Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
dia yang kau sebut


__ADS_3

Hari kedelapan Syawal...


Keluarga Irsyad dan keluarga ustadz Rahmat sedang berkumpul kesebuah gedung yang sebenarnya tak mewah.


Keluarga itu mengadakan halal bihalal seraya menggelar sebuah acara tasyakuran demi merayakan pernikahan Nuha dan Faqih membuat sepasang suami istri itu duduk di atas pelaminan mereka dengan wajah berbinar antar satu sama lain.


Nampak berbeda aura yang terpancar pada diri Nuha, satu bulan yang lalu saat ijab Qabul dilantangkan sang suami, hanya ada mimik wajah sedih karena menikah muda.


Namun berbeda dengan sekarang, wajah Nuha jauh lebih sumringah. Terlebih tangan A' Faqih yang selalu menggenggamnya erat, serta bisikan-bisikan rayuan dari bibir sang suami di sebelahnya membuat Nuha tersipu.


Hingga acara pernikahan itu berakhir, Faqih langsung membawa Nuha ke rumah mereka yang baru saja selesai di renovasi.


Dengan mobil A' Faqih yang ia beli dari Farhat, pria itu pun membawa laju mobilnya menuju rumah yang masih di daerah Asemka.


Dalam keheningan senja menjelang waktu magrib, keduanya hanya duduk dalam diam. Menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala, pertanda sebuah kehidupan ketika langit senja sudah mulai temaram, akan segera di mulai.


Dalam tatapan Nuha ia tidak hanya fokus melihat ke jalan saja, namun keningnya sedikit berkerut merasa heran. Ini bukankah mobil Kak Farhat, kenapa di pakai A' Faqih?


Dalam hati selalu bergumam, Ingin rasanya dia bertanya namun ragu.


"Neng...?" Panggil A'a, memecah keheningan.


"Iya A'…?" Menoleh.


"Kita rehat solat dulu ya, sekalian cari makan." Mengusap kepala sang istri.


"Emmm." Jawabnya, kembali menatap ke depan. 'kenapa ya? A'a tuh Seperti tidak terbuka sekali dengan ku. Bukan aku tak mempercayainya, namun sikap diam A' Faqih bahkan sampai hal pekerjaan sampingan pun aku tidak di ajaknya bermusyawarah. Dan mobil ini? Mungkin tidak sih, dia meminjam dari kak Farhat. Sementara Abi Rahmat dan Abi Irsyad saja ada mobil.' batin Nuha, masih menatap lurus ke jalan.


Mobil mereka mulai memasuki area masjid, dimana pelataran luas dengan masjid yang berdiri kokoh serta kubah besar yang indah.


Membuat Nuha sedikit lupa dengan rasa yang membuatnya sedikit bersungut itu.


"Yuk." Di raihnya tangan Nuha seraya menautkannya. Gadis itu tersenyum tipis sembari berjalan bersama dan terpisah menuju ruang wudhu masing-masing.


Di masjid tersebut, ada seorang ustadz yang menjadi imamnya. mereka pun sholat di shaf masing-masing, dan berakhir setelah mendengar khutbah singkat yang dilantangkan ustadz tersebut sampai selesai, lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju sebuah restoran bertema Sunda, barulah setelah makan mereka kembali melanjutkan perjalanannya, hingga sampailah Keduanyan di sebuah rumah yang tak begitu luas. Bertemu minimalis modern.


----


Di dalam mobil Nuha belum mau turun dia masih terpaku melihat hunian yang akan menjadi istana cinta keduanya.


"Ini...? Rumah kita A'...?" Tanya Nuha dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya sayang." Jawab A' Faqih seraya tersenyum tipis. Nuha menoleh pelan...


"Serius rumah kita?" Tanyanya lagi tidak percaya.


"Bukan, tapi rumah A'a untuk Neng kesayangan." Jawab Faqih sembari mengusap kepala Nuha. Gadis itu mulai menitikkan air matanya. "Hei... Kok nangis?"


"Terharu lah, memang tidak boleh?"


