
Semburat oranye mulai menghilang berganti dengan gelapnya malam, di temani purnama yang berduet dengan si cantik bintang bergemerlap genit di langit malam yang menaungi bumi di bawahnya.
Malam yang syahdu, saat guyuran hujan yang lumayan deras mulai menghujani kota Jakarta, dingin malam yang bercampur dengan angin membuat tubuh Farhat sedikit menggigil, saat ini. Pekerjaannya belum selesai.
Dia pun menyeruput kopi buatan Qori yang sudah hampir habis.
"Duh... Mana lagi ini chargernya..." Farhat bergegas membuka lacinya. Paaattsss, laptop pun mati. "Allahu Akbar..." Farhat meremas kepalanya menahan geram. Baru saja ia hendak menyimpan datanya lebih dulu laptopnya sudah mati.
"Aaaaarrrhhh ya Allah... Baterainya kenapa jadi tidak awet begini sih." Semakin geram dia, hingga di gebrakan meja satu kali dengan kepalan tangannya, membuat Qori terperanjat kaget saat keluar dari kamar.
"Astagfirullah al'azim, ada apa mas?" Qori mendekati Farhat.
"Tidak apa, maaf ya? Aku mengagetkan mu ya?"
"Sedikit, memang ada apa?"
"Ini, laptop ku mati lagi. Ya Allah." Menggaruk kasar kepala bagian belakangnya seraya melepaskan kupluknya.
"Memang tidak di charge mas?"
"Mau ku charge tapi lupa naro charger laptopnya di mana."
"Ya Allah, mas kan tadi ngetik di teras, jangan-jangan masih di teras."
"Haduh iya..." Farhat langsung bergegas keluar mengambil charger laptopnya yang masih terpasang di stopkontak, lalu kembali masuk. "Hujannya di luar deras sekali." Ucap Farhat, beliau pun memasang chargernya.
"Makanya jangan jadi pelupa mas." Ucap Qori lembut, seraya mengusap bahu sang suami. Farhat pun menjadi canggung tiba-tiba.
"Iya... Duh, begadang lagi nanti ini."
"Semuanya hilang? Memang tidak sambil di simpan setiap berapa ribu kata gitu?"
"Sudah di save, sih tapi ini yang separuhnya pas mau ku save udah mati duluan. Duh bagaimana ini."
"Coba Qori lihat mas." Ucap Qori. Gadis itu pun menyentuh laptop Farhat. "Dulu waktu aku berlajar, aku ingat saat guru TKJ* mengajariku ketika file lupa ke save suruh ketik ini, cari data kita di sini." Qori mengetik sesuatu *(teknologi Komputer dan Jaringan).
__ADS_1
Selama penjelasan itu, karena wajah Qori sangat dekat dengan Farhat membuat Farhat merasa semakin gugup walau matanya terus menatap lurus ke depan.
"Nih mas Farhat Buka dulu Ms. World, terus buka blank pagenya, klik file, trus mas scrol recent dokumen setelahnya klik ini. Recover unsave dokumen. Lihat, file mana yang punya mas tadi?"
"MashaAllah, masih ada... Ih kok kamu pintar sih sayang?" Ucap Farhat senang, sedangkan Qori hanya tersipu saat Farhat memujinya.
Farhat pun segera menyimpan ulang file yang gagal ke simpan itu. Lalu menarik tangan Qori secara tiba-tiba, membuat gadis itu terkesiap saat duduk di pangkuan mas Farhat.
"Qori?" Panggil mas Farhat.
"I...iya mas." Gadis itu menatap mata suaminya dengan gugup.
"Dingin tidak?" Tanya Farhat, dia meraih dagu Qori, tatapannya tertuju pada bibir yang ia kecup kemarin.
"Se... Sedikit." Jawabnya.
"Mas Farhat ketagihan, sayang." Ucapnya halus sembari mengusap bibir itu dengan ibu jarinya. Hingga mendekat lah Farhat, dan bibir keduanya kembali Menyatu dengan sangat lembut, beradu di tengah riuh suara hujan di luar. Farhat melepaskan kecupannya itu. "Ke kamar yuk. Kita sambung di sana." Ajak Farhat.
"Ka...kamar, memang mas Sudah selesai?"
"Iya... Kamu sendiri? Sudah benar-benar sehat kan? Sudah tidak sakit? Di bekas sesar kamu." Tanya mas Farhat.
