Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
kekaguman yang harus di hilangkan


__ADS_3

Faqih berjalan keluar mencari sang ayah, di depan tangga ia berpapasan dengan Umma Hasna yang hendak naik ke lantai dua.


"Umma, Abi dimana?" Tanya Faqih.


"Di luar, sedang olahraga kecil." Jawab beliau. Faqih pun berjalan turun menuju pelataran rumah.


Di lihatnya sang ayah tengah menggerak-gerakkan kedua tangannya dengan tanpa alas kaki menginjak-injak batu kerikil yang sengaja di tata rapi untuk memberikan terapi pijatan di telapak kaki.


"Bi..." Faqih menghampiri, sang ayah pun menoleh. "Abi tidak salah kasih uang ke Faqih segini?"


"Memang berapa yang Abi kasih?" Masih menggerak-gerakkan tangannya.


"Lima juta," jawab Faqih.


"Kalau Abi kasih segitu harusnya kamu bilang apa?"


"Alhamdulillah."


"Nah, ya sudah." Jawab beliau santai.


"Tapi ini terlalu banyak Bi."


"Kamu sudah berkeluarga kan? Kamu butuh uang lebih banyak. Dan segeralah mencari rumah untuk kalian, Abi bicara seperti ini bukan untuk mengusir mu. Tapi kalian butuh rumah tinggal kan?"


"Bi, Faqih tidak mau di bedakan dengan pengajar yang lain. Di kasih uang seperti biasa saja sebenarnya Faqih tidak mau."


"Kalau kau belum memiliki istri boleh kau berucap seperti itu. Tapi sekarang? Bahkan sebaiknya kamu sudah mencari pekerjaan lain A' rumah Tafiz itu sebagai sampingan saja." Tutur beliau.


"Faqih masih ingin membangun rumah Tafiz Bi. Sekarang saja santri semakin banyak, staf pengajar juga semakin bertambah, seiring bertambahnya kelas kan? Faqih tidak mungkin mengesampingkan itu. Kalau di jaman Abi dulu kan ada Abah, sekarang Abah di Sukabumi. Siapa lagi yang mengurus rumah Tafiz ini coba?"


"Iya sudah terserah kamu saja... Abi tidak bisa memaksa mu untuk itu, namun bagaimana dengan tempat tinggal untuk mu dan istri mu?"


"Faqih masih mengusahakan Bi, mungkin akan butuh waktu lama."


"Apa lagi sih yang kurang? Abi bisa bantu. Bahkan bayar lunas rumah untuk kalian juga bisa."


"Tidak Bi, jangan. Faqih tidak mau merepotkan Abi, lagi pula masih berat Faqih meninggalkan Umma."


"Umma kan masih ada Abi, apa yang masih di berati? Kau tidak kasihan pada Nuha? Dia itu seperti canggung di rumah ini." Tutur Abi Rahmat, Faqih pun hanya terdiam dengan tangan masih memegangi amplop berisikan uang itu. "Bertanggung jawab atas istri mu tidak melulu harus dengan nafkah lahir dan batin mu saja, tapi berikan dia kenyamanan, seperti papan untuk menaungi kalian. Abi sih tidak apa jika kau ingin di sini, cuman kau juga harus "


"Faqih juga sedang memikirkannya kok Bi, secepat mungkin Faqih akan berusaha membelikan rumah untuk Nuha." Jawab Faqih.


Seperti tidak ada kata-kata lagi, Abi Rahmat hanya tersenyum tipis seraya menepuk-nepuk bahu sang anak pelan.

__ADS_1


***


Siang ini kembali pada rutinitas mereka, Nuha baru saja keluar kelasnya. Sedikit meringis Nuha merasa sakit di bagian kanan perutnya, hal itu sudah dia rasakan di beberapa hari terakhir ini, dan biasanya nyeri itu akan hilang saat dia minum banyak, mungkin saat sahur tadi dia tidak minum banyak air sehingga membuatnya merasa sakit lagi begitulah pikir Nuha yang menganggap sakit itu bukanlah hal yang perlu di khawatirkan.


"Ustadzah Nuha–" panggil seorang anak perempuan, Nuha menoleh ia memberikan senyuman terbaiknya.


"Iya dek Ziya?" Mengusap kepalanya.


"Ziya punya hadiah buat ustadzah." Memberikan sebuah kotak berukuran sedang.


"Ini apa dek?" Tanya Nuha senang seraya menerimanya.


"Hadiah karena ustadzah sudah bersama A' Ustadz Faqih." Jawabnya polos Nuha pun menutup mulutnya terkekeh.


"Dek Ziya ini bicara apa sih? Terimakasih ya anak Solehah." Mengecup pangkal kepala Ziya. Gadis berusia sepuluh tahun itu pun tersenyum senang.


"Ziya senang ustazah sama A' ustadz,"


"Memang Kenapa?"


"Iya, ustadzah Nuha jadi ngajar di sini terus."


"Hehehe, sayang sama Ziya." Nuha memeluknya. Gadis itu pun mendorong pelan tubuh Nuha, lalu mengusap hijab Nuha yang tiba-tiba terkena noda darah.


"Ziya kenapa? Kok mimisan?" Tanya Nuha panik. Dia tidak mempermasalahkan kerudungnya yang terkena noda darah itu.


