
Dalam keheningan di dapur itu, terdengar suara bel dari gerbang depan. Umma Hasna menoleh ke arah Nuha, gadis itu masih sibuk memanggang ayam dengan penuh semangat.
Ia pun melepaskan celemek di tubuhnya lalu berjalan keluar membukakan pintu.
Di depan...
Senyum Umma Hasna melebar, saat mendapati mobil Zahra di sana. Ia juga sudah keluar dan berdiri di depan pagar rumah yang tertutup itu. Dengan senyum manis Zahra, dia menyambut Umma Hasna yang semakin mendekat.
"MashaAllah, geulis... Lama tidak datang kamu neng." Ucapnya bersemangat sembari membuka pengunci pintu pagar itu.
"Assalamualaikum Ummu, apa kabar?" Meraih tangan kanan Umma Hasna, lalu mengecupnya sopan.
"Walaikumsalam Baik Alhamdulillah, maaf tangan Umma kotor ya."
"Tidak apa Ummu.... Ini Zahra hanya mampir sebentar, guna mengantar titipan Abi untuk ustadz Rahmat."
"Ohh... MashaAllah terimakasih ya neng, tapi masuk dulu lah sebentar. Umma sedang masak."
"Terimakasih Ummu, sungguh Zahra tengah buru-buru. Karena Zahra harus kembali ke kantor."
"Hanya sebentar kok, nanti Umma bawakan ayam bakar untuk mu buka puasa di kantor ya."
"Maaf sekali lagi Ummu, terimakasih. Namun sebaiknya tidak usah Karena Zahra sedang tidak berpuasa hari ini." Zahra berusaha menolak sehalus mungkin, dia hanya tidak enak jika bertemu dengan Faqih dan Nuha di dalam.
"Wah kebetulan kamu lagi tidak puasa, tolong bantu cicipi masakan Umma yuk. Sebentar saja."
"Ta...tapi Ummu?" Tangan Zahra sudah di tariknya masuk oleh Umma Hasna, sudah pasti dia tidak bisa lagi menolak.
Dari ruang tamu saja aroma ayam bakar sudah tercium lezat, bercampur dengan aroma lainnya. Sungguh sangat nikmat sepertinya.
Perlahan langkah itu mulai memasuki area dapur, ia melihat Nuha tengah membakar potongan ayam tersebut.
"Assalamualaikum." Sapa Zahra, Nuha pun menoleh.
"Walaikumsalam warahmatullah.... MashaAllah kak Zahra?" Senyum ceria Nuha langsung saja merekah, rasanya sangat bahagia saat melihat Zahra di hadapannya.
Dengan, Tunggu? Umma Hasna merangkulnya? Sepertinya beliau tidak pernah melakukan itu kepadanya. Ahhh... Tidak, tidak baik berfikir buruk seperti itu. Batin Nuha terus saja beradu antara pikiran buruk dan pikiran baik yang terus saja menenangkan hatinya.
"Kau sedang membakar ayam?" Tanya Zahra, gadis itu terlihat berantakan sekali, dengan celemek yang mulai kotor, tangan yang berminyak karena margarin, hingga Angus yang juga turut menempel di wajahnya. Sungguh sangat tidak tega Zahra melihat itu. Sementara Nuha hanya mengangguk cepat seraya melebarkan senyum.
__ADS_1
"Zahra? Cobain dulu yuk kamu kan sedang tidak berpuasa. Umma ambilkan ya."
"Maaf Ummu, Zahra tidak usah repot-repot."
"Jangan sungkan-sungkan ahhh, di buat seperti biasa saja...." Tutur Umma Hasna mengusap bahu Zahra lembut, tatapan Nuha tertuju pada tangan Umma Hasna Walaupun bibirnya masih tersenyum, namun jujur saja ia mulai menyadari, kalau ibunya A' Faqih itu tidak pernah sehalus itu padanya. Umma Hasna menoleh ke arah Nuha. "Neng, tolong ambilkan piring ya."
"Ahh... Iya Umma." Dengan semangat Nuha mendekati lemari penyimpanan piring yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ummu, tidak usah. Kalian kan berpuasa, tidak enak jika Zahra makan di sini."
"Tidak apa-apa." Umma Hasna meraih piring yang sudah terulur dari tangan Nuha. Dan mengambilkan nasi dari rice cooker.
"Ummu sudah, sudah cukup jangan banyak-banyak."
"Kamu harus makan yang banyak lah... Sini cicipi nasi liwetnya enak atau tidak ya, soalnya Umma tidak mencicipi." Umma Hasna meraih beberapa lauk dan sambalnya juga. "Yuk, mau makan di mana?"
"Sungguh Ummu, saya tidak enak makan di sini." Zahra masih saja berusaha menolak, ia benar-benar tidak enak dengan Nuha. Karena sedari tadi gadis itu hanya menatap kearahnya saja, tanpa berbicara apapun.
