
Di dalam kamar yang mulai gelap, A' Faqih sudah memejamkan matanya. Entah mengapa Nuha menjadi bimbang sendiri.
Dia tidak sedang berfikir buruk jika suaminya akan pergi dengan wanita lain. Namun firasat tentang dia yang tengah menyembunyikan sesuatu seperti mencuat begitu saja di hatinya. Lebih-lebih saat di tanya, untuk Apa A'a ke Bogor? Dan jawabnya apa lagi selain nyeleneh.
'A'a rindu kebun teh, neng.' begitu jawabnya tadi dengan nada yang datar dan sesingkat-singkatnya.
Nuha pun mendengus sendiri. Dia seolah menjadi kesal. A' Faqih tipe pria setia kan? Ah... Tentu saja lah. Dia tidak semudah itu loh dekat dengan seorang wanita.
Tunggu, tadi katanya kau tak berfikir buruk tentang wanita lain kan Nuha? Ahhh sudah lah... Memang seperti itu tabiat wanita yang selalu merasa curiga dan cemburu tak jelas, kan?
Tapi kenapa sepertinya A'a tidak mau jujur saja sih, tujuan aslinya itu. Kenapa harus menjawab kesana-kemari? Itulah yang ada di benak Nuha saat ini.
Nuha memutar tubuhnya membelakangi A' Faqih, seraya menyingkirkan tangan yang sedari tadi melingkar di pinggangnya. Sontak! A' Faqih terjaga, ia baru sadar kalau sang istri belum tidur. Ia pun kembali meraih lengan Nuha agar mau kembali menghadapnya.
Seolah ada penolakan, Nuha tidak mau memutar tubuhnya. Faqih pun mengangkat kepalanya, mengintip ke arah wajah Nuha.
Benar A' istri mu sedang bersungut.
"Kenapa neng?" Tanya beliau dengan suara seraknya.
"Tidak apa-apa." Jawabnya tak biasa. Pria itu kembali merebahkan kepalanya.
"Kalau tidak apa-apa kenapa membelakangi. Cepat menghadap A'a." Titahnya, tangan itu masih saja berusaha memegangi lengan Nuha dan menariknya pelan.
"Tidak mau."
"Kenapa sih? Marah ya?"
"Emmm." Jawabnya ketus. Faqih pun beranjak duduk ia berpindah posisi ke sebelah Nuha tepat wajah itu menghadap.
"Neng?"
"Emmm? Sudah sana tidur saja A'...."
"Ya bagaimana A'a mau tidur? kamu nya ngambek..."
"Siapa yang ngambek?" Memutar tubuhnya lagi, sementara Faqih turut pindah.
__ADS_1
"Kenapa? jawab..." Kalian jangan berfikir A'a bertanya kenapa dengan nada halus seperti ustadz Irsyad ya... Itu Faqih loh sudah pasti datar.
"Apa sih A'...? Nuha sudah bilang Nuha tidak ngambek kan?" Turut beranjak duduk.
"Jawab neng. Kamu marah sama A'a?"
"Huhhh... iya, Sedikit." Jawabnya lirih. Memang seperti itu sih, dia hanya merasa A'a sedang menyembunyikan sesuatu yang entah apa.
Jemari tangan Faqih Menyentuh dagu Nuha dan membawanya naik, hingga sepasang mata sayu itu menatapnya.
"Kenapa neng? A'a buat salah apa sama kamu?" Membidik. Sudah pasti dong Nuha tidak bisa lagi memasang mode ngambek itu di hadapan Faqih. Tingkat takutnya lebih tinggi dari pada Ego dia sendiri.
"A'a pergi ke Bogor tapi alasannya tidak jelas, Nuha kan jadi mikir zu'udzon ke A'a." Jawabnya. Faqih pun terkekeh, hingga di peluklah tubuh Nuha erat. Haaaaahhh Nuha ingin menghela nafas panjang, suaminya bisa membuat dia takut namun secepat itu pula membuatnya nyaman, memang sepertinya A' Faqih memiliki kepribadian ganda.
Padahal tidak seperti itu juga, karena sebenarnya Faqih juga merasa bersalah sih. Kenapa bisa dia tidak memberikan alasan lebih jelas agar tak mengundang fikiran buruk di benak sang istri.
Maklum lah wanita... Seperti apapun dia tetap saja ada fikiran buruk. Apalagi jika sang suami pergi ke tempat jauh tanpa membawanya, dengan alasan tidak jelas pula.