"Tidak apa uzt." Gadis itu berlari kecil menuju tandas. Nuha menatap sendu ke arahnya, apa yang terjadi pada gadis itu? Benar... Dia satu-satunya anak didiknya yang sering tidak berangkat dan terlihat juga gadis itu nampak pucat semakin harinya.


'apa dia sakit?' batin Nuha merasa iba. Dia pun mengangkat kotak pemberian anak itu. Sedikit penasaran dengan isinya namun Nuha memutuskan untuk membukanya nanti di ruangan A' Faqih.


Di tempatnya beristirahat, ruangan itu masih kosong. Sepertinya A'a belum keluar dari kelasnya.


Dia pun masuk dan duduk di sofa, sembari membuka kado kecil pemberian Ziya tadi.


Sebuah kotak musik yang sangat indah, Nuha tersenyum dia pun membukanya.


"MashaAllah cantik sekali." Terdengar suara musik klasik di sana dengan boneka kecil yang memutar di kotak itu mengikuti alur musik yang masih berbunyi.


Hingga waktu terus bergulir, Nuha sudah cukup lama duduk sendirian menunggu sang suami yang tak kunjung datang. Hingga sebuah ketukan membuatnya menoleh ke arah pintu.


"Kak Farhat?" Nuha beranjak seraya tersenyum. Saat mendapati pria yang sudah mematung di depan pintu.


'senyuman yang sangat indah. Ya Allah...' batin Farhat yang tengah membalas senyum Nuha kemudian, sepertinya hatinya belum bisa melepaskan kekaguman itu pada istri sahabatnya itu. Ustadz Farhat beristighfar kemudian.

__ADS_1


"Maaf Ustadzah, Saya ingin mengembalikan kartu tabungan anak-anak didiknya ustadz Faqih." Ucapnya menyerahkan buku tabungan itu.


"Kok di kak Farhat?" Nuha menerimanya. "A'a mana?"


"Tadi beliau keluar setelah me-murojaah lebih dari separuhnya, katanya ada urusan penting. Jadi di serahkan ke saya sebagian."


"Owh... Begitu ya. Ya sudah terimakasih Kak." Jawab Nuha lembut.


"Sa... sama-sama, ustadzah. Kalau begitu saya permisi, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab Nuha dengan suara lembutnya itu. Farhat menunduk lalu membalik badannya. Ia menyentuh dadanya yang masih saja berdebar di dekat Nuha.


'jangan... Jangan Farhat... Lupakan ustadzah Nuha. Dia milik Faqih.' pria itu melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu.


Sementara Nuha kembali meletakkan buku tabungan itu ke tempatnya. Lalu mencoba menghubungi sang suami dari telfon genggam miliknya. Terdengar suara panggilan sibuk dari sebrang, karena A'a juga sedang menerima panggilan dari orang lain. Setelah dirinya mengirim barang ke salah satu pondok pesantren.


'A'a kemana sih?' batin Nuha dengan ponsel masih di telinga mencoba menghubungi lagi, dan tetap sama tidak adanya jawaban dari A'a Walaupun kini sudah menyambung.


Waktu semakin senja, Nuha menutup ruangan itu dan menguncinya. Bersamaan dengan itu Farhat juga hendak jalan keluar, dengan jaket yang sudah terpasang di tubuhnya.


"Kak Farhat." Panggil Nuha pada Farhat yang hanya melewati. Pria itu langsung menghentikan langkahnya.


"Iya ustadzah?" Masih membelakangi Nuha.


"Kak Farhat tahu? A'a pergi kemana?" Tanya Nuha. Farhat pun memutar tubuhnya pelan, menghadap Nuha.


"Ma...maaf ustadzah, saya tadi tidak sempat bertanya. Jadi saya tidak tahu." Jawab Farhat gugup.


"Ya Allah, terus bagaimana ini? Rumah Tafiz sudah sepi. Mau pulang dulu, ke jalan rayanya jauh."


Farhat terdiam, kalau dia meninggalkan Nuha sendirian di sini kasihan juga. Namun jika hanya berduaan itu tidak mungkin kalau ketahuan Faqih apa itu tidak akan jadi masalah, yang ada malah jadi salah faham.


Nuha masih berusaha menelfon A'a. "Nomornya tidak aktif. Dia kemana sih?" Sedikit menggerutu. "Ssshhh." Nuha meringis lagi.


"Ustadzah kenapa?" Tanya Farhat yang menyadari Nuha tengah meringis sembari memegangi perutnya.


"Tidak... Tidak apa-apa kak. Biasa kok, mungkin kurang minum air putih." Jawab Nuha berusaha tersenyum, walau dia masih sedikit meringis.


"Aku jalan dulu ya kak, ku tunggu A'a di depan gerbang saja."


"I... Iya Ustadzah." Jawab Farhat, sementara Nuha sudah berjalan lebih dulu dengan satu tangan masih menempelkan telfon di telinga, sedangkan satu tangannya lagi menyentuh perut bagian kanannya.


'tidak bisa seperti ini terus. Aku benar-benar harus menghindari ustadzah Nuha.' batin Farhat. Dia pun memutuskan untuk diam dulu di sana, menunggu Nuha benar-benar jauh meninggalkannya. Walaupun ada sedikit kekhawatiran namun sudah lah itu bukanlah urusan dia.

__ADS_1


__ADS_2