Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
cinta haram Zahra.


__ADS_3

Cukup lama Rahma menunggu di dalam bersama Abi Irsyad, hingga suara adzan Maghrib dari ponsel Abi Irsyad pun berkumandang.


"Alhamdulillah." Gumam Abi Irsyad, beliau meraih botol air mineral di atas meja, mungkin milik Faqih karena botol itu masih tersegel. Beliau pun membuka penutup botolnya, lalu menyerahkannya pada Rahma.


Setelahnya beliau membantu melepaskan cadar Rahma. Membuat Nuha tersenyum senang.


Sungguh ia pun kini merasakan itu dari A'a, dan berharap A'a akan seperti Abi yang akan terus perhatian sampai usia mereka menua.


Sungguh indah bukan, cinta yang seperti itu. Itulah yang di impikan Nuha.


"Jangan iri ya dek?" Tutur Abi Irsyad memegangi botol minum yang sedang di teguk Umma Rahma.


"Enggak lah Bi... Nuha juga bisa sama A'a." Sedikit tertawa.


"Eh iya... Sudah ada A'a ya." Goda Abi Irsyad. "Duhh... Sudah bukan pemandangan yang membuat mu baper lagi dong?" Sambung Abi Irsyad membuat Nuha kembali tersenyum.


"Hehehe lebih ganteng dari Abi mu lagi ya dek?" Sambung Umma Rahma seraya beranjak, bergantian dengan Abi Irsyad yang hendak minum airnya.


"Maklumi saja sudah berumur. Kamu belum tahu tampannya Abi waktu masih muda ya kan Umma?" Melirik ke arah Rahma yang sedang memasang lagi cadarnya.


"Iya tampan, tampaaaaaannn sekali." Menarik pipi ustadz Irsyad yang sedikit gembul itu dengan gemas. Sementara Nuha hanya tertawa.


"Kenapa tidak ikhlas sekali bilang tampannya Umma?" Abi Irsyad mulai mengangkat botol minumnya. "Bismillah." Menengguk air minum itu kemudian.


"Bukan tidak ikhlas, soalnya aki Doraemon ini suka bersungut kalau tidak di iyakan."


Mendengar aki Doraemon Nuha pun ingin tergelak. "Ya Allah sakit... Umma jangan bikin Nuha pengen tertawa."


"Haduh... Maaf sayang." Mengusap perut Nuha pelan.


"Biar Abi yang kasih pelajaran." Di cubitlah pipi Umma Rahma, membuat Umma Rahma mengaduh, serta tawa yang tertahan pun terbit dari bibir Nuha.


"Ya Allah, Abi sama Umma jangan bikin Nuha tertawa.." masih berusaha menahan kekehannya itu.

__ADS_1


"Ya ampun... iya iya, kita keluar saja dulu yuk." Melepaskan kemudian.


"Ck...! Bi... harga diri ku hancur di giniin tahu." Mengusap-usap pipinya. Melihat itu Nuha pun geleng-geleng kepala.


"Astagfirullah al'azim..." Gumam Nuha yang masih memegangi perutnya menahan tawa.


"Ya sudah kita keluar dulu ya sayang. Nanti Umma masuk lagi." Ucap Rahma.


"Iya Umma." Masih mengusap-usap perutnya yang terasa sakit.


"Maaf ya sayang." Mengecup kedua pipi Nuha lalu keluar, di susul Abi Irsyad kemudian.


"Kangen Abi." Bisik Nuha. Saat Abi Irsyad tengah mengecup keningnya.


"Benarkah?" Tanya Abi Irsyad mengusap kepala Nuha.


"iya..." jawab Nuha manja.


Hingga keduanya keluar dari ruangan itu. Nuha menatap ke langit-langit kamar, sepertinya A'a sedang sholat. Nuha pun meraba tembok, lalu Bednya.


'Tidak ada debu, bagaimana ini... Aku tidak bisa bangun, perut ku masih sangat sakti. Bahkan miring saja tidak bisa. Bagaimana aku mau menjalankan sholat?' Batin Nuha. Gadis itu pun terdiam sejenak menunggu A' Faqih masuk saja begitu pikirnya.


