
Sudah lima hari berlalu, mobil ustadz Irsyad baru saja tiba dan terparkir di area basemen rumah sakit. setelah Faqih bilang ingin tinggal sementara di rumah mereka, sampai Nuha benar-benar pulih.
Ustadz Irsyad langsung saja menuju rumah sakit dengan semangat karena putrinya sudah bisa pulang hari ini.
Di dalam ruangan rawat, Faqih sudah berbenah. Tinggal menunggu Abi Irsyad datang saja. Karena surat ijin pulang sudah ia dapatkan.
"A'a... Yakin kita pulang ke Bekasi?" Tanya Nuha, masih duduk dengan kedua kaki menggantung di atas ranjang.
"Emmm..." Jawabnya, sembari mengangkat tas Nuha dan meletakkannya di atas sofa tunggu. Setelahnya berjalan mendekati sang istri.
"Nuha tidak enak sama Umma Hasna." Tuturnya saat sang suami sudah duduk di sebelahnya, mengusap lembut pangkal kepala Nuha.
"Tidak perlu merasa tidak enak, neng? Selagi kita belum ada tempat tinggal, mau di Asemka atau Bekasi? Itu sama saja rumah kita," jawab beliau. Nuha pun diam saja, tatapannya masih sendu namun senyumnya tersungging tipis. Dia pun hendak turun dari atas ranjangnya.
"Mau apa?" Tanya Faqih menahannya.
"Mau ambil kipas itu A'... Rasanya seperti panas sekali, hawanya." Tutur Nuha.
"ACnya tidak begitu dingin sih, memang." Tutur Faqih melirik ke arah AC yang tergantung di atas. "Biar A'a saja, yang ambil." Dia turun dan meraih kipas yang terbuat dari bambu dan kain. Nuha tersenyum, saat sang suami kembali duduk.
"Nyai ratu mau dikipasin mode apa? Angin sepoi-sepoi, Angin Kington, atau angin ngajak ribut?" Tanya Faqih.
"Hahaha?" Tertawa karena di sebut nyai ratu, lebih-lebih mode anginnya.
"Sudah jawab, panglima mu sedang baik hati nih."
"Ohhh oke baiklah.... mode apa saja yang penting enak, akang panglima?"
"Hahaha... Akang...?" Faqih tergelak seraya memegangi perutnya.
"Kok ketawa."
"Nggak, lucu aja di panggil akang, jadi kaya akang gendang hahaha." Tertawa lagi.
__ADS_1
"Hehe... A'a ketawanya ngebass jadi cool gitu."
"Ckckckck... Kamu pikir A'a sound musik apa?" Menarik pipi Nuha, gadis itu terkekeh.
"Tapi lucu, Nuha senang kalau dengar A'a ketawa lepas. Ketawa lagi dong." Pintanya.
"Nggak..." jawab A' Faqih datar.
"Ayo ketawa lagi, Nuha senang dengar Akang panglima ketawa." Menarik kedua pipi suaminya. Sementara Faqih hanya menahan tawa sambil menatap Nuha. "Ayo A'... Atau perlu Nuha gelitiki dulu."
"Nggak....! Jangan macam-macam ya." Reflek turun dari ranjangnya, karena Faqih paling tidak tahan di gelitiki.
"Hehehe... Kenapa? Ada yang takut kayaknya nih?" Tertawa jahat.
"Baru sembuh sudah mau cari perkara? Awas aja macem-macem."
"Tenang A'.... Nggak macam-macam, cuma semacam." Turun dari ranjangnya.
"Kasih sentuhan ceria ala Nuha Qanita... Hahaha." Mencolek pinggang A' Faqih.
"Nuha...!" Semakin menjauh.
"Mau kemana, A'...? Baru pemanasan loh itu." Mencolek lagi.
"Hei..! jangan cari perkara ya neng.... Kamu baru sembuh sakit ih..." A' Faqih berlari menjauhi Nuha dan berdiri di sebrang ranjang seraya meraih bantal guna menutupi tubuhnya. Gadis itu tergelak.
"A'a sini... Ngapain di pojokan situ."
"Nanaonan sih eta?" Gumamnya merasa konyol, Masih melindungi diri dari Nuha.
Sebuah ketukan membuat Faqih tersenyum lebar. "Alhamdulillah, akhirnya." Berjalan mendekati Nuha lagi, menarik pipinya sejenak. "Awas nanti malam kamu ya. A'a siapkan rotan untuk mu." Melangkah kemudian menuju pintu.
'tidak takut tuh, rotan kan di Asemka.' batin Nuha masih terkekeh di sana.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Sapa Abi Irsyad seraya tersenyum pada keduanya.
"Walaikumsalam warahmatullah Abi," jawab keduanya hampir berbarengan.
"Sudah siap?" Tanya Abi Irsyad.
"Sudah Bi." Jawab Faqih.
"Ya sudah, kita jalan sekarang saja ya?" Ajak Abi Irsyad seraya meraih tas Nuha, Faqih pun tersenyum. Sementara ustadz Irsyad jalan lebih dulu, Faqih menoleh ke belakang. Di lihat Nuha sudah melebarkan senyum dengan gigi-giginya yang nampak.
"Sini." Menjentikkan jari telunjuknya. Gadis itu pun mendekat beberapa langkah lalu berhenti.
"Aku punya senjata loh A'...? Yakin mau ku dekati?" Tanya Nuha.
Faqih tersenyum tipis, "sini neng." Titahnya lagi, gadis itu pun semakin mendekat. Tangan Faqih langsung melingkar di bahu Nuha, "Abi mu punya rotan yang lumayan kuat kan?" Tanya beliau berbisik.
Deg...! Bola mata Nuha melebar 'ya Allah, lupa kalau Abi juga punya rotan.' dia terkekeh aneh, lalu menoleh ke arah sang suami.
"Hehehe Nggak tau deh, kayanya sudah rusak." Jawab Nuha asal.
"Masih bagus dan kuat tuh, A'a liat di ruang tengah. Dan kayanya boleh sih kalau A'a mau pinjam buat ngedidik istri yang doyan jail kaya kamu."
"Hiks... Yang mulia raja Faqih... Lakukan saja hukuman yang lain jangan rotan." Menelungkup kan kedua tangannya di depan dada.
"Ckckckck... Seperti ini jika tikus berani mengganggu singa tidur ya? Ketika bangun dia memelas. Sudah ayo jalan... Pokoknya tidak ada toleransi untuk mu."
"Huwaaaa, Nuha baru sembuh sakit masa mau di pukul, liat Nuha lemas kan jadinya?" Tuturnya seraya melangkah.
Mendesah. "Tadi ngejar A'a mau nggelitiki kuat kamu ya, sekarang tiba-tiba saja lemas... Dasar kutu!" Terus melangkah keluar dari area rumah sakit tersebut, dengan Nuha yang mendadak ketar ketir.
Entahlah setelah ini nasib mu Nuha, akibat sudah jail dengan suami mu... Author sih cuma nyimak hahaha.
'jahaaaat...' (Nuha)
__ADS_1