Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
Ya Hilwah (Manis ku)


__ADS_3

Di jam menjelang siang ini, Nuha sudah di pindahkan ke bangsalnya, karena kondisi Nuha yang sudah membaik.


Di temani Umma Hasna dan A' Faqih mereka bersenda gurau bertiga.


Menceritakan masa kecil Faqih yang membuat Nuha terkekeh, sementara yang di ceritakan hanya geleng-geleng kepala, merasa malu ketika aibnya di buka oleh sang ibu di depan istrinya.


"Neng tahu? Waktu Faqih pertama kali menjalankan ibadah puasa. Kerjaan dia setiap hari di depan TV cuma buat nunggu adzan Maghrib." Kata Umma Hasna.


"Masa sih?" Tanya Nuha.


"Iya, dan setiap dengar adzan pasti langsung lari ke kulkas. Dia kira adzan Maghrib padahal adzan Dzuhur." Terkekeh, Nuha pun terkekeh pelan sembari memegangi perutnya. "Dan nanti nih kalau sama Umma di tegor, dia pasti kesal mengeluh karena adzan Maghrib tidak kunjung datang. Hahaha."


"Umma ya Allah, sudah jangan di bongkar semua."


"Tapi A'a... Ini lucu, lagi ya? Dulu tuh kecilnya A'a iseng banget tahu. Kamu masih ingat mbak puji kan, A'…?" Tanya Umma, salah satu mbak rumah tangganya dulu. "Kamu ingat pernah nyiram mbak puji pas mbak puji lagi menjemur pakaian kan? Cuma Gara-gara baju baru kamu di cuci?"


"Astagfirullah al'azim A'a...? Kok jahat sekali sih?" Nuha geleng-geleng kepala. Sok bilang jahat sekali si Nuha ini, tidak ingat sendirinya dulu juga pernah iseng sama mbak Rani, bahkan sampai melempar petasan banting ke arah mbak Rani yang lagi masak. (Mbak Rani asisten rumah tangga ustadz Irsyad dan Rahma dulu.)


"Umma? Sudah ih... Tidak asik Umma nih." Bersungut, sementara Umma Hasna hanya tergelak.


"Nuha tahu? A'a suka main orang-orangan kertas? Sama bola bekel loh dulu?"


"Allahu Akbar Umma..." Faqih semakin malu kepada Nuha yang sudah tersenyum penuh arti ke arahnya.


'ternyata ya? Guru killer ini sukanya mainan cewek juga dulu.' batin Nuha terkekeh dalam hati.


"Dan lagi ya neng?"


"Umma... Sudah... Sudah cukup." Memeluk ibunya, sementara Umma Hasna hanya tergelak.


"Belum A'a... Masih ada yang lucu, waktu di Sukabumi ya neng?"


"Nggak... Nggak... Jangan, Umma jangan ya... Faqih mohon." Menahan sang ibu agar tidak berbicara lagi, tentang hal memalukan A'a saat lomba panjat pinang di sana. Keduanya tertawa lepas.


Saat ini Nuha tengah tersenyum senang, karena yang ia fokuskan bukanlah obrolan itu, namun tawa lepas Umma Hasna seperti saat Umma Hasna tertawa bersama Zahra waktu itu. Dan kini dia akhirnya bisa melihat tawanya itu.


Di sela-sela mengobrol, sebuah ketukan pintu membuat ketiganya menoleh. Abi Irsyad dan Umma Rahma datang dengan senyum tersungging di bibir keduanya.


"Assalamualaikum, ya ukhti...?" Abi Irsyad menyapa Umma Hasna, seraya menelungkup kan kedua tangannya di depan dada.


"Walaikumsalam warahmatullah." Membalas sapaan ustadz Irsyad, beliau lantas beralih pada Rahma saling memeluk antara satu sama lain.


"Waah, Teteh sudah di sini?" Tanya Irsyad.

__ADS_1


"Iya... Soalnya tadi A' ustadz ada kelas pagi, jadi nganterin kesini sekalian."


"Oh... Ustadz Rahmat sudah di kampus ya?"


"Iya tadz."


"Ya sudah kalau begitu saya langsung jalan saja." Abi Irsyad mendekati Nuha sejenak, mengecup kening dan kedua pipinya. "Bagaimana dek? Sudah enakan kan?"


"Masih agak sakit Bi, cuma miring kanan kiri udah bisa, duduk juga pelan-pelan." Jawab Nuha.


"Alhamdulillah kalau begitu," tersenyum senang seraya mengusap kepala Nuha. "Ya sudah Abi ngajar dulu, nanti kesini lagi ya."


