Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
Antara Ibu dan istri ku


__ADS_3

Hingga tak lama datang lah Faqih mendekati sang ayah.


Dia sebenarnya mendengar perdebatan antara ibu dan ayahnya sehingga membuat dia merasa bersalah.


"Faqih? Ngapain di sini?"


"Bi...? Umma marah sekali ya?" Tanya Faqih merasa sedih.


"Tidak, A'a kan tahu Umma seperti apa orangnya?" Mengusap bahu sang anak. "Bagaimana Nuha?"


"Sempat menangis sih, tapi bukan karena ucapan Umma, lebih ke merasa tidak enak saja." Jawab Faqih, mulai membantu ayahnya menyiapkan hidangan sahur.


Sungguh dia tidak pernah menduga akan terjadi hal seperti ini. Dia pun tidak tahu jika Abinya sering berdebat dengan ibunya karena ketidaksukaan Umma Hasna terhadap Nuha. Dan jika tidak karena ia mendengar sendiri ia pun tidak akan tahu jika Ummanya belum menerima Nuha sepenuh hati.


"Hiks." Faqih tiba-tiba saja terisak namun ia redam kemudian, dengan menutup mulutnya. Abi Rahmat menoleh lalu mematikan kembali kompornya.


"Kenapa kau menangis?"


"Abi? kenapa Umma bisa tidak menyukai gadis yang Faqih cintai...? Bagaimana cara Faqih memilih, sementara cinta Faqih sangatlah tinggi pada Umma, namun Faqih juga tidak bisa meninggalkan Nuha demi menjaga perasaan Umma." Jawab Faqih lirih dengan suaranya yang parau itu. Ia pun menghela nafas berusaha beristighfar sebayak mungkin.


"Faqih, dalam hidup kita memang tidak akan selamanya menemukan kemudahan. Saat ini kau bisa menikahi wanita Solehah seperti Nuha, namun siapa sangka jika ujian mu ada pada ibu mu sendiri."


"Tapi Faqih merasa bersalah Bi, secara tidak langsung Faqih sudah menyakiti Umma."


"Tidak perlu terlalu memikirkan itu, seharusnya kau menyadari jika keimanan mu tengah di uji saat ini.


sebagai laki-laki harus bisa memposisikan diri mu, selayaknya seorang suami yang sudah membawa istri mu ke rumah ini, kau harus bisa melindunginya, menjaga hatinya, membuatnya nyaman di sini. Sementara ibu mu, kau juga harus bisa menunjukkan sisi hormat mu kepadanya sebagaimana sepatutnya seorang anak yang tetap mencintai, cinta pertamanya dalam hidup. Agar tidak ada rasa cemburu sosial di benak Umma mu, dan tunjukkan pada Umma mu jika kau tak salah memberikan menantu kepadanya."


"Iya Bi... Akan Faqih usahakan, menunaikan ucapan Abi."


"Ya sudah... Sekarang Ke kamar saja sana, temui Umma mu. Bujuk dia untuk kembali ke bawah." Titah Abi Rahmat. Faqih pun mengusap matanya. Lalu berjalan pelan menuju kamar orang tuanya.


Saat ini ada dua wanita yang tengah menangis di dalam kamar mereka masing-masing. Nuha yang tiba-tiba merindukan sosok Umma Rahma, akibat rasa bersalah yang teramat. Sementara di sisi lain ada Umma Hasna yang merasa sudah tak di cintai lagi oleh suami dan anak laki-lakinya.

__ADS_1


Sebenarnya...? Dalam kondisi seperti ini, kita tidak bisa menyalahkan seorang Umma Hasna yang sebenarnya tidak tidak begitu salah. Dia hanya berusaha keras menerima Nuha dengan caranya, karena memang tutur bicara beliau yang seperti itu sejak dulu. namun karena perhatian Ustadz Rahmat demi bisa menjaga hubungan baik antara istri dan menantunya malah justru di tangkap lain oleh sang istri. itu kenapa Umma Hasna merasa semakin tak menyukai menantunya itu.


Tok tok tok...


sebuah ketukan membuat Umma Hasna menoleh, namun kembali ia memalingkan wajahnya. Faqih pun masuk dan menutup pintu kamar itu.


Pria itu berjalan mendekati ibunya seraya berjongkok di hadapannya. Tangan Faqih meraih tangan Umma Hasna, lalu mengecupnya.


"Maafkan Faqih Umma, maaf kalau Faqih sudah membuat Umma terluka karena menikah dengan wanita yang kurang Umma suka." Faqih masih saja mengecup tangan ibunya seraya terisak.


"Mau bagaimana lagi. Kau sudah memilihnya. Cuma Umma tidak suka kalau kalian terlalu membela Nuha, Umma juga punya hati Faqih."


"Iya Umma, Faqih minta maaf... Faqih akan berusaha lagi adil, karena cinta Faqih lebih tinggi pada Umma."


"Kalau kau lebih mencintai Umma, kenapa tak mencari jodoh yang sekiranya Umma suka A'... Umma sudah bilang dari awal kan, Umma suka kamu dengan Zahra, kalau kau menikah dengan Zahra, Umma tidak akan seperti ini?"


"Umma sudah... Umma tahu Faqih sangat mencintai Nuha kan? Tolong jangan bahas itu lagi Umma. Tolong terima Nuha, agar hidup Faqih lebih tenang. lagi pula jika Faqih menikah dengan Zahra yang ada Faqih malah menzolimi dia, karena tidak bisa membuatnya bahagia." Tutur Faqih, Umma Hasna pun melepaskan tangan anaknya, kesal. "Umma tolong jangan seperti ini. Nuha sangat menghormati mu, tidak lihat kah ketulusan hatinya membatu Umma?"


