Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
pertanyaan yang menyinggung A'a


__ADS_3

Gadis itu kembali menoleh ke arah Faqih yang dengan sigap mengulum bibirnya sendiri menahan tawa.


"Dia nggak ngikutin kan A'...?" Tanya Nuha.


"Nggak, ngapain?" Meraih tubuh Nuha menggendongnya. Gadis itu pun gelagapan. "Kamu percaya sama yang begituan?" Tanya Faqih mengecup bibir yang hendak menjawab.


"Percaya lah, kenapa nggak?"


"Tapi kan A'a cuma bercanda." Tutur beliau mulai melangkahkan kakinya menuju kamar. Rumah mereka hanya rumah berlantai satu, jadi kamarnya tidak lah jauh dari dapur. Gadis itu hanya diam saja, tidak peduli sang suami mau bilang apa? Karena saat ini dia kembali berdebar. Terlebih saat sudah berada di kamar mereka, dan A'a mulai menurunkan tubuh Nuha di atas ranjang tersebut, lalu melepaskan hijab Nuha dan mengecup kening sang istri lembut.


"Neng..." Membelai lembut rambut Nuha, gadis itu pun menatap balik kearah mata A' Faqih. Hingga tatapannya beralih pada sesuatu di belakang tubuh sang suami.


"A'a, itu." Menunjuk ke belakang A'a. Faqih pun menoleh kebelakang pelan.


"Itu kamar mandi kan? Pintu hijau itu." Masih menunjuk lalu menghadap A' Faqih lagi. Yang sudah kembali menatapnya.


"Iya... Memang kenapa?" Menjawab dengan enteng.


"Itu kamar mandi di dalam kamar, kenapa nunjukinnya kamar mandi yang di luar sih? Kenapa A'a nggak ngomong juga ada kamar mandi lain."


"Kamu nanya nggak tadi?"


"Nanya kan tadi."


"Kamu tanya ada kamar mandi nggak, ya A'a jawab ada di belakang."


"Ya tapi kenapa nggak nunjukin yang di kamar saja sih, bikin kesal saja?"


"Sengaja neng biar kamu kenalan." Terkekeh.


"Tauh aaahhh..." Merebahkan tubuhnya membelakangi A'Faqih.


"Menghadap sini." Titah sang suami.


"Nggak...!" Nuha menutup tubuhnya dengan selimut.


"Neng?" Panggil Faqih lembut.


"Apa? Males Nuha sama A'a." Masih membelakangi. Faqih pun meraih bahu Nuha lalu membalikkan tubuhnya dan mengungkung gadis itu.


Melihat Nuha yang memajukan bibirnya, Faqih pun meraih dagu sang istri mengecupnya.


"Maaf... A'a hanya bercanda." Ucapnya datar, dengan tangan membelai rambut Nuha lembut. Gadis itu pun hanya diam saja tidak ingin menjawab. "Jangan ngambek kesayangan." Faqih melepaskan kancing baju Nuha, karena terdapat kancing di bagian depan. "Kalau kamu ngambek, bagaimana A'a bisa mendapatkan anak cepat dari mu."


Faqih menurunkan wajahnya mengecup area putih bersih yang sudah terbuka itu.


Nuha masih diam saja, memejamkan matanya, menikmati cumbuan di area dadanya.

__ADS_1


Faqih mengangkat kepalanya, sementara Nuha sudah membuka mata lagi.


"A'a mau melakukannya sekarang, dan nggak akan lama... Tapi kalau neng lelah, besok juga nggak apa-apa." Ucap Faqih dengan suaranya yang halus.


"Nuha tidak mau membuat suami ku ini semakin menunggu lama." Mengusap wajah A'a. Faqih tersenyum, dia pun menoleh ke arah jam.


"Okay... Lima belas menit mungkin." Ucapnya membuat Nuha terkekeh, dan menahan bibir Faqih yang hendak mengecupnya lagi.


"Dengar tidak adzan isya?"


"Wah iya... Yuk kita Solat dulu." Ajak A' Faqih seraya menutup lagi kancing baju Nuha menutupi area dadanya.


Hingga ke-duanya beranjak, menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat isya bersama-sama.


***


Dua jam kemudian...


Faqih menuntaskan hasratnya, bersama Nuha. Setelah menunggu lama, Faqih pun bisa melepaskan dahaganya. Hingga keduanya bebersih sejenak lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sementara Nuha meraih bukunya yang ia beli tempo hari, dan kembali duduk di sebelah A' Faqih.


"Tidur neng katanya lelah." Faqih menarik-narik lengan Nuha memintanya untuk segera merebahkan tubuhnya di sebelah dia.


"Nanti A'... Rambut ku masih basah." Ucap Nuha. Faqih pun beranjak duduk lalu kembali menarik lengan Nuha agar duduk menyandar di dadanya saja. Gadis itu pun menurut bergeser sedikit sampai di dekat A'a.


"Kamu baca apa?" Tanya A'a mengecup bahu Nuha.


"Ini..." Menunjukkan bukunya. Mata Faqih sedikit melebar saat membaca judulnya.


"Nggak A'a... Nuha cuma penasaran dan ingin membacanya saja."