"A'a itu ada acara di sana dengan Ustadz Harun, untuk saling me-muroja’ah Hafalan kita sayang, kau tahu kan? Puncak Bogor adalah tempat terdekat dari Jakarta yang bisa memberikan ketenangan lewat alamnya. Dan ada beberapa Hafizh lainnya juga. Apa penjelasan segitu cukup? A'a berangkat sama ustadz Harun kok." Jawab A' Faqih, dia tidak bohong-bohong amat sih memang sebelum itu mereka berniat mengulang hafalan masing-masing dulu baru bertemu saudara dari ustadz Harun itu.
Nuha tersenyum saat mendengar kata sayang dari bibir A' Faqih, kenapa? Sebab laki-laki itu jarang sekali memanggil sayang.
Sedikit ada perasaan bersalah di hati yang membuatnya tidak enak pada pria di hadapannya itu.
"Maaf ya A'...." Tutur Nuha lirih.
"Maaf kenapa?"
"Karena sudah berfikiran yang tidak-tidak."
"Hemmm... wajar sih, kalau neng curiga. Maaf juga ya."
"Iya." Jawab Nuha kembali tersenyum ceria. "Nuha takut A'a pergi sama wanita lain." Lanjut Nuha jujur namun sembari melebarkan senyumnya.
"Astagfirullah... Kok mikirnya gitu?"
"Ya maaf, kan Nuha takut saja."
__ADS_1
"insyaAllah, tidak akan. A'a itu cuma menatap satu wanita selain ibu A'a. Yaitu kamu neng." A' Faqih memberikan kecupan di bibir Nuha sebentar, lalu tersenyum tipis dengan ibu jari mengusap bibir Nuha.
"Bener loh ya... Janji?"
"insyaAllah, nggak janji-janji amat, kan kadang tidak sengaja menatap ukhti." Jawab A' Faqih seraya terkekeh.
"Kan?" Kembali bersungut.
"Memang Neng bisa cemburu gitu?"
"Memang A'a pikir?"
Faqih mengusap kepala Nuha sembari tergelak. Hingga mereka pun kembali saling memeluk erat.
"Nuha tidak mau jauh-jauh dalam waktu yang lama dari A'a... A'a harus pulang cepat ya."
"A'a usahakan neng?" Tutur A'Faqih, Nuha pun melepaskan pelukan itu dengan menatap A' Faqih lebih dalam lagi.
"Memang A'a me-murojaah sampai tiga puluh juz? Kayanya butuh waktu seharian deh." Mengusap-usap wajah A' Faqih. Seperti mainan baru untuk Nuha, pipi mulus A' Faqih terasa nyaman untuk dia sentuh.
"Tidak tahu juga. Tergantung nanti ustadz Harunnya. Bobo yuk, sudah semakin malam." Ajak A' Faqih membelai lembut rambut Nuha. Gadis itu tersenyum dengan sangat imutnya.
Memang benar, Nuha selalu menggetarkan hati A' Faqih, dengan senyum cerianya itu.
Buktinya niatan untuk tidur pun dia batalkan karena lebih memilih untuk memanjakan istrinya lebih dulu, setelah menilik jam di atas meja masih menunjukkan pukul sepuluh malam.
"cukup lah beberapa menit." Tutur A'Faqih seraya melepaskan atasannya, di depan gadis yang langsung menutup wajahnya itu menggunakan jari-jemarinya, seraya terkekeh.
"Tadi katanya ngantuk?" Tutur Nuha masih menutup matanya, dia masih malu-malu.
"Nggak jadi, kan sudah tidur beberapa detik, gara-gara kamu, A'a jadi nggak ngantuk lagi. Sekarang tanggung jawab A'a mau minta di layani."
"Tapi Dede ngantuk." Terkekeh, saat A' Faqih mulai menyentuh kancing baju Nuha membukanya satu, A' Faqih tersenyum semakin gemas. ia melepaskan kedua tangan Nuha yang menutupi wajahnya lalu menatapnya lekat-lekat.
"Sebentar sayang." Ucapnya kemudian seraya mendekat lalu mendaratkan kecupan lembut di bibir Nuha, yang bersambung dengan cumbuan A' Faqih lainnya, hingga berakhir dengan permainan di atas ranjang selama beberapa menit.
Malam penuh cinta pun di mulai untuk yang kesekian kalinya, menambahkan cinta yang semakin tertanam di hati keduanya. Kenyamanan yang di dapat dari permainan halus A' Faqih seolah membuatnya lupa, bahwa A' Faqih pernah menjadi pria paling ia jauhi sebelum ini.
__ADS_1
Itu lah cinta, yang mengajarkan kita untuk tidak boleh membenci seseorang teramat. Karena dia adalah satu nikmat yang datang tanpa mengetuk apalagi permisi. Dan juga kita tidak bisa memilih pada siapa hati kita serahkan, benar... semua sebab sifat Cinta yang gemar masuk begitu saja ke relung hati seraya memberikan kebahagiaan teramat di sana.