
Di sebelah, Nuha menekan dadanya turut sesak, dia bahkan tidak percaya bisa bertemu Ziya dalam kondisi seperti itu. Bahkan dengan semangat menghafalnya, gadis itu masih mau menyetor hafalan saat tahu guru didiknya ada di sana.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un..." Gumam Nuha, dia pun menengadahkan kedua tangannya, memanjatkan doa. "Ya Allah, jadikan dia mendahului (yang menunggu) kedua orang tuanya, simpanan dan pemberi syafaat yang dikabulkan. Ya Allah, beratkanlah timbangan pahala keduanya dengan (kematian)nya dan besarkanlah pahala keduanya dengan (kematian)nya. ikutkan dia dengan orang shalih generasi terdahulu orang-orang yang beriman. Jadikanlah dia dalam jaminan Ibrahim. Peliharalah dia dengan rahmat-Mu dari siksa Jahanam. Aamiin.” mengusap wajahnya kemudian.
Bersamaan dengan itu Faqih masuk, dia melihat sang istri tengah menangis. Di peluknya sang istri dengan penuh kasih sayang.
"A'a... Dia anak didik ku." Tutur Nuha masih terisak, menunjuk ke arah tirai di sebelah, dimana suara tangis seorang wanita turut terdengar. Faqih menoleh seraya beristirja. Faqih mengecup kening Nuha sejenak lalu membatu merebahkan lagi tubuh Nuha yang kemudian meringis. (Susah di Jabarkan rasa sakit bekas sayatan di perut tuh. Huhuhu.)
"A'a menengok dulu ke sana ya." Ucap Faqih yang di jawab dengan anggukan kepala sang istri.
Di sana tubuh Ziya sudah di tutup sepenuhnya. Ibunda Ziya pun tengah menghubungi kerabatnya untuk mempersiapkan proses pemakaman.
Semakin melangkah Faqih mendekati jenazah Ziya dan memanjatkan doa untuknya, dia pun menyibak penutup wajah itu. Mengecup kedua pipi jasad anak itu.
"Tenang di sana ya nak... Kau sudah tidak sakit lagi." Bisik Faqih di dekat telinga Ziya, dan kembali menutupi wajahnya.
"Ma...maaf, Anda ustadz Faqih kan ya?" Panggil ibu itu, Faqih pun mengangguk.
"MashaAllah ustadz... Hiks." Kembali terisak.
"Ikhlas kan Bu, anak ini akan menjadi penolong mu di akhirat kelak."
"Tapi saya belum bisa ikhlas ustadz... Dia anak saya satu-satunya, ayahnya sudah meninggal dunia. Dengan penyakit yang sama, leukimia." Tuturnya.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un." Gumam Faqih. Faqih tersenyum, "Bu..?terdapat sebuah hadis riwayat Ahmad nomor 2934, yang seperti ini bunyinya.
aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa dari umatku mempunyai dua farath (kematian anak kecil), maka ia akan masuk surga.' Maka ‘Aisyah berkata; Aku rela berkorban dengan ayahku, bagaimana nasib yang hanya mempunyai satu anak kecil yang mati? Beliau bersabda, 'Begitu pula yang mempunyai satu farath, wahai wanita yang menyepakati (kebaikan).' Aisyah berkata lagi; Bagaimana umatmu yang tidak mempunyai farath? Beliau bersabda, 'Maka akulah farath bagi umatku, mereka tidak pernah mendapat musibah seperti (kematian) ku.' semua ini titipan bu."
"Baik anak dua, ataupun satu, ketika Allah ingin ambil mereka. Maka sebaik-baiknya kita adalah untuk mengikhlaskannya. Karena di sana mereka juga akan menunggu orang tuanya di surga kelak. inshaAllah... Anak ibu anak Soleha, Hafizhah lima belas juz. Dia akan menjadi penerang untuk kedua orangtuanya. Dan bahkan janji Allah yaitu, dia bisa membawa Sepuluh orang yang terkasih untuk ikut bersamanya masuk ke dalam surga. Dia bisa menjadi syafaat untuk ibu dan almarhum suami ibu." Tutur Faqih.
"Iya ustadz, InysaAllah saya ikhlas... Terimakasih banyak pencerahannya, ustadz."
__ADS_1
"Jangan putus asa Bu, lanjutkan hidup ibu dengan baik. Ibu masih bisa menyapanya lewat doa." Tutur Faqih kemudian. Ibunda Ziya pun mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan. Hingga Faqih pun berpamitan kembali ke tempat Nuha di sebelah.
