Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
kekecewaan Rumi


__ADS_3

Di dalam toilet.


Debby masih berusaha memuntahkan makanan itu dengan caranya, memaksanya untuk keluar.


Sangatlah sulit, dia bahkan hampir putus asa melakukan itu.


"Ayo keluarlah... Ku mohon." Debby memasukan jari telunjuknya kedalam mulutnya hingga dia mulai memuntahkan itu, walaupun tidak semuanya. Dia benar-benar merasa bersalah sekali, Puasanya harus batal karena sepotong daging haram itu.


Debby menekan tombol splash di toilet Duduknya seraya menutup toilet itu. Lalu duduk di atasnya seraya menangis.


Dia pun mengeluarkan ponselnya, menghubungi Rumi. Di panggilan pertama tidak ada jawaban, ke dua, dan di ke-tiga lah suara Rumi terdengar.


"Iya Deb?" Sapa Rumi.


"Kak?" Isaknya. Rumi mengernyitkan dahi.


"Kenapa Deb?" Tanya Rumi.


"Aku... Hiks... Puasa ku batal hari ini kak. Dan aku juga makan daging haram." Debby menangis tersedu-sedu, mengadu pada Rumi. Pria itu pun terdiam sejenak, seraya mengusap dagunya. "Kak Rumi, kakak kecewa ya pada ku?"


"Eng... Nggak Deb, nggak kok."


"Lalu kenapa kakak diam saja?"


"Aku hanya bingung ingin menjawab apa Deb."


"Hiks... Aku sudah berusaha mengeluarkan makanan itu kak... Aku berusaha memuntahkannya. Serius."


Rumi tersenyum tipis... Terdengar lucu suara Debby yang merengek ketakutan itu.


"Tidak apa Deb, besok sambung lagi ya. Hari ini tidak apa batal sehari." Tutur Rumi sehalus mungkin.


"Apa Allah marah? Aku sudah mengecewakan-Nya."


"insyaAllah tidak. Bersabarlah Deb, kau pasti akan bisa menjalaninya. Ini masih ujian awal untuk mu. Ku harap kau Istiqomah dengan keputusan mu ini, sampai akhirnya kau bisa bersyahadat."


"Kak Rumi, aku boleh bertanya?"


"Boleh."


"Kalau aku masuk Islam, apa kau bisa menerima ku?" Tanya Debby. Rumi pun diam saja, dia tidak bisa menjawab itu. "Lupakan saja, aku hanya bercanda kok." Tertawa garing.


"Jika kau jodoh ku, kenapa tidak?" Jawab Rumi kemudian. Kata-kata itu seperti sebuah hembusan angin segar bagi Debby.

__ADS_1


"Serius kak?" Tanya Debby semangat.


"Aku tidak bisa menjamin tapi. Jika kita bukan jodoh, aku hanya berharap kau bisa mendapatkan pria muslim yang taat dan bisa membimbing mu."


"Aku hanya mau kak Rumi. Bukan pria lainnya, aku hanya ingin di imami oleh mu kekasih pujaan ku." jawab Debby seraya mengusap air matanya yang sudah tidak menetes lagi. Di sebrang Rumi semakin merasakan perasaan tak biasa, dia pun beristighfar.


"Deb, aku ingin bertanya, apa kau masuk Islam hanya karena diri ku?" Tanya Rumi.


"I... itu?"


"Jika iya, sebaiknya kau urungkan saja. Maaf, aku harus mematikan panggilan telepon ini. Selamat siang." Tut...Tut...Tut... Sambungan terputus.


Debby menunduk. "Hiks, kak Rumi. Apa dia marah?" Debby kembali menangis. "Mungkinkah benar, aku masuk Islam tujuh puluh persennya Karena dia." Dia pun beranjak lunglai. Hingga sebuah pesan chat masuk.


(Jangan pernah mencintai hamba Allah melebihi cinta mu kepada sang Penciptanya. Kau harus ingat, cinta yang seperti itu, hanya akan membuatmu merugi sendiri. Aku mendukungmu untuk masuk agama ku, namun jika hanya untuk main-main sebaiknya lupakan. Karena jika kita tidak jodoh, atau mungkin kau mulai lelah menjadi seorang muslimah kau pasti akan kembali pada agama mu itu. Dan menganggap agama ini hanya tempat mu melakukan ujicoba. Islam bukanlah Agama yang bisa kau coba-coba, apa lagi kau permainkan. Kau harus ingat itu Debora.) Pesan dari Rumi.


