
Waktu terus berjalan, seperti air yang mengalir di sungai. Terus saja maju, tanpa bisa untuk mundur apalagi berhenti begitu saja.
Seperti itu pula waktu...
Saat ini Nuha sudah berada di rumahnya, karena gadis itu melahirkan dengan proses normal. Jadi dia pulih dengan cepat, hanya memakan waktu dua hari di rumah sakit dan sekarang sudah di perbolehkan pulang.
Umma Hasna dan Abi Rahmat malam ini menginap di rumah Nuha, dan mereka sedang beristirahat. Karena waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Saat ini A'a terjaga, karena mendengar tangis Ziya. Beliau beranjak mengecek Ziya.
"Kenapa geulis? Haus kah?" Tanya Faqih tersenyum, dia pun menyentuh bagian bokong anaknya. "Wahh...Ngompol ya? Neng ngompol? Ya ampun." Terkekeh sendiri karena anak itu sudah tidak menangis lagi dengan bentuk bibir yang di buat bentuk lingkaran membuat Faqih merasa gemas.
Dengan sesekali menguap beliau mulai mengganti popoknya, walaupun masih terlihat kaku namun A'a cekatan sih. Buktinya popok itu sudah digantinya dengan yang baru, membuat putri kecilnya menjadi lebih tenang sekarang. kembali ia ayunkan ranjang Ziya hingga mata kecil itu perlahan demi perlahan pun kembali terpejam.
Dengan mata yang masih sepat karena setengah jam yang lalu dia terjaga, A'a masih bersalawat sembari mengayun. Dia membiarkan Nuha untuk tidur saja, sementara A'a sendiri lah yang lebih banyak bangun jika hanya untuk urusan mengganti popok saja.
Hingga anak itu sudah kembali tertidur, A'a kembali berjalan ke ranjangnya sendiri, lalu merebahkan tubuhnya kemudian dalam posisi miring menghadap Nuha.
"Kasian, kamu pasti lelah sekali kan, neng?" Faqih mengecup bibir Nuha membuat gadis itu menggerakkan tubuhnya sebentar lalu tidur lagi. A'a tersenyum, "terimakasih sudah mau membesarkan bibit dari ku di dalam rahim mu, bahkan dengan bertaruh nyawa kau lahirkan keturunan ku dengan sehat." Faqih mengecup kening Nuha cukup lama setelahnya melepaskan lagi karena mata Nuha terbuka.
"A'a ngapain? Ziya bangun? Minta ASI kah?"
"Nggak neng, tadi hanya pipis saja. Sekarang sudah tidur lagi, A'a cuma mau cium saja."
Nuha terkekeh namun matanya terpejam. "Owhhh.... Kirain." Nuha membalas pelukan A'a dan membenamkan wajahnya di dada A' Faqih. "Tidur lagi A'... Istirahat ya." Ucap Nuha, dia pun mendongak sebentar lalu mengecup bibir suaminya dengan gerakan secepat kilat.
"Apa itu?" Tanya Faqih.
__ADS_1
"Cium." Gadis itu terkekeh.
"Apa? Cium, kok tidak terasa?"
"Kerasa A'... Jangan ngarang deh... Sudah tidur ayo tidur." Ajak Nuha terkekeh, sebelum di minta untuk mengulangi lagi perbuatannya itu.
"Neng..."
"Emmm?" Masih memejamkan mata namun bibirnya tersenyum.
"Ulangi yang tadi."
"Kan ih... Nyesel Nuha nyiumnya."
"Ayo cepat, tadi tuh apa sih? Nggak kerasa sama sekali."
"Nggak kerasa bagaimana sih?" Mempererat pelukannya mengusap-usap wajahnya di dada A'a membuat sang suami tergelak karena geli.
"Nggak mau A' kebiasaan, nanti kalau sudah di kasih minta lagi. Gitu saja terus sampai bebek berkokok." Terkekeh
"Apa? Bebek yang mana yang bisa berkokok?" Faqih tergelak Hingga di tekankan nya kedua pipi Nuha dengan satu tangan dimana bibir gadis itu jadi membulat. "Kaya gini ya bebek berkokoknya?"
"Aaaaa..." Memukul bahu Faqih kesal.
"Kan? Berkokok. Hahaha." Faqih mengecup bibir Nuha saking gemasnya.
Nuha pun mendorongnya.
__ADS_1
"Jangan cium Nuha, kan baru bangun tidur."
"Kenapa? A'a juga baru bangun."
"Ya nggak pede lah... Belum gosok gigi juga, takut nggak wangi."
"Benar bau tadi ya..."
"Hah? Dih... Jujur sekali sih kamu A'?"
Nuha menutup mulutnya sendiri mendadak turun tingkat kepercayaan dirinya. Membuat A'a tergelak.
"Bau surga cinta Neng... Bikin betah dan ketagihan." Faqih melepaskan tangan Nuha lalu mencium lagi bibir sang istri. Nuha pun mendorong tubuh A' Faqih lagi karena mulai menyentuh sesuatu yang membuatnya terperanjat.
"Jangan pegang-pegang dih... nanti kebablasan loh, Masih nifas akunya A'..." Nuha terkekeh. Faqih pun hanya tertawa lalu melanjutkan kecupannya cukup lama.
****
epilog...
POV Nuha.
Dia yang ku takuti di masa lalu, yang ku pikir adalah seekor singa mengerikan hingga sangat wajib ku jauhi. Ternyata adalah seekor kucing manis yang membuat ku malah justru tidak mau jauh darinya.
Sungguh, karena ikrar cintanya lah aku selalu hanyut dalam dunia baru kami yang indah. Sang Hafihz tiga puluh juz ini memang awalnya mengerikan dan menyebalkan, paling utama ya. Namun entah mengapa aku malah jadi mencintainya. tahu lah sekarang kenapa ada istilah tak kenal maka tak sayang.
ya... Saat belum mengenalnya mungkin aku hanya menganggap beliau sang Hafihz sombong dan killer, namun tidak sekarang... Dia Hafizh cinta ku, pria baik hati yang selalu memanjakan ku, tak kalah romantisnya tuh dari Abi Irsyad pada Umma Rahma... duhai A' Faqih Al Malik aku mencintaimu. sangat... hehehe
__ADS_1
(Nuha Qanita)
---- Real End ----