***
Sudah dua jam berlalu, Faqih masih mengusap-usap bagian perut Nuha yang kembali nyeri itu.
"Jangan lagi-lagi memaksakan untuk bangun ya." Tegas Faqih. Nuha pun hanya mengangguk.
"Aku cuma panik A'..."
"A'a paham, sekarang anak itu sudah bahagia tanpa merasakan sakit lagi." Ucapnya. Nuha pun termenung, gadis yang sangat ceria dan aktif ternyata mengidap penyakit yang menggerogoti tubuhnya dari dalam. Sungguh Ziya yang malang. Begitulah pikir Nuha.
Faqih mengusap bibir Nuha dengan ibu jarinya lembut. "Jangan melamun neng." Nuha menoleh, dia kembali menitikkan air matanya, yang langsung di seka oleh sang suami.
"A'a... Kalau kita punya anak perempuan, Nuha pengen kasih nama dia Ziya. Boleh?" Tanya Nuha, Faqih tersenyum ia mengangguk pelan, lalu menurunkan wajahnya mendekati perut Nuha.
"Robbi habli minassholihin.... Robbi habli minassholihi... Robbi habli minassholihin...."
Faqih beranjak, ia raih tangan Nuha mengecupnya juga. "Cepat sembuh dan kasih A'a keturunan yang Soleh dan Soleha ya sayang." Ucap Faqih. Nuha mengangguk.
"inshaAllah... Semoga secepatnya. Memang A'a sudah siap kalau Nuha kasih anak cepat?" Tanya Nuha.
"Kenapa harus tidak siap? Anak kan rezeki."
"Tidak ingin menunda dulu gitu?"
"Jangan sekali-kali berucap seperti itu. A'a tidak suka." Tegas A' Faqih dengan satu jari telunjuknya menempel di bibir Nuha.
"Maaf, kan cuma tanya. Soalnya banyak yang seperti itu kan?"
"A'a siap kapan saja, kalau kamu kasih A'a anak sayang... Jangan pernah menunda. Bahkan A'a tidak mau kamu ikut program KB setelah melahirkan nantinya."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Anak itu rezeki. Mereka yang tidak punya anak saja ingin punya kan? Makanya jangan pernah menundanya ya?" Gadis itu tersenyum senang seraya mengangguk.
"Neng, A'a sudah pikirkan ini matang-matang. pulang dari rumah sakit nanti, kita di Bekasi dulu ya." Ucap A' Faqih.
"Loh... Kenapa?" Tiba-tiba saja ia ingat, bahwa hingga detik ini dia belum melihat Umma Hasna, masuk guna menjenguknya langsung.
"Ya supaya kamu bisa lebih dekat dengan Umma Rahma sayang. A'a ingin kamu benar-benar merasakan tenang, karena biasanya wanita lebih merasa nyaman di dekat ibu kandungnya kan? Nanti A'a ikut tinggal di sana juga. Selagi rumah kita di renovasi." Tutur Faqih.
"Rumah kita? Maksudnya?" Tanya Nuha. Faqih pun membelai lembut pangkal kepala Nuha.
"Nanti A'a jelaskan, yang pasti A'a sudah Dp rumah sayang niatnya mau cicil sendiri. Eh... malah di bantu sama Abi Rahmat dan juga Abi Irsyad. Entahlah mereka berdua bilang sudah bayar cash rumah itu." Terkekeh.
"Jadi...? Kita akan tinggal berdua gitu? Umma Hasna bagaimana?"
"Umma Hasna masih ada Abi Rahmat kan?"
"Iya tapi kan A'... Saat Abi Rahmat ngajar pasti Umma sendirian dong. Nanti siapa yang menemani Umma?"
"Datang saja kerumah Umma, kan nantinya rumah kalian dekat dengan rumah Umma dan Abi." Potong seorang wanita yang sudah menyibak tirainya. Faqih menoleh dan tersenyum, begitu juga dengan Nuha.
"Umma Hasna?" Menyambut dengan senang, terlebih melihat senyum hangat Umma Hasna yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Assalamualaikum, anak perempuan Umma." Mendekati Nuha lalu memeluknya.
'aku tidak salah dengar? Umma menyebut ku anak perempuannya?' batin Nuha, tersenyum haru.
"Walaikumsalam warahmatullah, Umma." Membalas pelukan sang ibu mertua. Faqih mengusap air matanya, dia tersenyum bahagia. Lalu memutuskan untuk keluar lebih dulu memberi waktu untuk keduanya mengobrol.
Bersambung...
__ADS_1