"Sudah di bilang tidak apa-apa kan, ayo... Di ruang tengah saja tidak apa ya." Ajak Umma Hasna ia pun kembali menoleh ke arah Nuha. "Neng, ayamnya itu tolong di balik. Nanti gosong." Titah Umma Hasna.
"I...iya Umma." Jawab Nuha tersenyum tipis, seraya mengusap peluh di keningnya. Sementara dua wanita itu sudah keluar dari dapur. Nuha menunduk lesu.
Di sela-sela dirinya melakukan pekerjaan itu, ia pun mendengar Senda gurau Umma Hasna dengan Zahra di luar. Tawa lepas dari Umma Hasna membuatnya menyadari bahwa selama ini Umma Hasna tidak pernah tertawa selepas itu dengannya. Bahkan jika dia mengajak Umma Hasna mengobrol pun sangat jarang di tanggapi, selain iya, emmm, ohh... Itulah kenapa dia lebih sering menjadi kikuk sendiri.
Namun lain halnya dengan Zahra sekarang. Sepertinya Umma Hasna menyukai Zahra ketimbang dirinya.
Bulir bening pun menetes dari netranya, berkali-kali dia tepis pikiran buruk tentang ibunya A' Faqih. Seperti pesan Abi, menyayangi ibu dari suami kita adalah ladang pahala.
Tapi kenapa rasanya mendadak sakit begini?
Dia benar-benar ingin A' Faqih cepat kembali, Ia ingin sekali di peluk A' Faqih sekarang, karena di rumah ini hanya adanya A' Faqih lah yang mampu memberikannya ketenangan hati.
Hingga dering ponselnya membuat Nuha mengusap air matanya itu. Tertera nama A' Faqih di layar, Nuha pun tersenyum lebar.
Segera ia angkat ayamnya itu dari alat pemanggang, lalu berjalan dan duduk di kursi meja makan.
"Hallo Assalamualaikum A'a?"
"Walaikumsalam warahmatullah, neng. Sedang apa? A'a rindu." Tutur Faqih dari sebrang. Nuha pun tersenyum dengan mata yang kembali mengembun. Sama hal nya dengan Nuha, dia pun rindu.
__ADS_1
"Nuha juga, A'a pulang jam berapa?"
"Ini sudah mau pulang kok. Kamu sedang apa? Tadi belum di jawab."
"Nuha sedang memanggang ayam." Jawabnya ceria.
"Ya Allah, pasti lelah sekali ya? Maaf ya neng A'a usahakan cepat sampai rumah."
"Jangan buru-buru A', pelan-pelan saja. Kan Nuha ngerjainnya sama-sama Umma." Nuha menoleh kearah pintu, di sana masih terdengar tawa Zahra dan Umma Hasna.
"Begitu ya? Tapi, baik-baik saja di sana kan?"
"Hehehe memang kenapa? Dari tadi kami mengobrol sambil bercanda kok, A'a nelfon jadi kepotong obrolan seru kita." Jawab Nuha, kembali menitikkan air matanya. Padahal Sedari tadi jangankan obrolan sembari bercanda, bahkan tidak ada ucapan selain balasan dari pertanyaan Nuha pada Umma Hasna.
Faqih terdiam sejenak, sepertinya agak percaya tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari ucapan Nuha.
"A'a...?" Panggil Nuha.
"Iya neng, emmm A'a tutup ya... A'a mau jalan pulang." Ucapnya, mendengar itu Nuha sangat lah senang.
"Hati-hati ya A'a..."
"Iya kesayangan... Neng mau A'a bawakan apa?"
"Nuha tidak mau apa-apa, selain keselamatan A'a." Jawab Nuha.
"MashaAllah, iya insyaAllah A'a pelan-pelan jalannya. Nanti A'a bawakan Alpukat mau? Atau mau ubi Cilembu? Oh atau mungkin tales Bogor? Hehehe Habis adanya itu sih neng."
"Hehehe, apa saja A'a... Yang penting A'a pulang dengan selamat."
"Iya kesayangan, ya sudah A'a tutup ya Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah A'a." Nuha mematikan sambungan teleponnya, lalu memeluk ponsel itu.
"Kangennya nambah ke A'a... Pengen di peluk A'a." Gumam Nuha pelan seraya terkekeh dengan tangan mengusap matanya yang basah.
Nuha pun kembali beranjak guna menyelesaikan pekerjaannya yang hanya tinggal sedikit lagi.
Sementara yang di luar sepertinya makin asik mengobrol, Nuha masih berusaha menepis segala pikiran buruk yang terbesit di pikirannya dengan beristighfar berkali-kali dan lebih memilih menyesesaikan pekerjaan itu dengan cepat.
__ADS_1