Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
Cintai aku secukupnya, tapi cintai ibu mu sepenuhnya.


__ADS_3

tidak begitu lama sebenarnya Zahra duduk dia pun harus bergegas menuju kantornya, karena waktu yang semakin siang.


Terlihat Umma Hasna seperti menyayangkan Zahra untuk cepat-cepat pergi, namun mau bagaimana lagi? dia harus ke kantor.


Setelah berpamitan dengan Nuha juga Zahra pun pergi. Dan Umma Hasna kembali masuk menghampiri Nuha yang baru saja selesai memanggang ayamnya.


"Sudah semua neng?" Tanya Umma Hasna, seperti sebuah suntikan semangat kedatangan Zahra tadi. Suasana hati Umma pun membaik, dia tidak mendiami Nuha lagi. Gadis itu mengangguk seraya tersenyum.


"Ya sudah bantu kemas itu ke kotak nasinya ya."


"Iya Umma, tapi maaf caranya bagaimana?" Nuha bertanya, karena dia takut salah. Umma Hasna menghela nafas, gadis itu seapa-apanya harus bertanya seperti tidak pernah melakukan pekerjaan di dapur saja. Apa mungkin mbak Rahma terlalu memanjakan? sehingga anaknya jadi tidak bisa apa-apa sekarang, begitulah batin Umma. Beliau pun meraih mangkuk kecil dan meletakkan nasi di dalamnya dengan cara di tekan-tekan hingga sedikit padat, barulah di balik agar nasi itu keluar dengan bentuknya yang cantik mengikuti bentuk mangkuk itu.


"Kasih sambal yang tadi kamu masukin ke dalam plastik, lalapannya, terus ayam bakarnya juga seperti ini ya." Umma Hasna mengajarkan. Tatapan gadis itu berbinar.


"Jadi cantik kaya beli di katering ya Umma."


"Hmmm." Jawab beliau singkat. "Sudah paham kan?" Tanyanya lagi. Nuha pun mengangguk cepat.


"Paham Umma, sepertinya Nuha bisa. Nuha coba ya Umma." Gadis itu menengadahkan tangannya meminta mangkuk itu.


"Nih, harus rapih ya neng." Menyerahkannya.


"Iya Umma." Semakin semangat gadis itu menyiduk nasinya lalu memasukkan nasi itu ke dalam mangkuk, menekan-nekan sejak seperti apa yang di lakukan Umma Hasna tadi, lalu membalikkan dengan hati-hati. "Aaaa, jadi Umma." Nuha terkekeh, seperti sebuah mainan baru saat mencetak nasi itu, sungguh menyenangkan bagi Nuha.


Umma Hasna geleng-geleng kepala, beliau lantas mengerjakan pekerjaan yang lain, hingga tak lama terdengar suara adzan ashar membuat beliau menghentikan pekerjaannya itu.


"Neng, Tolong kerjakan sisanya itu ya, ingat jangan berantakan loh.... Umma mau mandi dan sholat ashar dulu."


"Ahhh iya, sudah masuk waktu Ashar ya? Baiklah Umma, Nuha selesaikan beberapa dulu."


"Emmm." Jawab beliau seraya berjalan masuk.


Nuha pun tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Hingga tak lama beberapa tamu ibu-ibu pengajian datang. Nuha membersihkan dulu tangannya lalu berlari keluar menghampiri mereka.


"Walaikumsalam warahmatullah, silahkan masuk ibu-ibu." Nuha mempersilahkan dua orang itu masuk.


"Wah, ini yang namanya Nuha. Istrinya Ustadz Faqih ya?" Menjabat tangan Nuha, gadis itu mengangguk seraya tersenyum ramah.


"Silahkan duduk dulu, Umma sedang siap-siap."


"Iya neng." Jawabnya seraya duduk di atas karpet yang sudah tergelar di lantai.


Sementara menunggu yang lain datang Nuha kembali masuk ke dalam, melanjutkan pekerjaannya.


Di dapur Umma Hasna sudah berdiri, mengamati hasil pekerjaan Nuha.

__ADS_1


"Neng, ini kurang rapih nasinya. Jangan terlalu penuh, yang penting ngebentuk. Kalau seperti ini kan jadi kurang rapi, pinggiran nasinya pecah begini."


"Iya Umma, nanti Nuha perbaiki." Nuha kembali mengeluarkan nasi yang berantakan itu dan mencetak ulang.


"Itu, kotak snacknya sudah di isi semua?"


"Ada yang belum Umma, tinggal Sepuluh kok kayaknya."


"Ya sudah selesaikan, Jangan lama-lama ya neng, pengajiannya tidak lama soalnya."


"Iya Umma." Nuha mulai panik.


"Ya sudah Umma keluar dulu." Beliau lantas melangkah keluar.


–––


Selang beberapa menit Nuha pun menyelesaikan pekerjaannya itu dengan cekatan. Hingga semua kotak nasi dan kotak snacknya sudah terisi seluruhnya. Ia pun menoleh ke arah jam dinding.


"Astagfirullah al'azim, sudah jam lima kurang seperempat. Ya Allah." Nuha berlari kecil menuju kamarnya guna bebersih dan melaksanakan sholatnya.


Selama menjalankan ibadah sholat, Nuha baru menyadari, jari-jari tangannya terasa perih. Mungkinkah luka akibat memarut kelapa tadi? Kenapa baru terasa sekarang, juga luka-luka bakar kecil akibat menyentuh alat panggang itu membuatnya tersenyum.


