Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
berharap (extra part)


__ADS_3

Apa ini?


Duka yang tiba-tiba merundung di tengah kebahagiaan?


Kenapa senyum ini tiba-tiba berubah jadi sendu? Padahal tadi baik-baik saja...


Ya.... Dunia memang seperti itu. kesedihan, dan kebahagiaan akan datang secara bergantian atau mungkin secara bersamaan. Selayaknya hujan yang turun di tengah sinar terik. Terlihat cerah namun ternyata awan tetap menjatuhkan rintik hujannya secara tiba-tiba.


Seperti itu pula gambaran suasana hati Nuha.


Yang tiba-tiba merasakan ketakutan berlebih, akan kehilangan sosok wanita yang paling ia cintai seumur hidupnya.


Gadis itu berjalan lunglai keluar dari dalam ruang ICU.


Sementara A'a yang melihat Nuha langsung beranjak, di susulnya Nuha yang tengah memaksakan senyum namun berderai air mata hingga sebuah pelukan erat ia berikan, membuat tubuh sang istri kembali bergetar karena Isak tangisnya.


"A'a... Hiks... A'a," Nuha tidak bisa berkata-kata.


"Sabar sayang... Sabar ya."


"Nuha takut kehilangan Umma, Nuha sayang Umma."


"Iya sayang A'a tahu. Tapi Kamu harus sabar, A'a yakin Umma akan baik-baik saja." Faqih berusaha terus menenangkan Nuha.


Hingga tak lama, Rumi pun keluar dengan ke-dua mata yang memerah dan basah. Dia kembali mengusap matanya di depan ruangan ICU itu, membuat Faqih mengusap lengan Rumi saat pria itu menghela nafas karena jarak mereka tidak begitu jauh. Rumi tersenyum dan mengangguk pelan, kode dia tidak apa-apa.


Rumi pun melanjutkan langkahnya menuju kursi tunggu, dan duduk di sana dengan posisi tercondong kedepan, serta kedua telapak tangan mengatup wajahnya.


"Astagfirullah al'azim...." Rumi mengembuskan nafasnya menghalau sesak. Faqih menoleh sejenak ke arah Rumi, lalu kembali menatap Nuha menghapus air matanya.


"Duduk yuk." Ajak Faqih, Nuha pun mengangguk, keduanya berjalan dan duduk dengan jarak yang tidak begitu jauh dengan Rumi.


Faqih mengulurkan air mineral pada Rumi yang langsung menerimanya dan mengucapkan terimakasih, baru lah pada Nuha.


Kraaaakkk. Suara tutup botol air mineral yang ia buka untuk sang istri.


"Neng, kamu belum makan malam. Kita makan dulu ya?" Tutur beliau, sembari memegangi botol yang tengah di minum isinya oleh Nuha.


"Nuha tidak lapar A'...." jawabnya setelah selesai meminum air tersebut.


"Kamu tidak lapar, tapi calon anak kita pasti lapar di dalam. Kamu tidak kasian?" Faqih menyentuh bagian perut Nuha, mengusapnya lembut.

__ADS_1


"Kasian sih, tapi?" Jawab Nuha lirih, hingga perutnya kembali berdenyut. "Ya Allah... Maaf sayang." Ucap Nuha kemudian.


"Kalau begitu makan dulu ya. Kita cari makan di luar. Atau mau A'a carikan saja? Kamu di sini dulu tidak apa?"


"Iya A'..."


"Ya sudah... Kamu mau apa? Mau makan apa?"


"Apa saja A'... Pengennya yang berkuah sih, tapi jangan bakso."


"Soto mau? Pakai nasi?" Tanya A'a mengusap pipi Nuha. Gadis itu mengangguk pelan.


"Terserah A'a, Apa saja."


"Ya sudah A'a cari dulu ya." A' Faqih mulai beranjak saat Nuha mengangguk. Dan mulai melangkahkan kakinya.


"Rumi aku titip Nuha dulu ya. Mau cari makan sebentar."


"Iya A'..." tersenyum.


"Kau mau makan apa?" Tanya A'a menawarkan.


"Tidak usah repot-repot A'... Rumi tidak lapar kok. Buat A'a dan Dede saja." Ucap Rumi menolak halus.


"Serius A'... Tidak usah."


"Tetap akan Aku belikan ya. Kau dan Abi Irsyad pasti belum makan malam kan?" Ucap Faqih.


"Ya sudah A'... Terimakasih apapun yang A'a belikan. Pasti akan Rumi makan kok." Ucap Rumi, Faqih pun tersenyum setelahnya beliau melanjutkan langkahnya meninggalkan dua anak kembar itu.


Sejenak Rumi menoleh, di lihatnya Nuha masih menatap lurus kedepan, sembari sesekali mengusap air mata yang menetes.


Sehingga membuat Rumi berpindah posisi duduk tepat di samping Nuha.


"Dek?" Panggil Rumi, Nuha pun menoleh. "Kamu inget waktu kita masih MI, saat itu kita berebut ayam fillet Krispy, karena punya kamu habis duluan lalu minta punya kakak yang belum di makan?" Ucap Rumi. Nuha pun mengangguk sembari mengusap air matanya.