"Terserah pada mu, Abi sudah bicara pada Umma kalau dia akan mengembalikan Umma pada Abah di Tasik. Jadi Umma mau siap-siap." Tuturnya.


"Kau dan Abi sudah ada Nuha kan? Gadis itu cukup untuk menghiasi rumah ini."


"Astagfirullah al'azim. Istighfar Umma, Surga Faqih ada di Umma, tidak mungkin Faqih menukar surga Faqih dengan siapapun, termasuk Nuha. Tolong jangan berikan pilihan Umma.... Karena Faqih tidak akan sanggup memilih. Umma adalah wanita paling Faqih cintai, namun Nuha juga tidak akan mungkin bisa Faqih lepaskan. Jadi tolong Umma, jika Umma sayang sama Faqih, umma tetap lah di sini dan tolong dengan sangat terima Nuha dengan ikhlas ya, Faqih mohon." Faqih mengecup kedua pipi Ummanya yang masih terisak itu. Umma Hasna masih terdiam di sana, ia sama sekali tidak menjawab apapun. Melihat Faqih sampai bersimpuh di kakinya memohon untuknya menerima Nuha, membuat Umma Hasna sedikit luluh. Namun ketika mengingat Abi Rahmat sampai semarah itu padanya demi membela Nuha sungguh membuatnya kembali kesal.


"Umma kita keluar yuk... Sudah jam empat kurang, kita harus sahur nanti keburu imsyak Umma."


"Umma mau di kamar saja sahurnya."


"Ya sudah Faqih bawakan ya."


"Terserahlah." Jawab Umma Hasna. Faqih pun mengecup tangan kanan ibunya berkali-kali, seraya beranjak keluar.


Di luar kamar ia sempat kan menuju kamarnya sendiri terlebih dulu, dan mendapati Nuha sudah berdiri di depan pintu saat pintu itu terbuka.

__ADS_1


"Neng?" Faqih memeluknya erat. Ia benar-benar kasihan melihat istrinya yang masih terlihat ketakutan itu. "Turun yuk sayang, kita makan sahur." Ajak Faqih setelah Melepaskannya.


"I...iya A'..." Nuha masih ragu untuk keluar dan bertemu dengan ibu mertuanya.


Hingga tangan Faqih mulai menggandeng tangan sang istri lalu membawanya keluar.


Di meja makan itu hanya ada Abi Rahmat yang sedang mengambil nasi di piring, terlihat nasi itu menggunung di sana, serta beberapa lauk di piring dan mangkuk yang berbeda. Ustadz Rahmat tersenyum saat melihat Nuha turun.


"Makan dulu ya neng, Abi makan di atas sama Umma." Ucap Abi Rahmat seraya tersenyum. Nuha pun mengangguk pelan, sembari menatap Abi Rahmat yang sudah menjauh dengan nampan berisi makanan di tangannya.


"Ayo neng kita makan." Ajak Faqih.


"Kok Abi sama Umma makan di kamar A'…? Umma masih marah ya?" Nuha murung.


"Jangan salah sangka sayang, siapa yang marah... Mereka itu biasa seperti itu. Tadi Umma sedikit pening, makanya beliau makan di kamar. Biasanya sambil pacaran... Abi kan gitu karena tidak enak di lihat menantunya jadi mesra-mesraannya di kamar." Faqih berusaha terkekeh demi menutupi apa yang terjadi antara ibu dan ayahnya tadi. Nuha pun tersenyum tipis.


"Nuha, bukan menantu yang baik ya A'..?" Tersenyum namun matanya tidak bisa membohongi jika dia sedih, hingga setitik air mulai menetes.


Faqih menghapusnya pelan lalu memberikan kecupan di kening.


"Umma tuh bilang sama A'a... Kalau beliau merasa beruntung punya menantu seperti Nuha."


"Benarkah seperti itu?"


"Iya, neng percaya kan? Kalau seorang ibu yang baik, pasti akan selalu mendidik anaknya agar lebih baik lagi. A'a saja sampai iri loh, karena Umma lebih menyayangi mu dari pada A'a sendiri." Berbohong. Mendengar itu Nuha kembali tersenyum lebar.


"Umma sayang sama Nuha, A'a benar... Nuha juga sayang Umma Hasna, karena Umma Hasna juga, Nuha jadi lebih pandai memasak dan membuat teh yang nikmat." Ucapnya tulus. Faqih terkekeh haru.


"MashaAllah istri ku." Kembali di peluklah tubuh sang istri.


'Ya Allah, bagaimana aku tidak mencintai istri ku ini, jika dia sebaik ini. akan menjadi sebuah penyesalan jika dia tak menjadi jodoh ku. Jadi tolong buat Umma mencintainya dan jangan jadikan istriku sebagai bidadari yang tak berarti di matanya. apalagi sampai membuat ku memilih antara ibu dan istri ku, sungguh aku tidak akan sanggup melakukan itu.' (Faqih)


"A'a sudah peluknya nanti kalau Abi atau Umma turun kan tidak enak." Ucap Nuha merasa risih. Faqih pun Melepaskannya seraya terkekeh lalu kembali melanjutkan kegiatan mereka untuk makan sahur.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2