"Baru kali ini, aku mengerjakan pekerjaan yang sampai membuat tangan ku lecet. Selama ini Umma tidak pernah mau di bantu, jadi kasihan sama Umma Rahma, dia pasti sering merasakan ini."


"Assalamualaikum, sayang." A' Faqih tersenyum seraya masuk.


"A'a, ya Allah kok cepat sekali sudah pulang." Nuha langsung saja meraih tangan itu dan menariknya membuat A' Faqih langsung turun seraya terkekeh.


"Nuha kangen... Kangen A'a." Di peluknya sang suami bahkan sampai membuatnya ingin menangis.


"Iya A'a buru-buru tadi. Kangen juga sama istri A'a ini," Faqih Menyentuh tangan Nuha, di lihatnya lecet di mana-mana. "Ya Allah ini kenapa?"


"Kena parutan kelapa." Jawab Nuha nyengir.


"Ya Ampun... A'a obati ya." A' Faqih menawarkan.


"Iya A'a." Tersenyum. Faqih pun Melepaskan mukena Nuha, lalu mengecup keningnya.


Di atas ranjang, A'a memberikan obat luka sedikit. Terlihat sang istri meringis pelan.


"Sakit?" Tanya A' Faqih.


"Perih sedikit A'... Berlebihan deh, padahal Umma yang jauh lebih lelah loh." Terkekeh.


"Nanti A'a pijitin Umma juga kok, sekarang istri A'a dulu saja."

__ADS_1


Nuha tersenyum "Iya, nanti setelah A'a pijitin Umma, gantian Nuha pijitin A'a."


"Hehehe, iya neng." Faqih mengusap wajah Nuha. "Terimakasih sudah iklhas membantu Umma ya, biasanya para menantu akan mengeluh melakukan itu dan berfikir itu adalah perbuatan yang akan menyiksa mereka. Tapi kamu tidak. A'a senang kamu mau memuliakan wanita nomor satu yang paling A'a cintai di dunia ini.. Neng juga mau tinggal di rumah A'a dengan semua peraturan yang ada di rumah ini tanpa berfikir buruk dengan apapun yang ada di sini."


"Nuha hanya berusaha berlapang dada A'... Apapun yang kita lakukan, jika di sertakan dengan kelapangan dada maka keikhlasan pasti akan menyertai." Jawab Nuha lembut, Faqih pun tersenyum senang dia menghadiahi kecupan di kening Nuha.


"A'a mencintai mu, neng." Gumamnya dengan bibir masih di kening Nuha.


Gadis itu tersenyum dengan mata terpejam. "A'a, Nuha boleh minta sesuatu dari A'a?"


"Apa sayang?" Melepaskan kecupannya.


"Nuha minta, A'a jangan pernah sekalipun membela Nuha di depan Umma ya. Apapun yang terjadi."


Deg...! 'Kenapa tiba-tiba Nuha bicara seperti itu?' Batin Faqih.


"Neng, tidak ada masalah kan sedari tadi?" Tanya A' Faqih.


"Tidak, memang masalah apa?" Nuha mengingat hal saat Zahra datang tadi. Membuatnya kembali sedih, namun Untungnya mata itu tidak menganak.


"Nggak A'a takut saja. Tapi syukurlah." Faqih memeluk Nuha, gadis itu pun membalas pelukan A'a dengan bibir tersungging. "Neng, A'a tuh beruntung dan bahagia sekali bisa memiliki istri seperti mu. Terimakasih sudah menerima A'a ya, dengan segala kekurangan A'a. Dan maaf karena A'a masih menganggur." Tutur beliau.


"Iya A'a, lagian kata siapa A'a nganggur? A'a guru Tafiz terbaik loh." Jawab Nuha lembut nan imut.


"Hehehe...Aaaahhh gemas, abdi Bogoh ka anjen. Pokokna mah." Faqih mempererat pelukannya.


"A'a...! Kan puasa, kok minta ambilin air minum?" Nuha mendorong dada A'Faqih. Pria itu pun terdiam.


"Kok air, sih? Siapa yang minta ambilkan air?"


"Itu tadi A'a bilang, Nuha masih ingat waktu di rumah Abi Irsyad, saat sehabis sholat sunah A'a bilang begitu, dan A'a juga bilang artinya ambilkan air minum." Jawab Nuha polos. Faqih pun mengingatnya lalu tergelak.


"Astagfirullah al'azim...ya Allah... Ampun... Ampun, Nuha." terkekeh-kekeh. "Sampai sekarang neng belum tahu artinya?" Tanya Faqih. Gadis itu menggeleng.


"Allahu Rabbi..." Faqih terkekeh lagi, beliau pun mengetik sesuatu di ponsel lalu menunjukkannya pada Nuha. "Baca artinya."


Gadis itu meraih ponsel sang suami dan membacanya. "Abdi Bogoh ka anjen... Aku mencintaimu." Nuha menutup mulutnya. "Jadi waktu itu A'a bilang cinta ke Nuha?"


"Iya, apa lagi? Kenapa? terharu? A'a kan sudah bilang, A'a mengagumi mu sejak sebelum kita nikah."


"Hiks... A'aaaaaa." Nuha memeluk tubuh suaminya, terharu. "Nuha juga Bogoh deh" ikut-ikutan.


"Hahahaha kesayangan A'a." Mengecup kening Nuha kemudian dengan penuh kasih sayang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2