"Boleh sih, A'a cuma heran. Kenapa kamu terharunya telat, kan sudah tau kalau kita sudah ada rumah untuk kita tinggal berdua."


"Iya sih, tapi kan? Hiks... A'a makasih." Memeluk tubuh sang suami.


"Makasih saja?"


"Huuaaaaaa, kebiasaan ya selalu ada yang lain."


"Hahaha." Faqih tergelak ,dia mengecup kening sang istri. "Ayo masuk, lanjut nangisnya di dalam... A'a lelah." Nuha mendongak.


"Alhamdulillah..." Cetusnya.


"Kamu mengucap hamdalah?" Tanya Faqih heran.


"Karena kalau A'a lelah malam ini kita tidak itu dong." Merasa senang.


"Enak saja... A'a sudah puasa lama, mau lelah kaya apa? Malam ini harus tetap jadi."


"Hiks.... Iya deh." Pasrah, karena memang semenjak Nuha sakit Keduanya belum pernah berhubungan badan sampai detik ini.

__ADS_1


Hingga keduanya mulai keluar dari mobil lalu berjalan mendekati pintu rumah mereka.


Cklaaaak krieeeeeet... Faqih membuka pintu rumah yang masih gelap itu.


"Assalamualaikum." Seru Faqih, beliau membaca doa sejenak lalu masuk lebih dulu dan membiarkan Nuha di depan sejenak sementara beliau menyalakan lampu rumah mereka.


Di ruang tamu itu ada empat saklar, dimana saat Faqih menekan keempatnya lampu-lampu mulai menyala, Nuha semakin merasa terharu.


Bagaimana tidak, rumah itu sudah lengkap dengan sofa dan meja, dengan lampu yang bagus, serta beberapa hiasan yang cantik.


"MashaAllah..." Gumam Nuha semakin berbinar.


Sedangkan Faqih kembali mendekati Nuha, mengulurkan tangannya.


"Ayo masuk." Ajak beliau.


Sorot lampu itu seolah membuat Faqih terlihat semakin tampan di hadapannya. Gadis itu meraih tangan A' Faqih seraya tersenyum.


A' Faqih menarik masuk Nuha kedalam rumahnya, lalu menutup pintunya.


"Suka tidak?" Tanya A'a mengecup pipi Nuha kemudian.


"Suka A'... Rumahnya bagus."


"Alhamdulillah... Ini?" Mengetuk-ketuk pipinya dengan jari telunjuk. Nuha terkekeh, dia pun berjinjit lalu mengecup pipi sang suami.


"Terimakasih suami ku."


"Sama-sama, Hilwah." Memeluk tubuh Nuha kemudian.


"A'...?"


"Ya?"


"Nuha mau pipis." Ucap Nuha dalam pelukan A' Faqih. Pria itu pun melepaskan pelukannya.


"Ya sudah, pipis saja."


"Tuh, di belakang. Dekat gazebo di luar dapur."


"Lah... Diluar? Maksudnya?"


"Yuk ikut A'a." Faqih menggandeng tangan Nuha, menuju ruang belakang, melewati ruang tengah lalu dapur, di sana ada salah satu pintu dorong karena temanya mendekati Jepang, jadi di bagian dapur itu ada sebuah ruang taman yang kecil, di mana sebelah kanan ada sebuah gazebo mini, dengan kolam ikan koi di tengah-tengah dengan jalan batu yang di bentuk seperti jembatan sampai di ujung lah terdapat toilet, namun tidak terlalu jauh juga sih.


'ck... Gimana kalau mau kencing malam coba issssshhh.' batin Nuha merasa tidak nyaman karena toilet ada di luar, walau tidak di luar juga, dan tertutup dengan pagar beton yang tinggi.


A' Faqih menekan saklarnya karena taman itu masih gelap.


"Loh kok mati sih?" Menekan-nekan.


"Yahhh... A'a, kenapa kamar mandi bisa di luar begini sih... Cepat temani ke sana. Nuha sudah tidak tahan." Gadis itu sudah mendesis tidak tahan.


