
Malam takbir yang semakin larut. Farhat sholat Sunnah guna mensyukuri nikmatNya karena telah memberikannya istri sekaligus anak yang lucu. Walaupun anak itu bukanlah anak kandung ustadz Farhat.
Namun sepertinya cinta Farhat pada Agam benar-benar tulus. Mungkin karena beliau yang melihat proses Qori yang berjuang menahan sakit, hingga saat melihat anak itu menangis untuk yang pertama kali di dunia ini.
Farhat mengusap wajahnya setelah mengucap salam ke kiri dan kanan, dan beranjak setelah zikir singkatnya mendekati sang istri.
Gadis itu tersenyum menyambut Farhat yang tengah mendekatinya.
Farhat duduk di bibir ranjang Qori yang tengah duduk menyandar di ranjang tersebut.
Pria itu membelai lembut pangkal kepala Qori, menatapnya dalam-dalam gadis yang masih tersenyum senang kearahnya.
"Qori?" Panggil mas Farhat, gadis itu menyaut dengan dehaman lirih. Serta memegangi tangan mas Farhat yang tengah mengusap-usap pipinya. "Mas boleh jujur?" Sambung beliau.
"Boleh mas."
"Maaf, karena saat ini. Mas masih belum berdebar-debar di dekat mu... Mungkin karena, mas belum mencintai mu." Ucap Farhat, gadis itu pun tersenyum kecut.
"Qori paham kok. Dan Qori sadar akan itu." Menunduk lesu.
"Tapi tenang saja... Mas itu tengah berusaha mencintai mu saat ini. Serius." Meraih dagu sang istri yang tertunduk.
Berusaha tersenyum ceria. "Iya, aku percaya. Dan aku juga ikhlas mas lepaskan, jika ternyata mas menemukan wanita lain yang lebih ngena di hati mas Farhat."
"Loh... Kok ngomongnya begitu? Memang dik Qori tidak ingin berusaha merebut hati mas? Hemmm?" Mengusap pipi mulus Qori.
"Tentu mau," meraih tangan itu dan mengecupnya. "Sangat mau malah... Namun jika suami ku ini tak kunjung mencintai ku? Mau bagaimana? Masa iya aku harus memaksakan, kalau kau tak bahagia. Aku juga yang berdosa. Dan menyerahkan mu pada wanita yang benar-benar kau cintai adalah cara terbaik kan?"
"Kalau mas tidak mau melepaskan mu?" Tanya Farhat balik.
"Ya ku relakan mas mendua. Asal mas bahagia."
"Hehehe, sudah lah jangan bahas itu. Mas mau yang indah-indah." Ucap Farhat terkekeh. 'tidak mungkin juga kau sanggup jika aku mendua dik, yang ada-ada saja.' batin Farhat. Mereka pun terdiam sejenak. "Boleh peluk tidak?" Tanya Farhat memecah keheningan, di antara rasa canggung keduanya.
__ADS_1
"Hehehe... Kok izin sih? Qori kan istri mas Farhat." Terkekeh.
"Oh iya ya? Takutnya kalo langsung main peluk saja, nanti kamu teriakin mas lagi." Terdiam sejenak lagi setelah sama-sama tertawa. Lalu di raihnya tubuh Qori, memeluknya. Gadis itu terkesiap, hal itu membuatnya semakin berdebar-debar.
'ya Allah, aku di peluk mas Farhat. Kenapa senang sekali rasanya.' gumamnya dalam hati seraya bersemi. Hingga perlahan tangan itu membalas pelukan sang suami, seraya tersenyum.
'aku belum seberdebar saat di dekat ustadzah Nuha. Astagfirullah al'azim.' menggeleng pelan lalu terdengar lah tangis Agam membuat dia melepaskan pelukannya pelan.
"Sebentar ya, mas cek dulu Agamnya." Ucap beliau. Gadis itu mengangguk seraya tersenyum.
Di lihat sang suami langsung mendekati anaknya itu, dan membuka bedong bayi karena mendapati Agam yang tengah buang kotoran.
Qori pun menyibak selimutnya hendak turun dari ranjangnya. Farhat yang melihat itu langsung melarang Qori untuk turun. Dan membiarkannya mengganti sendiri popok itu.
