
Siang di H-1 lebaran...
Nuha tengah duduk di kursi meja makan, membantu Umma Rahma dan Abi Irsyad mengisi ketupat di slongsong janurnya.
Tanpa Rumi tengah keluar membeli sesuatu, sementara A' Faqih juga sama tengah keluar mengirim pesanan madu dan kurma terakhirnya sebelum lebaran.
Sebenarnya, Nuha merasa kasihan jika sang suami harus berjualan kurma. Namun menurut penuturan beliau, berdagang itu sangat menyenangkan. Selagi masih lancar A'a akan terus menjalani itu, sebagai tambahan saja.
Namun tidak segiat saat dirinya berniat ingin menyekolahkan Nuha.
Kembali pada Nuha yang tengah memasukan sesendok beras yang sudah di cuci ke dalam selongsong janur.
"Segini kepenuhan tidak Bi?" Tanya Nuha bersemangat. Abi Irsyad meraih selongsong ketupat itu, lalu menyerahkan lagi pada Nuha seraya mengacungkan ibu jarinya.
"Good, Dede lebih pintar dari pada Umma. Benar-benar anak Abi Irsyad." Puji Abi Irsyad.
"Hehehe." Nuha terkekeh, karena melihat lirikan sinis dari Rahma untuk Abinya.
"Umma... Isi lagi. Nih." Mendorong baskom berisi beras itu mendekat ke arah Rahma. Karena sadar tatapan menghunus itu untuk beliau.
"Sana... Abi keluar saja lah. Dari tadi tuh ya. Bisanya nyela terus. Hus... Hus..."
"Hei... Abi itu guru tertua di sini. Yang ngajarin kan Abi. Ibarat di dapur restoran. Abi kepala chefnya..."
"Tapi tidak menghina juga kan?" Rahma bersungut
"Menghina apa? Faktanya... Kamu di kasih tahu nggak ngerti-ngerti dulu. Sampai-sampai ketupat kita keluar semua. Gara-gara kepenuhan."
"Berlebihan banget sih... Cuma beberapa juga. Lagian siapa suruh ngajarin pakai mulut juga."
"Kan di ajarin biar paham Umma... Harus bawel dong. Mana yang di ajari ngeyel lagi ckckck."
"Tapi kan sebagai pengajar yang baik harus sabar. Bukan begitu dek?" Tutur Rahma pada Nuha yang hanya terkekeh melihat perdebatan tidak penting Umma dan Abinya.
"Enak saja. Abi itu kalau sama anak didik Abi di kampus saja harus tegas tuh..." Menjulurkan lidahnya.
"Iiissshhh... Sana keluar lah... Resek ada Abi di sini." Mendorong tubuh sang suami pelan.
"Jangan usir Abi... Kalau Abi pulang telat saja puluhan pesan chat sudah memberondong di ponsel. Sekarang Abi di sini di usir-usir. Mentang-mentang ada Nuha kamu ya, Abi jadi tidak terpakai lagi."
"Hehehe, Abi... Umma sudah. Ya ampun, semakin tua makin sering berdebat ya."
"Salahkan aki-aki ini tuh." Ucap Rahma beranjak sembari mengangkat wadah berisi ketupat yang sudah terisi beras.
"Hei... Hei... Mau di bawa kemana itu?" Abi Irsyad beranjak.
"Mau di mandiin di panci." Jawab Rahma.
"Liat dulu sudah mendidih belum itu airnya." Menahan Rahma dengan cara meraih wadah di tangan Rahma.
"Sudah panas itu... Ih, siniin baskomnya."
"Nggak... Nggak..." Abi Irsyad mengangkat tutup pancinya. "Apa ini? Belum panas ini dek. Nanti tunggu mendidih."
__ADS_1
"Apa sih Bi... Ini sudah hampir mendidih. Kan nggak apa-apa."
"Nggak Umma, ini harus benar-benar mendidih. Nanti kalau berasnya melar bagaimana? Kan nggak enak."
"Ck... Kan? Tugas mas itu bantuin masukin berasnya bukan, mandorin Rahma masak ya."
Selama itu Keduanya masih berdebat masalah merebus ketupat, hingga membuat Nuha geleng-geleng kepala.
Namun masih bisa di bilang pemandangan yang menarik juga, hingga sebuah ketukan terdengar. Membuat keduanya menghentikan perdebatan itu.
"Tuh... Tamu... Sana Abi buka pintu sana. Kita berdua kan lagi nggak pakai hijab. Hus...hus..." Tersenyum penuh kemenangan.
"Tunggu mendidih loh ya... Awas aja." Ucap Abi Irsyad seraya melenggang keluar dari dapur.
"Haaaaahhh akhirnya chef killer keluar juga."
"Hehehe... Umma sama Abi nih ya." Nuha terkekeh.
–––
Di luar... Ustadz Rahmat dan sang istri datang. Di sambutlah keduanya dengan hangat.
Hingga Ustadz Irsyad mempersilahkan Umma Hasna untuk masuk saja ke dapur karena Nuha dan Rahma ada di dalam. Dengan penuh semangat, beliau mengucap salam sekali lagi seraya masuk ke dalam, di jumpai dua wanita yang langsung menyambut beliau hangat.
