
Nuha kembali membuka matanya saat A'a melepaskan pelukan itu, serta kembali tersenyum.
"Sudah adzan. Kita trawih yuk." Ajak A'a.
"Nuha boleh izin sehari lagi? Nuha tidak terawih ya A'."
"Kenapa?" Faqih melihat wajah Nuha mulai mengeluarkan keringat sebiji jagung. "Neng kok pucat? Sakit ya?" Mengusap keringat itu.
"Tidak A'... Cuma lelah. Jadi Nuha solat di rumah saja ya."
"Serius? A'a khawatir neng."
"Cuma lelah A', sungguh..." Jawab Nuha pelan. Dia sudah tidak ada tenaga untuk berbicara keras. Faqih pun mengecup kening, kedua pipi Nuha lalu berakhir di bibirnya.
"Ya sudah A'a ke masjid dulu ya."
"Iya." Tersenyum lemah. Faqih tidak yakin untuk meninggalkan Nuha, namun melihat senyum Nuha yang membuatnya percaya bahwa dia tidak apa-apa membuatnya langsung beranjak bersiap untuk ke masjid.
Setelah A'a keluar Nuha kembali meminum air putih itu hingga habis, dan rasa sakit pun kembali mereda, Nuha bisa bernafas lega sekarang. Dia tidak bisa seperti ini, mungkin besok dia akan membicarakan ini pada A'a dan meminta A'a untuk menemaninya ke dokter.
***
Di Bandung...
Siang ini seluruh anggota keluarga Debby sudah bersiap untuk menghadiri acara di salah satu restoran.
Hari ini Opah Debby tengah berulang tahun, jadi keluarga besar mengadakan acara makan-makan di sana.
Sialnya Debby di paksa ikut, Walaupun dia sudah beralasan banyak untuk menolak, sang ibu tetap saja memaksa dia untuk ikut karena kak Gallen pun turut ikut.
Sepanjang jalan di dalam mobil Debby sudah khawatir, tidak mungkin dia tidak turut makan, apalagi mengatakan bahwa dia sedang berpuasa. Ini bisa gawat.
Hingga mobil mulai memasuki area parkir restoran China, karena Debby memiliki darah Tionghoa dari ayahnya.
Di sana keluarga besar sudah menyambut mereka, terlihat Debby yang sedikit merasa tidak nyaman. Terlebih hidangan yang ada di atas meja berupa daging-dagingan.
Sudah jelas itu adalah daging yang tidak halal. Gadis itu pun duduk di salah satu kursinya, di sebelahnya ada kak Lilian, dan Lusiana adiknya yang tengah sibuk dengan ponsel masing-masing. Mereka adalah anak dari adik sang ayah.
"Lusi, apa tante Maryam tidak datang?" Tanya Debby.
"Maryam? Siapa?" Bertanya tanpa melirik ke arah Debby.
"Maksud ku tante Merry." Jawab Debby dia lupa jika keluarga mereka tidak mau mengenal nama Maryam setelah adik bungsu dari ayah Debby itu berpindah keyakinan.
__ADS_1
"Owhhh... Entah, mungkin tidak. Kau tahu dia sudah di coret namanya dari keluarga karena berpindah keyakinan kan?"
'ahhh... benar, tante Maryam baru satu tahun ini tidak pernah bersama kita lagi. Karena kemarahan opah. Bagaimana nasib ku setelah ini? Apa papah akan melakukan hal yang sama juga?' Debby melamun.
"Deb... Kau kenal Justine? Dia teman ku." Tutur Lusina seraya Menunjukkan ponselnya ke arah Debby.
"Iya, dia kakak tingkat ku juga dulu di SMA. Kenapa?"
"Dia kan satu Fakultas dengan ku, dia tahu aku sepupu mu. Dia selalu meminta nomor ponsel mu."
"Untuk apa? Jangan kasih."
"Kenapa? Dia tampan sekali loh."
"Aku tidak mau dengan pria Chinese."
"Belagu, memangnya kau bukan Chinese?"
"Aku masih jauh keturunan Chinesenya. Tidak seperti mu."
"Cih...!" Mendengus, ia pun meraih minumannya. "Hei kau tidak makan?" Lusiana menawarkan.
"Tidak aku tidak lapar." Ucap Debby menolak dengan cool seperti gayanya.
"Setidaknya minum lah."
"Debby...?" Panggil opah, Debby pun menyaut seraya menoleh. "Kemarilah. Kau tak ingin menyerahkan kado mu untuk opah?" Tanya sang kakek seraya terkekeh.