"Iya Bi." Jawab Nuha berseri. Hari ini seperti ada rasa semangat baru untuk Nuha. Dimana dia bisa mendapatkan kasi sayang dari semuanya, seperti lengkap saja rasanya. berharap kebahagiaan ini lebih lengkap lagi saat dirinya bisa memberikan keturunan untuk sang suami, juga cucu untuk keempat orang tuanya.


Nuha menyentuh perutnya sendiri mengusap pelan.


'Semoga cepat hadir dalam rahim ku, bibit yang berkembang dari A'a.' batin Nuha tersenyum haru.


Hingga saat Abi Irsyad telah keluar setengah jam yang lalu...


Rahma dan Hasna sedang mengobrol di luar, berbicara yang entah apa.


Sementara A'a tengah menyuapi sang istri potongan buah segar yang di bawa Umma Rahma tadi.


"Jangan itu terus A'... Nuha tidak begitu suka."


"Jangan milih-milih sayang, ini juga enak."


"Kurang ada rasanya. Yang itu saja pirnya." Tunjuk Nuha, alih-alih menusuk potongan pir itu dengan garpu, A'a malah menusukkan potongan kiwi.


"Kok kiwi sih, itu asem nggak mau."


"Semuanya harus di makan neng jangan milih-milih."


"Ck... A'a sukanya gitu ya, yang Nuha nggak suka selalu di paksakan." Bersungut namun tetap membuka mulutnya. Faqih terkekeh, dia menggeser garpunya membuat mulut Nuha mengikuti gerakan itu, lalu di alihkan lagi ke kiri. Nuha melirik.


"Jangan mulai ya A'?"


"Mulai apa? A'a diam aja tuh."


"Diam aja katanya? Memang Nuha tidak kerasa apa?" Membuka mulutnya lagi mendekati potongan kiwi dari tangan A' Faqih. Dengan senyum jailnya di jauhkan lagi buah itu.


"A' Faqih–" rengeknya sebal.

__ADS_1


"Apa, Ya Hilwah...?" (Manis ku.) panggilan itu membuat Nuha tersipu, dia tersenyum malu-malu.


"Apa sih A'a, manggilnya ih... Lebaaaaayy."


"Senang kan pasti, di panggil itu?" Tersenyum sinis.


"Senang nggak ya?" Mengetuk-ketuk dagunya dengan ujung jari telunjuknya, seraya menatap ke atas langit-langit. Lalu melirik ke A'a yang sudah tersenyum kearahnya, Nuha pun tersenyum. "Aaaaaa.... Pengen di peluk." Mengulurkan kedua tangannya kepada Faqih yang langsung tergelak gemas. Dia menoleh, ke pintu lalu mencondongkan tubuhnya berbisik.


"Pengen peluk saja kah? Tidak mau yang lain?" Bisik A' Faqih. Nuha pun beringsut.


"Iiihh... Puasa ya... A'a nih?"


"Loh? Tanya yang lain kok bahas puasa sih?"


"Ya habis A'a tanya itu kan otak Nuha jadi traveling." Mendengar itu Faqih geleng-geleng kepala dia pun menggetok kepala Nuha dengan garpu di tangannya.


"Aaaauuww, kok di getok kepala Nuha sih?"


"Biar otak kamu, nggak ngeres," balas A' Faqih datar.


"Siapa yang ngeres juga, orang A'a bilangnya yang lain, apa lagi kalo bukan itu coba?"


"Itu apa?" Tanya A' Faqih.


"Ya... Itu... Itu lah pokoknya."


"Ckckckck... Emang istri ku ini ya. Yang lain itu maksudnya belajar sama A'a... Neng tidak kangen belajar apa?"


"Be... belajar? Apa hubungannya peluk dengan belajar coba? Aku yakin yang lain maksud A' Faqih tuh bukan itu."


"Memang itu kok, ya ampun otak mu neng... Ckckck, besok PR mu banyak sekali nih, liat aja pas sembuh nanti ya."


"Huuwwaaaa, A'a Dosen tolong kasih keringanan dong."


"Boleh, bayar tapi ya... Dengan yang lainnya."


"Yang lain lagi Apa? Orang-orangan kertas? Sama bola bekel?" Tanya Nuha yang lantas terkekeh, melihat wajah kesal A'a itu membuatnya puas.


"Beruntung ya lagi sakit, kalau nggak? abis kamu."


"Hahaha... Jangan galak-galak dong A'a sayang." Mengusap wajah Faqih, pria itu pun mendesah.


'bisa-bisanya dia menggemaskan sekali. Ck.' batin Faqih, yang tengah sok menepis tangan Nuha. Namun giliran Nuha melepas sentuhannya, dia raih dan di tempelkan lagi ke pipinya, dengan ekspresi wajah kesalnya. Nuha terkekeh Haduh... A'a... A'a...

__ADS_1


__ADS_2