"Sebentar." Faqih menyalakan senter dari ponselnya. "Yuk." Keduanya berjalan beberapa langkah mendekati tandas.


"Kok lampu taman bisa mati ya, padahal tadi nyala loh, jangan-jangan?"


"Iiiisssshhh nggak usah cerita yang nggak-nggak ya." Nuha membuka pintu kamar mandinya, masuk lalu keluar lagi. "Saklar lampu kamar mandi mana?"


Ctaaaakkk. Faqih menekan lampu kamar mandi itu.


"Nyala kan?"


"Ck... Ada-ada saja, saklar lampu pakai di luar." Bersungut seraya masuk. "A'a jangan kemana-mana loh, janji tungguin di luar." Seru Nuha dari dalam tandas.


"Iya." Jawab Faqih yang berdiri di sebelah pintu toilet.


Dia pun melirik ke arah lampu saklar, lalu tersenyum jail. Ctaaak


"A'aaaaa." Teriak Nuha. Faqih pun terkekeh lalu di nyalakan lagi lampu itu.

__ADS_1


Namun sepertinya satu kali kejailannya belum membuat dia puas. Lagi-lagi dia mematikan lampu itu.


"A'a Faqiiiiiih....! Jangan jail ya...?"


"Nggak neng, kayanya lampunya bermasalah." Fakih menyalakan dan mematikannya lagi secara berkali-kali, dengan tawanya itu. sampai terdengar suara air yang terdengar kasar lalu lemparan gayung yang membuat Faqih segera menghentikan perbuatannya lalu berjalan dua langkah menjauh dari saklar lampu tersebut, hingga Nuha pun keluar dari tandas itu secara terburu-buru. Sementara sang suami hanya memasang tampang datar tanpa dosa.


"Astagfirullah al'azim, horor banget sih."


"Kamu nggak baca doa kali waktu masuk tandas?"


"Baca A'..." Memegangi lengan A' Faqih.


"Berapa kali?"


"Satu."


A' Faqih diam sesaat, lalu manggut-manggut.


'ni orang ngapain lagi, dih...' batin Nuha dengan tatapan heran.


"Dia minta kamu baca doa sebanyak tiga kali,"


"Di...dia? Dia siapa?"


"Dia... Ya dia lah... Siapa lagi."


"Ma... maksudnya han?"


"Sssssttt, dia suka marah kalau di sebut itu."


"Iiiisssshhh apaan sih? Ngomongnya ya?"


"Kamu tidak percaya?" Bertanya dengan tatapan serius.


Gleeekk... 'dia itu bisa melihat mahluk astral ya?' batin Nuha.


"Neng?"


"Iya?"


"Dia bilang suka sama kamu."


"Astagfirullah al'azim... Suka? Suka bagaimana?"


"Ya suka... Katanya kamu mau di minta."


"A'a jangan macam-macam ya."


"Apanya yang macam-macam, kamu mau lihat?" Mendengar itu Nuha langsung menggeleng.


"Aaaaaaa, ayo masuk... Masuk A'..." Merengek ketakutan.


"Cium A'a dulu di sini." Menunjuk pipinya.


'Idih... Sempet-sempetnya ya nih orang minta cium di sini.' Nuha mengecup pipi Faqih cepat. "Sudah ayo."


"Disini belum." Menunjuk pipi yang satunya.


"A'a ihhh, nanti kalau dia menampakkan diri bagaimana?" Mengecup lagi yang satunya.


"Apanya?"


"Kok apanya sih, yang tadi ngobrol sama A'a."


"Ngobrol sama A'a... Kamu dong."


"Kok Nuha, mahluk astral." Nuha membungkam mulutnya sendiri.


"Neng, kamu bilang apa tadi?" Tanya Faqih, gadis itu menggeleng cepat.

__ADS_1


"Dia marah loh."


"Aaaaaaa.... Ayo A'a masuk... Ayo..." Di tariknya tangan Faqih, masuk hingga Nuha menutup pintu rolling dan menutup gordennya, sementara A' Faqih hanya terkekeh tanpa suara di belakang Nuha.


__ADS_2