Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
selamatkan Umma kami (extra part)


__ADS_3

Sudah hampir setengah jam setelah ustadz Irsyad pergi, mobil Faqih pun tiba.


Sementara senyum Nuha mengembang langsung di sana, menunggu seorang wanita paruh baya yang biasanya langsung keluar begitu mendengar deru mobilnya di luar.


Sudah hafal saja gadis itu, karena memang kebiasaan Ummanya seperti itu. Asal tahu salah satu anaknya akan kembali, maka selama berjam-jam dia akan betah duduk di ruang tamu hanya untuk menyambutnya dengan cepat. Namun sepertinya ada yang aneh, kenapa pintu itu masih tertutup? Bahkan sampai mesin mobil pun di matikan oleh A' Faqih.


"Ayo turun." Ajak A'a, karena Nuha masih diam saja menatap ke arah pintu rumah.


"Kok aneh ya, Umma belum keluar. Biasanya Umma sudah menunggu di ruang tamu saat tahu kita mau ke sini, dan belum juga kita turun, pintu rumah sudah terbuka."


"Mungkin Umma lelah, jadi saat ini sedang ada di kamar. Ayo kita turun saja." Ajak A'a, Nuha pun mengangguk sembari Melepaskan seat beltnya. Lalu turun dari mobil.


Di depan rumah, Nuha melihat pintu rumah orangtuanya sedikit terbuka.


"A'... Ini pintunya." Nuha menyentuh gagang pintu itu lalu mendorongnya. "Astagfirullah al'azim, kok tidak terkunci. Rumah tidak pernah loh tidak terkunci saat malam hari, walaupun ada Abi dan Umma di dalam." Dengan cepat Nuha meraih kunci rumah yang masih terpasang dari dalam, dia pun melangkah hendak masuk namun di tahan oleh Faqih.


"Jangan asal masuk neng, takutnya ada apa-apa di dalam."


"Ya Allah... Perasaan Nuha mendadak tidak enak. Umma, Abi?" Kedua tangan Nuha saling meremas di depan dada, dengan rasa cemasnya.


"Tenang dulu sayang, coba A'a cek dulu ya. Kamu di sini saja."


"Nggak mau A'... Nuha juga ingin tahu, di dalam ada apa, takutnya ada orang jahat kan?"


Baru saja Faqih hendak menjawab ucapan Nuha, sebuah dering ponsel membuat Faqih terkesiap, dia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecilnya itu.


"Abi Irsyad nelfon, neng." Ucap Faqih.


"Kok ke nomor A'a?"


"Mungkin ponsel mu mati, sebentar." Faqih menerima panggilan telepon tersebut. "Assalamualaikum Bi."


"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab Abi Irsyad, terdengar parau suara di sebrang, membuat Faqih menoleh sesaat ke arah Nuha yang tengah menatapnya cemas.

__ADS_1


"Abi, Abi sama Umma di mana? Kami sudah sampai."


"Kami di rumah sakit."


"Rumah sakit? Ada apa bi?" Tanya Faqih, mendengar kata rumah sakit Nuha jadi cemas.


"Kalian bisa kesini? Abi tidak bisa menjelaskan... Karena Umma mendadak mengalami penghimpitan jantung."


"Astagfirullah al'azim." Gumam Faqih, Nuha pun menyentuh lengan Faqih.


"A...? Ada apa?" Tanya Nuha, Faqih menatap ke arah Nuha, merasa tidak tega untuk mengatakan kabar buruk ini.


"Sebentar ya sayang." Faqih mengecup kening Nuha. Lalu kembali fokus pada panggilan teleponnya. "Lalu bagaimana bi keadaan Umma?" Kata Faqih yang langsung saja membuat mata Nuha mengembun.


"Abi masih belum tahu, Umma masih di dalam ruang tindakan, sedang di periksa dokter. Kalian kesini saja ya." Jawab beliau di sebrang. Faqih pun paham dan mengiyakan hingga salam sebelum di matikan ponsel itu pun di ucapkan.


"A'a? Apa kata Abi? Umma kenapa? Kenapa A'a bilang rumah sakit, kenapa A'?"


"Neng... Tenang dulu ya. Umma Rahma sakit, dia mengalami penghimpitan jantung."


"Semoga saja tidak kenapa-kenapa neng."


