
Baru saja Ustadz Farhat pergi, Abi Rahmat dan Umma Hasna datang. langsung saja keduanya mendekati Faqih yang tengah duduk sendirian di kursi panjang.
Di pelukannya sang putra dengan sangat prihatin, ustadz Rahmat memberi semangat untuk Faqih yang terlihat sedih itu. Di susul pula pelukan Umma Hasna.
"Sejak kapan Nuha sakit sebenarnya? Kenapa kita bisa tidak tahu?" Tanya Abi Rahmat.
"Si Eneng tidak pernah menunjukkan rasa sakitnya. Jangankan Abi dan Umma, Faqih pun baru tahu hari ini," jawab Faqih menunduk.
"Ya Allah... Bagaimana kita bisa menjelaskan pada ustadz Irsyad?? Seharusnya kamu bisa lebih Menjaga lagi istri mu, dia tanggungjawab mu Faqih. Kau kan yang sudah membawanya...!" Ucapan Abi Rahmat terdengar kecewa. Umma Hasna pun meraih tangan sang suami.
"Abi, jangan menyalahkan Faqih. Itu semua sebab Nuha juga yang tidak mau jujur kan? Siapa yang tahu kalau dia sakit kalau dia sendiri tidak bicara."
"Umma masih bisa menyalahkan menantu Umma sendiri? Istighfar Umma."
"Itu memang benar Abi."
"Abi, Umma. Wallahi... Tolong jangan seperti ini. Terutama Umma, tolong jangan salahkan istri Faqih yang telah menutupi sakitnya. Di sini Faqih yang bersalah... Faqih yang kurang memperhatikan, semua sebab pekerjaan Faqih demi bisa menyenangkan Nuha, tapi gagal." Faqih kembali bersedih. Hingga Abi Rahmat pun kembali memeluk Faqih.
"Sudah... Tidak ada yang perlu di salahkan, ini hanya musibah Faqih. Tenang saja, ustadz Irsyad pasti akan mengerti." Abi Rahmat mengusap-usap punggung Faqih, menenangkan.
Hingga hampir setengah jam mereka menunggu. ustadz Irsyad dan Rahma datang.
Rahma yang sangat cemas langsung menghampiri Faqih setelah mengucap salam dan menyapa kepada tiga orang yang ada di sana.
"A'a... Ada apa dengan Dede? Sejak kapan Dede mengalami sakitnya sampai dia kolik?" Tanya Rahma.
"Sebenarnya, sudah beberapa hari belakangan. Mungkin ada semingguan lebih," jawab Faqih.
"Seminggu? Kenapa baru sekarang di bawa ke rumah sakit?" Rengek Rahma. Ustadz Irsyad pun langsung memegangi kedua bahu Rahma.
"Umma, istighfar." Bisik sang suami, Rahma pun langsung beristighfar lirih.
"Maaf mbak Rahma, selama ini Eneng hanya diam saja. Dia tidak pernah bicara jika dia tengah sakit." Jawab Umma Hasna karena Faqih hanya diam saja. Keduanya saling tatap demi bisa menghindari hal yang tak di inginkan Abi Rahmat langsung saja meraih tangan Umma Hasna menggeser beliau pelan, lalu mendekati ustadz Irsyad.
"Mohon maaf saudara ku, kami kurang memperhatikan Nuha." Merasa tidak enak sekali Abi Rahmat pada Abi Irsyad. Sementara Abi Irsyad hanya mengusap bahu ustadz Rahmat sembari memeluk.
__ADS_1
"Abi...?" Baru saja Faqih akan berbicara Irsyad pun langsung beralih pada Faqih, "maafkan Faqih Bi. Tolong maafkan Faqih." Terisak.
"Kau suami yang baik Faqih... Jangan sedih, jangan menyalahkan dirimu." Tutur ustadz Irsyad.
"Jujur Abi, selama ini Faqih sibuk berdagang madu dan kurma. Demi bisa mewujudkan keinginan Nuha untuk kuliah di Kairo. Sampai-sampai Faqih tidak tahu kalau istri Faqih sakit, tolong ampuni Faqih Bi..." Memeluk semakin erat Abi Irsyad.
Irsyad pun terdiam, sejenak. Semua yang di sana terlebih Umma Hasna terkejut, dia baru tahu anaknya sampai berdagang kurma segala. Jika tidak ada Rahma dan Irsyad mungkin dia akan meluapkan kekecewaannya itu pada Faqih, yang sudah menempuh pendidikan tinggi namun masih berkenan berdagang seperti itu.
Menghela nafas sejak. "Apa, putri Abi yang bilang kepada mu jika dia ingin ke Kairo?" Tanya Irsyad, ia berharap tidak, karena jika sampai iya? Mungkin beliau akan menyalahkan Nuha.
"Tidak Bi," jawab Faqih.
"Jawab dengan jujur. Apa putri Abi yang meminta itu?"
"Wallahi tidak Bi, itu keinginan Faqih sendiri. Faqih hanya kasian Melihat dia sedih saat melihat apapun yang berbau Mesir."
