
"dok, boleh saya bertanya?" Ucap Faqih.
"Silahkan, mas."
"Apakah masih ada harapan pengobatan atau terapi seperti itu?"
"Begini, walaupun penyakit jantung koroner yang menyerang ibu Rahma tidak dapat disembuhkan, kami akan berusaha membuat jantung ibu Rahma menjadi lebih baik. Hal yang dapat kami lakukan adalah menormalkan tekanan darah tinggi dan menurunkan kolesterol ke tingkat sangat rendah. Jika itu dilakukan, ibu rahma dapat menghilangkan sebagian plak tersebut, sehingga tubuh pun menjadi lebih sehat."
"Alhamdulillah... Benarkah bisa seperti itu?" Tanya Abi Irsyad yang mulai merasakan adanya cahaya harapan.
"Iya pak, nanti kami akan mengadakan meeting dengan para Dokter ahli, agar dapat melakukan tindakan guna membuka pembuluh darah pasien, supaya pengidap gangguan ini tidak kehilangan nyawa. Ahli medis akan memperbaiki atau mengganti katup yang bermasalah. Selain itu, jika kerusakan otot jantung menyebabkan gagal jantung, kami akan berusaha memberikan alat bantu pompa jantung dan transplantasi jantung. Hal ini memang tidak dapat menyembuhkan, tetapi membuat penderitanya lebih sehat. Dan itu tentunya atas persetujuan dari keluarga pasien juga pak."
"Lakukan saja dok, tolong berikan penanganan yang terbaik untuk istri saya." Ucap beliau penuh harap.
"Iya pak... Akan kami usahakan."
"Terimakasih banyak dok." Ustadz Irsyad tersenyum lega, beliau pun menoleh ke arah Faqih dan saling berpelukan setelahnya.
***
Di ruangan ICU, Rahma memang sudah sadar. Namun beliau tetap harus mendapat perawatan secara intensif di sana.
Sementara Nuha yang menunggu tak henti-hentinya menitikkan air mata. Membuat bibir yang tertutup masker oksigen itu tersenyum sangat tipis sembari membalas genggaman tangan putrinya.
"Umma yang sehat... Umma harus sehat." Ucap Nuha dalam Isak tangisnya, sementara yang di khawatirkan hanya bisa tersenyum dan memejamkan matanya pelan lalu membukanya lagi. sebagai tanda dia mengangguk.
Hingga beberapa jam kemudian, Rumi datang seraya menangis. Nuha pun beranjak memberikan tempat untuk kakaknya yang langsung menciumi wajah Umma Rahma. Tangan Umma Rahma terangkat lemah, mengusap kepala anak laki-lakinya itu.
__ADS_1
"Umma kenapa seperti ini? Ya Allah Umma." Isak Rumi yang benar-benar merasakan takut kehilangan sang ibu yang sangat ia sayangi.
Salah satu tangan Rahma melambai pelan ke arah Nuha memintanya untuk mendekat juga. Membuat Nuha turut mendekat. Hingga ke-duanya berada dalam pelukan tubuh wanita yang terlihat lemah itu.
"Mmmmm." Umma Rahma seperti ingin berbicara sesuatu pada keduanya namun sepertinya sulit, dan terdengar sangat tidak jelas. Rumi pun menggeleng pelan.
"Umma tidak usah berbicara apa-apa dulu. Pokoknya Umma harus sehat ya." Pinta Rumi.
"Hiks... Iya Umma." Kata Nuha juga. Hingga Rahma pun tersenyum dan semakin mempererat dekapannya kepada dua anak kembar itu.
Di sisi lain Abi Irsyad masuk, turut memeluk keluarganya.
"Lihat kan Umma, kita semua sayang sama umma. Umma harus sehat, demi kita." Ucap ustadz Irsyad serak. Air mata Nuha semakin deras mengalir, ketika mendengar kata-kata Abi Irsyad. membuatnya beranjak tidak kuat melihat ini semua.
"Abi mau di sini? Nuha keluar dulu ya. Karena ruangan ini tidak boleh ada banyak orang." Ucap Nuha, Abi Irsyad pun mengangguk.
Hingga di kecuplah pipi sang ibu oleh Nuha cukup lama.
Membuat Nuha juga tersenyum lalu melangkah keluar.
"Rumi juga Keluar dulu ya Bi, Umma... Rumi sayang sekali, sangat sayang Umma dan Abi." Menciumi pipi Rahma sebanyak mungkin. Barulah anak itu turut keluar.