***


Di luar...


A'a baru saja hendak menjalankan sholatnya. Memang agak sedikit telat karena beliau memutuskan untuk berbuka dulu di ruangan Nuha menemani sang istri selagi orang tua mereka sedang melaksanakan sholat.


Dia pun berpapasan dengan pak Huda dan keluarga, termaksud Zahra yang berdiri di belakang ibunya.


Pak Huda memeluk tubuh Faqih setelah menjabat tangannya, lalu di susul Sidik.


Setelah berbicara Sedikit Faqih pun meminta izin untuk melanjutkan tujuannya ke masjid yang langsung di iyakan oleh mereka, yang juga turut melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Di lihat Zahra langsung saja menunduk saat melewati Faqih. "Maaf." Gumam Faqih lirih saat Zahra melewatinya. Seperti tidak percaya Zahra menghentikan langkahnya, dia menoleh kebelakang mengamati punggung yang sudah melangkah menjauh.


'aku tidak salah dengar kan? Dia benar-benar berbicara tadi? Aku mendengar itu sangat jelas.' batin Zahra, hingga senyum tipis pun tersungging di bibirnya.


"Zahra–" panggil ibunya. Zahra pun terkesiap, kembali menoleh kedepan.


"Apa yang kau lakukan, ayo jalan."


"Iya Ummi." Jawab Zahra seraya melanjutkan langkahnya. Ummi Siti menoleh kearah Faqih yang sudah berbelok masuk ke dalam masjid. Sementara Zahra seperti masih menyunggingkan senyumnya. Dia pun meraih tangan Zahra menahannya kemudian, membuat gadis itu menoleh.


"Kau tahu wanita yang bermartabat kan Zahra?" Tanya Ummi Siti.


"Maksud... Ummi?" Tanya Zahra.


"Ummi ingin kau tidak menyakiti sesama wanita. Maaf sayang Ummi harus berbicara seperti ini, tidak baik kau tersenyum senang seperti ini. Saat bertemu dengan Faqih."


Zahra tersenyum kikuk. "Ummi bicara apa sih?" Ingin melanjutkan langkahnya namun lagi-lagi di tahan oleh sang ibu.


"Cari lah jodoh yang mencintai mu. Lupakan Faqih. Ummi tahu kau masih memiliki rasa, Ummi tidak mau kamu terluka, sekaligus melukai hati yang lain." Tutur Ummi Siti lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Zahra yang masih terdiam, di lorong rumah sakit


'Ummi... Andai Ummi tahu. Jika aku pun sudah sangat ingin terlepas dari kondisi ini. Namun hati ku masih saja menarik ku untuk mengharapkannya ummi. Walaupun aku masih berusaha keras menahan rasa ini.' Zahra memilih untuk duduk di kursi panjang. Ia urung melanjutkan langkahnya, merasa sedikit kecewa dengan dirinya sendiri.


Hingga cukup lama dia duduk di sana. Bahkan sampai Faqih pun selesai melaksanakan sholatnya. Pria itu terkejut saat mendapati Zahra masih ada di sana. Duduk sendirian di kursi panjang.


Faqih pun berjalan melewatinya, lalu berhenti dengan posisi membelakangi. "Kenapa masih di sini? Kau tidak ingin menengok Nuha?" Tanya Faqih.


"A...aku, aku lupa, jika A'a melarang ku bertemu dengan Umma mu kan?" Balas Zahra. Faqih pun diam saja.


"Masuk saja, bukan berarti aku melarang mu menjenguk Nuha kan?" Melenggang pergi.


"A'a–" panggil Zahra namun Faqih tetap melanjutkan langkahnya pura-pura tidak mendengar panggilan Zahra. Gadis itu pun tersenyum miris. "Apa yang ku lakukan sih." Gumamnya kecewa. Dia pun melanjutkan langkahnya berjalan cukup jauh di belakang Faqih.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2