"Astagfirullah al'azim." Gumam Ustadz Irsyad, seraya melepaskan pelukannya.
"Bi?" Panggil Faqih hendak berbicara namun tangan ustadz Irsyad sedikit terangkat.
"Ustadz, saya ikut ya." Ustadz Rahmat memanggil.
"Mari tadz." Irsyad tersenyum, dan berjalanlah keduanya menuju masjid rumah sakit.
Meninggalkan ketiganya di sana.
Sementara Rahma berjalan mendekati Hasna, lalu meraih tangan Hasna dia pun memeluknya.
"Teh... Terimakasih." Ucap Rahma dengan suaranya yang serak. Sementara teh Hasna hanya diam saja dia bingung, kenapa Rahma mengucapkan terimakasih? Memang apa yang sudah dia lakukan. "Terimakasih sudah menyayangi putri ku."
Deg...! Hasna terpaku, dia bahkan belum membalas pelukan Rahma. Sedangkan Faqih yang di sana hanya diam saja.
"Nuha selalu menyanjung mu, di depan ku. Dia bilang dia sangat bersyukur, berkat Umma Hasna. Dia jadi bisa masak, dia bisa mengerjakan apapun yang bahkan tidak pernah ku ajarkan Sebelumnya." Suara Rahma tersendat-sendat. Hasna pun semakin terpaku, ia rasa? Tidak pernah melakukan apapun selain memperlakukan Nuha dengan sangat dinginnya. "Aku malu pada mu teh Hasna. Aku malu, Karena telah berfikir buruk tentang mu sebelumnya. Tolong maafkan saya teh Hasna. Tolong maafkan saya." Isak Rahma.
"Em... Mbak Rahma." Kedua tangan Hasna gemetaran membalas pelukan Rahma, hingga Bulir bening pun tiba-tiba saja menetes. 'mbak Rahma.... Apa yang sudah di katakan putri mu? Apa dia tidak pernah berbicara sikap buruk ku terhadapnya?' batin Hasna.
__ADS_1
"Maaf Teh Hasna, dan terimakasih banyak sudah menyayangi putri ku. Serta membuatnya nyaman di rumah mu." Sambung Rahma, Hasna pun semakin mempererat pelukannya.
"Aku yang seharusnya minta maaf mbak Rahma. Aku yang seharusnya minta maaf." Hasna turut menangis dalam posisi saling memeluk.
Sedangkan Faqih yang mendengar itu semakin merasa bersalah, ia benar-benar percaya kalau Nuha sangat menutup rapat apapun yang terjadi di rumah orangtuanya. Dia pun menoleh ke arah pintu ruang operasi, berharap operasi itu segera berakhir dan dia bisa memeluk sang Istri segera, serta meminta maaf kepadanya.
***
Di dalam masjid, kedua pria paruh baya itu berzikir setelah melaksanakan sholat Sunnah bersama.
Dalam guliran tasbih, dan zikir yang beliau panjatkan ustadz Irsyad menitikkan air matanya. Dia ingat saat Nuha datang kepadanya seraya membawa laptop di tangannya.
(Flashback is on)
Dengan langkah pelan, Nuha mendekati Abi Irsyad yang tengah duduk di meja makan sembari minum secangkir kopi, menemani Umma Rahma yang tengah mencuci piring.
"Abi..." Ucap Nuha seraya duduk di kursi sebelah Abi Irsyad.
"Emmm?" Abi Irsyad meletakkan cangkirnya. "Ada apa?"
"Itu, kak Rumi kan sudah ambil S2 di Bandung. Kalau Nuha juga ambil S2 boleh tidak?" Tanya Nuha hati-hati.
Irsyad pun tersenyum. "Boleh dek... Dede mau ambil S2 di mana?" Mengusap kepala Nuha. Gadis itu pun langsung menyunggingkan senyum cerianya. Lalu meletakkan laptop di atas meja, dan membukanya di hadapan Ayahnya.
"lihat Bi....? Jeng...jeng... Al Azhar, Kairo." Jawab Nuha bersemangat. "Boleh ya Bi... Nuha mohon," menelungkup kan kedua tangannya.
"Memang Indonesia tidak ada kampus, harus jauh-jauh ke sana?" Abi Irsyad langsung memalingkan wajahnya.
"Ada Bi, tapi Nuha sangat ingin ke sana Bi. Nuha pakai beasiswa kok." Memegangi tangan kanan sang ayah. Sementara Rahma yang juga mendengar hanya menoleh seraya tersenyum lalu geleng-geleng kepala.
"Umma... Kopi Abi sudah habis. Abi mau sholat dulu." Abi Irsyad beranjak lalu mengusap-usap kepala Nuha seraya tersenyum dan melenggang pergi.
"Abi... Jawab dulu, boleh tidak Bi." Rengek Nuha bersedih. Sementara sang ayah terus saja melangkah pergi meninggalkannya tanpa menjawab apapun.
(Flashback is off)
__ADS_1