Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
hukuman ayah Qori (extra part)


__ADS_3

Beralih sejenak ke tempat lain...


Ustadz Farhat baru saja pulang dari acara tahlilan di rumah tetangganya, pada Pukul sepuluh malam ini.


Sebuah senyum manis menyaut panggilan salamnya. Membuat dia membalas senyum Qori yang tengah memberi ASI pada Agam.


"Anak ayah belum tidur? Atau tadi terbangun?" Tanya Farhat mengusap kepala mungil Agam yang tengah menghisap ASI dari Qori.


"Kebangun mas... Tadi dia buang kotoran soalnya." Jawab Qori.


"Ohh..." Ustadz Farhat beranjak seraya mengusap-usap kepala Qori, beliau mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan menyisakan sarungnya.


Lantas duduk di bibir ranjang, mengamati gadis itu sampai selesai memberi ASI.


Qori kembali meletakkan Agam pada ranjangnya, dan menutup tubuh mungil itu dengan selimut.


"Dik," panggil mas Farhat. Qori pun menoleh. Di tepuk-tepuknya kasur itu yang berada di depannya, memerintah gadis itu untuk mendekat dan duduk di hadapannya, membuat Qori tersenyum tipis melihat itu.


"Mau ngapain?" Tanya dia, menutup kelambunya.


"Mau ngobrol," jawab Farhat. "Sini makanya, kita ngobrol yuk."


"Iya mas." Melangkah mendekati Farhat dan duduk di hadapannya, sementara kedua tangan Farhat langsung melingkar di pinggangnya memeluk dari belakang. "Wangi. Pakai parfum apa kamu."


"Hahaha... Nggak pakai parfum apa-apa, yang ada bau ompolnya Agam..."


"Masa sih? Tapi kok bikin pengen cium terus?"


"Ya ampun mas....Kalau mau cium ya tinggal cium saja." Terkekeh, Menahan geli ketika Farhat mulai menciuminya.


"Kan basa basi dulu dik... Biar aman." Terkekeh lagi dua-duanya, hingga Kecupan itu beralih ke bagian bibir, cukup lama.


di akhiri dengan senyum mas Farhat, dan juga Qori setelah selesai saling bercumbu.


"Oh iya Dik... Ngomong-ngomong, kita belum mengunjungi bapak semenjak bertemu terakhir saat ijab Qabul." Ucap Farhat, mendengar itu senyum Qori meredup.


"Iya mas. Tapi biarkan lah. Qori belum ingin bertemu beliau lagi." Tatapan Qori berubah, seperti ada mimik wajah kebencian di sana.


"Kenapa?" Tanya Farhat membelai lembut rambut Qori.


"Entahlah rasanya tidak ingin lagi Qori bertemu bapak." Jawab Gadis itu sembari menunduk.


Farhat menghela nafas. dia paham sih, Seperti nya Qori masih sangat marah pada ayahnya.


Di raihnya dagu yang tengah tertunduk itu dan mengangkatnya pelan.

__ADS_1


"Dia kan ayah mu." Ucap mas Farhat lembut.


"Tapi aku masih kecewa, Beliau selalu melukai ku selama ini. Dulu mungkin aku masih diam saja. Namun saat dia bilang mau menjadi wali ku, asal mas Farhat memenuhi mahar sesuai permintaannya. dari situ Qori yakin. Dia tidak patas ku anggap bapak lagi."


"Astagfirullah al'azim... Istighfar Dik, mas tidak suka kamu bicara seperti itu. Dosa loh kamu nanti."


"Tapi dia selalu menzolimi ku mas." Mata Qori mulai basah, "dan puncaknya, saat dia memaksa ku untuk menyewakan rahim ku demi uang. Di tambah dia seperti menjual ku pada mu." Sambung Qori, mas Farhat pun meraih tangan Qori dan membawanya masuk dalam pelukannya.


"Kau ingat kisah Nabi Yusuf as? Seperti apa ketika Beliau selalu di zolimi oleh kakak-kakaknya, di buang ke dalam sumur yang tak ada airnya. Dan saat beliau di pastikan belum wafat, kakak-kakaknya malah justru menjualnya pada seorang saudagar kaya. Lantas apa yang beliau lakukan? Apa Nabi Yusuf membenci kakak-kakaknya itu?" Tanya Mas Farhat, sembari mengusap air mata Qori. "Tidak, dia malah justru memeluk satu persatu kakaknya, sembari mendoakan supaya mereka semua di ampuni karena telah menistakannya, menzolimi beliau. Dan bahkan membuangnya."


"Itu saja hanya sebatas saudara kandung, apalagi seorang ayah. Mau sebejad apapun ayah itu. Mau seburuk apapun seorang ayah yang mungkin Sampai hampir membunuh mu, kau harus tetap memaafkan dia."


"Tapi sudah terlalu sakit mas rasanya. Andai kata, aku tidak di nikahi oleh mu, aku tidak tahu. Setelahnya apa yang akan terjadi pada ku, mungkin bapak akan ketagihan untuk menawarkan diri ku kepada mereka yang menginginkan anak."


"Aku yakin ayah mu masih memiliki hati."


"Mas tidak kenal bapak ku." Qori menunduk lagi.


"Aku tahu dia kasar Dik... Tapi mas ingin kamu tetap memaafkan beliau." Tuturnya, pada sang istri yang hanya diam saja.


