
Waktu sahur sebelumnya...
Abi Rahmat membantu sang istri menyiapkan hidangan sahur setelah beliau beranjak dari alas sujudnya, di lihat sang istri hanya diam saja.
Bahkan dia hendak menaruh lagi garam pada masakannya, padahal baru saja ia bubuhi garam tersebut. Ustadz Rahmat meraih tangan sang istri, menahannya.
"Neng, kan sudah di kasih tadi garamnya?"
"Hah? Masa sih? Astagfirullah al'azim." Kembali dia masukkan garam itu kedalam wadahnya. "Ya Allah kok bisa lupa sih?"
"Makanya, kalau masak atuh jangan sambil ngelamun Umma. Tingali eta? Untung A'a ngeliat, kalau tidak?"
"Maaf, A'..." Hasna mencicipi masakannya. "Sudah pas, Alhamdulillah."
Ustadz Rahmat geleng-geleng kepala. "Mikirin apa sih? Pulang dari rumah sakit, sampai sekarang. A'a ngeliat kamu mah ya, ngelamun gitu? Ada masalah apa?"
"Masalah apa? Nggak ada kok," jawab Hasna yang tengah mengangkat panci kecil berisikan sayur bayam, memindahkannya ke atas meja. Sementara Abi Rahmat membawa ayam goreng yang beliau goreng tadi mendekati sang istri.
"Jangan bohong jeung A'a neng...? Aya naon?" Bidik Abi Rahmat.
Hasna melirik, 'kalau aku kasih tahu apa yang terjadi antara aku dan Mbak Rahma, bisa nggak jadi sahur. Habis waktu ku cuma buat dengerin dia ceramah.' batin Hasna yang kembali sok sibuk.
"Umma?"
"Apa sih Bi, di bilang tidak ada apa-apa." Menuang air mineral ke dalam gelas, lalu mengulurkannya kepada sang suami. "Yuk sahur, sudah jam tiga lewat dua puluh lima menit." Tutur Hasna. Berharap sang suami tidak menanyakan lagi.
Keduanya duduk dengan Umma Hasna yang langsung menyidukkan nasi untuk ustadz Rahmat.
__ADS_1
"Terimakasih Neng." Ustadz Rahmat menerima itu dengan senyumannya. "Peyek nya itu, tolong Umma." Menunjuk ke arah toples besar. Hasna pun langsung meraihnya mendekatkannya ke pada sang suami.
Dan setelahnya mereka pun mulai menikmati santap sahur berdua. Merasa seperti berbeda pagi ini, suasananya jauh lebih sepi. Padahal biasanya ada Faqih dan Nuha juga di bangku depan mereka berdua. Membuat Hasna diam saja sembari menatap dengan lesu ke depan.
Abi Rahmat melirik. "Kenapa tidak makan Umma?" Tanya beliau sebelum sesuap nasi itu masuk kedalam mulutnya.
"Kenapa mendadak sepi begini ya Bi?" Gumam Hasna. Ustadz Rahmat pun terkekeh.
"Merasa kan sekarang? Padahal baru pagi ini loh mereka tidak sahur di rumah, sama pas waktu Faqih dan Nuha di Bekasi."
"Waktu itu beda. Umma tidak merasakan apa-apa. Tapi pagi ini? Bahkan saat masak tadi saja seperti ada yang kurang." Semakin lesu. Ustadz Rahmat tersenyum, dia mengusap pangkal kepala Hasna.
"Subhanallah... Itu pasti karena biasanya ada Nuha yang bantuin, sekarang tidak ada."
"Nuha?"
"Iya, biasanya ada gadis yang dengan semangatnya bantuin kamu masak kan? Anak perempuan mu itu," Tutur ustadz Rahmat, meneguk minumannya kemudian.
"Umma mulai suka tuh sama anak perempuan Umma."
"Sok tau Abi mah." Gumam Hasna sebelum memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
"kok sok tau sih? bukanya Umma sendiri yang ingin punya anak perempuan? Tapi karena kita cuma di kasih rezeki satu anak. Jadi Umma kaya sedih gitu kan? Sekarang Allah kasih anak perempuan. walau bukan lahir dari rahimmu, tapi dia baik hati dan rajin lagi. Sadar hal itu tidak?" Tanya ustadz Rahmat, Hasna pun menunduk. "Senang kan? Sekarang masak ada yang temenin selain Abi, beres-beres rumah saja anak itu cekatan sekali, bahkan pulang dari masjid habis kuliah subuh, rumah sudah bersih. Abi saja sampai geleng-geleng kepala loh. MashaAllah anaknya ustadz Irsyad itu ya." Puji ustadz Rahmat.