"Berarti, mas boleh minta di layani malam ini ya?"
"Emmm?" Qori tidak bisa menjawab, jantungnya benar-benar berdebar tak beraturan.
"Bagaimana? Siapkah kau untuk ku gauli?"
"Ta... Tapi? Apa mas yakin mau, berjima dengan ku? Sedangkan aku bukan wanita yang mas cintai."
Farhat meraih tangan Qori, lalu di letakkannya di bagian dadanya.
"Kamu merasakan tidak? Aku berdebar-debar saat mencium bibir mu." Tutur ustadz Farhat. Qori pun menitikkan air matanya. "Bisakah ini di sebut cinta? Jika iya... Mas akan mengutarakannya, aku mencintaimu istri ku."
"Hiks... Qori juga mencintaimu suami ku. Mas Farhat." Gadis itu menangis, membuat Farhat langsung mengusap air matanya.
__ADS_1
"Jangan menangis kekasih ku. Maaf ya... Mas telat mencintai mu."
"Hiks tidak apa... Ini tidak telat kok, bahkan masih jauh dari target ku untuk menyerah."
"Sssssttt... Jangan ucapkan kata menyerah dong sayang. Maaf ya, sekali lagi maaf."
"Iya mas... Terimakasih ya mas Farhat."
"Jadi bagaimana? Mau?"
"Mau apa?" Qori terkekeh, walaupun matanya masih basah karena menangis.
"Kok pakai tanya...? Memang tidak ingin nih di kasih jatah nafkah batin dari mas?"
"Mau, makannya Qori sudah pakai piyama ini." Menunjuk piyama tidurnya.
"MashaAllah, aku baru ngeh..." Farhat merasa senang, tubuh istrinya benar-benar bagus.
"Sudah dari kemarin aku pakai piyama ini berharap setiap malamnya, suami ku akan menyentuh ku. Semenjak selesai nifas."
"Astagfirullah al'azim, maaf ya sayang. Pantas malam ini dingin sekali, ternyata aku memang butuh kehangatan. Masuk yuk ke kamar." Ajak Farhat, gadis itu pun mengangguk lalu beranjak. "Bentar sayang, mas matikan lampu ruang tamu sama dapur dulu," Farhat berjalan cepat mengecek pintu utama, setelah dirasa yakin sudah terkunci beliau pun mematikan lampu-lampu yang tak terpakai. Lalu masuk menyusul Qori yang sudah duduk di atas ranjang mereka.
"Jujur mas gugup sekali. Jadi kalau kurang membuat mu nyaman maaf ya." Tangan Farhat sudah menyentuh wajah Qori lembut.
"Iya mas." Tersenyum senang. Mas Farhat mulai menempelkan telapak tangannya di kening Qori membacakan doa, setelah itu mulai mendekati lagi bibir sang istri seraya merebahkan tubuh Qori di ranjang mereka. Menikmati malam pertama yang tertunda cukup lama.
Malam yang semakin dingin, di temani riuh hujan di luar. Dimana kehangatan dua sejoli yang tengah beradu cinta di bawah selimut,
Seolah menepis jika hujan hanya milik orang-orang yang sendiri, penuh dengan kesepian. Seperti cinta yang tak terbalaskan katanya...
Dan saat ini, Qori bisa merasakan hasil dari doanya. Dia mendapatkan cinta mas Farhat, walaupun tahu itu belum sepenuhnya namun saat ini hujan seperti menjadi saksi awal mereka menyatu.
Tanpa keraguan lagi, terlebih saat menatap wajah di atasnya yang tengah tersenyum sembari menghujami membuat dia yakin, bahwa suaminya tidak sedang bergurau. Dia pasti sedang berusaha menanamkan cinta itu untuknya semakin dalam di lubuk hati mas Farhat.
Lalu? Kata siapa, mas Farhat tidak membuatnya nyaman. Dia bermain dengan sangat halus dan tidak terburu-buru. Membuat Qori sangat merasakan kenyamanan dalam setiap sentuhan cinta ustadz Farhat.
__ADS_1
Benar inilah cinta, cinta yang mendapatkan naungan dari sang Maha Pencipta. Datang dengan cara yang tidak terduga-duga, tanpa sapaan, tanpa hiruk pikuk. Lalu hadir begitu saja. Menolong jiwa sepi yang butuh perlindungan.
Bersambung....