Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
berakhirnya kisah Qori (extra part)


__ADS_3

Masih di hari yang sama, setelah tahu apa yang terjadi Qori dan Farhat mendatangi sebuah rutan tempat pak Lukman di tahan karena kesalahannya itu.


Sementara Agam mereka titipkan kepada istri lek Hilman sebentar.


Di sana Keduanyan sudah berhadapan dengan pria yang kedua tangannya di borgol, tengah menyandar di bangkunya sembari menunduk.


"Untuk apa kesini?" Tanya beliau, tidak ingin menatap sepasang mata yang sembab di hadapannya.


"Bapak, bapak baik-baik saja kan?" Tanya Qori.


"Menurut mu?" Jawabnya dingin. Entah apa yang tengah di pikirkan pak Lukman, yang pasti sedari tadi Beliau hanya menunduk saja.


"Bapak? Boleh Qori bertanya, kenapa bapak bisa berada di sini?"


"Kau saja sudah datang kan? Pasti tahu apa kesalahan ku? Aku membunuh wanita jal*ng itu karena hendak memeras ku. Tapi aku puas dia mati."


"Astagfirullah al'azim." Gumam Ustadz Farhat lirih. Sementara tangannya menggenggam erat tangan Qori.


"Bapak tahu membunuh orang itu dosa?" Tanya Qori.


"Tidak peduli... Yang pasti aku bisa melampiaskan emosi ku." Jawabnya.


"Tapi?"


"Sebaiknya kau pulang saja Qori, biarkan bapak membusuk di sini. Yang penting kau sudah bahagia bersama suami dan anak mu." Pak Lukman beranjak, dia masih saja menundukkan kepalanya.


"Bapak tunggu." Qori turut beranjak. Namun pak Lukman tetap melangkah masuk ke dalam, hingga Qori pun mendekat dan meraih lengan ayahnya. "Bapak?" Panggilnya lagi, sementara pak Lukman masih memalingkan wajahnya.


"Bapak Qori tuh selalu sayang sama bapak.... Qori tetap berdoa agar bapak tetap sehat, dan bisa berubah lebih baik lagi." Tutur Qori.


Dan tanpa menjawab apapun, pak Lukman menepis tangan itu pelan lalu kembali melangkah masuk meninggalkan Qori yang masih menangis di sana.


Sementara mas Farhat langsung menenangkannya. Dia pun meminta Qori untuk duduk lagi di bangku.


Di sana langkah pak Lukman berhenti, dia pun membisikkan sesuatu pada sang penjaga, seketika penjaga itu mengangguk lalu meminta satu penjaga itu meraih secarik kertas dan pulpennya kemudian menyerahkan kepada pak Lukman.


Setelah selesai salah satu penjaga itu keluar menghampiri Qori dan Farhat yang masih di sana, menyerahkan selembar kertas yang di tulis oleh pak Lukman tadi yang dengan cepat di buka dan di baca oleh Qori.


(Qori... Aku itu bukan ayah yang baik, itu sebabnya, hukuman ini memang pantas ku dapatkan. Ketika bapak melihat sosok pria yang bersedia mempersunting mu, bapak merasa tenang. Itu kenapa bapak tidak lagi mengganggu mu setelahnya, dan membiarkan mu bahagia bersama suami mu.


Maaf, jikalau bapak sudah jahat kepada mu selama ini. Di rumah, ada buku tabungan bapak, uang mahar dari suami mu belum bapak pakai. Ambil saja uang itu, ku berikan untuk cucu ku. Rawat dia dengan baik, sebagai penebus kesalahan ku pada kalian. Kau bilang kau selalu sayang bapak?


Namun entahlah, kau percaya atau tidak. Kalau Bapak juga sebenarnya menyayangimu.... Walaupun terlambat dan sudah menanam kebencian di hati mu, karena depresi bapak yang kehilangan ibumu hingga melampiaskan semuanya pada mu. Sekarang biarkan bapak di sini, sampai kematian menjemput ku. Dan kau harus bahagia setelahnya bersama keluarga baru mu.)


"Bapak...?" Gumam Qori menitikkan air matanya. Farhat yang di sana hanya bisa menghapus air mata sang istri.

__ADS_1


Beliau pun turut membaca tulisan itu, lalu mengusap kepala Qori.


Sementara Farhat keluar sejenak meraih sesuatu dalam jok motornya, berupa sarung dan sajadah miliknya.


Beliau pun kembali masuk dan menyerahkan itu pada seorang penjaga.


"Pak tolong berikan ini pada pak Lukman di dalam ya." Ucap Farhat, dan penjaga itu pun hanya mengangguk menerimanya.


Hingga Farhat kembali mendekati Qori, lalu mengajaknya pulang ke rumah.


–––


Di waktu yang sudah mulai gelap, motor Farhat sampai di depan rumah.


Dengan cepat beliau membukakan pintu rumah untuk Qori yang tengah menggendong Agam, sementara dirinya membawa tas baju mereka yang niatnya ingin bermalam di rumah pak Lukman namun tidak jadi.