Sementara pujian terus tercurahkan, Hasna pun hanya diam saja. Selama ini dia sering mendengar keluhan para ibu-ibu pengajian yang bercerita tentang menantu mereka yang malas lah, yang jika di kasih tahu membangkang, bahkan ada yang tidak mau mengunjungi mertuanya atau mungkin hanya sekedar datang tanpa mau menginap.
Sementara Nuha? Gadis itu tanpa egois mau tinggal di rumah ini, mengerjakan pekerjaan rumah tanpa di suruh. Bahkan Hasna saja semakin menyadari, kalau dia tidak pernah mendengar menantunya itu menggerutu.
__ADS_1
"Anak mbak Rahma benar-benar, gadis soleha." Gumam Hasna lirih, yang di sambut dengan senyuman bahagia dari ustadz Rahmat, hingga Beliau pun mengucap syukur dalam gumamannya.
Sesaat Hasna mengingat, akan perlakuannya kepada Nuha selama di rumah ini. Bahkan selalu ada rasa malas saat melihat gadis itu menghampiri dia untuk menawarkan bantuannya, yang akan di balas dengan jawaban ketus dari bibirnya, dan herannya Nuha masih saja menyunggingkan senyum. Nuha juga bahkan masih menyanjung dirinya di depan Rahma, bukankah itu sangat jarang terjadi pada anak jaman sekarang? Seharusnya Hasna bersyukur akan hal itu.
***
Kembali ke rumah sakit...
Saat Faqih sudah keluar Umma Hasna melepaskan pelukannya, beliau menitikkan air matanya seraya meminta maaf kepada Nuha.
"Neng? Jujur saja, Umma tidak ada kata-kata untuk mu, selain kata maaf dari Umma, karena sudah membuat mu tidak nyaman di rumah Umma." Tutur beliau tulus.
Sempat bingung sekaligus tidak enak Nuha pun menyentuh wajah sang ibu mertua. Dia menggeleng seraya turut menitikkan air matanya.
"Kenapa Umma minta maaf sama Nuha? Nuha tidak pernah berfikir Umma sudah membuat Nuha tidak nyaman."
"Tapi Umma sering marahin kamu, kamu pasti tidak pernah di marahi kan oleh orang tua mu? Umma memang jahat sayang, Umma egois." Menangis sembari menggenggam tangan Nuha. Gadis itu mengusap air mata sang ibu mertua.
"Nggak Umma... demi Allah tidak. Abi Irsyad juga suka marahin Nuha kok, Umma Rahma apa lagi. Tapi Abi selalu bilang? kalau orang tua menegur itu tidak bisa kita anggap dia galak ataupun jahat, justru karena rasa sayang yang berlebih Umma. Dan Nuha senang kalau Umma mau negur Nuha Karena memang Nuha belum bisa melakukan pekerjaan di dapur dengan baik."
"Tapi kenapa kamu tidak pernah menggerutu? Atau mungkin membantah jika memang tidak melakukan kesalahan? Kadang tanpa alasan loh Umma marahnya." Turut menghapus air mata Nuha. Gadis itu terkekeh haru.
"MashaAllah Umma, Nuha itu selalu di ajarkan untuk tidak merasa benar sendiri. Kalau ada orang berbicara kita harus diam, karena apa? Terkadang membela diri juga malah membuat kita semakin berada pada posisi bersalah."
"Ya Allah..." Memeluk Nuha lagi. "Maaf ya neng, maafkan Umma yang pernah tak menerima mu. Karena Kecintaan Umma dengan Zahra, sampai-sampai Umma tidak sadar bahwa Umma sudah di berikan berlian cantik pilihan anak Umma sendiri."
"Hehehe... Umma jangan sanjung Nuha, kan jadi malu." Mengusap-usap punggung sang ibu mertua. Hasna pun turut terkekeh.
__ADS_1
Dari balik jendela Faqih terkekeh seraya mengusap matanya yang basah, dia bahagia ketika dua wanita yang ia cintai kini bisa saling menerima dan saling mengasihi satu sama lain. Hingga gumaman rasa syukur pun tercurahkan dengan lirih.
'terimakasih sayang, sudah mau bertahan mengambil hati ibu ku.' gumam Faqih menatap Nuha dari jauh.