
Hari kembali berganti, Nuha sudah bangun saat adzan subuh belum berkumandang. Di lihat sang suami masih tertidur, tidak seperti biasanya.
Hingga di sentuhnya wajah itu lembut lalu di kecup bagian pipinya.
"A'... Bangun sudah jam empat." Ucap Nuha membangunkan. Mata A' Faqih mulai mengerjap, di raihnya tangan Nuha hingga gadis itu kembali terjatuh ke dadanya.
"Tumben kamu bangun lebih dulu." Gumam A'a serak, memeluk tubuh mungil Nuha.
Nuha pun tersenyum. "A'a masih sakit?" Tanya Nuha balik.
"Masih sedikit merasa pusing neng." Jawab A'a.
"Ya sudah kita solat subuh dulu nanti, habis itu A'a tidur lagi ya."
"Iya." Mengecup-kecup pipi Nuha, membuat gadis itu tersenyum. "Niat bulan madu kok malah begini ya?" Sambung A' Faqih.
"Itu salah A'a sendiri, waktu di Bogor kan?"
"Tau gini tidak usah bulan madu. Di rumah baru kita saja ya, puas-puasin."
"Hehehe, tapi Nuha suka waktu A'a ajak ke Cibodas kok."
"Iya tapi, jadi nggak jalan-jalan lagi sekarang."
"Tidak apa A'... Nuha malah kasian sama A'a."
"Masa?"
"Iya."
"Kalau kasian, cium A'a sini yang banyak. Kali saja sembuh." Menunjuk pipinya sendiri membuat sang istri terkekeh.
"Mana ada di cium jadi sembuh, itu mah bisa-bisanya A'a saja."
"Coba saja. Kan dokter cinta A'a neng Nuha."
__ADS_1
"Tapi Aku belum menggosok gigi ku."
"Nggak peduli. Ayo kecup."
"Kamu kalau minta ya A' bener-bener deh." Nuha mengecup pipi kanan A' Faqih yang hanya tersenyum tipis.
"Satunya?"
"Iya ini lagi." Muaaah. Setu kecupan lagi mendarat.
"MashaAllah, sepertinya A'a jadi sembuh beneran."
"Haha... Ngarang sekali sih."
"Serius." Terkekeh. Faqih mempererat pelukannya, hingga adzan subuh berkumandang. Beliau pun mengecup kening Nuha sejenak. "Sholat yuk."
"Ayo." Nuha menjawab dengan semangat, hingga ke-duanya mulai beranjak dari ranjang mereka melangsungkan sholat dua rakaat tersebut.
–––
Nuha menoleh ia kembali menyentuh kening A'a.
Lalu bernafas lega dia tidak demam dan hanya mual dan pusing saja. Sepertinya selepas mengkonsumsi obat mungkin nanti A' Faqih akan merasa lebih baik.
Nuha pun berniat untuk beranjak dari ranjang itu, dia sedikit turut lelah jika hanya tiduran saja. Hingga perlahan tangannya mulai menyibak selimut, seraya menurunkan satu kakinya pelan-pelan.
"Neng?"
"Emmm?" Nuha mendengus 'duuuhhh.'
"Jangan kemana-mana di sini saja."
"Ya Allah, memang Nuha mau kemana? Cuma mau ke balkon sebentar A'..."
"Nggak di sini saja temani A'a." Menarik lagi tangan Nuha.
__ADS_1
'duh... Dia sakit saja sampai seperti ini sih, kok jadi kaya punya bayi.'
"Neng sini kek..."
"Ya Allah iya." Mendekat lagi, dan kini tangan A'a sudah melingkar di pinggangnya.
"Jangan kemana-mana pokoknya."
"Ya nggak bisa gitu A'... Kalau Nuha pengen ke toilet bagaimana? Lagian A'a kan tidur."
"Ya sudah A'a tidak tidur."
"Duh... Kok gini sih A'... Masa Nuha harus berada full di ranjang nemenin orang tidur, kan berlebihan namanya."
"A'a cuma ingin di temani saja ya... Kamu seperti tidak ikhlas begitu sih?" Melepaskan pelukannya, sembari mengecak.
'kan... Kan? Ngambek dia?' mau tidak mau Nuha harus merebahkan kepalanya di dada sang suami, meluluhkan dia agar tidak ngambek.
"A'a ngambekan nih... Kan Nuha cuma mau ke loteng sebentar cari angin."
"Buka saja itu pintunya biar angin bisa masuk tanpa kamu harus berdiri di luar." Titah beliau. "Lagian, balkon ini kan dekat dengan balkon kamar yang lainnya juga. Kalau tiba-tiba ada pangeran Arab bagaimana?"
Nuha mendengus... 'apa-apaan sih dia ini, pangeran Arab? Dia pikir ini hotelnya raya Salman apa?'
"Kamu tuh... Sudah sini saja, temani A'a."
'dasar bayi besar manja... Issshhhh.' Nuha melebarkan senyumnya. "Iya sayang, istri mu akan menemani mu tidur sampai terjaga lagi ya."
"Nah gitu... Baru istri Soleha." Tersenyum senang dengan mata terpejam.
'dasar A' Faqih... Sebenarnya dia sakit beneran tidak sih? Seperti buat alasan sekali.' Nuha pasrah saja tubuhnya di jadikan bantal guling oleh suaminya, terkadang dia juga merasa pegal. Namun baru merubah posisi kakinya saja sudah ada yang berseru.
Membuatnya ingin menggigit lengan yang tengah memeluknya itu.
'aaaaaaa.... Aku ingin keluar hotel, iiissshhh.' meruntuk dalam hati walaupun beristighfar setelahnya. Sabar ya Nuha pasrah saja menjadi bantal guling suami mu itu hehehe.
__ADS_1
Bersambung...