
Takbir, tahmid, tahlil telah berkumandang memecah keheningan malam. Mengantar rasa syukur pada-Nya untuk menyambut hari yang fitri. Seiring tabuh bedug bertalu-talu, kumandang takbir menggema indah memenuhi angkasa raya.
Bulan Ramadhan telah berlalu dan hari kemenangan telah datang.
Dalam riuh suara bunga api yang meletus di langit, di mana orang-orang tengah merayakan malam IdulFitri yang begitu cerianya. Ada seorang paruh baya tengah duduk bersimpuh di atas alas sujudnya, mengumandangkan takbir, serta Isak tangis di sela-sela gumamannya.
Ustadz Irsyad tengah mengantarkan kepergian Ramadan tahun ini. Selayaknya tamu yang hanya datang setahun sekali, kepergian Ramadan adalah hari yang selalu membuat ustadz Irsyad bersedih. Namun bukan berarti dia tidak menyambut datangnya Syawal.
Dia tetap bahagia, karena IdulFitri adalah hari di mana para iblis dan setan menangis. Karena pintu ampunan terbuka luas, serta dosa-dosa umat manusia juga terampuni.
Dalam sela-sela Isak tangis beliau Rahma berjalan mendekati sang suami dengan lututnya, lalu meraih tangan yang tengah memegangi tasbih. Ustadz Irsyad tersenyum, beliau menyentuh kening Rahma membacakan doa. Lalu mengecup kening dan kedua pipinya.
Sementara sang istri menghapus air mata sang suami.
"Mas, kenapa setiap malam IdulFitri selalu menangis?" Tanya Rahma. Ustadz Irsyad mengusap-usap pipinya lembut.
"Memang kamu tidak pernah merasa? Jika Ramadan adalah tamu agung yang akan selalu datang setiap tahun, namun belum tentu bertemu dengan kita lagi?" Tanya Irsyad. Rahma pun menunduk secepat itu pula di raihnya dagu Rahma mengangkatnya lagi, kedua mata sayu itu menatap sang suami. "Pernah tidak kita menyadari? Misal kata kita punya teman. Tahun ini teman kita itu masih bisa buka puasa bareng kita, ibadah bareng kita, dan melantunkan takbir bersama kita. Namun tahun berikutnya? Dia sudah tidak di sisi kita lagi. Seperti itu yang mas bayangkan, hari ini kita masih bersama? Namun ternyata, tahun depan mas sudah tidak lagi di samping mu dan anak-anak. Serta tidak bisa lagi menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan? Itulah kenapa mas selalu sedih, setiap kali ramadhan pergi."
Rahma menitikkan air matanya. Ia pun memeluk tubuh sang suami erat. "Rahma takut. Mas jangan bicara seperti itu."
Irsyad mengecup kening sang istri. "Begitulah hidup sayang, tidak bisa kita jamin. Kalau kita akan selamanya bersama."
"Hiks, mas? Aku ingin hidup bersama mu selamanya, ku mohon."
"Sssssttt... Tidak boleh bicara seperti itu. Keabadian hanya ada di kehidupan setelah kematian. Setelah kita berkumpul di bumi masyar. Dan menentukan nasib kita nanti."
"iya Rahma tahu. Tapi Rahma tidak mau bahas itu. Mas sehat-sehat ya... Atau mungkin lebih baik Rahma duluan saja yang pergi, biar tidak sedih karena kehilangan mu."
"Loh... Nanti malah mas yang sedih, karena kesepian sayang." Membalas pelukan Rahma.
"benarkah mas akan sedih jika Rahma pergi lebih dulu?"
__ADS_1
"tentu sayang, mas mungkin akan menjadi pria paling patah hati di dunia ini. walaupun mas akan ikhlas setelahnya. tapi hati mas, tetap akan merasa sunyi tanpa mu, istri ku." Tutur ustadz Irsyad mencium pangkal kepala Rahma berkali-kali.
"bohong, pasti mas bakal menikah lagi kan? kalau Rahma pergi."
"kalau di izinkan sih? boleh juga tuh..." ledek Irsyad.
"iiihhn nyebelinnya ya? sudah niat mau nikah lagi gitu?" bersungut.
"hahaha... bercanda Umma, ya Allah." memeluk Rahma semakin erat ketika ibu dua anak itu hendak melepaskan diri. "inshaAllah, kamu cinta terakhir mas Irsyad. dan mas akan berusaha menjaga Ikrar cinta ini, walaupun kau sudah tak di samping ku. sampai ajal menjemput Abi dan kita bertemu lagi di akhirat." ucap ustadz Irsyad. sementara Rahma tersenyum saat mendengar itu kembali mempererat pelukannya.