"Umma?" Nuha beranjak, lalu menghampiri Hasna. Memeluknya erat.
"Bagaimana keadaan mu, neng?" Mengusap-usap punggung Nuha, masih dalam posisi memeluknya.
"Alhamdulillah Umma, sudah lebih baik."
"Baik Alhamdulillah Teh." Jawab Rahma tersenyum.
"Sedang masak ketupat ya?" Tanya Hasna.
"Iya Teh. Tapi sudah tinggal mematangkannya saja kok." Jawab Rahma. "Silahkan duduk Teh."
"Terimakasih." Ucapnya sembari duduk.
Di dapur itu ketiganya mengobrol dengan asik. Sudah tidak ada rasa-rasa tidak suka ataupun kecewa antara Umma Hasna dan Rahma, mereka bahkan terdengar sesekali tertawa.
Dengan tatapan mata Nuha yang berbinar, Nuha benar-benar bahagia dan bersyukur. Dia bisa duduk bertiga dengan wanita yang ia sayangi, hingga ia pun ingat sesuatu. Lalu melangkah keluar dari dapur itu menuju tangga guna mengambil sesuatu itu di dalam kamar.
Di dalam kamarnya, dia membuka lemari pakaian. Dan di raihnya dua paper bag berisikan mukenah yang ia beli waktu itu.
"Sekarang saatnya ngasih ini ke dua wanita yang ku sayangi itu." Gumam Nuha, dengan semangat dia kembali turun menghampiri ketiganya.
Lalu menyerahkan paper bag kepada mereka berdua.
"Umma Rahma, Umma Hasna. Waktu itu Nuha jalan-jalan sama A' Faqih, dan melihat ini di salah satu toko. Karena bagus? Jadi Nuha belikan untuk Umma Hasna dan Umma Rahma." Ucap Nuha senang.
"Wah... MashaAllah." Umma Hasna mengeluarkan mukenah itu. "Bagus neng, Umma suka sekali. Makasih ya?"
"Sama-sama Umma." Tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih Dede. Umma juga suka." Ucap Umma Rahma juga.
"Mbak... Kembaran loh kita hehehehe." Menunjukkan mukenah itu pada Rahma.
"Iya... Jadi semangat ini Makainya." Terkekeh. Keduanya saling tertawa dengan mukenah berada di pangkuan mereka.
'alhamdulillah ya Allah... Umma-Umma senang. Aku jadi turut senang.' batin Nuha yang mulai berkaca-kaca, akibat terharu.
Hingga sebuah salam membuat ketiganya menoleh.
"Walaikumsalam A'a." Nuha senang melihat suaminya sudah pulang. Faqih pun tersenyum mendekati tiga wanita kesayangannya, mengecup punggung tangan Umma Hasna dan Umma Rahma lalu mengusap kepala Nuha setelah Nuha mengecup punggung tangan Suaminya itu.
Keduanya pun berpamitan sebentar meninggalkan keduanya.
Kembali ke kamar....
Faqih menarik tangan Nuha, membawanya agar duduk di pangkuan A'a. "Neng sudah sehat?" Tanya A'a melingkari pinggang Nuha.
"Sudah A'a... Alhamdulillah."
"Alhamdulillah ya Allah... Oh iya, nanti malam A'a mau menghadiri prosesi ijab Qabul ustadz Farhat ya...?"
"ustadz Farhat menikah?" Tanya Nuha.
"Iya, tapi beliau menikah di rumah sakit."
"Loh? Kok di rumah sakit?"
"Karena calon istrinya itu, baru saja melahirkan."
"Me... melahirkan? Maksudnya?"
"Ceritanya panjang neng, jadi gadis yang bernama Qori itu sangatlah malang. Makanya ustadz Farhat memutuskan untuk menikahinya."
"Tunggu, Qori? Qori siapa A'...? Nama lengkapnya?"
"A'a tidak tahu nama lengkapnya. Memang kenapa?"
"Aku punya teman bernama Qori... Dia hamil karena menyewakan rahimnya."
"Loh...? bisa pas sekali. Jangan-jangan Qori yang akan di nikahi ustadz Farhat itu teman mu?"
"Dia punya bapak yang galak A' yang maaf suka menyiksa fisik Qori..."
"I...iya benar. Seperti itu pula yang di jabarkan Farhat."
"MashaAllah sahabat ku Qori..." Nuha terharu. "A'a... Nuha ikut ya? Ikut menghormati pernikahan Qori dan ustadz Farhat nanti malam."
"Tapi apa kamu sudah benar-benar baik-baik saja? A'a khawatir neng."
"Nuha sudah sehat A'... Kan cuma jalan sebentar. insyaAllah Nuha kuat, Nuha ingin menjadi saksi juga. Boleh ya A'...?"
A' Faqih mengangguk... "Boleh ya Hilwah." Jawabnya lembut. Sementara Nuha hanya tersenyum senang sembari berterimakasih.
__ADS_1
Dia pun tidak sabar ingin bertemu Qori setelah sekian lama. Dia benar-benar turut bahagia saat mendengar kabar ustadz Farhat menikahi Qori, dan berharap kebahagiaan akan datang untuknya setelah penderitaan panjang selama ini.
Bersambung...