"Ah... Iya, maaf opah." Debby beranjak, terlihat senyum sang ibu seraya mengusap lengan Debby saat melewatinya memutar menghampiri sang kakek.
"Cucuk ku." Memeluk Debby.
"Selamat ulangtahun Opah, semoga Tuhan memberkati mu. Memberikan mu panjang umur, dan kesehatan." Ucap Debby masih dalam posisi memeluknya.
"Terimakasih, ya... Semoga Tuhan selalu menyertai langkah mu. Menjadikan mu sebagai seorang katolik yang taat." Doa sang kakek seraya mengusap bahunya. Sementara Debby hanya tersenyum tipis.
"Ini opah, kado dari Debby." Menyerahkan kotak yang tidak terlalu besar.
"Terimakasih sayang?" Ucap sang kakek.
"Iya opah." Tersenyum. Sang kakek pun meraih sumpitnya lalu mengambil daging yang tengah di panggang itu serta mencelupkannya pada saus berwarna hitam, yang terbuat dari kecap asin yang bercampur arak.
Melihat itu perasaan Debby sudah tidak enak, terlebih saat sang kakek sudah mengulurkan daging itu ke arahnya.
__ADS_1
"Ayo buka mulut mu." Menyodorkan.
'ya Allah bagaimana ini? Aku sudah tidak lagi mengkonsumsi daging haram ini, lagi pula aku berpuasa.' batin Debby, dia masih menutup rapat mulutnya.
"Debby, buka mulut mu." Titah sang ayah, karena itu cara menghormati sang kakek. Sementara gadis itu masih diam saja.
"Debby?"
"I...iya Opah?"
"Ayo makan, ini wujud cinta opah."
'ya Allah aku harus bagaimana?' (Debby)
"Debby?" Panggil sang ibu yang merasa tidak enak dengan ayah mertuanya.
"O... Opah, bisa tidak jika Debby tidak menerima ini?" Ucap Debby se-sopan mungkin. Terlihat wajah kakek berubah murung, beliau pun menurunkan sumpitnya.
"Debby...!!" Seru Kak Gallen membuat Debby terperanjat. "Makan...!!" Titahnya kemudian. Debby kembali menoleh ke arah sang kakek.
"Maaf Opah."
"Debby...! Jangan mengecewakan opah ya? Ini hari ulang tahunnya. Hargai cinta Beliau." Bisik Sang ibu yang sudah mendekati Debby, memegangi kedua bahu sang putri.
'aku puasa mamah, aku juga tidak mau makan daging haram ini lagi.' mata Debby mulai berkaca-kaca.
"Debby tidak sayang Opah ya?" Tanya sang kakek.
"Sayang Opah, Debby sayang sama Opah." Ucap Debby menitikkan air matanya. Sang kakek pun meraih daging itu lagi lalu mengarahkannya kepada sang cucu.
"Kalau begitu makan sayang. Ini wujud kasih sayang Opah terhadapmu." Tuturnya, semua orang yang ada di meja itu memandang ke arah Debby. Gadis itu seperti tak biasa.
'aku harus bagaimana?' dia masih bimbang. Sementara sang ibu sudah mencengkram kedua bahunya.
"Ayo makan Debby, jangan kecewakan Opah." Bisik sang ibu.
'maaf ya Allah... Tolong maafkan aku.' perlahan dia mendekati dan membuka mulutnya. Daging itu pun masuk seiring dengan dorongan sumpit dari tangan sang kakek. Air mata Debby kembali menetes lebih deras.
"Tuhan memberkati mu Debora." Sang kakek mengecup kening cucunya. Sementara Debby hanya diam saja, dia belum mengunyah daging itu.
"Kunyah daging itu Debby." Bisik sang ibu memberi perintah. Dilihat sang ayah tengah menatapnya serius, sepertinya dia marah pada Debby. "Debby."
'hiks..' Debby mengunyah itu dengan sangat terpaksa dan menelannya. 'maaf... Maafkan Debby ya Allah.' gadis itu mengusap bibirnya dengan tissue. Lalu izin ke toilet segera.
__ADS_1
Terlihat sang ayah mengamati keanehan putrinya. Kelakuannya sama persis dengan Merry sebelum dia berpindah agama mengikuti keyakinan kekasihnya dan menikah dengan pria muslim itu.
Hingga terbersit khawatiran, jika Debby akan sama seperti Merry.