Dan tinggal lah ke-duanya. Dalam ruangan yang senyap dan penuh dengan alat medis.
Abi Irsyad mengusap kepala Rahma lembut lalu mendekati kening itu dan mengecupnya lembut. Membuat mata Umma Rahma terpejam seraya tersenyum tipis.
Hingga kedua pasang mata itu saling bertemu dengan tatapan penuh cinta dan takut kehilangan antar satu sama lain.
__ADS_1
"Rambut yang putih namun tetap indah. Kulit wajah yang sudah tak semulus dulu, namun tetap senang ku sentuh... Tangan yang tak secantik dulu namun tetap nyaman ku genggam. Tubuh yang tak sesempurna dulu namun tetap paling betah ku peluk. Seperti itu kira-kira diri ku memandang mu duhai istri ku." Tutur Ustadz Irsyad yang tengah menggenggam erat tangan Umma Rahma.
"Tahu tidak? Kenapa dulu mas mendadak menikahi mu? Semua bukan semata-mata mas iba dan kasihan padamu sayang.... Karena kau kehilangan calon suami mu di hari sebelum pernikahan mu." Mengecup tangan Rahma.
"Bukan pula karena paksaan almarhum kyai Khalil. Semua karena dorongan hati mas yang tiba-tiba yakin dan langsung mengiyakan untuk menjadi suami pengganti mu." Tangan Irsyad menyusup masuk ke dalam masker oksigen dan mengusap lembut bibir yang bergetar karena tangis Umma Rahma di sana sembari menatap sang suami.
"Bibir ini MashaAllah dulu ya, ketusnya bukan main, jutek juga haduh. Tapi mas betah mengecupnya tuh." Memaksa terkekeh walaupun beliau sedang menangis saat ini, membuat Rahma juga turut terkekeh.
"Dan siapa di sangka coba? Wanita yang jutek minta ampun ini bisa menjadi bidadari baik hati yang bahkan mas sendiri takut untuk kehilangannya. Dialah Rahma ku, Khumaira ku... Induk beruang tapi kesayangan hehehe." Mendengar itu Rahma kembali terkekeh. Hingga di kecup lah pipi sang istri lembut.
"Oh iya... Kamu sudah tahu belum kalau ada kabar gembira untuk kita dari Nuha?" Tanya Ustadz Irsyad. Rahma pun menggeleng. "Mau mas kasih tahu sekarang?" Sambung beliau, Rahma pun mengangguk. Irsyad tersenyum.
"Kita mau punya cucu loh dari Nuha dan Faqih." Mendengar itu dalam hati Rahma mengucap syukur sebanyak-banyaknya, bahkan mata itu sampai terpejam dengan bibir bergumam, serta air mata yang mengalir deras.
ustadz Irsyad mengusap air mata itu. "Kalau kata Faqih, Nuha sudah masuk empat bulan, karena mereka tidak tahu kalau Nuha sedang hamil jadi baru ketahuan sekarang." Sambung beliau lembut. "Umma senang tidak?" Tanya Abi Irsyad menatap sang istri. Wanita paruh baya itu pun mengangguk semangat.
"Kalau Umma senang berarti harus sembuh ya, dan harus melihat serta mendengar lucunya tangis bayinya Nuha dan Faqih." Ucap Ustadz Irsyad membuat Rahma mengangguk lagi. Setelah itu di kecuplah tangan Umma Rahma yang berada dalam genggamannya. "Mas sangat menyayangi mu dek Rahma... Tolong jangan buat mas merana karena sendiri." Gumam ustadz Irsyad berharap dengan sangat istrinya bisa kembali sehat.
***
Sedikit catatan:
Dalam kehidupan memang kita tidak bisa menjamin, seberapa lama pasangan dalam hidup kita akan ada di sisi kita.
Karena seperti itulah layaknya mahluk yang bernyawa. Dan kita harus bersiap kapan waktunya kita akan berpisah dengan sebaik-baiknya teman hidup kita. Entah esok, nanti, atau bahkan sekarang juga.
Dan apa yang kita lakukan saat ini?
__ADS_1
Berusaha menjadi yang terbaik, memanfaatkan waktu yang masih ada, selagi nyawa masih terkandung dalam badan kita masing-masing. Setelahnya tinggal menanti siapa dulu di antara kita yang akan pergi kembali pada Rabb kita.
(Extra part masih ada beberapa bab lagi... Di tunggu ya, dan maaf jika pembahasan tentang medis tak sesuai atau mungkin ada kesalahan, karena saya tetap riset walaupun tidak terlalu dalam.😊)