"Hiks, kak Rumi. Aku bukan orang yang seperti itu. Sungguh." Debby berusaha menghubungi nomor Rumi namun tidak di jawabnya.


Ia pun memeriksa jam di tangannya. "Ini hari Jumat, kak Rumi sedang mengadakan tausiyah di masjid kampus." Dia pun segera mengusap air matanya. Dan pergi dari restoran itu diam-diam, guna menghampiri Rumi di kampus.


–––


Kembali ke Jakarta,


Dia masuk dengan sedikit lunglai, mungkin hawa panas di tengah dirinya yang tengah berpuasa membuatnya merasa lebih lelah dari biasanya.


"Mbak Shafa....!" Seru Qonni. Menyambutnya seraya berseru Seperti biasanya. Shafa pun mengusap kepalanya seraya masuk.


"Assalamualaikum." Mengucap salam sembari melepaskan sepatunya.


"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab Qonni. "Mbak... Mbak... Qonni boleh pinjam ini?" Mengangkat jaket yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya tinggi-tinggi. Mata Shafa membulat.


"Hei... Itu punya kak Rumi jangan di pakai."


"Hahaha cie.... Pulang dari Bandung dapat jaket kak ustadz Rumi. MashaAllah... Wangi kak Rumi khas banget ya." Ledek Qonni.


"Qonni apa-apaan sih. Kembalikan sini jaketnya." Gadis itu mengejar Qonni yang sudah berlari masuk sembari tertawa.


"Ya ampun, sudah jadian kah? Sampai di kasih jaket segala. Wanginya MashaAllah..." Memeluk jaket Rumi.


"Qonni, kamu bicara apa sih. Sini kasihkan kepada mbak." Berusaha merebut jaket itu.


"Ceritakan dulu, bagaimana kak ustadz Rumi bisa kasih jaket ini ke kak Shafa?"

__ADS_1


"Bukan di kasih dek, itu cuma di pinjami. Lagian kamu nih ya, bisa-bisanya Nemu jaket ini." Masih berusaha menarik lengannya.


"Bisa lah, orang di bawah bantal. Ya ampun sampai di taruh bawah bantal biar mimpiin kak Ustadz Rumi terus ya hahaha."


"Istighfar dek, tidak boleh bicara seperti itu ya."


"Hehehe, makanya ceritakan kenapa jaket kak Rumi ada di kak Shafa, kepo nih aku."


"Ck...! Apaan sih, jadi waktu mau balik kan hujan jaket ku sedikit basah. Terus dia pinjemin jaket miliknya yang masih kering. Udah cuma itu saja."


"Wah... Wah... Kaya adegan drama Korea kah? Di pakaikan gitu?" Semakin penasaran.


"Dasar remaja...! Pikirannya ya. Istighfar banyakin tuh." Menarik telinga Qonni.


"Hehehe... Sudah Mbak, jangan galak-galak nanti kalau kak ustadz Rumi tahu, mbak Shafa ternyata galak. Wah wah habis loh... Nggak jadi di halalin nanti."


"Qonni...!" Shafa menggelitiki sang adik gemas, karena dia tak henti-hentinya menggoda Shafa. Sehingga gelak tawa keduanya pecah di sana.


Bersambung...


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Hai... Ku kasih visual lagi untuk Rumi, Debby, dan Shafa...


Semoga cocok ya, ini cuma halusinasi ku saja.



Ustadz Rumi Al Fatih (20 THN) anak sulung pasangan Ustadz Irsyad dan Rahma, iya kakaknya Nuha 🀭.


–––



Debora Aruan (18 THN) anak bungsu dari pasangan Johanes Widjonarko Aruan dengan ibu Brigitta Angelina.


–––



Baitus Shafa (21 THN) putri sulung dari pasangan Fathul Qulum dan Aida Putri Lestari.


Semoga cocok dengan visualnya ya... Kalau kurang cocok abaikan saja. πŸ˜ŠπŸ€—

__ADS_1


__ADS_2