Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
percakapan Rahma dan Hasna


__ADS_3

Hingga malam semakin larut, keluaga pak Huda sudah pulang begitu juga dengan Zahra. Terlihat ustadz Irsyad dan Ustadz Rahmat sedang duduk bersebelahan begitu juga dengan Rahma dan Hasna.


Semakin kikuk Keduanya duduk tanpa sepatah kata pun keluar dari masing-masing mulutnya. di temani suara serangga malam di tengah heningnya lorong rumah sakit.


"Teh Hasna." Panggil Rahma lirih memecah keheningan. Jarak bangku ustadz Irsyad dan ustadz Rahmat dengan para istri mereka lumayan jauh, itu sebabnya Rahma bisa membuka suaranya. Hasna menoleh.


"Apa Teteh masih menyimpan kekesalan dengan saya?" Tanya Rahma menatap lurus ke depan. Hasna pun terdiam, tidak ingin menjawab. Hingga helaan nafas Rahma membuat Hasna semakin merasa canggung. "Maafkan saya, mungkin karena ketidak cocokan teh Hasna dengan saya membuat teh Hasna tidak menyukai Nuha. Atau mungkin karena saya pernah mematahkan hati Teh Hasna, teh Hasna jadi?" Kata-kata Rahma terpotong, ketika tangan Hasna menggenggam tangan kanan Rahma. Rahma menoleh.

__ADS_1


"Aku tidak pernah membenci Nuha karena kita pernah cekok mbak Rahma." Ucap Hasna. Rahma terdiam, kembali matanya mulai berkaca-kaca. Dia masih sangat kesal, namun demi menjaga nama baik suami, dan adanya ikatan Nuha dengan Faqih Rahma menahan dirinya yang seolah ingin meluap-luap saat ini.


"Apa anak saya yang kurang baik selama di rumah Teteh? Dia pasti kurang rajin ya? Atau mungkin teteh kecewa karena dia belum bisa masak?" Air mata Rahma menetes. Hasna pun demikian, Beliau menggeleng pelan.


"Tidak Mbak Rahma... Tidak seperti itu. Aku menyadari, anak mu sangat berusaha keras untuk melakukan pekerjaan rumah, di rumah kami," jawab Hasna.


"Ini masalah hati," jawaban Umma Hasna membuat kening Rahma berkerut. "Maaf, Karena saya merasa cocok saja dengan putri kedua dari kak Siti, dan sempat berharap Faqih dengan Zahra akan berjodoh."

__ADS_1


"Hanya karena itu?" Tanya Rahma. Hasna mengangguk. "Jujur saja aku turut terluka. Lebih terluka lagi saat mendengar putri ku masih bisa menyanjung mu, walaupun entah seperti apa hatinya, kau pasti paham maksud ku kan Teh, sebagai sesama seorang ibu. Jika posisi kita di tukar? Bagaimana perasaan mu." Sambung Rahma.


"Maaf... Maafkan saya." Balas Hasna, sembari menggenggam tangan kanan Rahma. Sedangkan Rahma hanya menghela nafas tanpa menjawab lagi, hingga ke-duanya kembali larut dalam keheningan. Menggulir malam yang semakin larut.


Sementara yang di dalam, Faqih masih membacakan suratan untuk Nuha yang sudah semakin terlelap dalam tidurnya.


Dengan tangan terus saja mengusap lembut bagian perut Nuha, berharap rasa sakit itu akan terhalau, dan kekasihnya bisa kembali ceria menyapanya di esok hari.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2