"Mas?"
"Hemmm?"
"Rahma mau tanya, tidak pernahkah mas bosan mencintai Rahma?" Tanyanya, masih saling memeluk.
"Kok tanyanya seperti itu?"
"Tidak... Malah cinta mas semakin dalam." Jawab ustadz Irsyad mengecup pangkal kepala Rahma.
"Masa?"
"Wallahi sayang..." merubah posisinya sedikit agar lebih nyaman. "Umma kali yang bosan sama Abi? Karena Abi sudah tidak tampan lagi."
"Kata siapa? Abi masih tampan tuh... Umma tuh baru... yang sudah semakin jelek, iya kan?"
"Kau masih cantik, seperti Rahma ku yang dulu. Saat aku menatap wajah mu setelah ijab Qabul." Menoleh kebelakang sejenak setelah di rasa aman, ustadz Irsyad mengecup bibir Rahma sebayak tiga kali. "Umma masih sayang dan cinta kan sama Abi?" Tanya beliau. Keduanya saling tatap dengan senyum mengembang di bibir masing-masing.
"Umma masih sayang sama Abi, melebihi apapun."
"Serius nih?" Tanya ustadz Irsyad mengusap pipi Rahma.
__ADS_1
"seratus rius." Menarik kerah Koko suaminya lalu mengecup bibir ustadz Irsyad. Ustadz Irsyad merasakan gemas pada wanita yang sudah tidak semuda dulu, tidak selangsing dulu, dan bahkan terdapat sehelai dua helai uban yang terlihat di rambutnya yang di gerai itu.
"MashaAllah, kekasih ku. Sehat-sehat ya Umma, dan terimakasih sudah setia mendampingi Abi sampai detik ini."
"Tidak hanya detik ini... Ingin di akhirat juga." Jawab Umma Rahma tulus.
"MashaAllah. Aamiin... Aamiin... Kalau begitu boleh ya poligami sama bidadari di surga?" Ledek Irsyad.
"Nggak... Nanti Umma akan berdiri di depan Abi sembari merentangkan kedua tangan, berseru ke mereka supaya nggak mendekati suami ku." Rahma mengecup pipi Irsyad, lalu terkekeh kemudian.
"Ckckck... Kesayangan ku... Khumaira." Menciumi pipi Rahma berkali-kali.
Dengan gelak tawa Rahma dan ustadz Irsyad, yang memenuhi ruangan solat itu, di temani keriuhan suara takbir di luar.
Ya... Begitulah indahnya cinta Abi Irsyad dan Umma Rahma.
Di sisi lain, ada Rumi yang mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruang solat itu.
Dengan Koko, sarung dan kopiahnya. Beliau hanya menyandar di dinding, menyentuh dadanya.
'ya Allah, semoga kau sehatkan kedua orang tua ku... Berikan umur mereka yang bermanfaat, serta imam dan takwa yang semakin meningkat bagi keduanya.' menitikkan air matanya. Rumi berharap kedua orangtuanya bisa berumur panjang, dan selalu berada di sampingnya dan sang adik. Hingga Nuha ataupun dia bisa memberikan keduanya itu cucu yang lucu dan menggemaskan.
Rumi pun kembali melangkahkan kakinya, memutuskan untuk sholat sunah serta bertakbir di dalam kamarnya saja, membiarkan dua orang tuanya di sana berdua tanpa menggangu indahnya cinta dua orang itu.
Sementara anak itu sudah melenggang pergi... Abi Irsyad melepaskan pelukannya, dia meminta Rahma untuk mengambil air wudhu agar sama-sama melangsungkan sholat sunah, setelah itu beristirahat di kamar. Karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Rahma yang mengiyakan pun langsung beranjak menuju tempat untuk mengambil air wudhu di dekat ruang sholat tersebut.
Setelah selesai beliau kembali menghampiri sang suami yang sudah memegangi mukenah Rahma, Serta membantu memakaikannya.
"Cantiknya nenek ini."
__ADS_1
"Kakek ini juga tampan." Jawab Rahma membalas ejekan sang suami seraya tertawa bersama. Lalu memulai sholat Sunnah mereka dengan ustadz Irsyad yang mulai mengangkat kedua tangannya seraya berseru takbir, dan di ikuti Rahma yang berada di belakangnya.