
Masih di siang yang sama, Faqih dan Nuha baru saja tiba di rumah Tafiz. Seperti biasa A'a akan membantu Nuha melepaskan pengait helm milik Nuha dan melepaskan helmnya.
'perut ku semakin sakit saja. Apa aku bilang ke A'a sekarang ya?' batin Nuha yang sedikit meringis. Helm telah terlepas dari kepalanya, ia pun menatap A' Faqih yang kini tengah beralih fokus pada ponselnya yang berdering.
"A'a...?" Panggil Nuha.
"Sebentar ya neng... Kamu ke kantor A'a dulu. Nanti A'a nyusul." Tutur beliau seraya menerima panggilan teleponnya sembari melangkah menjauh.
'telfon dari siapa sih? Akhir-akhir ini A'a tuh kaya sibuk sendiri sama ponselnya.' batin Nuha bersungut. Sempat terbersit pikiran yang tidak baik walaupun langsung saja dia tepis.
Hal yang manusiawi bukan? Jika seorang wanita akan merasa sedikit cemburu dan curiga jika sang suami sering menerima panggilan telepon dari sebrang dengan cara menjauh lebih dahulu. Apalagi lagi Nuha semakin merasa A'a seperti tidak terbuka kepadanya, dalam hal apapun.
Lebih-lebih di ponsel A'a, pada bagian pesan chat nya terpasang kunci layar yang dia sendiri tidak tahu kodenya.
Selama ini Nuha hanya mempercayai keimanan A' Faqih yang akan selalu menjaga ikrar cintanya sendiri. Sehingga membuatnya yakin bahwa A'a adalah pria yang setia, itu kenapa dia tidak pernah berani menanyakan kode pesan chat A'a.
Padahal A'a sendiri sering memegang ponsel milik Nuha, dan hanya Nuha sendiri saja yang jarang menyentuh ponsel milik A'a. Entah lah takut saja, ia tidak ingin di sebut istri yang tidak bisa menghargai privasi A' Faqih, walau pun beliau suami Nuha sendiri.
Kembali pada Nuha yang masih memegangi perutnya, berjalan memasuki ruangan A' Faqih. Nuha meringis sejenak dengan tangan satunya bertopang pada salah satu tiang penyangga atap.
Hingga dari kejauhan seorang pria menghentikan langkahnya. Kak Farhat mengamati gerak-gerik Nuha, sepertinya gadis itu sering kesakitan akhir-akhir ini? Batin Farhat yang merasa kasian.
'apa Faqih tidak tahu jika istrinya sering sakit perut? Aku khawatir, tapi? Sudah lah bukan urusan ku.' Farhat kembali melanjutkan langkahnya, semakin menjauh dari Nuha.
"Astagfirullah al'azim. Bisakah aku mengajar jika seperti ini?" Nuha menoleh kebelakang. "A'a belum muncul juga. ya Allah, A'a sedang apa sih?" Nuha kembali melanjutkan langkahnya.
Di ruang kelas...
Sudah cukup lama Nuha beristirahat di kantor A' Faqih. Dia pun sudah berada di kelasnya saat ini, mulai me-murojaah satu persatu anak-anak di hadapannya. Sementara yang lain mengulangi sendiri-sendiri sebelum menyetor pada Nuha, dengan jarak masing-masing anak lumayan jauh, agar hafalan mereka tak terganggu.
Sejenak Nuha melirik ke kiri dan ke kanan, mencari seorang anak yang tidak nampak beberapa hari belakangan ini.
iya Ziya, sudah lebih dari tiga hari ini gadis kecil itu tidak berangkat, semenjak pertemuannya yang terakhir dengannya, saat dimana Ziya memberikan sebuah kotak musik kepadanya tempo hari.
'dimana Ziya?' bertanya-tanya dalam hati dengan tangan masih memegangi perutnya, entah sepertinya Nuha masih merasakan sakitnya. Walaupun demikian dia tetap fokus me-murojaah hafalan para anak didiknya. "ssshhh..." lagi, dia merasakan kembali sakit yang sepertinya semakin terasa lebih sakit dari sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
'ya Allah, aku kenapa? Kenapa rasanya semakin sakit tidak seperti biasanya.' batin Nuha memegangi perutnya. Dia bahkan seperti tidak bisa meluruskan tubuh yang sedikit tercondong itu.
"Ust? Ustadzah tidak apa-apa?" Tanya salah satu dari mereka yang menyadarinya jika Nuha terlihat seperti tengah kesakitan.
"Pe...perut ustadzah sakit." Jawab Nuha lirih. "Astagfirullah al'azim." Semakin membungkuk.
"Ust. kami antar ke kantor ya?" Tutur mereka yang sudah mengakhiri hafalan mereka. Nuha hendak berdiri namun tidak bisa, seperti semakin kram saja.
"Ustadzah ti...tidak bisa bangun." Nuha mulai menitikkan air mata, rasa sakit itu sudah benar-benar tak tertahankan. Hingga dua orang anak mulai berlari keluar untuk memanggil ustadz Faqih. Dimana mereka mencari ke kelas ustadz Faqih namun sepertinya pengajian itu belum di mulai karena A' Faqih belum datang.
