Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
niatan di hati A'a untuk Nuha.


__ADS_3

Siang itu tepatnya pukul 13:30.


Nuha dan A' Faqih berboncengan sepeda motor menuju rumah Tafiz.


Karena jarak yang tak terlalu jauh, Faqih pun membawa laju motor maticnya dengan kecepatan sedang.


Di temani angin siang menjelang senja, mereka seolah ingin memperlihatkan bahwa keduanya adalah sepasang kekasih halal yang tengah di mabuk asmara.


Sepanjang jalan, tangan Nuha yang melingkar di lingkar pinggang A' Faqih selalu di usap-usap oleh Beliau.


Bertemankan mentari senja yang masih terik menyoroti perjalanan mereka.


Nuha tersenyum karena A' Faqih sesekali meraih tangannya hanya untuk mengecupnya saja.


Sementara yang di belakang? Nuha asik mengendus aroma tubuh Faqih yang wangi.


Padahal A' Faqih hanya mengenakan parfum sedikit namun sepertinya dominan wangi asli tubuh A' Faqih yang membuat Nuha seolah betah menghirupnya bahkan sampai ada keinginan untuk menempelkan Kepala di bahu A'a yang lebar itu.


Namun sudah lah, malu. Hehehe.


Dan di sela-sela deru motor yang di kendarai A'a, Nuha terus meresapi indahnya kehidupan barunya itu. Ya... Sungguh nikmat memang, pacaran setelah adanya ikatan pernikahan.


Hati seperti lebih di cintai, mungkin karena tidak hanya adanya cinta dari pasangan kita saja, melainkan Rabb kita juga. Seolah lingkaran kasih sayang selalu menyertai kita, tanpa rasa was-was dengan apapun pandangan orang.


–––


mereka sudah hampir tiba pada tempat tujuannya.


Agak merasa gimana sih sebenarnya Nuha, karena ini hari pertamanya mengajar lagi setelah menikah. Beberapa teman-temannya bahkan hampir semua belum ada yang tahu perihal pernikahannya dengan sang Hafihz.


Lebih tidak enak lagi pada mereka-mereka yang mengagumi A' Faqih. Walaupun itu bukanlah urusan Nuha, namun tetap saja biasanya dia yang menjadi lawan mengobrol saat mereka tengah membicarakan A' Faqih. Dan dari semua yang membicarakan hanya Nuha saja yang tak tertarik. Namun siapa yang menduga, malah dia sendiri yang menjadi nyonya Faqih.


Di depan gerbang rumah Tafiz, beberapa ustadzah sedikit terkejut karena Faqih datang bersama Nuha. Nuha sempat Melepaskan pegangannya karena adanya rasa tidak enak setelah menjadi tontonan mereka. Namun seolah A' Faqih ingin menunjukkan bahwa Nuha adalah istrinya, tangan Nuha tetap di genggamannya sampai motor itu berhenti disebuah parkiran motor.


Sementara itu di jarak yang tidak begitu jauh, ustadz Farhat juga baru saja tiba. Ia sedikit terkejut juga saat melihat Faqih berboncengan dengan Nuha.


dia memang sempat dengar Faqih menikah namun tidak menyangka saja jika wanita yang di nikahi adalah Nuha.


A' Faqih membantu Melepaskan pengait helm milik Nuha dan Melepaskan helmnya.


"Nuha bisa sendiri A'..." Tutur Nuha yang masih malu-malu di perlakukan seperti ini di tempat terbuka.


"Tidak apa neng, A'a yang mau melakukan ini." Jawabnya. Helm pun terlepas.


"Terimakasih A'a."


"sama-sama neng." Mengusap kepala sang istri.


"A'...? Nuha ke ruangan para ustadzah duluan ya."


"Kamu satu ruangan sekarang dengan A'a neng. Jadi ayo bareng sama A'a saja."


"Tapi?"


"Assalamualaikum..." Sapa Farhat, Faqih pun menoleh bersamaan dengan Nuha.


"Walaikumsalam warahmatullah kak." Jawab Nuha tersenyum.


"Walaikumsalam." Jawab Faqih yang langsung turun dari motornya.


"Ku dengar kau menikah Faqih, jadi sama ustadzah Nuha ya?" Tanya Farhat.

__ADS_1


"Iya." Jawabnya singkat dengan senyum tipis tersungging di bibirnya, memang seperti itu beliau yang jarang berbicara basa basi, kecuali dengan Nuha.


"Selamat ya." Mengulurkan tangan pada Faqih.


"Terimakasih." Tersenyum tipis seraya menjabat tangan Farhat. Pria di hadapan Faqih tersenyum kecut, terlebih saat Faqih meraih tangan Nuha dan menautkannya.


"Maaf Farhat, kita duluan ya. Assalamualaikum." Ucap Faqih.


"I...iya, walaikumsalam warahmatullah." jawab Farhat kemudian.


"Duluan kak." Sapa Nuha juga yang sudah di bawa pergi oleh Faqih dari sana. Sementara Farhat hanya tersenyum.


"Astagfirullah al'azim.... Kenapa bisa aku bilang, bahwa diri ku mengagumi Nuha pada teman yang juga mengagumi gadis itu. Tapi syukurlah? Semoga kalian bahagia." Farhat tersenyum. Ia pun menghela nafas lalu berjalan kembali menuju ruangan para ustadz pengajar.


Di depan ruangan Faqih...


Pria itu tengah merogoh kunci dari dalam tasnya lalu membuka ruangan itu.


Nuha sedikit ragu saat hendak masuk.


"Ayo masuk neng." Ajak Faqih.