Setelah merebahkan Agam di dalam ranjang bayi, Qori pun melepaskan hijabnya. Lalu bebersih di dalam kamar mandi, setelahnya dia keluar bersamaan dengan Farhat yang masuk dengan segelas teh hangat di tangan, berjalan sembari menutup pintu kamar mereka. Lalu duduk di atas ranjang.


"Duduk sini, mas mau bicara." Ucap Farhat. Qori pun mengiyakan lalu duduk di sebelah Farhat yang langsung meraih tangan Qori. "Bagaimana perasaan mu saat ini?" Tanya Farhat.


"Sudah jauh lebih baik mas."


"Masih adakah dendam di hati mu?" Tanya beliau.


"Tidak mas... Malah aku kasihan sama bapak."


"Di sini... Mas hanya berusaha membuat mu bahagia, namun tidak bisa janji juga karena mas Farhat juga hanya seorang manusia biasa. Yang bisa melakukan kesalahan."


"Iya mas, Qori memahami. Ini saja Qori sudah merasa beruntung karena dipersunting mas Farhat."


"Beruntungnya bagaimana ini?" Mas Farhat bertopang dagu sembari tersenyum. "Jangan bikin mas Berbunga-bunga ya, kalau terbang gawat nanti."


"Hahaha, lebai..."


"Serius, tidak percaya? Ini saja sedang pegang tangan mu terus loh... Takut terbang beneran."


"Haduh... Mas Farhat ini ya?"


"Apa? Mumpung Agam masih tidur lanjut yuk..."


"Hahaha apanya mas? Masih terlalu sore..."


"Masih sore apanya, sudah lewat isya loh. Biar cepat kasih adik buat Agam." Ledek beliau.


"Ya Allah, Agam masih lima bulan aja belum genap." Terkekeh karena mas Farhat sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari mengecup wajah Qori berkali-kali.

__ADS_1


Sementara di tempat lain...


pak Lukman tengah mengamati sajadah dan sarung yang di berikan menantunya itu.


Beliau pun menitikkan air matanya merasakan dosa yang sudah menggunung banyak selama ini. Dari khamr yang ia tenggak, zinah, dan judi.


Sehingga membuatnya merasa malu untuk menjalankan ibadah sholatnya karena hal itu pulalah yang membuatnya urung untuk melakukan ibadah solat bahkan sampai dua hari berselang, benda itu hanya di pandanginya.


***


Hari ini Farhat kembali mendatangi rutan tempat pak Lukman di tahan, dia tersenyum saat pak Lukman mau menemuinya.


"Bagaimana kondisi bapak?" Tanya Farhat.


"Baik." Jawab beliau.


"Alhamdulillah..." Jawab Farhat kemudian yang masih memakai seragam dinasnya. Karena beliau baru pulang mengajar.


"Maafkan saya." Gumam pak Lukman.


"Maaf untuk apa pak?" Tanya Farhat.


"Kau pasti malu punya ayah mertua penjahat seperti ku."


Farhat menggeleng pelan. "Tidak pak, saya tidak pernah menganggap seperti itu." Ucap Farhat. Sementara pak Lukman hanya diam saja. "Maaf ya pak, kemarin saya kasih bapak sajadah dan sarung, walaupun tidak baru. Tapi itu bersih kok pak."


Pak Lukman mengangkat kepalanya. "Kau salah Farhat." Tutur beliau.


"Sa...salah? Maaf pak maaf kan saya."


"Kau salah, karena hanya memberikan itu tanpa mengajari ku. Aku itu tidak bisa sholat."


Senyum Farhat mengembang. Saat mendengar itu.


"Datanglah setiap hari, ajari saya solat dan mengaji, agar benda itu tak hanya ku pandangi saja."


"Subhanallah... Iya pak. Akan Farhat ajarkan. Kita mau belajar solat sekarang?"


"Iya," pak Lukman tersenyum tipis. Hingga keduanya meminjam ruangan sholat di rutan itu untuk belajar sholat dan juga mengaji. Walaupun dengan penjagaan ketat dua orang aparat, namun itu tak mengganggu kekhusyukan mereka.


Dan hal itu rutin di lakukan Farhat, yang setiap hari mendatangi sang ayah mertua setelah pulang mengajar.


Kini semuanya semakin membaik. Qori yang jauh lebih ceria dari sebelumnya, juga pak Lukman yang sudah mulai rajin beribadah dan berkelakuan baik. Hingga dia pun mendapatkan keringanan hukuman, yang tadinya seumur hidup menjadi dua puluh tahun penjara, membuat Qori dan Farhat merasa bersyukur.


Yaaa... Hidup memang seperti itu, Allah selalu menjanjikan hal baik setelah adanya kesedihan. Dan sebaik-baik manusia yaitu berusaha terus untuk bertawakal, dan berkhusnuzon dengan Sang Maha Pencipta.

__ADS_1


–– Kisah Qori dan Mas Farhat Tamat...


__ADS_2