"Tapi judulnya ngeri neng... Apaan sih 'berdamai dengan ego, dan mengikhlaskan suami untuk berpoligami.' nggak... Nggak..." hendak merebut buku itu.


"Penasaran A'... Sedikit saja."


"Ck."


"A'a... Nuha cuma baca di bagian ini, ketika Siti Sarah meminta Nabi Ibrahim untuk berpoligami." Jawabnya, dengan suaranya yang lembut sehingga membuat Faqih luluh dan mengizinkannya.


Baru beberapa menit Nuha membaca, dia pun menutup kembali.


"A'...?" mendongak.


"hemmmm?" Mengecup kening Nuha.


"kalo nasib ku seperti Siti Sarah yang tidak bisa memberikan keturunan pada mu. Apa A'a mau menikah lagi?" Tanya Nuha tiba-tiba.


"Tidur yuk sudah malam." Menarik buku itu dari tangan Nuha, tanpa menjawab pertanyaan paling tidak ia sukai.

__ADS_1


"A'a, aku lagi baca. A'a juga belum jawab."


"Kenapa mesti tanya hal yang tidak perlu di bahas sih? Memang kamu bisa menjamin, ada wanita yang akan sama persis dengan Siti Hajar?"


"Kalau ada?" Tanya Nuha lagi.


Fiqih menatap lurus kearah Nuha, lalu mengecup keningnya agak menghentak. "Tidur, dan bangun pagi." Menarik tangan Nuha kemudian.


"A... Nuha cuma mau tanya saja, kenapa sih?"


"Harus ya tanya hal seperti itu. Itu sama saja doa neng? Memang neng mau apa? A'a poligami."


"Mungkin, kalau kenyataan seperti itu, aku tidak bisa memberikan A'a keturunan."


"Ini yang A'a tidak suka, ketika kamu baca tentang cerita yang seperti ini lalu berandai-andai. Sekarang A'a tanya... Kalau A'a menikah lagi yakin kah kamu akan benar-benar ikhlas, ketika A'a tidur dan berjima dengan wanita lain?" Tanya Faqih, Nuha pun hanya terdiam. "Kau tidak bisa menjawab kan?"


"A'a marah ya?"


"Jelas neng, omongan itu doa. Kalau sampai terqobul bagaimana? Siapkah kamu melihat A'a mendapatkan anak dari madu mu?" Nuha terpaku. "Tidak menutup kemungkinan kamu sendiri akan menyerah dan akhirnya meninggalkan A'a... Dan kalau itu sampai terjadi, yang terluka tidak hanya dirimu. Namun A'a juga." Mata A' Faqih mulai basah.


"Maaf A'... Nuha tidak berfikir sampai ke sana."


"Jangan bicara lagi tentang hal-hal yang seperti itu neng, A'a tidak suka."


"Iya A'... Nuha minta maaf." Di pelukannya sang suami, agar beliau tidak semakin marah kepadanya.


"A'a cuma ingin menikah hanya dengan mu, dan memiliki anak dari rahim mu Nuha Qanita, jadi jangan pernah berbicara yang tidak-tidak ya." Membalas pelukan Nuha erat.


"Iya A'a... jangan marah lagi ya... Nuha benar-benar minta maaf." Ucap gadis itu, Faqih menatap dalam-dalam wajah Nuha. Hingga di berikannya sebuah kecupan sayang di bibir sang istri seraya merebahkan tubuhnya.


"Tidur sudah malam, A'a cuma mau memikirkan hal yang indah-indah saja. Lagi pula Ahad besok kita mau ke Bogor kan?" Ucap A'Faqih, Nuha mengangguk pelan. "Ya sudah tidur ya. A'a sayang sama neng." Mengecup kening Nuha.


lalu kembali merebahkan tubuhnya di sebelah Nuha, pria itu pun mulai memejamkan matanya. Sementara Nuha menatap sejenak.


'bodohnya, kenapa aku tanya seperti itu. Semoga tak menjadi nyata. Dan suami ku ini tetap menjadi suami ku seutuhnya.' Nuha mendekati bibir A' Faqih mengecupnya. Sementara A'a hanya tersenyum tanpa membuka matanya lagi membuat Nuha terkekeh.


"Tidur neng, wallahi A'a lelah sekali." Mempererat pelukannya.


"Iya A'a." Mengusap-usap wajahnya di dada A'a membuat sang suami terkekeh.


"Ngapain sih, nanti A'a nggak tidur-tidur malah." Suara A' Faqih mulai serak.


"Hehe, dada A'a lebih nyaman dari bantal."


"MashaAllah..." gumam Faqih semakin lirih. Nuha tahu suaminya sudah ngantuk berat, dia pun membiarkan suaminya tertidur.


Hingga malam semakin larut, usap-usap lagi wajah itu di dada A'Faqih, mendongak sejenak. pria itu sudah tidak merespon, nafasnya pun sudah semakin terdengar pertanda dia benar-benar terlelap.

__ADS_1


"Gemas melihat A'a tidur... Tampannya nambah." Terkekeh tanpa suara, Nuha pun menguap, lalu berusaha memejamkan matanya dan tertidur dalam pelukan hangat antar satu sama lain.


Bersambung...


__ADS_2