Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
Adab bertutur kata untuk Umma Hasna


__ADS_3

Saat ini Umma Hasna tengah berdiri sesaat di depan pintu kamarnya dan sang suami. Dengan segelas air putih di tangan dia pun berdoa sejenak, berharap tidak ada teguran apapun dari suaminya. Karena bagaimanapun juga bagi Umma Hasna ucapan seperti itu wajar, dia juga sudah berusaha menyaring kata-katanya.


Bukankah berpendapat itu sah-sah saja? Begitu pikir Umma Hasna. Hingga handel pintu pun bergerak, Umma Hasna terkesiap seketika saat pintu itu tiba-tiba terbuka. Sebenarnya bukan hanya Umma Hasna, Abi Rahmat pun juga sama terkejutnya karena ada sang istri yang sudah berdiri di depan pintu kamar.


"Ngapain di sini? A'a nungguin kamu dari tadi." Tutur beliau sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Ini, kan tadi Hasna ambil air dulu."


"Emmm, terus? Ngapain di depan pintu, tidak langsung masuk."


"Ya tidak apa, sedang baca doa saja sebelum masuk kamar." Jawab Umma Hasna.


"Cepat masuk," titah ustadz Rahmat seraya bergeser, memberi jalan untuk istrinya, dengan tatapan mata mengikuti sang istri, setelah itu beliau pun menutup pintu kamar mereka.


Sejenak Umma Hasna duduk di atas ranjang mereka, dan setelah Abi Rahmat juga duduk, dia pun menyerahkan air minum tersebut pada sang suami.


Sedikit melirik Ustadz Rahmat pada istrinya seraya meraih gelas di tangannya. Setelah membaca bismillah dan meminumnya, ustadz pun menyerahkan kembali gelas itu yang langsung di terima Umma Hasna.


Ustadz memiringkan tubuhnya memunggungi sang istri.


"Pijat bagian sini neng." Titah ustadz Rahmat menepuk-nepuk bahunya sendiri Umma Hasna pun menaikan kedua kakinya dengan bertopang kedua lututnya yang di tekuk agar posisi duduknya lebih tinggi, dan ia pun mulai memijat bahu suaminya.


Hening sesaat sih, namun hal itu justru membuat Umma Hasna lebih takut lagi.


Di sini yang tegas memang tidak hanya ustadz Irsyad, namun ustadz Rahmat juga pada istrinya. sehingga membuat dua wanita itu lumayan segan dengan para suaminya.


Beberapa menit berlalu, Ustadz Rahmat masih belum membuka suara, sehingga sedikit kelegaan di hati Umma Hasna. Iya mungkin Suaminya memang sedang minta di pijat.


"Neng?" Panggil Abi Rahmat yang langsung membuat Umma Hasna terkesiap, padahal beliau hanya memanggil saja dengan suara yang pelan. namun karena sedari tadi dia tegang di tengah keheningan ini, kemudian ustadz Rahmat tiba-tiba memanggil, terus terang saja hal itu jadi membuatnya terkejut.


"Iya?" Jawabnya Umma lirih, tangannya masih memijat Suaminya.


"Mau gantian?" Tanya ustadz Rahmat.


"Tidak A' sudah A'a saja yang di pijit," jawabnya.


"Putar posisi." Titah ustadz Rahmat.

__ADS_1


"Tidak usah Bi." Berbicara sehalus mungkin.


"Putar posisi, A'a bilang!" Tegas. Umma Hasna pun menurunkan posisi duduknya lalu memutar tubuhnya sendiri memunggungi sang suami yang mulai memutar menghadap Umma Hasna.


"Bismillahirrahmanirrahim." Ustadz Rahmat mulai memijat pundak sang istri pelan. "Enak?"


"Emmm. Enak," jawab Umma Hasna. 'si Abi ngapain ngajak pijat-pijatan begini sih. Meni ngeri ih...'


"Mana lagi yang mau di pijat, kaki? Tangan? Atau kepala?" Tanya Abi Rahmat.


"Sudah, ini saja cukup Bi," jawab Umma Hasna. 'di tawarin seperti itu malah kaya di suruh milih bagian mana yang mau di mutilasi sama si Abi.'


"Umma?" Panggil beliau pelan dengan tangan masih bekerja.


"Iya?"


"Tahu tidak tadi pijatan Umma kurang enak buat Abi, lebih enak pijatan tukang pijit."


"Kok gitu sih ngomongnya?" Umma Hasna langsung menoleh tidak suka.


"Kenapa? Abi cuma ingin bicara jujur, mungkin karena tangan Umma terlalu kecil kayanya. Jadi pijatannya kurang kerasa, kalau tukang pijit kan enak."


"Kok malah di suruh nyari tukang pijit? Umma harusnya lebih belajar lagi. Dan menyadari kalau pijatan Umma itu kurang enak, makanya Abi minta gantian supaya kamu paham. Jika memijat yang baik tuh seperti ini." Kedua tangannya menekan-nekan.


"Kenapa tiba-tiba ngebahas pijatan Umma sih? Biasanya Abi diam saja tuh, tidak pernah ngebanding-bandingin, rese Abi mah, bikin kesal saja."


"Abi diam karena tidak mau Umma tersinggung," jawab Ustadz Rahmat masih terus memijat bahu istrinya.