"Umma kan waktu itu sedang tidak enak badan tuh?? Dan kamu tetap merengek minta ayam itu dari kakak kan. Akhirnya Umma hujan-hujanan pakai payung keluar rumah, gendong kamu dan nuntun kakak, soalnya mbak Rani tidak datang. cuma buat ke mini market beli dada ayam fillet, terus di bikin sendiri sama beliau. Habis itu punya kakak di ambil lagi di campur jadi satu sama buatan Umma, setelahnya di bagi dua, dan?"


"Dan punya Umma tetap tidak enak, bentuknya jelek lagi... Tapi karena di pelototi Umma kita tetap makan kan?" Potong Nuha, keduanya pun terkekeh.


"Lagi... Inget saat Umma bikin ikan bakar? Katanya biar irit pas Abi bilang mau ajak kita makan di luar, saat kita sudah sekolah di madrasah Aliyah?"

__ADS_1


"Emmm... Bukannya irit, malah ikan itu tidak termakan, gara-gara Sisik ikan Nilanya tidak di buang sama Umma, dan masih sedikit ada darahnya." Jawab Nuha lagi. Keduanya tertawa lagi kemudian.


"Ya Allah, ingat sekali. Abi sampai tidak berani mengecak karena Umma kesal pada kita bertiga yang tidak mau makan. Iya kan?" Ucap Rumi.


"Iya... Sampai kita bertiga akhirnya makan mie instan, itu saja Umma sebentar-sebentar jatuhin sesuatu sampai kita tidak berani makan mie instannya." Keduanya tertawa lagi. "Ya Allah... Umma. Jadi ingat setiap masak sayur pare saja tidak pernah di ulenin pakai garam. Nuha baru tahu cara memasak pare itu semenjak di rumah Umma Hasna. Pantes Abi sering menggerutu... Makan sayur rasa obat saking paitnya. Umma sih kalau di ajarin Abi pasti protes dan memilih untuk mendahului Abi saat masak." Kata Nuha.


"Ya Allah..." Rumi tergelak namun dia mengusap matanya yang basah. "Astagfirullah al'azim Umma..."


Keduanya menghela nafas hampir bersamaan, lalu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Mau seperti apapun masakan Umma, kakak tetep merasa masakan Umma paling enak." Gumam Rumi.


"Iya... Nuha setuju, walaupun Umma baperan dan bawel. Tapi Umma perhatian." Menitikkan air matanya, Kepala Nuha miring ke samping, menyandar ke bahu Rumi. "Takut kak... Nuha takut kalau sampai terjadi apa-apa sama Umma."


"Sama Dek... Semoga saja, Umma masih di beri kesempatan untuk berumur panjang ya." Tangan Rumi melingkar di bahu Nuha mengusap-usap bahu saudara kembarnya.


"Aamiin." Gumam Nuha menjawabnya. Waktu semakin berjalan, tanpa jeda sedikitpun.


Kini ketiganya tengah makan di luar, hingga Abi Irsyad pun keluar setelah Umma Rahma tertidur di dalam, meminta Faqih untuk membawa Nuha pulang saja.


Dengan sedikit bujukan sih, karena Nuha menolak untuk pulang awalnya, walaupun akhirnya tetap mengiyakan karena bujukan ketiga pria yang ia cinta itu.


–––


Di rumah Abi Irsyad...


Nuha baru saja keluar tandas setelah mengganti pakaian, bebersih wajah serta menggosok giginya.


Sementara A'a sudah duduk di ranjang mereka dengan ponsel di tangannya, mengecek pesenan madunya di beberapa toko. Setelah mendapati Nuha keluar, A'a kembali meletakkan ponselnya.


"A'? Tadi kan A'a ketemu dokter sama Abi, terus Apa kata dokter?" Tanya Nuha sembari menghempaskan bokongnya di bibir ranjang menghadap ke arah A'a.


"Umma bisa sembuh, namun kemungkinan tidak bisa normal seperti dulu."


"Ya Allah.... Maksudnya tidak normal bagaimana A'?"


"Karena efek dari sakit yang di alami Umma menyebabkan beberapa syarafnya jadi mati dan kaku. Kemungkinan Umma akan lumpuh, atau mungkin lebih dari itu..." Nuha menutup mulutnya dia benar-benar terkejut mendengar kondisi Umma Rahma sampai separah itu. "Namun kita tetap harus ikhtiar neng, dengan terapi dan pengobatan rutin. inshaAllah Umma akan kembali sehat."


"Semoga saja A'... Nuha benar-benar takut." Gumam Nuha, Faqih pun menarik tangan Nuha, agar tidur dalam pelukannya.


"Umma pasti baik-baik saja. A'a percaya sih. Sekarang neng istirahat ya, kasihan yang di dalam sudah lelah karena bundanya jalan-jalan terus. Makannya susah lagi."

__ADS_1


"Iya... Maaf." Membalas pelukan A'a hingga mata itu mulai terpejam walaupun di paksakan.


__ADS_2