"Iya A'..." Nuha berjalan masuk. "Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Jawab Faqih seraya melepas tasnya lalu meletakkan tas itu di atas meja.


Sementara gadis itu masih menatap ruangan itu dengan seksama.


"Duduk neng."


"Iya A'..." Nuha pun duduk di kursi sofa. Serta Faqih yang turut duduk di sebelah Nuha seraya memegangi sebuah buku catatan.


"A' Faqih?"


"Apa tidak apa Nuha di sini? Ini ruangan ustadz Rahmat juga kan?"


"Abi kan jarang ke rumah Tafiz neng,"


"Iya tapi, Nuha tidak enak sama teman-teman. Kalau di sini sama A'a."


"Tidak enak bagaimana? A'a kan suami kamu, jadi tidak masalah."


"Tapi Nuha pengen kumpul sama teman-teman juga A'...."


"Masih boleh kok neng. Yang penting kalau A'a panggil kamu, kamu harus segera kesini ya."


"Iya A', ya sudah Nuha ke ruangan para Ustadzah dulu ya."


"Jangan lama-lama ya kesayangan. Nanti setelah ngajar langsung kesini."


"Iya." Jawab Nuha semangat, ia pun meraih tangan kanan Faqih lalu mengecupnya lembut. "Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah sayang." Jawab Faqih lembut.


Setelah Nuha keluar, Faqih pun beranjak hendak meraih tasnya. Seraya mencari-cari sesuatu sepertinya ada yang tertinggal? Ia pun mengingatkan, dan benar saja. Barang yang ia cari masih di jok motornya, Faqih pun berjalan keluar seraya menutup pintu ruangannya.


"Faqih–" Panggil seseorang, beliau menoleh.


"Iya Farhat? Ada apa?"


"Tidak... Aku hanya ingin meminta maaf pada mu."

__ADS_1


"Minta maaf?" Faqih mengerutkan keningnya.


"Iya, karena aku sempat berucap ingin mengkhitbah ustadzah Nuha, Padahal dia calon istri mu waktu itu." Tutur Farhat. Faqih pun tersenyum ia mengusap bahu temannya itu.


"Tidak apa-apa santai saja. Saat itu, aku juga belum yakin, kalau dia jodoh ku. Karena Abinya belum memberikan jawaban."


"Begitu ya? Tapi aku turut bahagia kau bisa bersamanya. Dia gadis Soleha yang sangat polos... Kau beruntung sekali." Tutur Farhat. Faqih pun hanya tersenyum. "Ya sudah Faqih, aku harus ke kelas ku, anak-anak sudah berkumpul."


"Iya... Aku pun ingin ke parkiran mengambil sesuatu. Saya duluan ya. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Jawab Farhat, pria itu pun melanjutkan langkahnya menuju kelasnya mengajar.


Sementara Faqih, ia sempatkan berhenti sejenak lalu menoleh kebelakang.


'semoga Farhat bisa menghilangkan kekagumannya terhadap Nuha. Dan mendapatkan jodoh yang lain. Aamiin." Gumamnya dalam hati, lalu kembali melangkah.


Hingga sepasang kaki itu kembali terhenti, saat melihat salah seorang teman mengajarnya mengalami kesusahan kantong keresek di tangannya jebol hingga beberapa bungkus kurma berjatuhan.


"Innalilah..." Faqih mendekati. "Assalamualaikum Harun? Kau bawa banyak sekali kurma?" Faqih membantu memunguti bungkusan kurma itu.


"Iya A' saya kan dagang. Ini kebetulan ada teman-teman yang pesan, Ehhh kantongnya malah jebol." Jawab Harun seraya terkekeh.


"Kau dagang kurma?"


"Iya, sama madu juga."


"MashaAllah... Bagaimana keuntungannya?"


"Kalau bulan ramadhan ini Alhamdulillah A' , lumayan banyak pesanan. Karena kurma saya ini termasuk jenis langka di Indonesia." Jawab Beliau.


"Kalau madunya? Kau memasok di mana? Asli kah?"


"InsyaAllah Asli A', paman saya kan peternak madu di Bogor, jadi saya mengambil di sana setiap setengah bulan sekali atau pas sedang banyak pesanan."


Faqih sedikit tertarik, ia pun menyerahkan dua pack kurma yang tersisa kepada Harun.


"Terimakasih banyak ya A' atas bantuannya."


"Sama-sama... Eh, tapi aku boleh tidak ikut masok juga, ingin dagang juga." Tutur Faqih.


"Seriusan A'…?" Tanya Harun.


"Serius insyaAllah."


"Wah... Boleh sekali, besok-besok ikut saya saja A' kita ke Bogor sama-sama buat lihat barangnya langsung."


"Boleh tuh, tapi tolong rahasiakan ini ya?"


"Kenapa A'…?"


"Karena, saya dagang itu untuk mengumpulkan uang lebih banyak yang sifatnya untuk memberikan kejutan kepada istri saya, jika uang itu sudah terkumpul."


"Istri? Ahh iya, antum sudah menikah ya A'...?"


"Iya." Faqih tersenyum malu-malu.


"MashaAllah, barakallah... Selamat ya A'... Selamat menempuh hidup baru."


"Terimakasih Harun... Ya sudah nanti kita bahas lagi ya. Aku harus ke parkiran sebentar."


"Iya A'..."

__ADS_1


Setelah saling mengucap salam Keduanyan pun kembali melangkah menuju tujuannya masing-masing, dengan perasaan Faqih yang merasa lebih bahagia karena akhirnya dia memiliki jalan untuk menambah pundi-pundi uang tabungannya, dan Nuha bisa segera mewujudkan keinginannya untuk kuliah di Al Azhar Kairo Mesir.


__ADS_2