"Dik... Memaafkan orang itu hukumnya wajib, bahkan ada satu kisah ketika nanti di Padang Mahsyar... Ada seorang manusia yang sedang di timbang amalannya. Ketika itu tidak ada satupun amalan baik darinya, yang ada hanya amalan buruk. Sampai-sampai Allah SWT bertanya pada malaikat, untuk mengecek lagi. Dan malaikat tetap tidak menemukan amalan lain, kecuali satu. Yaitu dia selalu memaafkan orang lain, dan tidak pernah menyimpan dendam pada siapapun. Hingga akhirnya selamat lah dia dari siksaan." Jelas Farhat membuat Qori kembali menitikkan air matanya menatap Beliau. "Besok kita temui bapak ya?" Bujuk mas Farhat.


"Aku tidak yakin dia di rumah mas."


"Kita coba saja. Kan belum tahu."


"Kalau mas ada pasti mas bantu, kalau nggak ya enggak."


"Tuh kan?"


"Nggak apa-apa Qori, jangan merasa tidak enak begitu, aku ini suami mu bukan orang lain lagi... Ya? besok kita ke Tambun. Sekalian mas ingin ke rumah pak lek."


"Iya deh mas..." Qori menyerah, dan berharap besok tidak akan terjadi hal yang aneh-aneh yang membuatnya semakin merasa tidak enak. Sementara mas Farhat bergumam hamdalah tersenyum, sembari mendekati bibir Qori, serta merebahkan tubuhnya, dan obrolan itu pun bersambung pada aktivitas intim mereka di atas ranjang.


***


Di luar langit sudah terang, sinar mentari pun mulai menghangat.


Dengan perasaan was-was Qori hanya diam saja, ketika motor mas Farhat sudah masuk ke dalam gang tempat tinggalnya dulu.


Beberapa orang pun menoleh ke arahnya lalu berbisik yang entah apa? Entah mungkin merasa senang atau tengah membodoh-bodohkan ustadz Farhat yang mau saja menikah dengan wanita seperti Qori.


Namun masa bodoh dengan itu lah, yang paling ia cemaskan saat ini malah justru suaminya. Dia takut sang ayah akan menuntutnya macam-macam lagi.


Hingga motor matic itu mulai berhenti di depan rumah sederhana milik Qori.

__ADS_1


Qori pun turun dengan tangan Farhat memegangi.


Di lihatnya rumah itu sangat sepi, berantakan dan kotor. Seperti sudah berbulan-bulan tidak di gunakan. Apa selama ini ayahnya tidak pulang?


"Sepertinya sepi ya dik?" Tanya Farhat melepaskan helm milik Qori.


"Iya mas. Dan kayanya kosong lama deh rumah ini." Gadis itu berjalan mendekati pintu rumah, lalu mengintip di jendela kaca. "Ya Allah rumah berantakan sekali." Gumam Qori kemudian.


"Kita coba masuk aja atau bagaimana?"


"Jangan deh mas, rumahnya kotor sekali. Kasian Agam."


"Biar mas bersihkan, kamu di luar dulu. Nanti kan kita mau menginap."


"Mending nggak usah deh mas. Lama kayanya kalau mas membersihkan rumah ini. Mending kita ke rumah Haidir saja." Qori menyarankan.


"Begitu ya. Ya sudah deh..." Farhat kembali memasangkan helm di kepala Qori, dan berikutnya beliau pun membelokkan motornya sebelum Qori naik. Hingga seorang tetangga menghampiri mereka.


"Qori?" Panggil seorang wanita paruh baya, kita panggil saja Bu Ndari.


"Eh... Iya Bu?"


"Apa kabar kamu? Ya ampun." Sapa beliau menjabat tangan Qori. Gadis itupun tersenyum.


"Baik Alhamdulillah Bu." Jawab Qori. Ibu itu pun menoleh ke arah ustadz Farhat.


"Ustadz..." Menyapa dengan senyuman yang di balas dengan anggukan kepala sembari tersenyum.


"Bu Ndari? Qori mau tanya, rumah ini kosong lama ya? Kok sepertinya berantakan sekali."


"Jelas lah Qori, kamu tidak tahu memangnya? Kalau bapak kamu masuk Bui?"


"Astagfirullah al'azim." Jawab Qori dan Farhat hampir bersamaan.


"Masuk bui? Kapan Bu, dan apa kesalahannya?" Qori mendadak cemas.


"Dua bulan yang lalu... Kasus pembunuhan seorang wanita. Jadi dia membunuh teman kencannya, di salah satu hotel. Itu yang saya dengar."


"Astagfirullah al'azim, bapak..." Qori menangis, Farhat pun langsung melingkari bahu Qori menenangkan.


"Di Rutan mana Bu?" Tanya Farhat yang langsung di tunjukkan tempatnya oleh Ibu Ndari tadi.


"Setahu saya, bapak mu kena hukuman seumur hidup Qori." Sambung Bu Ndari kemudian.


"Ya Allah." Qori semakin tidak sanggup mendengarnya.

__ADS_1


"Emmm... terimakasih atas informasinya ya Bu. Dan maaf kami harus kembali." Potong Farhat yang tidak ingin Qori semakin sedih karena mendengar kabar itu. Sehingga pulang ke rumah adalah keputusan paling tepat untuknya.


__ADS_2