"Umma?" Isak Nuha, yang langsung saja di peluk A'Faqih erat.


"Sabar ya sayang..."


"Umma... Hiks. Umma."


"Ssssst... Nuha sayang jangan seperti ini. Tenangkan diri mu. Umma pasti baik-baik saja, sayang."


"Nuha takut kehilangan Umma A'..."


"Hei...Jangan bilang seperti itu sayang."

__ADS_1


"Hiks, Nuha mau ketemu Umma... Kita kerumah sakit sekarang A'..." Pinta Nuha seraya terisak-isak.


"Iya, sayang." Faqih melingkari bahu Nuha dengan tangan Kanannya sembari melangkah bersama menuju mobil mereka.


–––


Di rumah sakit, tepat di depan ruangan IGD, Nuha langsung saja keluar dari dalam mobilnya menghampiri Abi Irsyad yang langsung memeluknya erat.


"Umma mana..? Umma mana bi?" Isak Nuha dalam pelukan Abi Irsyad.


"Umma di dalam, Abi juga belum tahu." Abi Irsyad turut menangis.


"Umma harus sehat bi, Umma mau punya cucu. Karena Nuha hamil sekarang."


"Ya Allah..." Abi Irsyad tak bisa berkata-kata lagi saking sesaknya. Beliau hanya mengecup pangkal kepala Nuha berkali-kali di depan ruang IGD, sementara itu A' Faqih pun mendekati Keduanyan dengan tatapan sendu, setelah memarkirkan mobilnya.


–––


Beberapa menit berlalu, seorang perawat memanggil pihak keluarga dari pasien Rahma untuk menghadap dokter.


Di hadapan dokter yang memeriksa hanya ada Ustadz Irsyad, dan Faqih. Sementara Nuha di minta untuk menemani ibunya di dalam bed yang tertutup tirai berwarna biru muda.


Keduanya mulai mendengarkan apa yang di katakan seorang dokter tersebut.


"Kita harus bersyukur, ibu Rahma masih bisa selamat pak. Jika telat beberapa menit saja. Mungkin ibu Rahma bisa meninggal dunia akibat serangan jantung." Ucap sang dokter. Ustadz Irsyad pun bergumam mengucap syukur sebanyak-banyaknya, begitu juga dengan Faqih.


"Karena pada kasus jantung koroner ini biasanya tidak memakan waktu lama. Setelah gejala-gejala seperti nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, dada berdebar, dan mual keluar. Dan untungnya lagi bapak sigap, Jika saja tidak? Mungkin dari kondisi itu, akan timbul komplikasi berupa serangan jantung. Dan kemungkinan ibu Rahma tidak bisa di selamatkan."


"Memang seperti apa sih dok jantung koroner itu, dan apa penyebabnya? Soalnya setahu saya, selama ini istri saya ini baik-baik saja." Tanya ustadz Irsyad


"Jantung koroner itu bisa terjadi pada siapa saja, dan sering di alami pada usia tiga puluh tahun ke atas, dengan keadaan mendadak. Semua terjadi ketika pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah ke jantung mengeras dan mengalami penyempitan. Kondisi ini dipicu oleh penumpukan kolesterol dan pembekuan darah di dalam arteri." Ucap dokter tersebut. "Penyempitan arteri ini menyebabkan aliran darah dan oksigen ke jantung menjadi berkurang, akibatnya organ tersebut tidak dapat berfungsi normal. Dan terjadilah serangan jantung yang menyebabkan orang itu meninggal mendadak pak."


"Ya Allah... Tapi apa setelah ini bisa normal lagi dok?"

__ADS_1


"Penyakit jantung koroner adalah sebuah penyakit yang tidak dapat disembuhkan pak. Pasalnya, otot jantung yang rusak oleh serangan jantung tidak dapat tumbuh kembali. Namun semua tergantung pada sang maha pemegang hidup dan matinya manusia. Saya tidak bisa meyakinkan akankah ibu Rahma bisa kembali sehat dengan normal atau tidak setelah ini, atau mungkin?" Dokter tidak berani melanjutkan. "Kita berdoa saja pak."


"Ya Allah." Abi Irsyad kembali menitikkan air matanya. Sementara Faqih langsung mengusap-usap lengan sang ayah mertuanya, menguatkan beliau.


__ADS_2