
Pagi yang mulai temaram, di mana embun pagi sudah mulai membasahi dedaunan. Dengan semilir angin pagi nan sejuk, yang datang perlahan memberikan rasa nyaman bagi para penduduk kota Jakarta yang biasa merasakan hawa gerah ketika sudah lewat dari pukul enam.
Sebelum menuju ke Bogor, A'a tengah memanaskan mesin mobilnya setelah mencucinya terlebih dahulu.
Sedangkan Nuha tengah mengolah makanan pagi untuk keduanya.
Karena mereka sempat menunda waktu bulan madu mereka sehabis Syawal, ya karena pekerjaan A' Faqih juga sih sebenarnya. Juga agar keduanya lebih fokus berpuasa di bulan Syawal.
Kita beralih ke dapur, di sana ada seorang gadis yang dengan lihainya menumis bumbunya lalu memasukkan sayurnya ke dalam wajan ketika bumbu itu sudah sedikit matang.
Setelah semua makanan tersaji, dia meraih sebuah bawang merah yang sudah ia dan A'a iris tipis selepas subuh tadi dan di rendam di air garam selama setengah jam.
Dia pun meraih satu sendok teh tepung beras setelah mentiriskan bawang tersebut dan membalurkannya ke dalam bawang sebelum di goreng lalu mengaduk-aduknya sampai rata.
"Kata A'a cukup begini saja? Huuuft, saking senangnya bawang goreng. Sampai tidak boleh kehabisan stok? Mana maunya bikin sendiri lagi."
"Menggerutu ya?" Tanya A'a seraya masuk. Gadis itu terkesiap lalu nyengir.
"Maaf sedikit sayang." Mendekati A' Faqih hanya untuk memeluknya saja, merayu agar beliau tidak marah.
"Hmmm... Mau minum dong." Ucap beliau mengecup pangkal kepala Nuha.
"A'a mau minum apa?"
"Teh hangat."
"Okeh siap, suami ku." Ucap Nuha bersemangat, sedangkan Faqih hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum. Setelahnya berjalan mendekati kursi meja makan.
Mengamati Nuha yang tengah menuang teh hangat ke dalam cangkir lalu mendekatkannya ke Faqih.
"Terimakasih ya Hilwah..."
"Sama-sama." Jawab Nuha, gadis itu kembali beralih pada penggorengannya yang sudah berisi minyak, tinggal menyalakan apinya saja.
Hingga berpuluh menit kemudian, kloter pertama bawang merah goreng itu di angkatnya dari wajan.
"Tiriskan dulu, habis itu letakan ke sini." Faqih meletakkan satu nampan yang sudah di alasi tissue penyerap minyak. Lalu mendekati bawang goreng itu, mengambilnya satu dan memakannya.
"Gimana, enak?" Tanya Nuha.
"Sempurna." Jawab A' Faqih mengecup pipi Nuha kemudian. Gadis itu pun tersenyum.
"Kenapa sih, A'a sukanya bawang goreng yang di goreng sendiri? Padahal kalau kita beli sama kan rasanya?"
__ADS_1
"Nggak lah neng, enak buatan sendiri. Kalau beli kadang kurang gurih." kembali duduk di kursinya, karena bawang goreng tersebut sudah di pindahkan Nuha ke nampan.
Dan kembali memakannya.
Hingga keloter ke-dua pun matang, bawang goreng di atas nampan sudah habis hampir separuhnya.
"A'a... Kok di makanin terus sih? Katanya mau di bawa ke Bogor?"
"Enak neng, ini sudah kok." Meraih separuh genggam lagi. Sementara Nuha hanya geleng-geleng kepala, kembali memasukkan bawang goreng mentah di keloter terakhir.
Hingga selesai, bawang goreng itu sudah mulai di masukan kedalam toples. Nuha melirik ke arah sang suami yang tengah menengguk air putihnya.
"Nggak penuh kan jadinya... A'a sih di makanin terus."