Dua anak itu kembali berlari, mencari bantuan. Dan di sela-sela langkah kecil mereka Keduanyan berpapasan dengan ustadzah Sarah.
"Ust... Ustadzah Sarah–" seru mereka memanggil.
"Kenapa dek?" Tanya ustadzah Sarah.
"Itu, ustadzah Nuha sakit. Tapi A'a ustadz tidak ada di kelas." Kata mereka
"Astagfirullah al'azim. Ayo ke kelas kalian." Ustadzah Sarah berlari cepat. Sampai di kelas Nuha, gadis itu sudah membungkukkan tubuhnya dalam posisi duduk. "Ustadzah? Ustadzah Nuha kenapa?"
"Ustadzah bisa bangun?"
"Hiks... Eng... Nggak ust." Nuha terisak.
"Haduh bagaimana ini?" Dia meraih tangan Nuha, hendak memapahnya. Seketika itu pula teriakan Nuha semakin keras. Hingga ustadz Farhat yang lewat pun langsung masuk keruangan itu.
"Ada apa ust?" Tanya Farhat.
"Ini ustadzah Nuha kesakitan, tapi dia tidak bisa ku bantu bangun." Ustadzah Sarah semakin panik. Farhat pun berjongkok.
"Bagian mana yang sakit ust? Apa perut ustadzah sakit lagi?" Tanya Farhat yang selama ini sudah mengamati gerak-gerik Nuha yang sering merasakan sakit di area perut itu. Sedangkan Nuha benar-benar sudah tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi, selain rintihan. "Ustadz Faqih mana?" Tanya Farhat.
"Anak-anak ini bilang, ustadz Faqih tidak ada di ruangannya. Lalu bagaimana tadz? Kita harus bawa ustadzah Nuha kerumah sakit, dia harus di angkat."
'ya Allah. Aku tidak mungkin menggendongnya.'
__ADS_1
"Aaaaaaa... Hiks, A'aaa..." Isak Nuha memanggil suaminya, rasa sakit itu sudah tidak bisa di tahan lagi. Sehingga membuat mereka yang di sana semakin panik saja.
"Bagaimana ini tadz, ya Allah. Sabar ustadzah Nuha." Ustadzah Sarah mengusap bahu Nuha yang masih saja terisak seraya merintih.
"Tidak ada pilihan lain, Mohon maaf Ustadzah, saya harus mengangkat ustadzah." Perlahan Farhat meraih tangan Nuha. Baru saja tangan itu tersentuh Farhat, Faqih sudah berdiri di depan pintu itu.
"Stop di situ...!" Seru Faqih seraya berlari masuk. Farhat pun melepaskan tangan Nuha.
"Neng, neng kenapa?" Faqih langsung meraih tubuh Nuha dan mengangkatnya. Terdengar teriakan Nuha lagi saat Faqih tengah mengangkat tubuhnya.
"Pelan A' sepertinya istri mu terkena infeksi usus buntu, terlihat dari dia yang merasakan sakit di area perut sebelah kanan." Ujar Farhat sementara Faqih hanya melirik ke arahnya, seolah tak ingin memperdulikan itu.
Dengan cepat dia membawa Nuha keluar dari ruangan kelas tanpa menjawab sepatah kata pun ucapan Farhat, dan lebih memilih untuk segera memberikan sang istri pertolongan.
"Faqih, ku antar saja ya? Kebetulan hari ini saya bawa mobil." Farhat mengikuti di belakang.
"Terimakasih, Aku bisa menghubungi Abi ku." Jawab Faqih berjalan cepat menuruni anak tangga, sementara Nuha masih saja merengek kesakitan.
"Kau tidak lihat ustadzah sudah kesakitan, Faqih." Masih berusaha membujuk. Seolah tidak ingin mendengarkan tawaran Farhat, beliau masih diam saja.
"A'a sakit...! Perut Dede sakit." Nuha meremas kuat baju di bagian bahu Faqih sembari terisak dengan wajah yang terbenam di bagian ceruk leher A' Faqih.
"Sabar sayang." A' Faqih sudah hampir belok ke bagian kantornya. Farhat pun menahan Faqih sekali lagi.
"Faqih, bisakah kau mendengarkanku? Aku hanya mengantarkan kalian. Tolong mengertilah.... Kasian istri mu, dia sudah kesakitan." Ucap Farhat, Faqih pun menghentikan langkahnya. Ia melihat sang istri sudah benar-benar melemah.
'aku tidak boleh mementingkan egoku... Kalau menunggu Abi pasti akan semakin lama.' batin Faqih.
"Ayolah, biar ku antar." Ucap Farhat.
"Baiklah," Faqih mengalah. Pria di hadapannya pun tersenyum.
"Ayo kita harus cepat." Ajak Farhat kemudian.
Dan kini keduanya sudah mulai berjalan cepat keluar dari area rumah Tafiz itu menuju parkiran.
__ADS_1