gitu? Kaya pengen apa kek...? Biar A'a carikan."
"Nggak... Nuha nggak pengen apa-apa, dan Nuha nggak merasakan apa-apa. Sudah tidak usah berlebihan A'..."
"Ya Allah neng... Pokoknya A'a sayang sama kamu. Sayang banget MashaAllah. sayang baget A'a sama kamu Hilwah ku... Sehat... sehat ya sayang." Memeluk tubuh Nuha erat. Gadis itu pun hanya mengusap punggung Faqih semakin bingung melihat ekspresi bahagia berlebihan yang di tunjukkan A' Faqih, tanpa tahu penyebabnya.
***
Ketika langit diluar sudah mulai terang, A'a sudah bersiap memanaskan mesin mobilnya.
Bahkan dengan berlebihannya, dia tak mengizinkan Nuha untuk memasak sarapan pagi.
"Biar A'a saja. Kamu duduk saja. Jangan ngapain-ngapain titik!!" Begitu katanya. Kalian jangan berfikir A' Faqih berbicara dengan nada menye-menye. Tetap datar dan tegas. Beliau bahkan mengecek lantai kamar mandi secara berkala, jangan sampai ada licin sekalipun yang akan membahayakan Nuha. Membuat gadis itu menjatuhkan dagunya lebar, seraya geleng-geleng kepala.
Dia sendiri tidak tahu sebenarnya kenapa? Iya... Dia diperlakukan seperti orang sakit sekali. Padahal saat sakit waktu itu A'a tidak seover ini. Hingga Faqih berjalan cepat masuk ke dalam tandas hanya untuk memuntahkan isi perutnya selepas menyantap sarapan pagi tadi.
"A'... Sekalian periksa saja ya, minta obat. Masa A'a mual-mual tiap pagi sih?" Nuha mengusap punggung Faqih yang tercondong di wastafel.
"Ini lebih baik, nggak kaya pas awal-awal saat di Bandung kok."
"Ya tapi aneh A'..."
"Tidak apa-apa neng. Yuk berangkat, kalau jam segini antriannya kan belum banyak."
"Belum banyak, yang ada belum buka A'... Nanti jam sembilan saja, sih."
'ck... Dia kok jadi lebih sensi sih... Nyebelin.' Nuha bersungut.
Hingga keduanya mulai melangkah keluar. Di mana A'a benar-benar menggandengnya serta menjaga sekali langkah Nuha. 'Duh Gusti...' Nuha merasa konyol sendiri.
Hingga sampai lah pada tempat khusus kesehatan ibu dan anak. Keduanya menunggu hasil dari urin Nuha. Setelah memeriksa dengan menyentuh perut Nuha, lalu memasang alat detektor detak jantung janin.
Sehingga sebuah senyum merekah terlihat di wajah sang bidan wanita, memberikan kesimpulan dari semua hasil pemeriksaannya.
"Alhamdulillah ini, kabar baik... Mbaknya tadi bilang menstruasi di Sepuluh hari Syawal kan?" Tanya beliau, Nuha mengangguk. "Jadi, ternyata rasa berkedut itu adalah salah satu denyut janin yang sudah bernyawa. Dan mbaknya sudah masuk ke usia kandungan enam belas Minggu."
"Alhamdulillah, dugaan ku benar." Faqih bersemangat sekali. Dia meremas tangan Nuha di bawah meja lembut. Sementara gadis itu masih bingung.
"Jadi maksudnya saya hamil?" Tanya Nuha.
"Iya mbaknya hamil sudah masuk empat bulan loh."
"Hah?" Nuha terkejut.
"Ucap hamdalah neng, bukannya teriak gitu. Gimana sih." Tutur Faqih.
"Alhamdulillah ya Allah... Tapi... Tapi saya kok tidak merasa kalau saya hamil ya Bu bidan?"
"Ada sih yang tidak terasa sama sekali, atau mungkin masnya kali yang ngidam." Bidan itu hanya asal tebak saja.