"Terus kenapa baru bilang Sekarang, setelah puluhan tahun menikmati pijatan Umma. Abi pikir kalau bilangnya sekarang Umma tidak akan tersinggung apa?"


"Umma kesal Abi bilang seperti itu? Bukannya itu pendapat saja ya? Harusnya di terima dong sama Umma."


"Ya tapi kan, kenapa baru sekarang bilang tidak enak? Di tambah ngebanding-bandingin pula, Padahal selama ini diam saja kalau sedang di pijit? Pakai bilang takut bikin tersinggung sagala, naon? sama saja atuh Abi. Sakit hatina." Umma Hasna bersungut.


"Umma bisa merasa sakit hati??"


"Abi pikir? Sudah lah tidak usah pijit Umma, mending siap-siap saja mau trawih kan?" Umma Hasna beranjak.

__ADS_1


"Duduk!" Titah Abi Rahmat. Dan Umma pun kembali duduk.


"Coba menghadap ke A'a dulu." Ucap Abi Rahmat, Umma Hasna langsung memiringkan tubuhnya menghadap sang suami.


"Kalau neng bisa tersinggung, tak menutup kemungkinan Nuha juga akan tersinggung kan, sama ucapan neng?" Ucap Abi Rahmat.


"A'a mau membahas tentang Nuha? Kenapa atuh, harus pakai ngomongin pijitan Hasna dulu? Memang Hasna tadi berbuat kesalahan yang besar ya sampai harus seperti ini, lagi pula tadi Hasna tuh cuman berpendapat?"


"Berpendapat? Kalau begitu Sama atuh neng, kalau A'a juga berpendapat tuh tadi, tentang pijitan neng Hasna yang kurang enak," jawab Abi Rahmat yang langsung membuat Umma Hasna bungkam dengan kepala tertunduk.


"Maaf ya neng, A'a bicara seperti ini bukan untuk membela menantu lalu menyalahkan mu, atau mungkin ucapan mu yang keterlaluan ataupun tidak. tapi A'a ini sudah bicara berkali-kali pada mu kan? Kalau Rosulullah lebih menyarankan kita untuk diam dari pada bertutur kata namun menyakiti."


"Kalau neng hanya diam saja, nanti di kira jutek. Berbicara salah, yang benar seperti apa?? Kan memang perangai neng seperti ini, suka bicara, tidak ada maksud tuh menghujat masakan Nuha."


Abi Rahmat menghela nafas. Lalu diam sejenak.


"Jadi menurut neng Hasna, A'a gitu yang salah, karena sudah berbicara seperti ini? Ya sudah A'a minta maaf sudah bikin neng tersinggung, memang neng mungkin tidak suka A'a bicara, lebih baik A'a diami saja ya."


"Nggak A'... jangan seperti itu, maaf... maafkan Hasna. Hasna salah. Memang Hasna yang bukan istri Soleha."


"Kan bilangnya seperti itu. Sini... Sini.... A'a tuh sayang sama neng Hasna kok, makannya A'a mau neng Hasna jadi wanita yang lebih lemah lembut lagi, karena lisan itu memang harus di jaga neng. Paham kan?" Abi Rahmat sudah memeluk istrinya.


"Iya paham." Jawab teh Hasna lirih.


"ya Allah neng geulis kesayangan ku, nih ya... Abi cuma pengen Umma bisa jadi ibu mertua yang baik untuk menantu kita, karena kadang seorang menantu bisa membenci kita hanya karena hal sepele seperti ucapan loh. Mungkin di awal-awal akan diam saja, namun kalau terlalu sering lama-lama mereka bisa menjawab ucapan mu, dan kalau Umma tidak terima, akhirnya jadi cekcok." Sambung Abi Rahmat kemudian


"Iya maaf, Abi kan tahu tabiat Hasna seperti ini. Kadang ucapan terlontar begitu saja."


"Tahu Abi mah... Cuman sikap kurang sukanya Umma karena Faqih lebih memilih Nuha dari pada Zahra itu juga terlihat. Jangan seperti itu ya Umma, belajar mencintai menantu mu, walaupun dia bukan menantu idaman mu. Karena sebaik-baiknya seorang menantu pasti ada hal buruknya juga."


"Iya Bi... Iya."


"Ya sudah Abi maafkan, kalau masalah tadi sih Abi masih bisa memaafkan, namun jangan coba-coba berbicara keras apalagi sampai menangis anak orang ya Umma, kasian loh. Nuha bersedia ikut kita itu dia sudah berusaha sekali. Bahkan tadi sampai masak untuk kita, kan enak. Umma pulang dari Sukabumi dalam kondisi lelah eh, sudah ada masakan di meja makan untuk berbuka. Itu kan satu nikmat yang perlu Umma syukuri."


"Iya Bi... Tapi kan kalau Umma ngasih tahu ke Nuha itu hal wajar, biar lebih pintar dianya."


"Benar... Itu benar Umma, cuman kalau bisa sehalus mungkin, karena apa? Menantu itu paling sensitif terhadap ucapan mertuanya. Jadi pelan-pelan ya kalau ngomong sama menantu satu-satunya kita itu."

__ADS_1


"Iya."


"Ya sudah yuk siap-siap ke masjid, kita sholat tarawih." Ajak Abi Rahmat, Umma Hasna pun mengangguk. Lalu keduanya beranjak guna bersiap.


__ADS_2