"Namanya juga makanan ya harus di makan neng."
"Ck... Terus kalau selama di Bogor habis bagaimana? Mau beli?"
"Nggak, bikin lagi dong." Berpindah tempat duduk di sebelah Nuha sembari memeluknya.
"Nuha tidak mau motong bawang merah A' pedih.."
"A'a yang motong, neng yang goreng lah." Terkekeh. "Lagian, kita di Bogor hanya sekitar lima hari kan? Tidak lama kok. Jadi tidak perlu goreng lagi." Mengecup bibir Nuha.
"Waktunya mandi... Yuk yuk yuk." Ajak A' Faqih membuat Nuha tergelak.
***
Perjalanan yang menyenangkan ketika mobil keduanya sudah mulai memasuki area puncak. Di mana pohon Pinus berjajar sepanjang jalan, di kanan dan kirinya. Serta hawa sejuk yang benar-benar membuat Nuha merasa betah dengan udara di sana.
Faqih mengusap-usap kepala sang istri, dia tersenyum. "Neng, sebenarnya A'a tuh kepengennya pakai motor. Nyaman saja di peluk dari belakang gitu."
"Terus kenapa pakai mobil?" Tanya Nuha.
"Ya karena ada mobil kan? Jadi biar kamu lebih nyaman saja." Jawab A'a.
Gadis itu terdiam sejenak, kedua tangannya saling meremas. Ingin dia bertanya pada sang suami tentang mobil ustadz Farhat ini, hingga akhirnya dia pun menoleh.
"A'a...?"
"Ya?"
"Ini mobil kak Farhat kan?"
__ADS_1
"Kak siapa?"
"Ustadz Farhat masuk Nuha."
"Iya benar." Jawab Faqih datar.
"Kok di pakai kita?" Tanya Nuha memberanikan diri.
"A'a belum bilang kah? Kalau mobil ini A'a beli?"
"Iya A'a sudah bilang... Cuman, kenapa mendadak di jual ke A'a?"
"Karena Farhat butuh uang... Dan A'a mau bantu neng. Maaf kalau A'a tidak rundingan dulu. Karena ini mendadak."
"Lalu? Alasan dia butuh uang, sampai harus jual mobilnya ini apa?"
"Haruskah kamu tahu urusan orang lain sayang? A'a rasa itu sudah tidak pantas A'a jawab, hanya cukup kamu tahu Farhat menjual mobil ini karena butuh sudah itu saja." Tutur Faqih, sementara Nuha hanya mengiyakan saja. Karena benar juga ucapan sang suami.
–––
Pukul dua siang mereka telah tiba di salah satu Vila yang di sewa A' Faqih.
Tempat yang begitu teduh, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan yang sering membuat stres, tidak di temukan di sana.
Dengan pemandangan pepohonan yang masih rimbun, Nuha berdiri menatap dinding kaca seraya mengusap-usap kedua lengannya akibat merasakan dingin.
Sebuah koper di letakkan di dekat Lemari lalu mendekati sang istri, memeluknya dari belakang.
"Dingin ya?" Tanya A'a mengecup-kecup pundaknya.
"Iya A'... Kita keluar yuk A' cari yang anget-anget."
"Ngapain keluar, di dalam juga bisa kok"
"Di sini? Mau masak mie maksudnya kah?"
"Bukan tapi kehangatan yang lain lah." Faqih menggandeng tangan Nuha setelah melepaskan pelukan itu, dan duduk di atas ranjang.
"A'a mandi di sini dingin." Berusaha menolak halus, walaupun dia sudah pasrah saja ketika A'a mulai mencumbunya.
"Kan ada A'a, mandi sama A'a tetap akan hangat."
"Iya tahu... Tapi ini juga masih siang A'... Kita makan dulu saja ya." Memohon dengan tampang sok imut. Faqih menghela nafas dan akhirnya mengiyakan.
__ADS_1
Seraya menahan hasrat untuk bersenggama sampai malam hari tiba.