"Tapi memang saya selama ini sering merasakan mual muntah, sih." Gumam Faqih.
__ADS_1
"Nah kan?" Bidan itu terkekeh, merasa lucu melihat pasangan muda di depannya.
"Ya Allah neng. Jadi A'a selama ini ngidam?" Bertanya seperti itu namun sembari mengembangkan senyum. Sementara Nuha hanya terkekeh konyol saja, membalas senyumnya itu. Nuha pun kembali menatap kearah Bu bidan, sama halnya dengan Faqih.
"Bu maaf, istri saya ini sebelumnya habis operasi usus buntu, memang aman gitu? jahitannya tidak akan bermasalah kan?" tanya A' Faqih sedikit khawatir.
"kapan operasinya? karena luka jahitan bekas operasi usus buntu itu bisa pulih selama tiga sampai enam bulan."
"kira-kira akhir Ramadhan kemarin Bu." jawab Faqih.
"tapi tidak merasakan apa-apa kan? kaya keluhan lain?" tanya Bidan tersebut.
"enggak ada Bu." jawab Nuha.
"syukurlah... setelah ini, rutin makan makanan yang mengandung protein tinggi ya. lalu rutin lagi periksa kandungan, sekaligus konsultasikan hal ini pada dokter bedahnya. baiknya seperti apa untuk kedepannya." ucap bidan tersebut, keduanya pun hanya mengiyakan.
Hingga pemeriksaan itu berakhir, Keduanyan sudah berada di dalam mobil lagi, Faqih pun memeluk erat tubuh Nuha. "Terimakasih Hilwah... A'a senang... Senang sekali ya Allah, A'a mau punya anak ini."
"Iya A'... Tapi kok Aneh ya... Ada gitu ngidam yang ngerasain suaminya?" Masih berfikir keras.
"Sabodo teuing lah... Demi si jabang bayi, A'a rela..." Faqih melepaskan pelukannya. "Neng bilang ke A'a... Mau apa? Mau makan apa?"
"Nggak pengen apa-apa." Jawab Nuha jujur.
"Pengen kayanya, pengen makan ketoprak kayanya."
"Nggak A'... Nuha nggak pengen ketoprak."
"A'a yang pengen neng, yuk kita cari yuk." A' Faqih menciumi wajah Nuha berkali-kali, lalu mengusap matanya yang basah itu sembari menyalakan mesin mobilnya.
Nuha pun tersenyum terserahlah begitu pikirnya. dia masih tidak menyangka pria Killer dingin dan emosian juga nyebelin super, ternyata bisa merasakan ngidam juga.
'sebegitu besar kah cinta mu pada ku A'? Terimakasih untuk cinta mu itu ya, suami ku.' Nuha menitikkan air matanya terharu, dengan tangan menyentuh perutnya saat merasakan berkedut lagi. Dia pun terkekeh.
"Aku mau punya anak…?" Gumam Nuha. Faqih pun menoleh sekilas lalu tersenyum dan mengusap-usap kepala sang istri, merasakan sayang lebih dari sebelumnya.
"Hilwah ku." Gumam A'Faqih kemudian.
***
Cinta manis eperti apa yang kalian dambakan?
Tahu kan, pasangan kita adalah cerminan kita.
Percaya tidak? Jika Kita bisa mengubah perangai dan sikap pasangan kita.
Dengan satu syaratnya...?
Rubah lah diri kita menjadi lebih baik lagi, setelahnya melayani dengan penuh keikhlasan, menerima setiap kekurangan dan berusaha memahami apa yang menjadi kehendak beliau dengan cara tidak egois sendiri, dan terakhir, kepercayaan kita untuk meminta pada sang maha membolak-balikkan hati.
Barulah kita akan mendapatkan mawadah dan warahmah itu dengan tulus dari pasangan kita. Lalu setelah ini pasti hanya akan ada sakinah... Sakinah... dan Sakinah.
- Ikrar cinta sang Hafizh Qur'an -
Tamat...
__ADS_1