"Mas bisa kok... Kan sudah belajar sama mbak perawatnya. Jangan cemburu ya." Ngelawak garing. Namun Qori tetap terkekeh merasa bersyukur melihat suaminya yang tengah membersihkan kotoran serta menggantikan popok anak yang jelas-jelas bukan darah dagingnya sendiri.
"Tuuuhh bisa kan?" Di gendongnya Agam yang belum Beliau bedong lagu, lalu di dekatkan pada Qori. "Susui dulu biar dia tidur lagi." Titah mas Farhat menyerahkan Agam pada Qori.
Sementara Qori hendak membuka bagian dadanya Farhat pun berpaling, membelakangi, dan berjalan kaku keluar.
"Hehehe... Cari angin, sebentar ya." Jawab Farhat masih membelakangi. 'belum sanggup aku melihat begituan.' batin Farhat yang memutuskan untuk kabur lebih dulu. Dan sepertinya Qori sadar sih terlihat dari dia yang terkekeh lalu mengeluarkan buah dadanya satu untuk menyusui sang anak.
"Sayang... Tiba-tiba saja aku di beri dua malaikat, yaitu kau nak dan ayah mu mas Farhat." Gumam Qori merasa bersyukur, Seraya mengusap-usap kepala sang anak pelan.
***
Di Bekasi...
Nuha baru saja tiba, dia terlihat lelah dengan dia yang langsung duduk menyandar di ranjang mereka.
A' Faqih menggantungkan kokonya serta celana bahanya, di belakang pintu kamar, setelah mengganti kaos oblong dengan sarung yang memang membuat beliau merasa nyaman. Setelah itu mendekati Nuha.
"Kok belum ganti, neng?" Tanya Faqih mengusap wajah Nuha yang masih mengenakan gamis dan hijabnya.
__ADS_1
"Iya ini mau ganti kok A'..." Hendak beranjak namun di tahan A'a, beliau melepaskan hijab Nuha lalu menurunkan resleting depan. Karena tipe gamis Nuha termaksud busui. Nuha menahannya. "A'a mau ngapain?"
"Bantuin kamu ganti baju."
"Hahaha. Nggak usah Nuha bisa A'..." Menutup lagi namun di tahan. Beliau pun menyandarkan kepalanya di bagian dada Nuha, membuat gadis itu tersenyum lalu mengusap kepala A'a.
"Ternyata menahan hasrat sekarang susah ya." Gumam Faqih, membuat Nuha terkekeh.
"Maaf ya A'..." Jawab Nuha, Faqih pun mendongak. Di kecupnya bibir Nuha lembut.
"Pengen." Terkekeh kemudian. "Nggak... Nggak... A'a tahan kok." Merebahkan tubuhnya lalu meraih tubuh Nuha agar tidur dalam dekapannya. Gadis itu membalas pelukan sang suami.
"A'... Nuha senang deh Qori bisa menikah dengan ustadz Farhat. Dia kan baik, lemah lembut lagi."
"Tidak seperti A'a ya?" Jawab Faqih kemudian.
"Nggak... A'a sekarang lemah lembut kok," jawab Nuha cari aman.
"Bohong kan pasti." Menuding.
"Hehe, jangan cemburu lagi. Nuha belum bisa melelehkan A'a dengan itu."
"Itu? Itu apa?" Tanya Faqih tersenyum jail.
"Ya itu lah pokoknya."
"Iya itunya apa? Ngomong yang jelas kutu." Menarik pipi Nuha gemas.
"Kok kutu lagi sih manggilnya?" Sedikit tidak suka.
"Habis bikin gatel."
"Gatel?" Bersungut.
__ADS_1
"Iya gatel pengen manjain kamu. Muuaaah muaaah." Nuha tergelak menahan geli saat A'a sudah mulai menciumi bibir, pipi, leher, bawah leher... Atas? hehehe... Sudahlah hanya A'a dan Nuha yang tahu. Author nggak mau ngintip hehehe. Hei kalian juga jangan ngintip A'a dan Neng ya, hush... hush... Keluar yuk keluar Hahaha. MashaAllah.