Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
ku beri nama pada bayi mu, Agam.


__ADS_3

Hari ini, Qori merasa sedikit lega karena sang anak masih berada dalam dekapannya.


Namun dia juga menyimpan rasa tidak enak sekaligus takut, saat ustadz Farhat bilang dia akan mengganti uang dari keluarga kaya itu, dan bersedia menikahinya, di malam lebaran nanti.


'aku yang akan menjadi ayahnya. Asal jangan kau serahkan bayi itu. Dan akan ku bayar hutang ayah mu pada keluarga kaya itu.' ucapan ustadz Farhat yang ia ingat.


Qori sedikit mendesah, dia mengecup sang anak cukup lama. Lalu menatap sang anak.


"Apa yang terjadi nak? Ibu tidak tahu kekuatan apa, hingga membuat ustadz yang tidak mengenal ibu sebelumnya, tiba-tiba sangat menginginkan mu menjadi anak beliau?" Menitikkan air matanya. Dia pun mengecup sekali lagi pipi Agam. Iya... Nama Agam adalah pemberian dari ustadz Farhat.


Kita kembali sejenak di beberapa hari sebelumnya. Saat Qori baru saja melahirkan bayinya itu.


Ustadz Farhat mendekati lagi Qori, dan memberitahu bahwa anaknya telah tertidur dalam gendongannya. Dengan hati-hati beliau meletakkan lagi bayi mungil itu ke boks bayi, lalu duduk di kursinya.


"Sudah memikirkan nama untuknya?" Tanya beliau. Qori pun menggeleng pelan.


"Biar orang tuanya saja yang akan memberikannya nama," jawab Qori, sedikit bingung dengan jawaban itu. Bukankah dia orang tuanya? Begitu pikir Farhat.


"Orang tuanya? Maksudnya?" Tanya Beliau, Qori melirik ke arah Haidir dan pak lek dari ustadz Farhat yang masih berada di dalam ruangan itu. Lalu menunduk kemudian.

__ADS_1


"Aku sebenarnya menyewakan rahim ku untuk pasangan suami istri kaya. Dengan proses bayi tabung, tanpa berhubungan badan." Jawab Qori lirih.


"Bayi tabung? Tapi...?"


"Aku bisa hamil dengan cara tanpa berhubungan badan, dengan cara pengambilan sel telur dari ovarium wanita untuk dibuahi dengan cairan milik suami dari wanita itu, sehingga pembuahan terjadi di luar rahim.


Sedangkan Telur yang sudah dibuahi ini kemudian diimplantasikan ke dinding rahim saya, sehingga terjadah kehamilan. Itu yang saya dengar dari dokter." Potong Qori. "Saya hanya tidak mau berzinah ustadz, dan saya bersyukur ada proses yang seperti itu." Sambung Qori kemudian.


"Tapi itu sama saja haram mbak. Karena melibatkan orang ketiga, apalagi dia bukan suami mu." Tutur Farhat dengan tatapan iba. Terlebih saat Qori kembali menangis.


"Saya terpaksa melakukan itu. Sungguh ustadz. Saya masih menjaga kehormatan saya. Bahkan saya juga menjaga pandangan saya dengan lawan jenis selama ini. Namun demi hutang ayah saya. Saya bersedia melakukan itu. Walaupun saya harus mendapatkan kecaman di luar." Terisak.


Di sana pak lek Hilman geleng-geleng kepala, dia baru tahu kejadian yang sesungguhnya. Memang benar tak selamanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya, contohnya saja Qori. Semalam ini yang ia tahu, Qori memang seorang gadis rumahan yang sangat jarang keluar jika tidak untuk keperluan penting seperti sekolah dan yang lainnya. Semenjak lulus SMA dia memang lebih banyak berdiam diri di rumah.


"Astagfirullah al'azim..." Farhat semakin iba di buatnya, dia pun menoleh kearah boks bayi mengusap pipi dari bayi suci itu dengan lembut.


"Ustadz, apa saya berdosa juga?"


"Iya." Jawab Farhat tanpa menoleh ke arah Qori. "Lebih berdosa lagi jika kau tetap menyerahkan bayi ini serta menerima uang dari mereka." Sambungnya.

__ADS_1


"Hiks... Saya harus bagaimana ustadz? Saya pun tidak tega menyerahkan dia. Karena sudah timbul cinta untuknya selama sembilan bulan ini saya mengandung."


"Kalau begitu, rawat Agam." Jawab ustadz Farhat, seraya menoleh. "Jangan serahkan Agam kepadanya. Jika kau benar-benar ibu yang baik."


"A... Agam?" Qori mengusap air matanya.


"Ku beri dia nama Agam. Abdilah Abqari Agam, yang artinya Anak laki-laki cerdas dan kuat yang mengabdi pada Allah." Jawab Farhat. Air mata Qori semakin menderas.


"Subhanallah ustadz, anda mau memberikan nama untuk anak saya? Nama yang sangat indah, terimakasih ustadz. Terimakasih banyak." Terharu.


"Tolong rawat anak ku ini, dik Qori." Tutur beliau, Seperti sebuah mantra yang langsung membuat gadis itu terpaku, saat ustadz Farhat menyebut dia dengan sebutan dik Qori lebih-lebih kata anak saya. "aku bersedia menikahi mu dan menjadi ayahnya. Asal jangan kau serahkan bayi itu. Dan lagi akan ku bayar hutang ayah mu pada keluarga kaya itu." Sambung Farhat, pak lek Hilman pun langsung mendekati Farhat.


"Farhat, kita bicara dulu yuk di luar." Ajak beliau.


"Nanti pak lek, saya belum selesai bicara dengan Qori." Jawab Farhat, tatapannya masih tertuju pada gadis itu. "Mau ya? Mas nikahi di malam takbir ini."


"Allahu Rabbi. Farhat... Ayo keluar dulu sebentar." Lek Hilman sudah meraih tangan Farhat dan menariknya keluar, sementara Qori masih mematung karena dia pun tidak percaya.


"Qori, mas Farhat itu pria yang tulus. Kau mungkin akan bahagia setelah ini." Ucap Haidir Seraya tersenyum dan turut keluar, meninggalkan gadis yang masih mematung. Tiba-tiba saja kedua tangannya menjadi dingin dan gemetaran.

__ADS_1


"Ma...malam takbir? Tiga hari lagi kan, Malam takbir? Mungkinkah mas Farhat akan? Ya Allah." Qori masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar tadi.


Namun melihat ekspresi paman dari ustadz Farhat itu, sepertinya beliau kurang setuju. Dia pun menghela nafas dan berusaha untuk tidak begitu berharap dengan ucapan Farhat tadi, dan mulai menengadahkan kedua tangannya memanjatkan doa. Berharap jika ustadz Farhat memang serius dan Allah meridhoi maka dia berharap untuk di lancarkan segala urusannya. Namun jika ternyata tidak, semoga hatinya bisa di berikan kekuatan ketika dia harus kehilangan Agam.


__ADS_2